Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 41 Tahun 2026
Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 41 TAHUN 2026
NOMOR 41 TAHUN 2026
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 62 TAHUN 2023 TENTANG PERENCANAAN ANGGARAN, PELAKSANAAN ANGGARAN, SERTA AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | ||||||||
|
a.
|
bahwa untuk pelaksanaan anggaran yang lebih efektif, efisien dan tepat sasaran, serta menindaklanjuti dinamika pengelolaan anggaran agar tetap akuntabel, diperlukan dukungan pemerintah melalui kebijakan perencanaan anggaran dan pelaksanaan anggaran, antara lain berupa pemenuhan prioritas penganggaran berdasarkan arahan Presiden;
| |||||||
|
b.
|
bahwa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan belum menampung kebutuhan penyesuaian kebijakan di bidang perencanaan anggaran dan pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a, sehingga perlu dilakukan perubahan;
| |||||||
|
c.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan;
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | ||||||||
|
1.
|
Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
| |||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 61 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 225, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6954);
| |||||||
|
3.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 103, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5423) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 229, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6267);
| |||||||
|
4.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2022 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6794);
| |||||||
|
5.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6850);
| |||||||
|
6.
|
Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2020 tentang Pemberian Penghargaan dan/atau Pengenaan Sanksi kepada Kementerian Negara/Lembaga dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 74);
| |||||||
|
7.
|
Peraturan Presiden Nomor 158 Tahun 2024 tentang Kementerian Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 354);
| |||||||
|
8.
|
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 472) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1082);
| |||||||
|
9.
|
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1063) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 117 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2025 Nomor 1208);
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||||||||
Menetapkan | ||||||||
|
PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 62 TAHUN 2023 TENTANG PERENCANAAN ANGGARAN, PELAKSANAAN ANGGARAN, SERTA AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal I | ||||||||
|
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 472) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1082), diubah sebagai berikut:
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Ketentuan Pasal 1 ditambahkan 3 (tiga) angka yakni angka 139, angka 140, dan angka 141, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 1
| |||||||
|
|
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
| |||||||
|
|
1.
|
Perencanaan Anggaran adalah serangkaian proses penganggaran meliputi tinjau ulang Angka Dasar, penyiapan rancangan Rencana Kerja dan Anggaran, penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran, penelitian dan reviu Rencana Kerja dan Anggaran, penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran, penyusunan dan pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, serta perubahan anggaran dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
| ||||||
|
|
2.
|
Rencana Kerja dan Anggaran yang selanjutnya disingkat RKA adalah dokumen rencana keuangan tahunan yang mencakup rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga, rencana kerja dan anggaran Otorita Ibu Kota Nusantara, dan rencana kerja dan anggaran bendahara umum negara.
| ||||||
|
|
3.
|
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disingkat RKA-K/L adalah dokumen rencana keuangan tahunan yang memuat rincian kegiatan, anggaran, dan target kinerja dari masing-masing kementerian negara/lembaga, yang disusun menurut bagian anggaran kementerian negara/lembaga.
| ||||||
|
|
4.
|
Rencana Kerja dan Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat RKA-BUN adalah dokumen rencana keuangan tahunan dari bendahara umum negara yang memuat rincian kegiatan, anggaran, dan target kinerja dari pembantu pengguna anggaran bendahara umum negara, yang disusun menurut bagian anggaran bendahara umum negara.
| ||||||
|
|
5.
|
Kinerja adalah prestasi kerja berupa keluaran dari suatu kegiatan atau hasil dari suatu program dengan kuantitas dan kualitas terukur.
| ||||||
|
|
6.
|
Standar Biaya adalah satuan biaya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal (chief financial officer) yang digunakan sebagai acuan perhitungan kebutuhan anggaran dalam penyusunan RKA dan pelaksanaan anggaran.
| ||||||
|
|
7.
|
Bagian Anggaran adalah kelompok anggaran negara menurut nomenklatur kementerian negara/lembaga dan bendahara umum negara dalam menjalankan fungsi belanja Pemerintah Pusat, transfer ke daerah, dan pembiayaan.
| ||||||
|
|
8.
|
Bagian Anggaran Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disingkat BA K/L adalah Bagian Anggaran yang menampung belanja Pemerintah Pusat yang pagu anggarannya dialokasikan pada kementerian negara/lembaga.
| ||||||
|
|
9.
|
Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat BA BUN adalah Bagian Anggaran yang tidak dikelompokkan dalam Bagian Anggaran kementerian negara/lembaga.
| ||||||
|
|
10.
|
Belanja Negara adalah kewajiban Pemerintah Pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih yang terdiri atas belanja Pemerintah Pusat dan transfer ke daerah.
| ||||||
|
|
11.
|
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
| ||||||
|
|
12.
|
Klasifikasi Organisasi adalah pengelompokkan alokasi sesuai dengan struktur organisasi kementerian negara/lembaga dan bendahara umum negara.
| ||||||
|
|
13.
|
Klasifikasi Fungsi adalah pengelompokkan alokasi sesuai fungsi kepemerintahan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara.
| ||||||
|
|
14.
|
Klasifikasi Jenis Belanja adalah pengelompokkan Belanja Negara berdasarkan jenis belanja dan transfer ke daerah.
| ||||||
|
|
15.
|
Klasifikasi Pembiayaan adalah pengelompokkan pengeluaran pembiayaan berdasarkan jenis pengeluaran pembiayaan.
| ||||||
|
|
16.
|
Belanja Pegawai adalah kompensasi terhadap pegawai, baik dalam bentuk uang atau barang, yang harus dibayarkan kepada pegawai pemerintah dalam maupun luar negeri baik kepada pejabat negara, pegawai negeri sipil, dan pegawai yang dipekerjakan oleh Pemerintah yang belum berstatus pegawai negeri sipil sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan dalam rangka untuk mendukung tugas fungsi unit organisasi pemerintah selama periode tertentu, kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.
| ||||||
|
|
17.
|
Belanja Barang dan Jasa adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan.
| ||||||
|
|
18.
|
Belanja Modal adalah pengeluaran anggaran dalam rangka memperoleh atau menambah aset tetap dan/atau aset lainnya yang memberi manfaat ekonomis lebih dari satu periode akuntansi (12 (dua belas) bulan) serta melebihi batasan nilai minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang ditetapkan Pemerintah.
| ||||||
|
|
19.
|
Belanja Bantuan Sosial adalah pengeluaran berupa transfer uang, barang atau jasa yang diberikan oleh Pemerintah kepada masyarakat miskin atau tidak mampu guna melindungi masyarakat dari kemungkinan terjadinya risiko sosial, meningkatkan kemampuan ekonomi dan/atau kesejahteraan masyarakat.
| ||||||
|
|
20.
|
Pemberian Pinjaman adalah pinjaman Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah, badan usaha milik negara, lembaga, pemerintah asing, lembaga asing, dan/atau badan lainnya yang harus dibayar kembali dengan ketentuan dan persyaratan tertentu.
| ||||||
|
|
21.
|
Menteri/Pimpinan Lembaga adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan pada kementerian negara/lembaga yang bersangkutan.
| ||||||
|
|
22.
|
Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat BUN adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi bendahara umum negara.
| ||||||
|
|
23.
|
Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga.
| ||||||
|
|
24.
|
Pembantu Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat PPA BUN adalah unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran yang berasal dari Bagian Anggaran BUN.
| ||||||
|
|
25.
|
Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat KPA adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari PA untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada kementerian negara/lembaga yang bersangkutan.
| ||||||
|
|
26.
|
Kementerian Negara yang selanjutnya disebut Kementerian adalah perangkat Pemerintah yang membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan.
| ||||||
|
|
27.
|
Lembaga adalah organisasi nonkementerian negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya.
| ||||||
|
|
28.
|
Direktorat Anggaran Bidang adalah unit eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran yang terdiri dari Direktorat Anggaran Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Direktorat Anggaran Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dan/atau Direktorat Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara.
| ||||||
|
|
29.
|
Satuan Kerja yang selanjutnya disebut Satker adalah unit organisasi lini Kementerian/Lembaga atau unit organisasi Pemerintah Daerah yang melaksanakan kegiatan Kementerian/Lembaga dan memiliki kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran.
| ||||||
|
|
30.
|
Satuan Kerja Bagian Anggaran BUN yang selanjutnya disebut Satker BUN adalah unit organisasi lini BUN yang melaksanakan kegiatan BUN dan memiliki kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran BUN.
| ||||||
|
|
31.
|
Program RKA-K/L dan RKA-BUN yang selanjutnya disebut Program adalah penjabaran kebijakan beserta rencana penerapannya yang dimiliki Kementerian/Lembaga dan BUN untuk mengatasi suatu masalah strategis dalam mencapai hasil (outcome) tertentu sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga dan fungsi BUN dimaksud serta visi dan misi Presiden.
| ||||||
|
|
32.
|
Kegiatan RKA-K/L dan RKA-BUN yang selanjutnya disebut Kegiatan adalah suatu aktivitas yang dilaksanakan untuk menghasilkan keluaran dalam mendukung terwujudnya sasaran Program.
| ||||||
|
|
33.
|
Keluaran adalah barang atau jasa yang merupakan hasil akhir dari pelaksanaan Kegiatan dalam mendukung pencapaian sasaran pembangunan nasional.
| ||||||
|
|
34.
|
Klasifikasi Rincian Output yang selanjutnya disingkat KRO adalah kumpulan atas rincian output yang disusun dengan mengelompokkan muatan rincian output yang sejenis atau serumpun berdasarkan sektor/bidang/jenis tertentu secara sistematis.
| ||||||
|
|
35.
|
Rincian Output yang selanjutnya disingkat RO merupakan Keluaran riil yang dihasilkan oleh unit kerja Kementerian/Lembaga yang berfokus pada isu tertentu serta berkaitan langsung dengan tugas dan fungsi unit kerja tersebut dalam mendukung pencapaian sasaran Kegiatan yang telah ditetapkan.
| ||||||
|
|
36.
|
Sistem Informasi adalah sistem yang dibangun, dikelola, dan/atau dikembangkan oleh Kementerian Keuangan guna memfasilitasi proses penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan pertanggungjawaban, dan/atau monitoring dan evaluasi anggaran yang merupakan bagian dari sistem pengelolaan keuangan negara.
| ||||||
|
|
37.
|
Belanja Berkualitas adalah belanja yang direncanakan dan dilaksanakan dengan prinsip efisiensi, efektivitas, prioritas, transparansi, dan akuntabilitas.
| ||||||
|
|
38.
|
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disingkat APIP K/L adalah Inspektorat Jenderal/Inspektorat Utama/Inspektorat atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri/Pimpinan Lembaga.
| ||||||
|
|
39.
|
Pinjaman Luar Negeri yang selanjutnya disingkat PLN adalah setiap pembiayaan melalui utang yang diperoleh Pemerintah dari pemberi pinjaman luar negeri yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.
| ||||||
|
|
40.
|
Pinjaman Dalam Negeri yang selanjutnya disingkat PDN adalah setiap pinjaman oleh Pemerintah yang diperoleh dari pemberi pinjaman dalam negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu sesuai dengan masa berlakunya.
| ||||||
|
|
41.
|
Hibah Pemerintah yang selanjutnya disebut Hibah adalah setiap penerimaan negara dalam bentuk devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri.
| ||||||
|
|
42.
|
Surat Berharga Syariah Negara yang selanjutnya disingkat SBSN atau dapat disebut Sukuk Negara, adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.
| ||||||
|
|
43.
|
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang selanjutnya disingkat PNBP adalah pungutan yang dibayar oleh orang pribadi atau badan dengan memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung atas layanan atau pemanfaatan sumber daya dan hak yang diperoleh negara, berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang menjadi penerimaan Pemerintah Pusat di luar penerimaan perpajakan dan hibah dan dikelola dalam mekanisme APBN.
| ||||||
|
|
44.
|
Rupiah Murni Pendamping yang selanjutnya disingkat RMP adalah dana rupiah murni yang harus disediakan Pemerintah untuk mendampingi pinjaman dan/atau hibah luar negeri.
| ||||||
|
|
45.
|
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disingkat KPPN adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
| ||||||
|
|
46.
|
Badan Layanan Umum yang selanjutnya disingkat BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
| ||||||
|
|
47.
|
Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga atau Rencana Kerja Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disebut Renja K/L adalah dokumen perencanaan Kementerian/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun.
| ||||||
|
|
48.
|
Indikasi Kebutuhan Dana Pengeluaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Indikasi Kebutuhan Dana BUN adalah indikasi dana dalam rangka untuk pemenuhan kewajiban Pemerintah yang penganggarannya hanya ditampung pada BA BUN.
| ||||||
|
|
49.
|
Transfer ke Daerah yang selanjutnya disingkat TKD adalah dana yang bersumber dari APBN dan merupakan bagian dari Belanja Negara yang dialokasikan dan disalurkan kepada daerah untuk dikelola oleh daerah dalam rangka mendanai penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.
| ||||||
|
|
50.
|
Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disingkat DAK adalah bagian dari TKD yang dialokasikan dengan tujuan untuk mendanai program, kegiatan, dan/atau kebijakan tertentu yang menjadi prioritas nasional dan membantu operasionalisasi layanan publik, yang penggunaannya telah ditentukan oleh Pemerintah.
| ||||||
|
|
51.
|
Dana Alokasi Khusus Fisik yang selanjutnya disebut DAK Fisik adalah bagian dari TKD yang dialokasikan untuk mendukung pembangunan/pengadaan sarana dan prasarana layanan publik daerah dalam rangka mencapai prioritas nasional, mempercepat pembangunan daerah, mengurangi kesenjangan layanan publik, dan/atau mendorong pertumbuhan perekonomian daerah.
| ||||||
|
|
52.
|
Dana Alokasi Khusus Nonfisik yang selanjutnya disebut DAK Nonfisik adalah DAK yang dialokasikan untuk membantu operasionalisasi layanan publik Daerah yang penggunaannya telah ditentukan oleh Pemerintah.
| ||||||
|
|
53.
|
Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh Kementerian dan penyelenggara pemerintahan daerah untuk melindungi, melayani, memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat.
| ||||||
|
|
54.
|
Dekonsentrasi Kepada Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Dekonsentrasi Kepada GWPP adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.
| ||||||
|
|
55.
|
Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat yang selanjutnya disingkat GWPP adalah penyelenggara Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat di daerah berdasarkan asas dekonsentrasi dan dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang GWPP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
|
56.
|
Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah provinsi.
| ||||||
|
|
57.
|
Bantuan Pemerintah adalah bantuan yang tidak memenuhi kriteria bantuan sosial yang diberikan oleh Pemerintah kepada perseorangan, kelompok masyarakat atau lembaga pemerintah/nonpemerintah.
| ||||||
|
|
58.
|
Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
|
59.
|
Standar Biaya Masukan yang selanjutnya disingkat SBM adalah standar biaya yang digunakan sebagai masukan (input) untuk menyusun rincian biaya dalam suatu Keluaran.
| ||||||
|
|
60.
|
Standar Biaya Keluaran yang selanjutnya disingkat SBK adalah indeks biaya yang ditetapkan untuk menghasilkan 1 (satu) volume keluaran.
| ||||||
|
|
61.
|
Standar Struktur Biaya yang selanjutnya disingkat SSB adalah batasan besaran atau persentase komposisi biaya dalam 1 (satu) Keluaran.
| ||||||
|
|
62.
|
Non-Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Non-ASN adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, melaksanakan tugas dan fungsi instansi pemerintah, diangkat oleh pejabat yang berwenang sebagai pegawai pada instansi pemerintah berdasarkan surat keputusan/perjanjian kerja/kontrak kerja untuk jangka waktu tertentu dan dibiayai dari APBN.
| ||||||
|
|
63.
|
Rencana Bisnis dan Anggaran BLU yang selanjutnya disebut RBA adalah dokumen perencanaan bisnis dan penganggaran yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan anggaran suatu BLU.
| ||||||
|
|
64.
|
Standar Biaya Keluaran Umum yang selanjutnya disingkat SBKU adalah SBK yang berlaku untuk beberapa/seluruh Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
65.
|
Standar Biaya Keluaran Khusus yang selanjutnya disingkat SBKK adalah SBK yang berlaku untuk 1 (satu) Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
66.
|
Arah Kebijakan adalah penjabaran urusan pemerintahan dan/atau prioritas pembangunan sesuai dengan visi dan misi Presiden yang rumusannya mencerminkan bidang urusan tertentu dalam pemerintahan yang menjadi tanggung jawab Kementerian/Lembaga, berisi satu atau beberapa program untuk mencapai sasaran strategis penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dengan indikator kinerja yang terukur.
| ||||||
|
|
67.
|
Prakiraan Maju adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan Program dan Kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya.
| ||||||
|
|
68.
|
Angka Dasar adalah indikasi pagu Prakiraan Maju dari Kegiatan-Kegiatan yang berulang dan/atau Kegiatan-Kegiatan tahun jamak berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan dan menjadi acuan penyusunan pagu indikatif dari tahun anggaran yang direncanakan.
| ||||||
|
|
69.
|
Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disebut Renstra K/L adalah dokumen perencanaan Kementerian/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun.
| ||||||
|
|
70.
|
Pagu Indikatif Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disebut Pagu Indikatif K/L adalah indikasi pagu anggaran yang akan dialokasikan kepada Kementerian/Lembaga sebagai pedoman dalam penyusunan Renja K/L.
| ||||||
|
|
71.
|
Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disebut Pagu Anggaran K/L adalah batas tertinggi anggaran yang dialokasikan kepada Kementerian/Lembaga untuk penyusunan RKA-K/L.
| ||||||
|
|
72.
|
Kerangka Anggaran Jangka Menengah yang selanjutnya disingkat KAJM adalah rencana APBN jangka menengah yang memuat kerangka pendapatan, belanja, dan pembiayaan untuk menjaga kesinambungan dan disiplin fiskal Pemerintah.
| ||||||
|
|
73.
|
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang selanjutnya disingkat RPJMN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun.
| ||||||
|
|
74.
|
Alokasi Anggaran Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disebut Alokasi Anggaran K/L adalah batas tertinggi anggaran pengeluaran yang dialokasikan kepada Kementerian/Lembaga berdasarkan hasil pembahasan rancangan APBN yang dituangkan dalam hasil kesepakatan pembahasan rancangan APBN antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat.
| ||||||
|
|
75.
|
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disingkat DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang digunakan sebagai acuan pengguna anggaran dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan sebagai pelaksanaan APBN.
| ||||||
|
|
76.
|
DIPA Petikan adalah DIPA per Satker yang dicetak secara otomatis melalui sistem, yang berisi mengenai informasi Kinerja, rincian pengeluaran, rencana penarikan dana dan perkiraan penerimaan, dan catatan, yang berfungsi sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan Satker.
| ||||||
|
|
77.
|
Petunjuk Operasional Kegiatan yang selanjutnya disingkat POK adalah dokumen yang memuat uraian rencana kerja dan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, disusun oleh KPA sebagai penjabaran lebih lanjut dari DIPA.
| ||||||
|
|
78.
|
Kuasa Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Kuasa BUN adalah pejabat yang diangkat oleh BUN untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan APBN dalam wilayah kerja yang ditetapkan.
| ||||||
|
|
79.
|
Pagu Indikatif Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Pagu Indikatif BUN adalah indikasi dana yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan BUN.
| ||||||
|
|
80.
|
Pagu Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Pagu Anggaran BUN adalah batas tertinggi anggaran yang dialokasikan kepada BUN sebagai dasar penyusunan RKA-BUN.
| ||||||
|
|
81.
|
Alokasi Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Alokasi Anggaran BUN adalah batas tertinggi anggaran pengeluaran yang dialokasikan kepada Menteri Keuangan sebagai BUN berdasarkan hasil pembahasan rancangan APBN yang dituangkan dalam hasil kesepakatan pembahasan rancangan APBN antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat.
| ||||||
|
|
82.
|
Kuasa Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat KPA BUN adalah pejabat pada Satker dari masing-masing PPA BUN baik di kantor pusat maupun kantor daerah atau Satker di Kementerian/Lembaga yang memperoleh penugasan dari Menteri Keuangan untuk melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan anggaran yang berasal dari BA BUN.
| ||||||
|
|
83.
|
Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut RKA Satker BUN adalah dokumen perencanaan anggaran BA BUN yang memuat rincian kebutuhan dana baik yang berbentuk anggaran belanja maupun pembiayaan dalam rangka pemenuhan kewajiban Pemerintah Pusat dan TKD tahunan yang disusun oleh KPA BUN.
| ||||||
|
|
84.
|
Pemimpin Pembantu Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Pemimpin PPA BUN adalah pejabat eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang bertanggung jawab atas program BA BUN dan bertindak untuk menandatangani daftar isian pelaksanaan anggaran BUN.
| ||||||
|
|
85.
|
Daftar Hasil Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat DHP RKA-BUN adalah dokumen hasil penelaahan RKA-BUN yang memuat alokasi anggaran menurut unit organisasi, fungsi, dan Program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Anggaran atau pejabat yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Anggaran.
| ||||||
|
|
86.
|
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat DIPA BUN adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang disusun oleh KPA BUN.
| ||||||
|
|
87.
|
Tunggakan adalah tagihan atas pekerjaan/penugasan yang telah diselesaikan dan telah tersedia alokasi anggarannya tetapi belum dibayarkan sampai dengan berakhirnya tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
88.
|
Surat Penetapan Pergeseran Anggaran Belanja Antarsubbagian Anggaran pada Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat SPP BA BUN adalah dokumen alokasi anggaran yang ditetapkan dalam rangka pergeseran anggaran belanja antarsubbagian anggaran pada BA BUN untuk suatu kegiatan.
| ||||||
|
|
89.
|
Surat Penetapan Satuan Anggaran Bagian Anggaran yang selanjutnya disingkat SP SABA adalah dokumen alokasi anggaran yang ditetapkan untuk suatu kegiatan, yang dilakukan pergeseran anggaran belanjanya dari BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L.
| ||||||
|
|
90.
|
Mitra Pembantu Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Mitra PPA BUN adalah Direktorat Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara selaku unit eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran yang bertugas sebagai mitra penganggaran PPA BUN.
| ||||||
|
|
91.
|
Penyesuaian Belanja Negara adalah melakukan pengutamaan penggunaan anggaran yang disesuaikan secara otomatis (automatic adjustment), realokasi anggaran, pemotongan anggaran belanja negara, dan/atau pergeseran anggaran antar-Program.
| ||||||
|
|
92.
|
Revisi Anggaran adalah perubahan RKA berupa penyesuaian rincian anggaran dan/atau informasi Kinerja yang telah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang mengenai APBN, termasuk revisi atas DIPA yang telah disahkan pada tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
93.
|
Laporan Hasil Reviu yang selanjutnya disingkat LHR adalah laporan yang disusun pada tingkatan unit akuntansi tertentu sebagai gabungan dari catatan hasil reviu dan ikhtisar hasil reviu unit akuntansi di bawahnya.
| ||||||
|
|
94.
|
Unit Pendukung PPA BUN Belanja Lainnya adalah Direktorat Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara selaku unit eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran yang bertugas sebagai unit Pembantu Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya.
| ||||||
|
|
95.
|
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan.
| ||||||
|
|
96.
|
Lanjutan Pelaksanaan Kegiatan/Proyek Pinjaman Luar Negeri dan/atau Pinjaman Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Lanjutan Pelaksanaan Kegiatan Pinjaman adalah penggunaan kembali sisa pagu anggaran satu tahun anggaran sebelumnya yang bersumber dari PLN dan/atau PDN sepanjang masih terdapat sisa alokasi komitmen PLN dan/atau PDN serta masih dalam masa penarikan.
| ||||||
|
|
97.
|
Percepatan Pelaksanaan Kegiatan/Proyek Pinjaman Luar Negeri dan/atau Pinjaman Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Percepatan Pelaksanaan Kegiatan Pinjaman adalah tambahan pagu anggaran yang berasal dari sisa komitmen PLN dan/atau PDN yang belum ditarik untuk memenuhi kebutuhan pendanaan kegiatan untuk percepatan penyelesaian pekerjaan dan/atau memenuhi kebutuhan anggaran yang belum tersedia pada tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
98.
|
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satker Perangkat Daerah/Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.
| ||||||
|
|
99.
|
Penerusan Hibah adalah hibah yang diterima oleh Pemerintah yang diterushibahkan atau diterus pinjamkan kepada Pemerintah Daerah atau dipinjamkan kepada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah mengenai tata cara penerimaan hibah sepanjang diatur dalam perjanjian hibah.
| ||||||
|
|
100.
|
Lanjutan Pelaksanaan Kegiatan/Proyek Hibah Luar Negeri dan/atau Hibah Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Lanjutan Pelaksanaan Kegiatan Hibah adalah penggunaan kembali sisa pagu anggaran satu tahun anggaran sebelumnya yang bersumber dari hibah luar negeri dan/atau hibah dalam negeri sepanjang masih terdapat sisa alokasi komitmen hibah luar negeri dan/atau hibah dalam negeri serta masih dalam masa penarikan.
| ||||||
|
|
101.
|
Percepatan Pelaksanaan Kegiatan/Proyek Hibah Luar Negeri dan/atau Hibah Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Percepatan Pelaksanaan Kegiatan Hibah adalah tambahan pagu anggaran yang berasal dari sisa komitmen hibah luar negeri dan/atau hibah dalam negeri yang belum ditarik untuk memenuhi kebutuhan pendanaan kegiatan untuk percepatan penyelesaian pekerjaan dan/atau memenuhi kebutuhan anggaran yang belum tersedia pada tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
102.
|
Pemberi Hibah adalah pihak yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri yang memberikan Hibah kepada Pemerintah.
| ||||||
|
|
103.
|
Sisa Anggaran Kontraktual adalah selisih lebih antara alokasi anggaran rincian Keluaran (output) yang tercantum dalam DIPA dengan nilai kontrak Pengadaan Barang/Jasa untuk menghasilkan rincian Keluaran (output) sesuai dengan volume rincian Keluaran (output) yang ditetapkan dalam DIPA.
| ||||||
|
|
104.
|
Belanja Operasional adalah anggaran yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan sebuah Satker dalam melaksanakan tugas dan fungsinya berupa belanja pegawai operasional dan belanja barang operasional.
| ||||||
|
|
105.
|
Swakelola adalah cara memperoleh barang/jasa yang dikerjakan sendiri oleh Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah, Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah lain, organisasi kemasyarakatan, atau kelompok masyarakat.
| ||||||
|
|
106.
|
Rumusan Informasi Kinerja adalah rumusan yang ditetapkan sebagai acuan dalam pelaksanaan Program dan Kegiatan termasuk sasaran Kinerja yang akan dicapai serta indikator sebagai alat ukur pencapaian kinerja meliputi rumusan Program, hasil (outcome), Kegiatan, Keluaran (output), indikator Kinerja utama, dan indikator Kinerja kegiatan.
| ||||||
|
|
107.
|
Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat yang melaksanakan kewenangan PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN.
| ||||||
|
|
108.
|
Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat PPSPM adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk melakukan pengujian atas permintaan pembayaran dan menerbitkan perintah pembayaran.
| ||||||
|
|
109.
|
Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.
| ||||||
|
|
110.
|
Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan Belanja Negara dalam pelaksanaan APBN pada kantor/Satker Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
111.
|
Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA dalam rangka pembayaran tagihan kepada penerima hak/Bendahara Pengeluaran.
| ||||||
|
|
112.
|
Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pembayaran tagihan kepada negara.
| ||||||
|
|
113.
|
Pengelola Basis Data Kepegawaian yang selanjutnya disingkat PBDK adalah pejabat atau pegawai yang ditunjuk oleh kepala Satker untuk diberi tugas dan tanggung jawab dalam mengelola data kepegawaian pada aplikasi kepegawaian Satker.
| ||||||
|
|
114.
|
Petugas Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai yang selanjutnya disingkat PPABP adalah pembantu KPA yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan administrasi Belanja Pegawai.
| ||||||
|
|
115.
|
Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA.
| ||||||
|
|
116.
|
Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah surat perintah yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa BUN untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM.
| ||||||
|
|
117.
|
Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang selanjutnya disebut Kontrak adalah perjanjian tertulis antara PA/KPA/PPK dengan Penyedia Barang/Jasa atau pelaksana Swakelola.
| ||||||
|
|
118.
|
Kas Negara adalah tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku BUN untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara.
| ||||||
|
|
119.
|
Penyedia Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut Penyedia adalah pelaku usaha yang menyediakan barang/jasa berdasarkan Kontrak.
| ||||||
|
|
120.
|
Uang Makan adalah uang yang diberikan kepada Pegawai ASN berdasarkan tarif dan dihitung secara harian untuk keperluan makan Pegawai ASN.
| ||||||
|
|
121.
|
Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut Pembayaran LS adalah pembayaran yang dilakukan langsung kepada Bendahara Pengeluaran/penerima hak lainnya atas dasar perjanjian kerja, surat keputusan, surat tugas atau surat perintah kerja lainnya melalui penerbitan SPM-LS.
| ||||||
|
|
122.
|
Bank/Pos Penyalur adalah bank/pos mitra kerja sebagai tempat dibukanya rekening atas nama Satker untuk menampung dana Belanja Bantuan Sosial/Bantuan Pemerintah yang akan disalurkan kepada penerima bantuan sosial/Bantuan Pemerintah.
| ||||||
|
|
123.
|
Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat UP adalah uang muka kerja dalam jumlah tertentu yang diberikan kepada Bendahara Pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker atau membiayai pengeluaran yang menurut sifat dan tujuannya tidak mungkin dilakukan melalui mekanisme Pembayaran LS.
| ||||||
|
|
124.
|
Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-UP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM untuk mencairkan UP.
| ||||||
|
|
125.
|
Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat TUP adalah uang muka yang diberikan kepada Bendahara Pengeluaran untuk kebutuhan yang sangat mendesak dalam 1 (satu) bulan melebihi UP yang telah ditetapkan.
| ||||||
|
|
126.
|
Surat Permintaan Pembayaran Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK dalam rangka pembayaran tagihan kepada penerima hak/Bendahara Pengeluaran.
| ||||||
|
|
127.
|
Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-UP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pembayaran UP.
| ||||||
|
|
128.
|
Surat Permintaan Pembayaran Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-TUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pembayaran TUP.
| ||||||
|
|
129.
|
Surat Permintaan Pembayaran Penggantian Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-GUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi pertanggungjawaban dan permintaan kembali pembayaran UP.
| ||||||
|
|
130.
|
Surat Permintaan Pembayaran Penggantian Uang Persediaan Nihil yang selanjutnya disebut SPP-GUP Nihil adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi pertanggungjawaban UP.
| ||||||
|
|
131.
|
Surat Permintaan Pembayaran Pertanggungjawaban Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-PTUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pertanggungjawaban atas TUP.
| ||||||
|
|
132.
|
Surat Perintah Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPBy adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK atas nama KPA yang berguna untuk mengeluarkan uang persediaan yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran kepada pihak yang dituju.
| ||||||
|
|
133.
|
Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronik yang dilekatkan, terasosiasi, atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi.
| ||||||
|
|
134.
|
Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-GUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM dengan membebani DIPA, yang dananya dipergunakan untuk menggantikan UP yang telah dipakai.
| ||||||
|
|
135.
|
Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan Nihil yang selanjutnya disebut SPM-GUP Nihil adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM sebagai pertanggungjawaban UP yang membebani DIPA.
| ||||||
|
|
136.
|
Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-TUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM untuk mencairkan TUP.
| ||||||
|
|
137.
|
Surat Perintah Membayar Pertanggungjawaban Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-PTUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPSPM sebagai pertanggungjawaban atas TUP yang membebani DIPA.
| ||||||
|
|
138.
|
Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disingkat RKP adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 1 (satu) tahun yang dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 3 Desember.
| ||||||
|
|
139.
|
Rincian Output Khusus yang selanjutnya disebut RO Khusus adalah RO yang digunakan pada Kementerian/Lembaga dalam rangka melaksanakan arahan Presiden yang bersifat strategis dan mendesak berdasarkan hasil rapat terbatas atau dokumen/bukti lain yang memuat perintah kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dan memerlukan alokasi anggaran pada tahun pelaksanaan.
| ||||||
|
|
140.
|
Komponen Khusus adalah nomenklatur yang menggambarkan aktivitas yang dilakukan oleh unit kerja Kementerian/Lembaga dalam rangka pencapaian RO Khusus.
| ||||||
|
|
141.
|
Izin Presiden adalah persetujuan yang diberikan oleh Presiden kepada Menteri/Pimpinan Lembaga untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang dimuat dalam instruksi Presiden, risalah sidang/rapat terbatas kabinet yang diterbitkan oleh Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara, atau surat pernyataan Menteri/Pimpinan Lembaga yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut telah mendapatkan izin Presiden.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Ketentuan ayat (1) huruf b angka 1 Pasal 5 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 5
| |||||||
|
|
(1)
|
Bagian Anggaran diberikan kepada:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Kementerian yang dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, atau Peraturan Presiden; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
Lembaga yang dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, atau Peraturan Presiden, yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
Pimpinan Lembaga bertanggung jawab kepada Presiden;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
memiliki entitas/unit yang melaksanakan fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan, dan akuntansi dalam struktur organisasi yang ditetapkan oleh Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
bukan lembaga ad hoc;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
Pimpinan Lembaga/Sekretaris Lembaga telah ditetapkan sebagai PA yang mendapat kuasa dari Presiden untuk mengelola keuangan negara dari Lembaga yang dipimpinnya; dan
| ||||
|
|
|
|
5.
|
mendapatkan rekomendasi persetujuan dari Direktorat Anggaran Bidang.
| ||||
|
|
(2)
|
Rekomendasi persetujuan dari Direktorat Anggaran Bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b angka 5, diberikan berdasarkan usulan yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama atas nama Pimpinan Lembaga, dengan mempertimbangkan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pemenuhan ketentuan sebagaimana diatur pada ayat (1) huruf b angka 1 sampai dengan angka 4;
| |||||
|
|
|
b.
|
efisiensi alokasi anggaran yang dikelola;
| |||||
|
|
|
c.
|
rancangan informasi Kinerja yang diusulkan; dan
| |||||
|
|
|
d.
|
capaian Kinerja anggaran Satker tersebut dalam jangka waktu 2 (dua) tahun terakhir memiliki nilai sangat baik, dalam hal Bagian Anggaran yang diusulkan merupakan Satker pada Kementerian/Lembaga.
| |||||
|
|
(3)
|
Berdasarkan hasil analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Direktur Anggaran Bidang atas nama Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan persetujuan/penolakan atas usulan permohonan Bagian Anggaran kepada Lembaga yang mengajukan permohonan Bagian Anggaran.
| ||||||
|
|
(4)
|
Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b belum terpenuhi, maka Lembaga yang mengajukan permohonan Bagian Anggaran dapat menjadi Satker pada Kementerian yang relevan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Ketentuan ayat (2) dan ayat (3) Pasal 16 diubah, diantara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (2a) dan ayat (2b), dan setelah ayat (3) ditambahkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (4) dan ayat (5) sehingga Pasal 16 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 16
| |||||||
|
|
(1)
|
Pemenuhan alokasi dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b, paling sedikit untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kebutuhan anggaran untuk biaya operasional Satker yang mendasar, berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
pembayaran gaji dan tunjangan;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
operasional dan pemeliharaan kantor; dan
| ||||
|
|
|
|
3.
|
operasional dan pemeliharaan sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi;
| ||||
|
|
|
b.
|
penyediaan dana untuk pelaksanaan pelayanan publik;
| |||||
|
|
|
c.
|
kebutuhan dana pendamping untuk kegiatan yang anggarannya bersumber dari pinjaman dan/atau Hibah;
| |||||
|
|
|
d.
|
kebutuhan anggaran untuk Kegiatan atau Keluaran berlanjut, penyelesaian pekerjaan tahun-tahun sebelumnya, dan penyelesaian kewajiban kepada pihak ketiga;
| |||||
|
|
|
e.
|
penyediaan dana untuk penyelesaian Tunggakan; dan/atau
| |||||
|
|
|
f.
|
penyediaan dana untuk program prioritas nasional/kegiatan prioritas/proyek prioritas/proyek prioritas strategis (major project).
| |||||
|
|
(2)
|
Penyediaan dana untuk penyelesaian Tunggakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, dilaksanakan dengan ketentuan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
untuk jumlah Tunggakan per tagihan dengan nilai sampai dengan Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah), harus dilampiri surat pernyataan dari KPA;
| |||||
|
|
|
b.
|
untuk jumlah Tunggakan per tagihan di atas Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) sampai dengan Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah), harus dilampiri hasil reviu dari APIP K/L;
| |||||
|
|
|
c.
|
untuk jumlah Tunggakan per tagihan di atas Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah), harus dilampiri hasil reviu dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan; dan/atau
| |||||
|
|
|
d.
|
Tunggakan SPM belanja subsidi yang belum direalisasikan hingga akhir tahun anggaran, harus dilampiri surat keterangan KPA yang menyatakan bahwa SPM belanja subsidi telah diajukan kepada KPPN pembayar namun belum direalisasikan dan SPM berkenaan.
| |||||
|
|
(2a)
|
Dalam hal diperlukan, APIP K/L dapat meminta penjaminan kualitas atas hasil reviu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
| ||||||
|
|
(2b)
|
Penyediaan dana atas SPM belanja subsidi yang belum direalisasikan hingga akhir tahun anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dilakukan terhadap SPM yang telah memenuhi seluruh persyaratan pada saat pengajuan proses pembayaran di tahun sebelumnya.
| ||||||
|
|
(3)
|
Dalam hal Tunggakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sudah dilakukan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan, hasil audit tersebut digunakan sebagai dokumen pendukung pengganti surat pernyataan dari KPA atau pengganti hasil reviu dari APIP K/L atau reviu Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan atau surat keterangan KPA sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
| ||||||
|
|
(4)
|
Besaran dana yang diusulkan untuk penyelesaian Tunggakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d sebesar SPM belanja subsidi yang sudah diajukan kepada KPPN pembayar namun belum direalisasikan pada tahun anggaran sebelumnya.
| ||||||
|
|
(5)
|
Penyediaan dana untuk penyelesaian Tunggakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dilakukan sesuai dengan hasil keputusan rapat pimpinan Kementerian Keuangan mengenai kondisi sektor fiskal yang berdampak pada APBN dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Ketentuan Pasal 40 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 40
| |||||||
|
|
(1)
|
Pengalokasian anggaran untuk pelaksanaan Bantuan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf j angka 2, dilaksanakan dengan memenuhi syarat:
| ||||||
|
|
|
a.
|
tercantum dalam RKP;
| |||||
|
|
|
b.
|
diamanatkan dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan/atau Peraturan Presiden; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
mendapat penugasan Presiden.
| |||||
|
|
(2)
|
Bantuan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan dalam bentuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
uang;
| |||||
|
|
|
b.
|
barang; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
jasa.
| |||||
|
|
(3)
|
Bantuan Pemerintah, diberikan kepada:
| ||||||
|
|
|
a.
|
perseorangan non-Pegawai ASN, non-prajurit TNI, dan/atau non-anggota POLRI, kecuali diatur tersendiri dalam ketentuan peraturan perundang-undangan;
| |||||
|
|
|
b.
|
kelompok masyarakat; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
Lembaga pemerintah/nonpemerintah.
| |||||
|
|
(4)
|
Lembaga pemerintah/nonpemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
bukan merupakan organisasi perangkat daerah di bawah pemerintah daerah;
| |||||
|
|
|
b.
|
merupakan lembaga nirlaba; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
merupakan lembaga selain huruf b yang dapat menerima Bantuan Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||
|
|
(5)
|
Peruntukan anggaran Bantuan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pemberian penghargaan;
| |||||
|
|
|
b.
|
beasiswa;
| |||||
|
|
|
c.
|
tunjangan profesi guru dan tunjangan lainnya;
| |||||
|
|
|
d.
|
bantuan operasional;
| |||||
|
|
|
e.
|
bantuan sarana/prasarana;
| |||||
|
|
|
f.
|
bantuan rehabilitasi/pembangunan gedung/bangunan; dan
| |||||
|
|
|
g.
|
bantuan lainnya yang memiliki karakteristik Bantuan Pemerintah yang ditetapkan oleh PA.
| |||||
|
|
(6)
|
Bantuan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf g dialokasikan untuk menindaklanjuti kebijakan pemerintah pusat atau penugasan Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| ||||||
|
|
(7)
|
Pengalokasian anggaran untuk pelaksanaan Bantuan Pemerintah dilaksanakan sesuai dengan akun peruntukannya.
| ||||||
|
|
(8)
|
Pengalokasian anggaran Bantuan Pemerintah berupa barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b yang akan diserahkan kepada masyarakat atau Pemerintah Daerah dan berbasis proposal, dilengkapi dengan surat pernyataan pejabat eselon I yang menyatakan bahwa alokasi tersebut telah berdasarkan proposal yang diterima.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Ketentuan ayat (4) Pasal 49 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 49
| |||||||
|
|
(1)
|
Satuan biaya selain yang diatur dalam SBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (1), dapat menggunakan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
harga pasar; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
satuan harga yang ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga/instansi teknis yang berwenang.
| |||||
|
|
(2)
|
Penggunaan satuan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikecualikan terhadap satuan biaya yang menambah penghasilan dan/atau fasilitas bagi pejabat negara, prajurit TNI/anggota POLRI, ASN dan Non-ASN yang dipekerjakan untuk melaksanakan tugas rutin Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
(3)
|
Penggunaan satuan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menambah penghasilan dan/atau fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus mendapat persetujuan Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(4)
|
Satuan biaya yang menambah penghasilan dan/atau fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
honorarium bagi pejabat negara, prajurit TNI/anggota POLRI, ASN atas pelaksanaan tugas tertentu yang membutuhkan upaya yang lebih besar;
| |||||
|
|
|
b.
|
honorarium bagi Non-ASN yang ditugaskan atas amanat Undang-Undang/Peraturan Pemerintah/Peraturan Presiden dan yang hak keuangannya belum diatur; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
fasilitas tambahan bagi pejabat negara, prajurit TNI/anggota POLRI, ASN, dan non-ASN, yang diamanatkan dalam:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
Undang-Undang/Peraturan Pemerintah/Peraturan Presiden/Keputusan Presiden/Instruksi Presiden; atau
| ||||
|
|
|
|
2.
|
risalah sidang/rapat terbatas kabinet yang memuat direktif Presiden yang diterbitkan oleh Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara.
| ||||
|
|
(5)
|
Honorarium bagi pejabat negara, prajurit TNI/anggota POLRI, ASN atas pelaksanaan tugas tertentu yang membutuhkan upaya yang lebih besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a, paling lama selama 3 (tiga) tahun.
| ||||||
|
|
(6)
|
Dalam hal honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat (5), telah berlaku selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, Kementerian/Lembaga melakukan evaluasi terhadap urgensi dan efektivitas keberadaan tugas tertentu tersebut untuk dipertimbangkan menjadi tugas dan fungsi suatu unit organisasi.
| ||||||
|
|
(7)
|
Satuan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diusulkan Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat yang berwenang atas nama Menteri/Pimpinan Lembaga kepada Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(8)
|
Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), disertai kajian yang memuat:
| ||||||
|
|
|
a.
|
latar belakang;
| |||||
|
|
|
b.
|
dasar hukum;
| |||||
|
|
|
c.
|
relevansi satuan biaya dengan keluaran yang ingin dicapai;
| |||||
|
|
|
d.
|
waktu penerapan satuan biaya;
| |||||
|
|
|
e.
|
kepada siapa satuan biaya diterapkan;
| |||||
|
|
|
f.
|
alasan diperlukan satuan biaya;
| |||||
|
|
|
g.
|
dasar perhitungan atau justifikasi besaran satuan biaya;
| |||||
|
|
|
h.
|
dampak anggaran atas penerapan satuan biaya;
| |||||
|
|
|
i.
|
kesimpulan; dan
| |||||
|
|
|
j.
|
data dukung.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Ketentuan ayat (8) Pasal 58 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 58
| |||||||
|
|
(1)
|
RKA-K/L disusun berdasarkan RKP, Renja K/L, Pagu Anggaran K/L, dan Standar Biaya.
| ||||||
|
|
(2)
|
Penyusunan RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memperhatikan rancangan RKA-K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57.
| ||||||
|
|
(3)
|
RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disusun sesuai dengan muatan dalam format RKA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan rincian alokasi berdasarkan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Angka Dasar; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
Kegiatan/Keluaran baru.
| |||||
|
|
(4)
|
Dalam hal terdapat perubahan Angka Dasar dan/atau usulan Kegiatan/Keluaran baru yang termuat dalam RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka pengalokasian anggarannya harus dilengkapi dengan dokumen pendukung antara lain berupa kerangka acuan kerja, rincian anggaran biaya, dan dokumen terkait lainnya.
| ||||||
|
|
(5)
|
Penyusunan RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disertai Prakiraan Maju 3 (tiga) tahun ke depan yang mengacu pada KAJM.
| ||||||
|
|
(6)
|
Penyusunan RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga mempertimbangkan rencana kebutuhan barang milik negara hasil penelaahan dalam hal usulan anggaran berkaitan dengan pengadaan barang milik negara yang menjadi objek perencanaan kebutuhan barang milik negara dan/atau pemeliharaan barang milik negara sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan mengenai perencanaan kebutuhan barang milik negara dan/atau pemeliharaan barang milik negara.
| ||||||
|
|
(7)
|
Pedoman umum, tata cara mengenai penyusunan RKA-K/L, dan standardisasi penggunaan KRO tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| ||||||
|
|
(8)
|
Standardisasi penggunaan KRO sebagaimana dimaksud pada ayat (7) mengacu pada pedoman penyusunan dan pemanfaatan KRO dan RO dalam perencanaan dan penganggaran yang ditetapkan oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Ketentuan ayat (3) dan ayat (6) Pasal 110 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 110
| |||||||
|
|
(1)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (2) huruf a, merupakan pergeseran anggaran belanja antarsubbagian anggaran dalam BA BUN untuk keperluan tertentu.
| ||||||
|
|
(2)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dari:
| ||||||
|
|
|
a.
|
sub BA BUN Belanja Lainnya ke:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
sub BA BUN Hibah;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
sub BA BUN TKD;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
sub BA BUN Subsidi; dan/atau
| ||||
|
|
|
|
4.
|
sub BA BUN Transaksi Khusus;
| ||||
|
|
|
b.
|
sub BA BUN Utang ke sub BA BUN Belanja Lainnya; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
sub BA BUN Subsidi ke sub BA BUN Belanja Lainnya.
| |||||
|
|
(3)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a angka 1, dilakukan untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pembayaran tagihan banking commission yang belum dianggarkan pada tahun anggaran berkenaan;
| |||||
|
|
|
b.
|
pemberian hibah kepada pemerintah asing/lembaga asing untuk tujuan kemanusiaan; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
pemberian hibah kepada pemerintah asing/lembaga asing untuk tujuan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||
|
|
(4)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a angka 2, dilakukan untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kurang bayar TKD;
| |||||
|
|
|
b.
|
penambahan alokasi anggaran TKD untuk kegiatan prioritas berdasarkan arahan Presiden atau Menteri; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
pemberian hibah kepada Pemerintah Daerah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
| |||||
|
|
(5)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a angka 3, dilakukan untuk keperluan penambahan alokasi subsidi.
| ||||||
|
|
(6)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a angka 4 dilakukan untuk keperluan penambahan alokasi belanja pada sub BA BUN Transaksi Khusus.
| ||||||
|
|
(7)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c dilakukan untuk keperluan menambah alokasi belanja pada sub BA BUN Belanja Lainnya.
| ||||||
|
|
(8)
|
Pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN dan peruntukan pergeseran anggaran selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (7) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Paragraf 2 pada Bagian Kesembilan pada BAB IV dihapus.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Pasal 111 dihapus.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Ketentuan ayat (8) huruf a angka 5 Pasal 114 dihapus, di antara ayat (8) dan ayat (9) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (8a), ayat (8) huruf b angka 1 dan ayat (10) diubah, dan ayat (9) dihapus, sehingga Pasal 114 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 114
| |||||||
|
|
(1)
|
Menteri Keuangan selaku PA BUN berwenang menetapkan penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya pada tahun anggaran berjalan sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang mengenai APBN.
| ||||||
|
|
(2)
|
Alokasi anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1), menurut jenis belanja terdiri atas:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Belanja Pegawai;
| |||||
|
|
|
b.
|
Belanja Bantuan Sosial; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
belanja lain-lain.
| |||||
|
|
(3)
|
Penetapan Menteri Keuangan untuk penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf c, dilaksanakan berdasarkan usulan Menteri/Pimpinan Lembaga kepada Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(4)
|
Penetapan Menteri Keuangan untuk penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, dilaksanakan berdasarkan usulan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana kepada Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(5)
|
Alokasi anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya jenis Belanja Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, digunakan untuk menampung cadangan anggaran gaji dalam rangka tambahan pegawai baru, honorarium, dan belanja pegawai lainnya sepanjang telah ditetapkan dalam Undang-Undang mengenai APBN tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(6)
|
Alokasi anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya jenis Belanja Bantuan Sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, digunakan untuk menampung cadangan tambahan dana tanggap darurat/siap pakai dan bantuan penanggulangan pascabencana di daerah.
| ||||||
|
|
(7)
|
Alokasi anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya jenis belanja lain-lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, digunakan untuk menampung:
| ||||||
|
|
|
a.
|
alokasi cadangan keperluan mendesak; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
alokasi untuk pengeluaran lainnya.
| |||||
|
|
(8)
|
Penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya jenis belanja lain-lain untuk alokasi cadangan keperluan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a, digunakan untuk membiayai kegiatan yang diusulkan oleh Kementerian/Lembaga yang memenuhi kriteria mendesak yang memenuhi unsur sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kriteria umum, kegiatan yang diusulkan oleh Kementerian/Lembaga harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
kegiatan tidak direncanakan pada proses penyusunan anggaran Kementerian/Lembaga atau kegiatan sudah ada pada DIPA Kementerian/Lembaga namun alokasinya tidak cukup tersedia;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
kebutuhan alokasi kegiatan tidak memungkinkan untuk dipenuhi melalui realokasi anggaran antarprogram maupun antarkegiatan;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
kegiatan yang diusulkan tidak untuk pemenuhan belanja barang operasional Kementerian/Lembaga, kecuali karena adanya penambahan pegawai baru/Satker baru;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
kegiatan yang diusulkan tidak termasuk dalam kebijakan penghematan/pencadangan anggaran belanja Kementerian/Lembaga; dan
| ||||
|
|
|
|
5.
|
dihapus;
| ||||
|
|
|
|
6.
|
kegiatan yang diusulkan tidak memungkinkan untuk diajukan melalui Undang-Undang mengenai APBN; dan
| ||||
|
|
|
b.
|
kriteria khusus, kegiatan yang diusulkan oleh Kementerian/Lembaga merupakan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan atau direktif Presiden yang belum dialokasikan pada DIPA Kementerian/Lembaga harus dilampirkan:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
peraturan perundang-undangan atau ketetapan Presiden yang menjadi dasar hukum;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
risalah sidang/rapat terbatas kabinet yang memuat direktif Presiden yang diterbitkan oleh Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara; atau
| ||||
|
|
|
|
3.
|
surat pernyataan Menteri/Pimpinan Lembaga yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan arahan langsung Presiden kepada Menteri/Pimpinan Lembaga, dan selanjutnya disampaikan kepada Menteri Keuangan dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara.
| ||||
|
|
(8a)
|
Ketentuan kriteria umum sebagaimana dimaksud pada ayat (8) huruf a dan kriteria khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (8) huruf b dapat dikecualikan sebagian atau seluruhnya dalam hal:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kegiatan yang diusulkan merupakan akibat dari keadaan kahar, dilampirkan surat pernyataan keadaan kahar yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang menetapkan keadaan kahar;
| |||||
|
|
|
b.
|
kegiatan yang diusulkan merupakan kewenangan Pemerintah Pusat yang:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
bersifat tidak terduga; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
berdampak besar dari segi politik, ekonomi, sosial, dan keamanan,
| ||||
|
|
|
|
dengan dilampiri surat pernyataan yang ditandatangani oleh pejabat eselon I, yang menjelaskan dampak risiko besar yang terjadi jika kegiatan tersebut tidak dipenuhi; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
kegiatan tertentu yang telah mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan selaku Pengguna Anggaran BUN.
| |||||
|
|
(9)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
(10)
|
Alokasi untuk pengeluaran lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf b, terdiri atas:
| ||||||
|
|
|
a.
|
alokasi terprogram, dialokasikan berdasarkan penilaian atas Indikasi Kebutuhan Dana BUN dan Angka Dasar; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
alokasi tidak terprogram, berupa cadangan anggaran yang pengalokasiannya tidak melalui Indikasi Kebutuhan Dana BUN.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11.
|
Ketentuan Pasal 117 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 117
| |||||||
|
|
(1)
|
Penggunaan anggaran yang akan dilakukan melalui penerbitan SPP BA BUN yang berasal dari sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (2) huruf a dan Pasal 109 ayat (1) huruf b dilakukan untuk memenuhi usulan tambahan anggaran.
| ||||||
|
|
(2)
|
Penerbitan SPP BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Menteri Keuangan selaku PA BUN menyampaikan usulan tambahan anggaran kepada Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
b.
|
dalam hal tambahan anggaran digunakan untuk kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di daerah, usulan disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana kepada Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
c.
|
usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a atau huruf b, dilampiri dengan:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
dasar hukum pengalokasian anggaran;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
kerangka acuan kerja;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
rincian anggaran belanja;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
surat pernyataan telah dilakukan penelitian;
| ||||
|
|
|
|
5.
|
LHR APIP K/L;
| ||||
|
|
|
|
6.
|
realisasi kinerja anggaran atas tambahan anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya yang diterima pada tahun sebelumnya dan/atau tahap sebelumnya pada tahun berjalan;
| ||||
|
|
|
|
7.
|
surat pernyataan KPA BUN terkait atas perhitungan usulan tambahan anggaran, dalam hal usulan tambahan anggaran diajukan untuk kebijakan subsidi Pajak Ditanggung Pemerintah yang ditetapkan pada tahun berjalan dan belum selesai dilaksanakan; dan
| ||||
|
|
|
|
8.
|
dokumen pendukung lainnya dalam hal diperlukan,
| ||||
|
|
|
d.
|
dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf c angka 2, angka 3, angka 4, dan angka 6 untuk usulan penggunaan anggaran yang berasal dari:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
Menteri Keuangan selaku PA BUN ditandatangani oleh KPA BUN; atau
| ||||
|
|
|
|
2.
|
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ditandatangani oleh pimpinan unit eselon I yang bertanggung jawab terhadap kegiatan yang diusulkan;
| ||||
|
|
|
e.
|
dalam hal usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a atau huruf b diajukan untuk kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya/tahun-tahun sebelumnya dan/atau tahun berjalan, dilampiri dengan reviu dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan/atau hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan;
| |||||
|
|
|
f.
|
Menteri Keuangan selaku PA BUN atau Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana bertanggung jawab:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
terhadap kebenaran dokumen yang disampaikan sebagaimana dimaksud dalam huruf c; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
atas substansi usulan kegiatan, volume kegiatan, dan satuan biaya yang digunakan pada usulan penggunaan anggaran;
| ||||
|
|
|
g.
|
berdasarkan usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a atau huruf b, Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya melakukan penelitian secara bersama-sama dengan pihak-pihak terkait setelah mendapat disposisi atau arahan Menteri Keuangan dan dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf c diterima dengan lengkap dan benar;
| |||||
|
|
|
h.
|
dalam hal berdasarkan hasil penelitian usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf g masih diperlukan tambahan dokumen lainnya, Menteri Keuangan selaku PA BUN atau Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana diminta menyampaikan kekurangan dokumen dimaksud paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung setelah penelitian dilakukan;
| |||||
|
|
|
i.
|
hasil penelitian usulan tambahan anggaran dituangkan dalam berita acara penelitian yang disusun sesuai format tercantum dalam Lampiran IV huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| |||||
|
|
|
j.
|
dalam hal berdasarkan hasil penelitian usulan sebagaimana dimaksud dalam huruf g tidak disetujui, Menteri Keuangan menyampaikan surat penolakan usulan kepada Menteri Keuangan selaku PA BUN pengusul/Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana;
| |||||
|
|
|
k.
|
dalam hal berdasarkan hasil penelitian usulan sebagaimana dimaksud dalam huruf g disetujui namun alokasi anggarannya kurang/belum tersedia, terlebih dahulu dilakukan pergeseran dalam sub BA BUN Belanja Lainnya;
| |||||
|
|
|
l.
|
dalam rangka pergeseran sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam huruf k, Direktur Jenderal Anggaran mengajukan kepada Menteri Keuangan berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
izin pergeseran dalam sub BA BUN Belanja Lainnya; dan
| ||||
|
|
|
|
3.
|
izin pergeseran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke subbagian anggaran BUN yang lainnya;
| ||||
|
|
|
m.
|
berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf l angka 2, Direktur Jenderal Anggaran menetapkan revisi surat Menteri Keuangan terkait alokasi anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya atas nama Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
n.
|
dalam hal berdasarkan hasil penelitian usulan sebagaimana dimaksud dalam huruf g disetujui dan alokasi anggarannya sudah tersedia maka Direktur Jenderal Anggaran mengajukan kepada Menteri Keuangan berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
izin pergeseran dari subbagian anggaran BUN Belanja Lainnya ke subbagian anggaran BUN yang lainnya;
| ||||
|
|
|
o.
|
berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf g, dokumen yang dilampirkan sebagaimana dimaksud dalam huruf c dan huruf h, serta surat Menteri Keuangan terkait alokasi anggaran, maka:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
dalam hal Menteri Keuangan memberikan persetujuan atas permohonan izin penggunaan dan pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf l atau huruf n, Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan BA BUN atas nama Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya menyampaikan usulan penerbitan SPP BA BUN dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke subbagian anggaran BUN yang lainnya kepada Direktur Jenderal Anggaran; atau
| ||||
|
|
|
|
2.
|
dalam hal Menteri Keuangan tidak memberikan persetujuan atas permohonan izin penggunaan dan pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf l atau huruf n, Menteri Keuangan menyampaikan surat penolakan usulan tambahan anggaran kepada Menteri Keuangan selaku PA BUN atau Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana;
| ||||
|
|
|
p.
|
usulan penerbitan SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf o angka 1 dilampiri dengan:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
nota dinas usulan permohonan izin penggunaan dan pergeseran anggaran yang disampaikan kepada Menteri Keuangan berikut dengan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf l atau huruf n; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
berita acara penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf I;
| ||||
|
|
|
q.
|
berdasarkan usulan penerbitan SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf o angka 1, Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri Keuangan menerbitkan SPP BA BUN;
| |||||
|
|
|
r.
|
SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf q disusun sesuai format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| |||||
|
|
|
s.
|
SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf q menjadi dasar pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN dan disampaikan kepada Pemimpin PPA BUN terkait, dengan tembusan kepada Menteri Keuangan, Direktur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Direktorat Jenderal Anggaran, dan Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan;
| |||||
|
|
|
t.
|
berdasarkan SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf q, Pemimpin PPA BUN terkait sebagai penerima alokasi anggaran menyusun dan menyampaikan RKA-BUN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 dalam rangka penyusunan dan pengesahan DIPA BUN;
| |||||
|
|
|
u.
|
penyusunan dan pengesahan DIPA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf t, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; dan
| |||||
|
|
|
v.
|
SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam huruf q, dicatat sebagai realisasi pagu atas alokasi cadangan yang dilakukan pergeseran.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12.
|
Ketentuan ayat (2), ayat (6), ayat (7), ayat (8), ayat (9), ayat (10) dan ayat (17) Pasal 118 diubah, ayat (4), ayat (5), ayat (8a), ayat (8b), dan ayat (18) dihapus, di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (2a), di antara ayat (7) dan ayat (8) disisipkan 5 (lima) ayat, yakni ayat (7a), ayat (7b), ayat (7c), ayat (7d) dan ayat (7e), di antara ayat (9) dan ayat (10) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (9a), di antara ayat (10) dan ayat (11) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (10a), dan di antara ayat (14) dan ayat (15) disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (14a), sehingga Pasal 118 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 118
| |||||||
|
|
(1)
|
Pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (2) huruf b dilakukan untuk memberikan tambahan anggaran ke BA K/L.
| ||||||
|
|
(2)
|
Mekanisme pengajuan usulan pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L dilakukan dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga kepada Menteri Keuangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Direktorat Jenderal Anggaran melalui Sistem Informasi dengan dilampiri dokumen pendukung sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
kerangka acuan kerja;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
rincian anggaran belanja;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
surat pernyataan hasil optimalisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (2);
| ||||
|
|
|
|
5.
|
surat pernyataan kesanggupan menyerap anggaran dan melaksanakan kegiatan pada tahun berjalan disusun sesuai dengan format tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| ||||
|
|
|
|
6.
|
LHR APIP K/L;
| ||||
|
|
|
|
7.
|
rincian distribusi alokasi usulan tambahan anggaran per Program unit/provinsi/Satker disusun sesuai dengan format yang tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| ||||
|
|
|
|
8.
|
realisasi kinerja anggaran atas tambahan anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya yang diterima pada tahun sebelumnya dan/atau tahap sebelumnya pada tahun berjalan, sesuai dengan format yang tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| ||||
|
|
|
|
9.
|
surat pernyataan bahwa telah dilakukan penelitian kelengkapan dokumen pendukung;
| ||||
|
|
|
|
10.
|
surat usulan Revisi Anggaran yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga;
| ||||
|
|
|
|
11.
|
surat pernyataan pejabat eselon I; dan
| ||||
|
|
|
|
12.
|
dokumen pendukung lainnya dalam hal diperlukan;
| ||||
|
|
|
c.
|
dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 2, angka 3, angka 4, angka 5, angka 7, dan angka 8 ditandatangani oleh pejabat setingkat eselon I yang bertanggung jawab terhadap kegiatan yang diusulkan;
| |||||
|
|
|
d.
|
dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 9 ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris Kementerian/Lembaga;
| |||||
|
|
|
e.
|
dalam hal usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan untuk kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun/tahun-tahun sebelumnya dan/atau tahun berjalan, usulan penggunaan anggaran dilampiri dengan hasil reviu dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, dan/atau hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan; dan
| |||||
|
|
|
f.
|
dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 1, angka 2, angka 3, angka 6, angka 7, angka 8, dan angka 12 disusun berdasarkan kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran.
| |||||
|
|
(2a)
|
Dalam hal usulan tambahan anggaran belum dilengkapi dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan surat pemberitahuan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga agar menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung.
| ||||||
|
|
(3)
|
Direktorat Jenderal Anggaran melakukan penelaahan terhadap usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima lengkap.
| ||||||
|
|
(4)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
(5)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
(6)
|
Penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan secara terkoordinasi antara Direktorat Jenderal Anggaran dan Kementerian/Lembaga pengusul, yang hasilnya dituangkan dalam Berita Acara Penelaahan sesuai dengan format sebagaimana tercantum pada Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| ||||||
|
|
(7)
|
Dalam hal berdasarkan hasil penelaahan usulan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) terdapat kekurangan dokumen pendukung di luar dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, Kementerian/Lembaga menyampaikan kekurangan dokumen pendukung paling lama 2 (dua) hari kerja setelah penelaahan dilakukan.
| ||||||
|
|
(7a)
|
Dalam hal Kementerian/Lembaga belum menyampaikan kekurangan dokumen pendukung dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan pemberitahuan kepada Kementerian/Lembaga agar segera menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung.
| ||||||
|
|
(7b)
|
Kementerian/Lembaga menyampaikan kekurangan dokumen pendukung di luar dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) paling lama 2 (dua) hari kerja setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7a).
| ||||||
|
|
(7c)
|
Dalam hal setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (7b), Kementerian/Lembaga belum melengkapi dokumen pendukung di luar dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan pemberitahuan kembali kepada Kementerian/Lembaga agar segera menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung.
| ||||||
|
|
(7d)
|
Dalam hal Kementerian/Lembaga telah melengkapi seluruhnya dan/atau sebagian dan/atau tidak melengkapi dokumen pendukung di luar dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Direktur Jenderal Anggaran memproses usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan dokumen pendukung yang telah disampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (7).
| ||||||
|
|
(7e)
|
Dalam hal diperlukan, Direktur Jenderal Anggaran dapat melakukan penelaahan kembali atas usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan dokumen pendukung di luar dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang telah dilengkapi seluruhnya dan/atau sebagian.
| ||||||
|
|
(8)
|
Berdasarkan hasil penelaahan atas usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan/atau ayat (7e), Direktur Jenderal Anggaran mengajukan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya dan pergeseran anggaran ke BA K/L kepada Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(9)
|
Dalam hal Menteri Keuangan telah memberikan persetujuan penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya dan/atau pergeseran anggaran dalam sub BA BUN Belanja Lainnya, Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara atas nama Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya:
| ||||||
|
|
|
a.
|
menyampaikan permintaan penyesuaian data dengan menggunakan Sistem Informasi dan/atau dokumen pendukung lainnya kepada Kementerian/Lembaga dalam hal nilai dan kegiatan yang mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan berbeda dengan yang diusulkan oleh Kementerian/Lembaga dengan ditembuskan kepada Direktur Jenderal Anggaran; atau
| |||||
|
|
|
b.
|
melanjutkan proses usulan penggunaan anggaran melalui pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L dalam hal nilai dan kegiatan yang mendapat persetujuan tidak ada perbedaan dengan yang diusulkan oleh Kementerian/Lembaga.
| |||||
|
|
(9a)
|
Dalam hal usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (8) tidak termasuk dalam perubahan anggaran tertentu yang tercantum dalam Undang-Undang mengenai APBN tahun berkenaan, Direktur Jenderal Anggaran a.n. Menteri Keuangan menyampaikan permohonan rekomendasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan DPR RI yang khusus menangani urusan di bidang anggaran.
| ||||||
|
|
(10)
|
Kementerian/Lembaga menyampaikan kembali penyesuaian data yang telah diperbaiki melalui Sistem Informasi dan/atau dokumen pendukung lainnya kepada Direktur Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (9) huruf a paling lama 2 (dua) hari kerja.
| ||||||
|
|
(10a)
|
Dalam hal setelah 2 (dua) hari kerja Kementerian/Lembaga belum menyampaikan penyesuaian data yang telah diperbaiki melalui Sistem Informasi dan/atau dokumen pendukung lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (10), Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan kembali permintaan penyesuaian data yang telah diperbaiki melalui sistem Informasi dan/atau dokumen pendukung lainnya kepada Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
(11)
|
Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri Keuangan menerbitkan SP SABA yang disampaikan kepada Kementerian/Lembaga, dengan ditembuskan kepada Menteri Keuangan, Direktur Jenderal Anggaran c.q. Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga dan Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara selaku Unit Pendukung PPA BUN Belanja Lainnya, paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak usulan pergeseran anggaran diterima lengkap dari Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya.
| ||||||
|
|
(12)
|
Data dalam Sistem Informasi merupakan satu kesatuan dengan dokumen SP SABA yang telah diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (11).
| ||||||
|
|
(13)
|
Anggaran belanja yang dilakukan pergeseran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L melalui penerbitan SP SABA digunakan untuk membiayai kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga yang telah mempunyai Bagian Anggaran.
| ||||||
|
|
(14)
|
Anggaran belanja yang dilakukan pergeseran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L melalui penerbitan SP SABA tidak diperkenankan untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
dihitung dalam pemenuhan target kebijakan penghematan belanja Kementerian/Lembaga; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
dilakukan pergeseran anggaran antar RO.
| |||||
|
|
(14a) Pergeseran anggaran antar RO sebagaimana dimaksud pada ayat (14) huruf b dapat dilakukan setelah mendapatkan Izin Presiden.
| |||||||
|
|
(15)
|
Menteri/Pimpinan Lembaga bertanggung jawab:
| ||||||
|
|
|
a.
|
atas substansi usulan kegiatan, volume kegiatan, dan satuan biaya yang digunakan pada usulan penggunaan anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
terhadap kebenaran dokumen yang disampaikan pada usulan tambahan anggaran; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
secara formal dan materiil atas pelaksanaan kegiatan yang dananya bersumber dari sub BA BUN Belanja Lainnya yang telah dilakukan pergeseran melalui penerbitan SP SABA.
| |||||
|
|
(16)
|
Berdasarkan SP SABA sebagaimana dimaksud pada ayat (11), Direktorat Jenderal Anggaran menetapkan revisi DIPA Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
(17)
|
Dalam hal Menteri Keuangan tidak memberikan persetujuan seluruhnya, Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya atas nama Menteri Keuangan menyampaikan surat pemberitahuan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga, dengan tembusan kepada Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(18)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
13.
|
Di antara Pasal 118 dan Pasal 119 disisipkan 2 (dua) pasal yakni Pasal 118A dan Pasal 118B, yang berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 118A
| |||||||
|
|
(1)
|
Direktur Jenderal Anggaran dapat mengajukan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya dan pergeseran anggaran ke BA K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (8) kepada Menteri Keuangan dengan pergeseran anggaran melalui penerbitan SP SABA secara bertahap.
| ||||||
|
|
(2)
|
Setelah mendapatkan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya dan pergeseran anggaran ke BA K/L melalui penerbitan SP SABA secara bertahap dari Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara atas nama Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya menyampaikan permintaan penyesuaian data dengan menggunakan Sistem Informasi dan/atau dokumen pendukung lainnya kepada Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
(3)
|
Penyesuaian data sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk penyesuaian terhadap nilai SP SABA yang akan diterbitkan pada tahap tersebut.
| ||||||
|
|
(4)
|
Mekanisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (9) sampai dengan ayat (16) berlaku mutatis mutandis terhadap proses penerbitan SP SABA untuk keperluan usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| ||||||
|
|
(5)
|
Mekanisme pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L dengan penerbitan SP SABA pada tahap berikutnya dilakukan dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya disampaikan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga kepada Menteri Keuangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Direktorat Jenderal Anggaran melalui Sistem Informasi dengan dilampiri dokumen pendukung:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
rincian anggaran belanja sesuai dengan rencana pergeseran anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
surat pernyataan kesanggupan menyerap anggaran dan melaksanakan kegiatan pada tahun berjalan disusun sesuai dengan format tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
rincian distribusi alokasi usulan tambahan anggaran per Program unit/provinsi/Satker disusun sesuai dengan format tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| ||||
|
|
|
|
5.
|
surat pernyataan bahwa telah dilakukan penelitian kelengkapan dokumen pendukung;
| ||||
|
|
|
|
6.
|
surat usulan Revisi Anggaran yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga;
| ||||
|
|
|
|
7.
|
surat pernyataan pejabat eselon I;
| ||||
|
|
|
c.
|
dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 2 dan angka 3, ditandatangani oleh pejabat setingkat eselon I yang bertanggung jawab terhadap kegiatan yang diusulkan;
| |||||
|
|
|
d.
|
dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 7 ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris Kementerian/Lembaga;
| |||||
|
|
|
e.
|
Direktorat Jenderal Anggaran melakukan penelitian terhadap usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b setelah dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima lengkap;
| |||||
|
|
|
f.
|
dalam hal usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya belum dilengkapi dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b, Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan surat pemberitahuan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga agar segera menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung dalam waktu 2 (dua) hari kerja sejak disampaikannya surat pemberitahuan;
| |||||
|
|
|
g.
|
dalam hal setelah 2 (dua) hari kerja sejak disampaikannya surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf f, Menteri/Pimpinan Lembaga belum melengkapi dokumen pendukung, usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya sebagaimana dimaksud dalam huruf a dikembalikan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga melalui surat Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri Keuangan dengan tembusan kepada Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
h.
|
berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf e, Direktur Jenderal Anggaran dapat tidak menyetujui atau menyetujui atas seluruh/sebagian usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya;
| |||||
|
|
|
i.
|
dalam hal Direktur Jenderal Anggaran tidak menyetujui usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya sebagaimana dimaksud dalam huruf h, Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri Keuangan menyampaikan surat pemberitahuan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dengan tembusan kepada Menteri Keuangan; dan
| |||||
|
|
|
j.
|
dalam hal Direktur Jenderal Anggaran menyetujui usulan tambahan anggaran melalui penerbitan SP SABA tahap berikutnya sebagaimana dimaksud pada huruf h, Direktur Jenderal Anggaran atas nama Menteri menerbitkan SP SABA yang disampaikan kepada Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga, dengan ditembuskan kepada Menteri Keuangan, Direktur Jenderal Anggaran c.q. Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga dan Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara selaku Unit Pendukung PPA BUN Belanja Lainnya, paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak usulan pergeseran anggaran diterima lengkap dari Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya.
| |||||
|
|
(6)
|
Pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L dengan penerbitan SP SABA pada tahap berikutnya dapat dilakukan pada tahun anggaran berjalan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 118B
| |||||||
|
|
(1)
|
Penyampaian permohonan rekomendasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan DPR RI yang khusus menangani urusan di bidang anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (9a) dan batas waktu pemberian rekomendasi oleh DPR dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang mengenai APBN tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(2)
|
Berdasarkan rekomendasi DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Keuangan memberikan disposisi kepada Direktur Jenderal Anggaran untuk menindaklanjuti sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
| ||||||
|
|
(3)
|
Dalam hal setelah batas waktu yang ditentukan dalam Undang-Undang mengenai APBN tahun anggaran berkenaan tidak diterima rekomendasi dari alat kelengkapan DPR RI yang khusus menangani urusan di bidang anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mekanisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (9), ayat (10) sampai dengan ayat (16), dan ayat (18) berlaku mutatis mutandis terhadap proses penerbitan SP SABA untuk keperluan usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| ||||||
|
|
(4)
|
Jangka waktu yang ditentukan dalam Undang-Undang mengenai APBN tahun anggaran berkenaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk masa reses DPR yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
14.
|
Ketentuan ayat (2), ayat (3), dan ayat (5) Pasal 119 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 119
| |||||||
|
|
(1)
|
Penggunaan anggaran yang akan dilakukan melalui penerbitan DIPA BUN yang berasal dari sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (2) huruf c dilakukan untuk memenuhi usulan tambahan anggaran.
| ||||||
|
|
(2)
|
Mekanisme usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
KPA BUN menyampaikan usulan tambahan anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya dengan tembusan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga pengusul dengan melampirkan dokumen pendukung berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
dasar hukum pengalokasian anggaran;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
kerangka acuan kerja ditandatangani KPA BUN;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
rincian anggaran belanja ditandatangani KPA BUN;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
LHR APIP K/L; dan
| ||||
|
|
|
|
5.
|
dokumen pendukung lainnya dalam hal diperlukan;
| ||||
|
|
|
b.
|
dalam hal usulan tambahan anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan untuk kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya/tahun-tahun sebelumnya dan/atau tahun berjalan, usulan tambahan anggaran tersebut dilampiri dengan hasil reviu dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan/atau hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan;
| |||||
|
|
|
c.
|
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dikecualikan dalam hal terdapat tunggakan pembayaran belanja subsidi akibat adanya kebijakan pemerintah;
| |||||
|
|
|
d.
|
usulan tambahan anggaran untuk penyelesaian tunggakan sebagaimana dimaksud dalam huruf c dilampiri surat keterangan KPA yang menyatakan bahwa SPM belanja subsidi telah diajukan kepada KPPN pembayar namun belum direalisasikan dan SPM berkenaan;
| |||||
|
|
|
e.
|
berdasarkan usulan tambahan anggaran dan dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dilakukan penelitian atas usulan tambahan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya yang dikoordinasikan oleh Unit Pendukung PPA BUN Belanja Lainnya;
| |||||
|
|
|
f.
|
penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf e, dilakukan bersama-sama dengan pihak terkait, setelah dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf a angka 1 sampai dengan angka 5 diterima dengan lengkap dan benar;
| |||||
|
|
|
g.
|
berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf f, Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN menyampaikan:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
surat pemberitahuan alokasi anggaran kepada KPA BUN dan permintaan penyampaian RKA Satker BUN dalam hal usulan tambahan anggaran disetujui; atau
| ||||
|
|
|
|
2.
|
surat penolakan kepada KPA BUN dalam hal usulan tambahan anggaran tidak dapat disetujui;
| ||||
|
|
|
h.
|
dalam hal berdasarkan hasil penelitian usulan disetujui namun alokasi anggarannya kurang/belum tersedia, maka terlebih dahulu dilakukan pergeseran dalam sub BA BUN Belanja Lainnya;
| |||||
|
|
|
i.
|
dalam rangka pergeseran dalam sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam huruf h, Direktur Jenderal Anggaran mengajukan izin pergeseran dan penggunaan kepada Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
j.
|
berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf i, Direktur Jenderal Anggaran menetapkan revisi surat Menteri Keuangan terkait alokasi anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya atas nama Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
k.
|
berdasarkan revisi surat Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf j, Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN menyampaikan pemberitahuan alokasi anggaran serta permintaan penyampaian RKA Satker BUN kepada KPA BUN; dan
| |||||
|
|
|
l.
|
dalam hal Menteri Keuangan tidak menyetujui permohonan izin pergeseran dan penggunaan seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam huruf i, Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN menyampaikan surat penolakan usulan tambahan anggaran dimaksud kepada KPA BUN dengan tembusan kepada Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga pengusul.
| |||||
|
|
(3)
|
Berdasarkan pemberitahuan alokasi anggaran dan permintaan penyampaian RKA Satker BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g angka 1 atau pada ayat (2) huruf k, KPA BUN menyampaikan usulan RKA Satker BUN kepada Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya dengan tembusan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga pengusul dengan melampirkan dokumen pendukung berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
dasar hukum pengalokasian anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
RKA Satker BUN ditandatangani oleh KPA BUN;
| |||||
|
|
|
c.
|
kerangka acuan kerja ditandatangani KPA BUN;
| |||||
|
|
|
d.
|
rincian anggaran belanja ditandatangani KPA BUN;
| |||||
|
|
|
e.
|
LHR APIP K/L yang sama pada saat pengusulan tambahan anggaran; dan
| |||||
|
|
|
f.
|
dokumen pendukung lainnya dalam hal diperlukan.
| |||||
|
|
(4)
|
Berdasarkan usulan RKA Satker BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Unit Pendukung PPA BUN Belanja Lainnya melakukan penelitian, setelah dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterima dengan lengkap dan benar.
| ||||||
|
|
(5)
|
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN Belanja Lainnya:
| ||||||
|
|
|
a.
|
mengajukan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya kepada Menteri Keuangan dalam hal penyampaian RKA Satker BUN berdasarkan pemberitahuan alokasi anggaran dan permintaan penyampaian RKA Satker BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g angka 1; atau
| |||||
|
|
|
b.
|
menyusun dan menyampaikan RKA-BUN kepada Direktur Jenderal Anggaran dalam hal penyampaian RKA Satker BUN berdasarkan pemberitahuan alokasi anggaran dan permintaan penyampaian RKA Satker BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf k.
| |||||
|
|
(6)
|
Berdasarkan permohonan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya kepada Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a, Direktur Jenderal Anggaran selaku Pemimpin PPA BUN melakukan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
menyusun dan menyampaikan RKA-BUN kepada Direktur Jenderal Anggaran dalam hal Menteri Keuangan memberikan persetujuan atas permohonan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya; atau
| |||||
|
|
|
b.
|
menyampaikan surat penolakan usulan tambahan anggaran dimaksud kepada KPA BUN dengan tembusan kepada Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga pengusul, dalam hal Menteri Keuangan tidak memberikan persetujuan atas permohonan izin penggunaan anggaran sub BA BUN Belanja Lainnya.
| |||||
|
|
(7)
|
Ketentuan penyusunan dan pengesahan DIPA BUN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
15.
|
Ketentuan ayat (1) Pasal 144 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 144
| |||||||
|
|
(1)
|
Revisi Anggaran terkait Belanja Operasional hanya dapat dilakukan untuk memenuhi:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kekurangan Belanja Operasional; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
kebutuhan alokasi belanja non operasional pada RO Khusus.
| |||||
|
|
(2)
|
Kekurangan Belanja Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
| ||||||
|
|
|
a.
|
belanja pegawai operasional; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
belanja barang operasional.
| |||||
|
|
(3)
|
Belanja pegawai operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a termasuk untuk pemenuhan selisih kurs untuk belanja pegawai di luar negeri.
| ||||||
|
|
(4)
|
Pemenuhan kekurangan Belanja Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, tidak dapat berasal dari dana bersama penanggulangan bencana.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
16.
|
Ketentuan ayat (3) Pasal 150 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 150
| |||||||
|
|
(1)
|
Revisi Anggaran terkait Tunggakan dilakukan untuk memenuhi pembayaran Tunggakan melalui pergeseran anggaran.
| ||||||
|
|
(2)
|
Alokasi Anggaran pembayaran Tunggakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada DIPA tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(3)
|
Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
setiap Tunggakan harus dicantumkan dalam catatan-catatan terpisah per akun dalam halaman IVB DIPA pada setiap alokasi yang ditetapkan untuk mendanai suatu kegiatan per DIPA per Satker;
| |||||
|
|
|
b.
|
dalam hal kolom yang terdapat dalam Sistem Informasi untuk mencantumkan catatan semua Tunggakan tidak mencukupi, rincian detail tagihan per akun dapat disampaikan dalam lembaran terpisah, yang ditetapkan oleh KPA;
| |||||
|
|
|
c.
|
Tunggakan per tagihan, nilainya dilaksanakan dengan ketentuan:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
sampai dengan Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah), harus dilampiri surat pernyataan dari KPA;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
di atas Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) sampai dengan Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah), harus dilampiri hasil reviu dari APIP K/L;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
di atas Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah), harus dilampiri hasil reviu dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan; dan/atau
| ||||
|
|
|
|
4.
|
untuk Tunggakan SPM belanja subsidi yang belum direalisasikan hingga akhir tahun anggaran, harus dilampiri surat keterangan KPA yang menyatakan bahwa SPM belanja subsidi telah diajukan kepada KPPN pembayar namun belum direalisasikan dan SPM berkenaan.
| ||||
|
|
|
d.
|
dalam hal diperlukan, APIP K/L dapat meminta penjaminan kualitas atas hasil reviu sebagaimana dimaksud dalam huruf c angka 2 kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
| |||||
|
|
|
e.
|
penyediaan dana atas SPM belanja subsidi yang belum direalisasikan hingga akhir tahun anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf c angka 4 dilakukan terhadap SPM yang telah memenuhi seluruh persyaratan pada saat pengajuan proses pembayaran di tahun sebelumnya;
| |||||
|
|
|
f.
|
dalam hal Tunggakan sudah dilakukan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan, usulan pergeseran anggaran dapat dilampiri hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan tersebut sebagai dokumen pendukung pengganti surat pernyataan dari KPA atau pengganti hasil reviu dari APIP K/L atau audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan atau surat keterangan KPA sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c;
| |||||
|
|
|
g.
|
besaran dana yang diusulkan untuk penyelesaian Tunggakan sebagaimana dimaksud dalam huruf c angka 4 sebesar SPM belanja subsidi yang sudah diajukan kepada KPPN pembayar namun belum direalisasikan pada tahun anggaran sebelumnya;
| |||||
|
|
|
h.
|
penyediaan dana untuk penyelesaian tunggakan sebagaimana dimaksud dalam huruf c angka 4 sesuai hasil keputusan rapat pimpinan Kementerian Keuangan mengenai kondisi sektor fiskal yang berdampak pada APBN dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara; dan
| |||||
|
|
|
i.
|
besaran dana yang diusulkan untuk pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf e sebesar SPM belanja subsidi yang sudah diajukan kepada KPPN pembayar namun belum direalisasikan pada tahun anggaran sebelumnya.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
17.
|
Ketentuan ayat (6) dan ayat (7) Pasal 157 diubah, dan setelah ayat (7) ditambah 3 (tiga) ayat yakni ayat (8), ayat (9), dan ayat (10) sehingga Pasal 157 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 157
| |||||||
|
|
(1)
|
Menteri Keuangan dapat melakukan penyesuaian belanja pada tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(2)
|
Penyesuaian belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam hal terdapat:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kebijakan Penyesuaian Belanja Negara; dan/atau
| |||||
|
|
|
b.
|
kebijakan Pemerintah lainnya.
| |||||
|
|
(3)
|
Kebijakan Penyesuaian Belanja Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a merupakan kebijakan Pemerintah yang diatur dalam Undang-undang mengenai APBN tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(4)
|
Kebijakan Penyesuaian Belanja Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dapat berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pengutamaan penggunaan anggaran yang disesuaikan secara otomatis (automatic adjustment), berupa pencadangan anggaran pada DIPA Kementerian/Lembaga;
| |||||
|
|
|
b.
|
pergeseran anggaran berupa realokasi blokir anggaran dari BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya;
| |||||
|
|
|
c.
|
pemotongan anggaran Belanja Negara; dan/atau
| |||||
|
|
|
d.
|
penyesuaian pagu.
| |||||
|
|
(5)
|
Kebijakan Pemerintah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b merupakan kebijakan penganggaran sebagai tindak lanjut antara lain dari:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kebijakan hasil pengendalian dan pemantauan yang dilakukan oleh Menteri Keuangan terhadap belanja Kementerian/Lembaga dan belanja BA BUN;
| |||||
|
|
|
b.
|
peraturan perundang-undangan; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
direktif Presiden.
| |||||
|
|
(6)
|
Kebijakan Pemerintah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan melalui:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pencadangan atau pemblokiran anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
pergeseran anggaran dalam bentuk:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
pergeseran anggaran antar BA K/L;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
pergeseran anggaran dari BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
pemanfaatan dan pergeseran anggaran antarsubbagian anggaran dalam BA BUN untuk belanja yang belum ada/kurang tersedia alokasinya; dan/atau
| ||||
|
|
|
|
4.
|
pergeseran anggaran dalam subbagian anggaran BA BUN; dan/atau
| ||||
|
|
|
c.
|
pergeseran anggaran dalam rangka pengalokasian dan pemanfaatan RO Khusus dalam bentuk:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
pergeseran anggaran dalam BA K/L;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
pergeseran anggaran dari RO Khusus pada BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya; dan/atau
| ||||
|
|
|
|
3.
|
pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke RO Khusus pada BA K/L.
| ||||
|
|
(7)
|
Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b dan ayat (6) huruf b angka 1 dan angka 2 dilakukan dengan meminta kepada Kementerian/Lembaga mengusulkan Revisi Anggaran untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
direalokasi ke DIPA Kementerian/Lembaga lainnya mengikuti mekanisme Revisi Anggaran antar Kementerian/Lembaga; atau
| |||||
|
|
|
b.
|
direalokasi ke BA BUN atas alokasi yang sudah dicadangkan mengikuti mekanisme Revisi Anggaran dari BA K/L ke BA BUN.
| |||||
|
|
(8)
|
Pergeseran anggaran dalam BA K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c angka 1, dilakukan dengan meminta kepada Kementerian/Lembaga mengusulkan Revisi Anggaran untuk melakukan pergeseran anggaran ke RO Khusus.
| ||||||
|
|
(9)
|
Pergeseran anggaran dari BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c angka 2, dilakukan dengan meminta kepada Kementerian/Lembaga mengusulkan Revisi Anggaran untuk direalokasi ke sub BA BUN Belanja Lainnya sesuai dengan mekanisme Revisi Anggaran dari BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya.
| ||||||
|
|
(10)
|
Pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke RO Khusus pada BA K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c angka 3 dilaksanakan sesuai dengan mekanisme pergeseran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
18.
|
Di antara Pasal 158 dan Pasal 159 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 158A, yang berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 158A
| |||||||
|
|
Pergeseran anggaran dalam rangka pengalokasian dan pemanfaatan RO Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (6) huruf c dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
Kementerian/Lembaga menggunakan RO Khusus sesuai dengan nomenklatur dan kodefikasi yang ditentukan dalam Pedoman Penyusunan dan Pemanfaatan KRO dan RO dalam Perencanaan dan Penganggaran;
| ||||||
|
|
b.
|
Pergeseran anggaran dalam BA K/L dalam rangka pengalokasian anggaran pada RO Khusus dilakukan melalui pergeseran anggaran dari RO lain, sepanjang tidak berupa pergeseran anggaran antar Program;
| ||||||
|
|
c.
|
pengalokasian RO Khusus dilakukan dengan membentuk Komponen Khusus disertai dengan pencantuman catatan pada Halaman IV.B DIPA TA berkenaan berupa “Pemanfaatan alokasi didasarkan pada Keputusan Menteri/Pimpinan Lembaga”;
| ||||||
|
|
d.
|
besaran anggaran dari RO lain sebagaimana dimaksud pada huruf b ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
| ||||||
|
|
e.
|
pemanfaatan alokasi anggaran pada RO Khusus dilakukan dengan membentuk Komponen baru dengan nomenklatur sesuai prioritas direktif Presiden yang akan dilaksanakan;
| ||||||
|
|
f.
|
pemenuhan alokasi untuk Komponen baru sebagaimana dimaksud pada huruf e dilakukan melalui pergeseran anggaran dari Komponen Khusus sebagaimana dimaksud pada huruf c sesuai ketentuan mekanisme Revisi Anggaran;
| ||||||
|
|
g.
|
pemanfaatan alokasi anggaran pada RO Khusus sebagaimana dimaksud pada huruf e dapat dilakukan dengan ketentuan:
| ||||||
|
|
|
1.
|
Terdapat Keputusan Menteri/Pimpinan Lembaga yang paling sedikit memuat:
| |||||
|
|
|
|
a)
|
Dasar penetapan kegiatan yang akan dilaksanakan berupa arahan/instruksi Presiden;
| ||||
|
|
|
|
b)
|
Penanggung jawab dan mekanisme pelaksanaan kegiatan;
| ||||
|
|
|
|
c)
|
Jumlah alokasi dana dan output kegiatan yang akan dilaksanakan;
| ||||
|
|
|
|
d)
|
Pemenuhan persyaratan alokasi anggaran antara lain Kerangka Acuan Kerja, Rincian Anggaran Biaya, rekomendasi teknis, clearance, Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara, dasar penentuan lokus; dan
| ||||
|
|
|
|
e)
|
Ketentuan laporan perkembangan fisik dan keuangan;
| ||||
|
|
|
2.
|
Persyaratan pembayaran wajib melampirkan salinan Keputusan Menteri/Pimpinan Lembaga dan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak KPA yang menyatakan bahwa semua bukti dan persyaratan telah dipenuhi secara lengkap dan benar; dan
| |||||
|
|
|
3.
|
alokasi anggaran pada RO Khusus yang tidak digunakan sampai dengan akhir triwulan III TA berkenaan, dapat digunakan untuk kegiatan prioritas Kementerian/Lembaga yang bersangkutan melalui mekanisme Revisi Anggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
19.
|
Ketentuan ayat (2) dan ayat (3) Pasal 159 diubah dan ayat (4) dihapus, sehingga Pasal 159 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 159
| |||||||
|
|
(1)
|
Revisi Anggaran DIPA Kementerian/Lembaga yang bersumber dari BA BUN dan DIPA BUN dapat dilakukan dalam hal:
| ||||||
|
|
|
a.
|
RO atas kegiatan yang didanai dari SP SABA atau SPP BA BUN telah tercapai dan terdapat sisa anggaran; atau
| |||||
|
|
|
b.
|
RO atas kegiatan yang didanai dari SP SABA atau SPP BA BUN tidak tercapai sebagian atau seluruhnya, dan masih terdapat sisa anggaran yang tidak digunakan.
| |||||
|
|
(2)
|
Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan melakukan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
revisi sisa anggaran sepanjang menambah volume RO yang sama;
| |||||
|
|
|
b.
|
revisi sisa anggaran untuk menambah alokasi RO yang tidak sama dalam hal telah mendapatkan Izin Presiden; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
revisi sisa anggaran untuk dikembalikan ke sub BA BUN Belanja Lainnya.
| |||||
|
|
(3)
|
Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dapat dilakukan dengan melakukan revisi terhadap sisa anggaran yang tidak digunakan untuk dikembalikan ke BA BUN sepanjang terdapat:
| ||||||
|
|
|
a.
|
faktor eksternal di luar kewenangan atau kuasa Kementerian/Lembaga yang bersangkutan;
| |||||
|
|
|
b.
|
perubahan kebijakan Pemerintah yang diputuskan minimal dalam rapat koordinasi antar-menteri;
| |||||
|
|
|
c.
|
force majeure/keadaan kahar; dan/atau
| |||||
|
|
|
d.
|
Izin Presiden, terhadap kegiatan yang merupakan prioritas pemerintah/direktif presiden.
| |||||
|
|
(4)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
20.
|
Paragraf 1 pada Bagian Keempat BAB V dihapus.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
21.
|
Pasal 160 dihapus.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
22.
|
Ketentuan ayat (1), ayat (2), ayat (8), ayat (13) dan ayat (14) Pasal 165 diubah, di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (ayat) yakni ayat (1a), dan di antara ayat (8) dan ayat (9) disisipkan 2 (dua) ayat yakni ayat (8a) dan ayat (8b), di antara ayat (14) dan ayat (15) disisipkan 2 (dua) ayat yakni ayat (14a) dan ayat (14b), sehingga Pasal 165 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 165
| |||||||
|
|
(1)
|
Mekanisme Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran untuk BA K/L dilakukan dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
KPA menyampaikan surat usulan Revisi Anggaran kepada Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga dengan melampirkan dokumen pendukung berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
dokumen pendukung terkait lainnya;
| ||||
|
|
|
b.
|
Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga melakukan penelitian atas usulan Revisi Anggaran dan kelengkapan dokumen pendukung usulan Revisi Anggaran yang disampaikan oleh KPA;
| |||||
|
|
|
c.
|
dalam hal usulan revisi berkaitan dengan:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
Revisi Anggaran dalam hal pagu anggaran berubah;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
Revisi Anggaran antar Program yang berdampak pada pengurangan volume Keluaran (RO), kecuali dalam rangka pemenuhan Belanja Operasional;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
Revisi Anggaran dalam rangka reorganisasi dan/atau restrukturisasi Kementerian/Lembaga; dan/atau
| ||||
|
|
|
|
4.
|
Revisi Anggaran dalam hal terdapat Program/Kegiatan/KRO/RO baru,
| ||||
|
|
|
|
usulan Revisi Anggaran terlebih dahulu disampaikan Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga kepada APIP K/L untuk dilakukan reviu atas kesesuaian dokumen pendukung dengan kaidah perencanaan dan penganggaran;
| |||||
|
|
|
d.
|
hasil reviu yang dilakukan oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud dalam huruf c dituangkan dalam LHR APIP K/L;
| |||||
|
|
|
e.
|
berdasarkan hasil penelitian atas usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan/atau LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud dalam huruf d, Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga menandatangani dan menyampaikan surat usulan Revisi Anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran melalui Sistem Informasi dengan mengunggah salinan digital atau hasil pindaian dokumen pendukung sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
surat pernyataan pejabat eselon I yang menyatakan bahwa:
| ||||
|
|
|
|
|
a)
|
usulan Revisi Anggaran yang disampaikan oleh KPA telah disetujui oleh pejabat eselon I;
| |||
|
|
|
|
|
b)
|
usulan Revisi Anggaran yang disampaikan beserta dokumen persyaratannya telah dilakukan penelitian kelengkapan dokumennya oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga; dan
| |||
|
|
|
|
|
c)
|
Menteri/Pimpinan Lembaga telah menyetujui usulan dalam hal usulan Revisi Anggaran berkaitan dengan pergeseran anggaran antar-Program, kecuali dalam rangka pemenuhan Belanja Operasional;
| |||
|
|
|
|
3.
|
LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud dalam huruf d;
| ||||
|
|
|
|
4.
|
rencana kebutuhan barang milik negara hasil penelaahan perubahan, dalam hal usulan Revisi Anggaran berkaitan dengan pengadaan barang milik negara yang menjadi objek perencanaan kebutuhan barang milik negara sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan mengenai perencanaan kebutuhan barang milik negara berupa:
| ||||
|
|
|
|
|
a)
|
penambahan barang milik negara baru yang belum tercantum di dalam rencana kebutuhan barang milik negara; dan/atau
| |||
|
|
|
|
|
b)
|
perubahan objek dan/atau spesifikasi barang milik negara yang tercantum dalam rencana kebutuhan barang milik negara;
| |||
|
|
|
|
5.
|
rekomendasi (clearance) dari Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang komunikasi dan digital dan/atau Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi dalam hal Kementerian/Lembaga bersangkutan mengajukan usulan Revisi Anggaran berkaitan dengan belanja teknologi informasi komunikasi;
| ||||
|
|
|
|
6.
|
dalam hal usulan Revisi Anggaran terkait dengan akun 526 berupa barang yang akan diserahkan kepada masyarakat/Pemerintah Daerah dan pengalokasiannya didasarkan pada usulan proposal, usulan Revisi Anggaran dilengkapi dengan surat pernyataan dari pejabat eselon I;
| ||||
|
|
|
|
7.
|
dalam hal usulan revisi berkaitan dengan:
| ||||
|
|
|
|
|
a)
|
pergeseran anggaran antar RO pada BA K/L yang bersumber dari sub BA BUN Belanja Lainnya melalui penerbitan SP SABA;
| |||
|
|
|
|
|
b)
|
revisi sisa anggaran pada DIPA Kementerian/Lembaga yang bersumber dari BA BUN dan DIPA BUN untuk menambah alokasi pada RO yang tidak sama; dan
| |||
|
|
|
|
|
c)
|
revisi sisa anggaran kegiatan yang merupakan prioritas pemerintah/direktif presiden pada DIPA Kementerian/Lembaga yang bersumber dari BA BUN dan DIPA BUN untuk dikembalikan ke sub BA BUN Belanja Lainnya,
| |||
|
|
|
|
|
usulan Revisi Anggaran dilampiri Izin Presiden; dan
| ||||
|
|
|
|
8.
|
dokumen pendukung terkait lainnya; dan
| ||||
|
|
|
f.
|
dokumen asli atas salinan digital atau hasil pindaian dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 2 sampai dengan angka 8 diarsipkan oleh Kementerian/Lembaga yang bersangkutan.
| |||||
|
|
(1a)
|
Izin Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e angka 7 dalam bentuk berupa surat pernyataan Menteri/Pimpinan Lembaga yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut telah mendapatkan Izin Presiden, disampaikan kepada Menteri Keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara.
| ||||||
|
|
(2)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Revisi Anggaran yang memerlukan penelaahan, Ketua Tim/Pejabat Fungsional yang berwenang di unit terkait atas nama Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga menetapkan dan menyampaikan undangan kepada Kepala Biro Perencanaan/Keuangan/Sekretaris Direktorat Jenderal/pejabat eselon II dengan tembusan kepada Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga, dan pimpinan unit-unit terkait dalam hal diperlukan, untuk melakukan penelaahan atas usulan Revisi Anggaran melalui komunikasi daring dan/atau luring.
| ||||||
|
|
(3)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan perubahan pagu anggaran PNBP, proses penelaahannya melibatkan Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian/Lembaga atau Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan-Direktorat Jenderal Anggaran untuk dimintakan konfirmasi atas batas maksimal PNBP yang dapat digunakan sebagai belanja dan/atau informasi kinerja pencapaian PNBP pada Kementerian/Lembaga pengusul.
| ||||||
|
|
(4)
|
Hasil konfirmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi Direktorat Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga dalam proses penyelesaian usulan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(5)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan pinjaman, hibah, dan/atau SBSN, termasuk RMP, proses penelaahannya melibatkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.
| ||||||
|
|
(6)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan hibah ke daerah, proses penelaahannya melibatkan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.
| ||||||
|
|
(7)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan belanja K/L yang berbasis spasial/kewilayahan, maka proses penelaahannya dapat melibatkan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.
| ||||||
|
|
(8)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkait dengan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
RO Prioritas Nasional; dan/atau
| |||||
|
|
|
b.
|
Pembentukan komponen baru dalam RO Khusus, proses penelaahannya melibatkan pihak Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kementerian/Lembaga.
| |||||
|
|
(8a)
|
Penelaahan sebelum membentuk komponen baru dalam RO Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (8) huruf b, dilaksanakan paling lama 2 (dua) hari kerja setelah Kementerian/Lembaga menetapkan keputusan menteri yang menjadi dasar pemanfaatan RO Khusus.
| ||||||
|
|
(8b)
|
Dalam hal penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (8a) tidak dapat dilaksanakan dalam batas waktu 2 (dua) hari kerja, Kementerian/Lembaga dapat melanjutkan proses pembentukan komponen baru dalam RO Khusus, dengan tetap melaksanakan penelaahan setelahnya.
| ||||||
|
|
(9)
|
Hasil penelaahan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam berita acara penelaahan.
| ||||||
|
|
(10)
|
Dalam hal proses penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dihadiri oleh salah satu pihak terkait, maka hasil penelaahan tetap berlaku sebagai hasil kesepakatan penelaahan.
| ||||||
|
|
(11)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berdasarkan hasil penelaahan yang dituangkan dalam berita acara penelaahan, dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan seluruhnya atau sebagian, Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran melakukan penetapan melalui surat pengesahan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(12)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berdasarkan hasil penelaahan yang dituangkan dalam berita acara penelaahan tidak dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan seluruhnya, Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan penolakan usulan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(13)
|
Dalam hal berdasarkan hasil penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat dokumen pendukung yang harus dilengkapi, Kementerian/Lembaga menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung dalam batas waktu sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara penelaahan.
| ||||||
|
|
(14)
|
Dalam hal kelengkapan dokumen pendukung belum disampaikan sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (13), Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan surat permintaan kelengkapan dokumen pendukung kepada Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
(14a)
|
Menteri/Pimpinan Lembaga menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (13) paling lama 2 (dua) hari kerja setelah menerima surat permintaan kelengkapan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (14).
| ||||||
|
|
(14b)
|
Dalam hal setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (14a), Menteri/Pimpinan Lembaga belum melengkapi dokumen pendukung, Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan kembali surat permintaan kelengkapan dokumen pendukung kepada Kementerian/Lembaga agar segera menyampaikan kelengkapan dokumen pendukung.
| ||||||
|
|
(15)
|
Surat usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dan surat pengesahan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (11) disusun sesuai format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| ||||||
|
|
(16)
|
Proses penetapan atau penolakan usulan Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (11) atau ayat (12) diselesaikan paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak penelaahan selesai dilakukan, dan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan data dalam Sistem Informasi diterima dengan lengkap dan benar.
| ||||||
|
|
(17)
|
Proses Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang hanya berupa pengesahan, diselesaikan paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung setelah usulan Revisi Anggaran diterima di Sistem Informasi, dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan data dalam Sistem Informasi diterima dengan lengkap dan benar.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
23.
|
Ketentuan ayat (3) Pasal 167 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 167
| |||||||
|
|
(1)
|
Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran untuk anggaran BA BUN terbagi dalam 3 (tiga) jenis:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Revisi Anggaran dalam hal pagu anggaran berubah;
| |||||
|
|
|
b.
|
Revisi Anggaran dalam hal pagu anggaran tetap yang memerlukan penelaahan; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
revisi administrasi.
| |||||
|
|
(2)
|
Mekanisme Revisi Anggaran untuk anggaran BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
usulan Revisi Anggaran disampaikan oleh KPA BUN kepada APIP K/L untuk dilakukan reviu atas kesesuaian dokumen pendukung dengan kaidah perencanaan dan penganggaran dan dituangkan dalam LHR APIP K/L;
| |||||
|
|
|
b.
|
KPA BUN menandatangani dan menyampaikan surat usulan Revisi Anggaran kepada Pemimpin PPA BUN dengan melampirkan dokumen pendukung sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
kerangka acuan kerja dan rincian anggaran biaya usulan Revisi Anggaran;
| ||||
|
|
|
|
3.
|
LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud pada huruf a, atau LHR APIP K/L saat proses pengusulan tambahan anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (2) huruf c angka 5 dan Pasal 119 ayat (2) huruf a angka 4; dan
| ||||
|
|
|
|
4.
|
dokumen pendukung lainnya dalam hal diperlukan, sesuai dengan substansi Revisi Anggaran;
| ||||
|
|
|
c.
|
Pemimpin PPA BUN meneliti usulan Revisi Anggaran dan kelengkapan dokumen sebagaimana dimaksud pada huruf b;
| |||||
|
|
|
d.
|
dalam proses penelitian sebagaimana dimaksud pada huruf c, Pemimpin PPA BUN dapat meminta tambahan dokumen pendukung terkait lainnya yang diperlukan; dan
| |||||
|
|
|
e.
|
berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf c, Pemimpin PPA BUN menyampaikan surat usulan Revisi Anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran dengan melampirkan dokumen pendukung berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud pada huruf b angka 3; dan
| ||||
|
|
|
|
3.
|
dokumen pendukung lainnya dalam hal diperlukan, sesuai dengan substansi Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada huruf d.
| ||||
|
|
(3)
|
Berdasarkan surat usulan Revisi Anggaran dari Pemimpin PPA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e, Ketua Tim/Pejabat Fungsional yang berwenang di unit terkait atas nama Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan dan BA BUN - Direktorat Jenderal Anggaran menetapkan dan menyampaikan undangan penelaahan kepada Pemimpin PPA BUN.
| ||||||
|
|
(4)
|
Direktorat Jenderal Anggaran melakukan penelaahan atas usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e bersama-sama dengan PPA BUN melalui komunikasi secara luring maupun daring.
| ||||||
|
|
(5)
|
Dalam melakukan penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Direktorat Jenderal Anggaran dapat meminta tambahan dokumen pendukung.
| ||||||
|
|
(6)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran BA BUN terkait pinjaman dan/atau hibah, proses penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) melibatkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.
| ||||||
|
|
(7)
|
Berdasarkan hasil penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Direktur Jenderal Anggaran dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(8)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e disetujui, Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan BA BUN - Direktorat Jenderal Anggaran atas nama Direktur Jenderal Anggaran menerbitkan surat pengesahan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(9)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e disetujui dan menyebabkan perubahan jumlah anggaran atau menyebabkan perubahan catatan halaman IVA DIPA BUN, Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan BA BUN - Direktorat Jenderal Anggaran atas nama Direktur Jenderal Anggaran terlebih dahulu menetapkan revisi DHP RKA-BUN sebelum menerbitkan surat pengesahan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (8).
| ||||||
|
|
(10)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e tidak dapat disetujui, Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan BA BUN - Direktorat Jenderal Anggaran atas nama Direktur Jenderal Anggaran menetapkan surat penolakan usulan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(11)
|
Surat usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf e disusun sesuai format tercantum dalam Lampiran IV huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| ||||||
|
|
(12)
|
Proses persetujuan atau tidak disetujuinya Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (8), ayat (9), atau ayat (10) diselesaikan paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak penelaahan selesai dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e dan/atau ayat (5) diterima dengan lengkap dan benar dalam Sistem Informasi.
| ||||||
|
|
(13)
|
Mekanisme Revisi Anggaran untuk anggaran BA BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan melalui pengesahan.
| ||||||
|
|
(14)
|
Penyelesaian revisi anggaran melalui pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) dilakukan paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak usulan Revisi Anggaran diterima pada Sistem Informasi, setelah dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e diterima dengan lengkap dan benar.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
24.
|
Ketentuan ayat (1) Pasal 168 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 168
| |||||||
|
|
(1)
|
Mekanisme Revisi Anggaran pada DIPA BUN berdasarkan SPP BA BUN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 162 atau revisi surat Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161, dilakukan dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Pemimpin PPA BUN menyampaikan usulan Revisi Anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran melalui Sistem Informasi dengan mengunggah salinan digital atau hasil pindaian berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
dokumen SPP BA BUN atau revisi surat Menteri Keuangan; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
b.
|
usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah SPP BA BUN atau revisi surat Menteri Keuangan diterbitkan;
| |||||
|
|
|
b1.
|
dalam hal Revisi Anggaran pada DIPA BUN berdasarkan SPP BA BUN untuk hibah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, batas waktu usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf b mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan mengenai pengelolaan hibah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
berdasarkan usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Mitra PPA BUN melakukan penelaahan bersama dengan PPA BUN, sesuai dengan substansi dan kebutuhan.
| |||||
|
|
(2)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat ditetapkan dan menyebabkan perubahan pada DIPA BUN, Direktur Anggaran Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, dan BA BUN atas nama Direktur Jenderal Anggaran menetapkan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
DHP RKA-BUN; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
Surat Pengesahan Revisi Anggaran.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
25.
|
Ketentuan ayat (2) Pasal 169 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 169
| |||||||
|
|
(1)
|
Mekanisme Revisi Anggaran antar Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (6) huruf b angka 1 dilakukan melalui mekanisme pergeseran anggaran antar Kementerian/Lembaga dengan tahapan dan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Menteri/Pimpinan Lembaga (penerima atau pemberi alokasi) menyampaikan surat permohonan persetujuan pergeseran anggaran antar Kementerian/Lembaga kepada Menteri Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Anggaran yang paling sedikit memuat besaran anggaran yang diusulkan untuk dilakukan pergeseran;
| |||||
|
|
|
b.
|
berdasarkan usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada huruf a, Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan surat undangan kepada Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga pengusul revisi (penerima atau pemberi tambahan alokasi anggaran), dan Deputi Mitra Kerja - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk melakukan pembahasan awal terkait rencana Revisi Anggaran yang hasilnya dituangkan dalam berita acara;
| |||||
|
|
|
c.
|
dalam hal perwakilan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tidak hadir pada saat pembahasan sebagaimana dimaksud pada huruf b, maka pembahasan tetap dilanjutkan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dinyatakan menyepakati hasil pembahasan;
| |||||
|
|
|
d.
|
berdasarkan berita acara sebagaimana dimaksud pada huruf b, Menteri Keuangan menerbitkan surat persetujuan perubahan Alokasi Anggaran Kementerian/Lembaga terkait sesuai format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
| |||||
|
|
|
e.
|
surat persetujuan sebagaimana dimaksud pada huruf d diusulkan oleh Direktorat Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga penerima tambahan alokasi anggaran;
| |||||
|
|
|
f.
|
berdasarkan surat persetujuan sebagaimana dimaksud pada huruf d, KPA Kementerian/Lembaga penerima tambahan alokasi anggaran menyampaikan surat usulan Revisi Anggaran kepada Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga dengan melampirkan dokumen pendukung berupa:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi; dan
| ||||
|
|
|
|
2.
|
dokumen pendukung terkait lainnya dalam hal diperlukan, sesuai dengan substansi Revisi Anggaran.
| ||||
|
|
|
g.
|
Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga melakukan penelitian atas usulan Revisi Anggaran dan kelengkapan dokumen usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada huruf f;
| |||||
|
|
|
h.
|
usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada huruf f terlebih dahulu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga kepada APIP K/L untuk dilakukan reviu atas kesesuaian dokumen pendukung dengan kaidah perencanaan dan penganggaran;
| |||||
|
|
|
i.
|
hasil reviu yang dilakukan oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud pada huruf h dituangkan dalam LHR APIP K/L;
| |||||
|
|
|
j.
|
berdasarkan hasil penelitian atas usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud ada huruf g dan LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud pada huruf i, Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga menandatangani dan menyampaikan surat usulan Revisi Anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran melalui Sistem Informasi dengan mengunggah salinan digital atau hasil pindaian dokumen pendukung sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
1.
|
data dalam Sistem Informasi;
| ||||
|
|
|
|
2.
|
surat pernyataan pejabat eselon I yang menyatakan bahwa:
| ||||
|
|
|
|
|
a)
|
usulan Revisi Anggaran yang disampaikan oleh KPA telah disetujui oleh pejabat eselon I; dan
| |||
|
|
|
|
|
b)
|
usulan Revisi Anggaran yang disampaikan beserta dokumen persyaratannya telah dilakukan penelitian kelengkapan dokumennya oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga;
| |||
|
|
|
|
3.
|
LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud pada huruf i; dan
| ||||
|
|
|
|
4.
|
dokumen pendukung terkait lainnya dalam hal diperlukan, sesuai dengan substansi Revisi Anggaran; dan
| ||||
|
|
|
k.
|
dokumen asli atas salinan digital atau hasil pindaian dokumen sebagaimana dimaksud pada huruf j angka 2 sampai dengan angka 4 diarsipkan oleh Kementerian/Lembaga yang bersangkutan.
| |||||
|
|
(2)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Revisi Anggaran yang memerlukan penelaahan, Ketua Tim/Pejabat Fungsional yang berwenang di unit terkait atas nama Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga menetapkan dan menyampaikan undangan kepada Kepala Biro Perencanaan/Keuangan/Sekretaris Direktorat Jenderal/pejabat eselon II dengan tembusan kepada Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga, dan pimpinan unit-unit terkait dalam hal diperlukan, untuk melakukan penelaahan atas usulan Revisi Anggaran melalui komunikasi secara luring dan/atau daring.
| ||||||
|
|
(3)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berdasarkan hasil penelaahan dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan seluruhnya atau sebagian, Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran melakukan penetapan melalui surat pengesahan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(4)
|
Dalam hal usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berdasarkan hasil penelaahan tidak dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan seluruhnya, Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga atas nama Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan surat penolakan usulan Revisi Anggaran.
| ||||||
|
|
(5)
|
Surat usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, LHR APIP K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i, dan surat pengesahan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disusun sesuai format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| ||||||
|
|
(6)
|
Proses penetapan atau penolakan usulan Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau ayat (4) diselesaikan paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak penelaahan selesai dilakukan dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j dan data dalam Sistem Informasi diterima dengan lengkap dan benar.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
26.
|
Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) Pasal 170 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 170
| |||||||
|
|
(1)
|
Mekanisme Revisi Anggaran untuk pergeseran anggaran dari BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (4) huruf b, ayat (6) huruf b angka 2, dan ayat (6) huruf c angka 2, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/pejabat eselon I Kementerian/Lembaga mengajukan usulan Revisi Anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada huruf a, dilakukan termasuk untuk alokasi anggaran hasil pencadangan anggaran pada DIPA Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada huruf a dilakukan oleh Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga sesuai mekanisme Revisi Anggaran untuk BA K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 165.
| |||||
|
|
(2)
|
Dalam hal Kementerian/Lembaga tidak menyampaikan usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Menteri Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Anggaran dapat melakukan revisi penyesuaian DIPA Kementerian/Lembaga sebesar alokasi:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pencadangan anggaran pada DIPA Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158; atau
| |||||
|
|
|
b.
|
pada RO Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158A ayat (1) huruf d.
| |||||
|
|
(3)
|
Berdasarkan hasil penyelesaian Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Direktur Anggaran Bidang selaku mitra Kementerian/Lembaga menyampaikan laporan penyelesaian revisi DIPA kepada Direktur Jenderal Anggaran dengan tembusan Mitra PPA BUN.
| ||||||
|
|
(4)
|
Berdasarkan laporan penyelesaian revisi DIPA sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Direktur Jenderal Anggaran menyampaikan usulan penambahan anggaran pada sub BA BUN Belanja Lainnya kepada Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(5)
|
Usulan penambahan anggaran pada sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa usulan revisi surat Menteri Keuangan mengenai penetapan alokasi BA BUN.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
27.
|
Ketentuan ayat (6) Pasal 175 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 175
| |||||||
|
|
(1)
|
Batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran reguler ditetapkan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
tanggal 31 Oktober tahun anggaran berkenaan, untuk Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
tanggal 30 November tahun anggaran berkenaan, untuk Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan, termasuk revisi administrasi SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
tanggal 30 November tahun anggaran berkenaan, untuk Revisi Anggaran kewenangan Kementerian/Lembaga yang mengakibatkan perubahan DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 174 ayat (1) huruf a kecuali untuk penyelesaian pagu minus belanja pegawai operasional.
| |||||
|
|
(2)
|
Batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran berupa revisi lanjutan RMP pada DIPA tahun anggaran sebelumnya yang tidak terserap untuk pembayaran uang muka kontrak kegiatan/proyek yang dibiayai dari PLN oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 31 Januari tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(3)
|
Batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran berupa perubahan anggaran belanja dalam rangka lanjutan pelaksanaan kegiatan/proyek SBSN tahun anggaran sebelumnya untuk kontrak tahun tunggal oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 15 Februari tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(4)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan berupa perubahan anggaran belanja dalam rangka:
| ||||||
|
|
|
a.
|
lanjutan pelaksanaan kegiatan/proyek SBSN tahun anggaran sebelumnya untuk kontrak tahun jamak; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
lanjutan pelaksanaan kegiatan/proyek PLN dan/atau PDN tahun anggaran sebelumnya untuk kontrak tahun jamak,
| |||||
|
|
|
batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 31 Maret tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(5)
|
Batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran terkait penggunaan RO Cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 7 April tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(6)
|
Batas akhir penerimaan usulan pengembalian anggaran ke sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166 oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 31 Oktober tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(7)
|
Batas akhir penerimaan usulan pergeseran anggaran dari sub BA BUN Belanja Lainnya ke BA K/L (SP SABA) dalam rangka pemberian penghargaan kepada Kementerian/Lembaga oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 31 Oktober tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(8)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pergeseran anggaran dari BA K/L ke sub BA BUN Belanja Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
pengesahan atas penyediaan alokasi belanja dalam rangka kegiatan rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 124 ayat (5) huruf e,
| |||||
|
|
|
batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 30 November tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(9)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pergeseran anggaran untuk belanja pegawai, termasuk gaji untuk pegawai non-Aparatur Sipil Negara;
| |||||
|
|
|
b.
|
berkaitan dengan kegiatan yang dananya bersumber dari PNBP termasuk penggunaan dana penerimaan klaim asuransi dalam rangka asuransi barang milik negara, PLN, Hibah, dan/atau PDN;
| |||||
|
|
|
c.
|
Revisi Anggaran terkait pinjaman/hibah baru, penyesuaian kurs penarikan pinjaman/hibah, dan RMP PLN;
| |||||
|
|
|
d.
|
berkaitan dengan kegiatan Kementerian/Lembaga yang merupakan tindak lanjut dari hasil sidang kabinet yang ditetapkan setelah terbitnya Undang-Undang tentang perubahan atas Undang-Undang mengenai APBN tahun anggaran berkenaan;
| |||||
|
|
|
e.
|
kegiatan-kegiatan yang membutuhkan data/dokumen yang harus mendapat persetujuan dari unit eksternal Kementerian/Lembaga seperti persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, hasil reviu internal Pemerintah oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, dan/atau revisi administrasi pembukaan blokir;
| |||||
|
|
|
f.
|
pergeseran anggaran dalam rangka rekomposisi pendanaan antar-tahun anggaran untuk percepatan kegiatan/proyek SBSN, pergeseran anggaran belanja dalam rangka pemanfaatan Sisa Anggaran Kontraktual pada satu kegiatan/proyek SBSN dan/atau antar-kegiatan/proyek SBSN dalam satu unit eselon I;
| |||||
|
|
|
g.
|
revisi Rumusan Informasi Kinerja berupa perubahan referensi RKA-K/L dan/atau DIPA Kementerian/Lembaga, termasuk untuk keperluan pengendalian dan pemantauan serta evaluasi kinerja anggaran;
| |||||
|
|
|
h.
|
revisi akibat penerbitan SPP BA BUN/SP SABA;
| |||||
|
|
|
i.
|
DIPA BUN untuk selain keperluan Lembaga yang belum memiliki Bagian Anggaran; dan/atau
| |||||
|
|
|
j.
|
perubahan anggaran yang bersifat mengurangi pagu SBSN,
| |||||
|
|
|
batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 15 Desember tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(10)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pelaksanaan kegiatan yang memerlukan persetujuan Menteri Keuangan;
| |||||
|
|
|
b.
|
pelaksanaan peraturan perundang-undangan di atas Peraturan Menteri untuk pencairan anggaran;
| |||||
|
|
|
c.
|
pergeseran anggaran untuk penanggulangan bencana; dan/atau
| |||||
|
|
|
d.
|
pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 124 ayat (5) kecuali pengesahan belanja modal atas pengadaan tanah dalam rangka proyek strategis nasional yang dilakukan oleh Lembaga Manajemen Aset Negara, pengesahan atas penyediaan alokasi belanja dalam rangka kegiatan rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, dan revisi administrasi pembukaan blokir karena dokumen sebagai dasar pengalokasian anggaran telah dilengkapi,
| |||||
|
|
|
batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat tanggal 27 Desember tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(11)
|
Batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran terkait pengesahan belanja modal atas pengadaan tanah dalam rangka proyek strategis nasional yang dilaksanakan oleh Lembaga Manajemen Aset Negara oleh Direktorat Jenderal Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 124 ayat (5) huruf a mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Keuangan mengenai tata cara pendanaan pengadaan tanah bagi proyek strategis nasional oleh Lembaga Manajemen Aset Negara.
| ||||||
|
|
(12)
|
Batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran terkait pengesahan atas pendapatan/belanja/pembiayaan anggaran untuk sub BA BUN yang telah dilakukan pada tahun anggaran sebelumnya oleh Direktorat Jenderal Anggaran paling lambat sampai batas akhir penyusunan laporan keuangan Pemerintah Pusat.
| ||||||
|
|
(13)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan untuk pengesahan anggaran belanja yang dibiayai dari penggunaan kelebihan realisasi penerimaan atas target PNBP yang dapat digunakan kembali sesuai ketentuan, yang telah direncanakan dalam APBN tahun anggaran berkenaan untuk Satker penghasil PNBP yang bersangkutan sepanjang dalam 1 (satu) Program yang sama, batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan paling lambat tanggal 15 Desember tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(14)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pengesahan anggaran belanja yang dibiayai dari hibah yang penarikannya tidak melalui Kuasa BUN;
| |||||
|
|
|
b.
|
pengesahan atas pengeluaran Kegiatan/RO yang dananya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri melalui mekanisme pembayaran langsung dan letter of credit;
| |||||
|
|
|
c.
|
revisi administrasi; dan/atau
| |||||
|
|
|
d.
|
pemutakhiran data berkaitan dengan revisi POK oleh KPA yang mengakibatkan perubahan halaman III DIPA,
| |||||
|
|
|
batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran dan penyelesaiannya oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan paling lambat tanggal 27 Desember tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(15)
|
Dalam hal Revisi Anggaran dilakukan untuk penyelesaian pagu minus belanja pegawai, batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran oleh Direktorat Jenderal Anggaran atau Direktorat Jenderal Perbendaharaan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan.
| ||||||
|
|
(16)
|
Dalam hal Revisi Anggaran terkait dengan penyesuaian administratif dan penyusunan laporan keuangan Pemerintah Pusat, usulan Revisi Anggaran dapat disampaikan melewati tahun anggaran berkenaan dan penetapan batas akhir penerimaan usulan Revisi Anggaran serta kewenangan pengesahannya dilakukan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.
| ||||||
|
|
(17)
|
Pada saat penerimaan usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (16), seluruh dokumen telah diterima dengan lengkap dan benar.
| ||||||
|
|
(18)
|
Dalam hal batas akhir penyampaian usulan Revisi Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (16) merupakan hari libur atau bagian dari kebijakan cuti bersama yang ditetapkan oleh Pemerintah, maka batas akhir penyampaian usulan Revisi Anggaran dimajukan menjadi hari kerja terakhir sebelum hari libur atau cuti bersama.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
28.
|
Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 182 disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (1a), dan ketentuan ayat (3) dihapus, sehingga Pasal 182 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 182
| |||||||
|
|
(1)
|
PA menetapkan kepala Satker sebagai KPA.
| ||||||
|
|
(1a)
|
Penetapan KPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat ex officio.
| ||||||
|
|
(2)
|
PA dapat menetapkan pejabat lain selain kepala Satker sebagai KPA dalam hal:
| ||||||
|
|
|
a.
|
Satker dipimpin oleh pejabat yang bersifat komisioner;
| |||||
|
|
|
b.
|
Satker dipimpin oleh pejabat eselon I atau setingkat eselon I;
| |||||
|
|
|
c.
|
Satker yang dibentuk berdasarkan penugasan khusus;
| |||||
|
|
|
d.
|
Satker yang pimpinannya mempunyai tugas fungsional; dan
| |||||
|
|
|
e.
|
Satker Lembaga Negara.
| |||||
|
|
(3)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
29.
|
Ketentuan ayat (1) Pasal 183 diubah, di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (1a), dan ketentuan ayat (3) dan ayat (4) Pasal 183 dihapus, sehingga Pasal 183 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 183
| |||||||
|
|
(1)
|
Dalam hal kepala Satker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 182 ayat (1) atau pejabat lain selain kepala Satker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 182 ayat (2) berhalangan, pejabat yang ditunjuk sebagai pejabat pelaksana tugas atau pejabat pelaksana harian Kepala Satker secara otomatis sebagai KPA.
| ||||||
|
|
(1a)
|
Penunjukan pejabat pelaksana tugas atau pejabat pelaksana harian Kepala Satker sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada KPPN.
| ||||||
|
|
(2)
|
Keadaan berhalangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan suatu keadaan yang menyebabkan pejabat yang ditetapkan sebagai KPA atau pejabat yang ditetapkan sebagai pelaksana tugas KPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
| ||||||
|
|
|
a.
|
tidak terisi dan menimbulkan lowongan jabatan; dan/atau
| |||||
|
|
|
b.
|
masih terisi namun pejabat definitif yang ditetapkan sebagai KPA tidak dapat melaksanakan tugas.
| |||||
|
|
(3)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
(4)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
30.
|
Ketentuan Pasal 184 ditambahkan 1 (satu) ayat yakni ayat (3) sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 184
| |||||||
|
|
(1)
|
Penetapan KPA tidak terikat tahun anggaran.
| ||||||
|
|
(2)
|
Dalam hal satker dilikuidasi dan/atau tidak teralokasi anggaran dalam DIPA pada tahun anggaran berikutnya, penetapan KPA berakhir.
| ||||||
|
|
(3)
|
KPA yang berakhir penetapannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus menyelesaikan seluruh administrasi keuangan yang menjadi tanggung jawabnya pada saat menjadi KPA.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
31.
|
Ketentuan ayat (4) Pasal 187 dihapus, dan setelah ayat (4) ditambahkan 1 (satu) ayat yakni ayat (5), sehingga Pasal 187 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 187
| |||||||
|
|
(1)
|
Untuk 1 (satu) DIPA, KPA menetapkan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
1 (satu) atau lebih PPK; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
1 (satu) PPSPM.
| |||||
|
|
(2)
|
KPA dapat menetapkan PPK lebih dari 1 (satu) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dengan pertimbangan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kompleksitas kegiatan dalam DIPA;
| |||||
|
|
|
b.
|
besarnya alokasi anggaran dalam DIPA; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
lokasi kegiatan/kondisi geografis.
| |||||
|
|
(3)
|
PPK dan PPSPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pegawai/pejabat berstatus sebagai PNS, prajurit TNI, atau anggota POLRI.
| ||||||
|
|
(4)
|
Dihapus.
| ||||||
|
|
(5)
|
Jabatan PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak boleh dirangkap oleh KPA dan PPSPM.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
32.
|
Di antara ayat (2) huruf b dan huruf c Pasal 212 disisipkan 1 (satu) huruf yakni huruf b1 dan di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (2a), sehingga Pasal 212 berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 212
| |||||||
|
|
(1)
|
Mekanisme UP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 huruf b dapat digunakan untuk membayar pengeluaran operasional Satker atau pengeluaran lain yang tidak dapat dilakukan dengan mekanisme Pembayaran LS.
| ||||||
|
|
(2)
|
Pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk jenis belanja:
| ||||||
|
|
|
a.
|
belanja barang;
| |||||
|
|
|
b.
|
belanja modal;
| |||||
|
|
|
b1.
|
belanja bantuan sosial; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
belanja lain-lain.
| |||||
|
|
(2a)
|
Mekanisme UP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b1 digunakan untuk pencairan dana Belanja Bantuan Sosial kepada setiap penyedia barang dan/atau jasa.
| ||||||
|
|
(3)
|
UP yang diajukan berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
UP tunai; dan/atau
| |||||
|
|
|
b.
|
UP kartu kredit pemerintah.
| |||||
|
|
(4)
|
UP tunai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a merupakan UP yang diberikan dalam bentuk uang tunai kepada Bendahara Pengeluaran/bendahara pengeluaran pembantu melalui rekening Bendahara Pengeluaran/bendahara pengeluaran pembantu.
| ||||||
|
|
(5)
|
UP kartu kredit pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b merupakan uang muka kerja yang diberikan dalam bentuk batasan belanja (limit) kredit kepada Bendahara Pengeluaran/bendahara pengeluaran pembantu.
| ||||||
|
|
(6)
|
Besaran UP yang dikelola Satker sesuai dengan kebutuhan UP Satker dalam 1 (satu) bulan paling banyak 1/12 (satu per dua belas) dari pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan melalui UP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk masing-masing sumber dana dalam DIPA.
| ||||||
|
|
(7)
|
Besaran UP sebagaimana dimaksud pada ayat (6), paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
| ||||||
|
|
(8)
|
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas permintaan KPA, dapat memberikan persetujuan UP melampaui besaran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dan ayat (7), dengan mempertimbangkan:
| ||||||
|
|
|
a.
|
frekuensi penggantian UP tahun yang lalu lebih dari rata-rata 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan selama 1 (satu) tahun; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
perhitungan kebutuhan penggunaan UP dalam 1 (satu) bulan.
| |||||
|
|
(9)
|
Satker mengajukan revolving UP tunai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan.
| ||||||
|
|
(10)
|
Revolving UP sebagaimana dimaksud pada ayat (9) dapat dilakukan setelah digunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen).
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
33.
|
Ketentuan ayat (2) Pasal 214 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 214
| |||||||
|
|
(1)
|
UP dapat digunakan untuk pembayaran secara tunai dan nontunai.
| ||||||
|
|
(2)
|
Pembayaran dengan UP kepada setiap penerima hak pembayaran paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
| ||||||
|
|
(3)
|
Batasan besaran pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikecualikan untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pembayaran honorarium;
| |||||
|
|
|
b.
|
perjalanan dinas;
| |||||
|
|
|
c.
|
kegiatan di luar negeri;
| |||||
|
|
|
d.
|
kegiatan kepresidenan/wakil presiden;
| |||||
|
|
|
e.
|
kegiatan yang menyangkut rahasia negara/intelijen;
| |||||
|
|
|
f.
|
Pengadaan Barang/Jasa Penyedia di luar negeri;
| |||||
|
|
|
g.
|
iuran organisasi internasional;
| |||||
|
|
|
h.
|
kegiatan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
| |||||
|
|
|
i.
|
penanganan terorisme;
| |||||
|
|
|
j.
|
pengadaan alat utama sistem senjata TNI/alat peralatan pertahanan dan keamanan; dan
| |||||
|
|
|
k.
|
penanganan bencana.
| |||||
|
|
(4)
|
Pembayaran dengan UP kepada setiap penerima hak dengan nilai melebihi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk kegiatan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
34.
|
Ketentuan ayat (4) dan ayat (6) Pasal 246 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 246
| |||||||
|
|
(1)
|
Evaluasi kinerja anggaran atas perencanaan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 huruf a dilakukan melalui rangkaian aktivitas sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
a.
|
penilaian kinerja perencanaan anggaran; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
evaluasi kinerja tematik.
| |||||
|
|
(2)
|
Penilaian kinerja perencanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk Kementerian/Lembaga dilakukan terhadap:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kinerja anggaran tingkat Kementerian/Lembaga;
| |||||
|
|
|
b.
|
kinerja anggaran tingkat unit eselon I; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
kinerja anggaran tingkat Satker.
| |||||
|
|
(3)
|
Penilaian kinerja perencanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk BUN dilakukan terhadap:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kinerja anggaran tingkat BA BUN;
| |||||
|
|
|
b.
|
kinerja anggaran tingkat Sub BA BUN;
| |||||
|
|
|
c.
|
kinerja anggaran tingkat PPA BUN; dan
| |||||
|
|
|
d.
|
kinerja anggaran tingkat Satker BUN.
| |||||
|
|
(4)
|
Penilaian kinerja perencanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan mengukur paling sedikit atas:
| ||||||
|
|
|
a.
|
efektivitas penggunaan anggaran; dan
| |||||
|
|
|
b.
|
efisiensi penggunaan anggaran.
| |||||
|
|
(5)
|
Efektivitas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a diukur berdasarkan capaian Keluaran dan hasil/outcome.
| ||||||
|
|
(6)
|
Indikator yang digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a meliputi:
| ||||||
|
|
|
a.
|
capaian RO;
| |||||
|
|
|
b.
|
capaian indikator Kinerja Program; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
capaian indikator Kinerja sasaran strategis.
| |||||
|
|
(7)
|
Efisiensi penggunaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b berkaitan dengan hubungan antara sumber daya yang digunakan dan Keluaran yang diperoleh dalam hal kuantitas, kualitas, dan waktu.
| ||||||
|
|
(8)
|
Evaluasi kinerja anggaran tematik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan evaluasi kinerja anggaran sesuai kebutuhan dan kebijakan untuk tujuan tertentu.
| ||||||
|
|
(9)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan evaluasi kinerja anggaran atas perencanaan anggaran ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
35.
|
Ketentuan ayat (2) Pasal 248 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 248
| |||||||
|
|
(1)
|
Dalam melakukan evaluasi kinerja anggaran atas pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) digunakan indikator kinerja pelaksanaan anggaran yang paling sedikit terdiri atas 3 (tiga) aspek, yaitu:
| ||||||
|
|
|
a.
|
kualitas perencanaan pelaksanaan anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
kualitas implementasi pelaksanaan anggaran; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
kualitas hasil pelaksanaan anggaran.
| |||||
|
|
(2)
|
Aspek kualitas perencanaan pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan penilaian terhadap kesesuaian antara pelaksanaan anggaran dengan alokasi anggaran yang direncanakan dan ditetapkan dalam DIPA.
| ||||||
|
|
(3)
|
Aspek kualitas implementasi pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan penilaian terhadap kemampuan Satker dalam merealisasikan anggaran yang telah ditetapkan pada DIPA.
| ||||||
|
|
(4)
|
Aspek kualitas hasil pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan penilaian terhadap kemampuan Satker dalam pencapaian Keluaran sebagaimana ditetapkan pada DIPA.
| ||||||
|
|
(5)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan evaluasi kinerja anggaran atas pelaksanaan anggaran ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
36.
|
Di antara paragraf 3 dan paragraf 4 pada Bagian Kedua Bab VIII disisipkan 1 (satu) paragraf yakni Paragraf 3A sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Paragraf 3A
Penyesuaian Terhadap Variabel dan Indikator Penilaian Kinerja
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
37.
|
Di antara Pasal 248 dan Pasal 249 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 248A, sehingga Pasal 248A berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 248A
| |||||||
|
|
(1)
|
Dalam hal pelaksanaan kebijakan pemerintah lainnya sebagaimana dimaksud pada Pasal 157 ayat (6) huruf c berdampak terhadap hasil penilaian kinerja perencanaan anggaran dan/atau kinerja pelaksanaan anggaran dapat dilakukan penyesuaian terhadap variabel dan indikator penilaian kinerja.
| ||||||
|
|
(2)
|
Penyesuaian terhadap variabel dan indikator penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan terkait evaluasi kinerja anggaran dan pelaksanaan anggaran belanja Kementerian/Lembaga.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
38.
|
Ketentuan ayat (1) Pasal 253 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 253
| |||||||
|
|
(1)
|
Pemberian penghargaan kepada Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 252 dilakukan dengan mempertimbangkan hasil penilaian kinerja percepatan pelaksanaan berusaha Kementerian/Lembaga yang memiliki tugas dan fungsi percepatan pelaksanaan berusaha yang dilakukan oleh kementerian yang menangani urusan pemerintahan di bidang penanaman modal dan investasi.
| ||||||
|
|
(2)
|
Hasil penilaian kinerja percepatan pelaksanaan berusaha Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikategorikan menjadi:
| ||||||
|
|
|
a.
|
sangat baik;
| |||||
|
|
|
b.
|
baik; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
kurang baik.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
39.
|
Ketentuan ayat (1) Pasal 255 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 255
| |||||||
|
|
(1)
|
Kementerian/Lembaga yang memperoleh capaian atas indikator Kinerja anggaran dan kontribusi terhadap sasaran/kebijakan tertentu yang menjadi fokus Pemerintah dalam kategori kurang dan sangat kurang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249 ayat (8) huruf d dan huruf e, dikenai sanksi.
| ||||||
|
|
(2)
|
Kementerian/Lembaga yang memperoleh nilai kinerja percepatan pelaksanaan berusaha dalam kategori kurang baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (2) huruf c dapat dipertimbangkan untuk dikenai sanksi.
| ||||||
|
|
(3)
|
Pengenaan sanksi kepada Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
teguran tertulis;
| |||||
|
|
|
b.
|
publikasi pada media massa nasional; dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
disinsentif anggaran.
| |||||
|
|
(4)
|
Pengenaan sanksi berupa teguran tertulis kepada Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dituangkan dalam surat Menteri Keuangan.
| ||||||
|
|
(5)
|
Pengenaan sanksi berupa publikasi pada media massa nasional kepada Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dapat dilakukan melalui publikasi pada media cetak atau media digital dalam skala nasional.
| ||||||
|
|
(6)
|
Pengenaan sanksi berupa disinsentif anggaran kepada Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, dapat berupa:
| ||||||
|
|
|
a.
|
pengurangan anggaran;
| |||||
|
|
|
b.
|
pemberian catatan pada DIPA (self blocking anggaran); dan/atau
| |||||
|
|
|
c.
|
penajaman/pengutamaan penggunaan alokasi anggaran untuk kegiatan tertentu (refocusing anggaran).
| |||||
|
|
(7)
|
Disinsentif anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat mengurangi alokasi anggaran untuk:
| ||||||
|
|
|
a.
|
gaji dan tunjangan;
| |||||
|
|
|
b.
|
prioritas nasional; dan
| |||||
|
|
|
c.
|
pelayanan kepada masyarakat.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
40.
|
Ketentuan Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, dan Lampiran IV Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107 tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan diubah, sehingga menjadi sebagaimana tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, dan Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal II | ||||||||
|
1.
|
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, pembentukan dan pemanfaatan RO Khusus yang telah dilakukan sebelum Peraturan Menteri ini mulai berlaku, dinyatakan sah dan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri ini.
| |||||||
|
2.
|
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 12 Juni 2026
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PURBAYA YUDHI SADEWA
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 22 Juni 2026
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2026 NOMOR 409
| ||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.