Peraturan Gubernur Provinsi Aceh Nomor: 26 Tahun 2021
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN GUBERNUR ACEH
NOMOR 26 TAHUN 2021TENTANG
PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR PEMBUATAN SEBELUM TAHUN 2021 DAN PEMBERIAN INSENTIF PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN/ATAU BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, | ||
|
|
|
|
Menimbang | ||
|
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (5), Pasal 10 ayat (3), Pasal 11 ayat (5), Pasal 12 ayat (6), Pasal 13 ayat 2 dan Pasal 22 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2021, perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Pembuatan Sebelum Tahun 2021 dan Pemberian Insentif Pajak Kendaraan Bermotor dan/atau Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
| ||
|
|
|
|
Mengingat | ||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1103);
| |
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4286);
| |
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4355);
| |
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);
| |
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
| |
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
| |
|
7.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| |
|
8.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
| |
|
9.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan Bermotor (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 120, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5317);
| |
|
10.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 260, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5594);
| |
|
11.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5950);
| |
|
12.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);
| |
|
13.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2021 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 9);
| |
|
14.
|
Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pajak Aceh (Lembaran Aceh Nomor 2 Tahun 2012, Tambahan Lembaran Aceh Nomor 40) sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pajak Aceh (Lembaran Aceh Tahun 2017 Nomor 11, Tambahan Lembaran Aceh Nomor 95);
| |
|
15.
|
Peraturan Gubernur Aceh Nomor 11 Tahun 2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pajak Aceh (Berita Daerah Aceh Tahun 2018 Nomor 11);
| |
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||
Menetapkan | ||
|
PERATURAN GUBERNUR TENTANG PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR PEMBUATAN SEBELUM TAHUN 2021 DAN PEMBERIAN INSENTIF PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN/ATAU BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR.
| ||
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 | ||
|
Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan:
| ||
|
1.
|
Aceh adalah daerah Provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang dipimpin oleh seorang Gubernur.
| |
|
2.
|
Pemerintah Aceh adalah unsur penyelenggara pemerintahan Aceh yang terdiri atas Gubernur dan perangkat daerah Aceh.
| |
|
3.
|
Gubernur adalah kepala Pemerintah Aceh.
| |
|
4.
|
Badan Hukum adalah badan atau perkumpulan yang dalam hukum diakui sebagai subjek hukum yang dapat dilekatkan hak dan kewajiban hukum seperti perseroan terbatas dan Koperasi yang bergerak di bidang angkutan umum.
| |
|
5.
|
Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan.
| |
|
6.
|
Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap kendaraan yang digunakan untuk angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.
| |
|
7.
|
Kendaraan Bermotor Angkutan Umum adalah setiap kendaraan milik badan usaha yang bergerak di bidang jasa angkutan umum dan mempunyai izin angkutan umum barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.
| |
|
8.
|
Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electic Vehicle) yang selanjutnya disebut KBL Berbasis Baterai adalah kendaraan yang digerakkan dengan motor listrik dan mendapatkan pasokan sumber daya tenaga listrik dari baterai secara langsung di kendaraan maupun dari luar.
| |
|
9.
|
Pajak Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disingkat PKB adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.
| |
|
10.
|
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disingkat BBNKB adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha.
| |
|
11.
|
Kendaraan Bermotor Ubah Bentuk adalah kendaraan bermotor yang mengalami perubahan teknis dan/atau fungsi dan/atau penggunaannya.
| |
|
12.
|
Nilai Jual Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disingkat NJKB adalah Harga Pasaran Umum dan/atau harga berdasarkan dari sumber lainnya atas suatu kendaraan bermotor.
| |
|
13.
|
Nilai Jual Kendaraan Bermotor Ubah Bentuk yang selanjutnya disingkat NJKBUB adalah harga pasaran umum dan/atau harga berdasarkan dari sumber lainnya atas suatu kendaraan bermotor yang mengalami perubahan teknis dan/atau serta penggunaannya.
| |
|
14.
|
Harga Pasaran Umum yang selanjutnya disingkat HPU adalah harga rata-rata yang diperoleh dari berbagai sumber data yang akurat.
| |
|
15.
|
Harga Kosong (off the road) adalah harga kendaraan bermotor dari pabrikan/agen penjualan termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
| |
|
16.
|
Harga Isi (on the road) adalah harga kendaraan bermotor dari pabrikan/agen penjualan termasuk Pajak Pertambahan Nilai, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor.
| |
|
17.
|
Tahun Pembuatan adalah tahun perakitan dan/atau tahun yang ditetapkan berdasarkan registrasi dan identifikasi oleh pihak yang berwenang.
| |
|
|
|
|
Pasal 2 | ||
|
(1)
|
Peraturan Gubernur ini bermaksud untuk mengatur Penghitungan Dasar Pengenaan PKB dan BBNKB Pembuatan Sebelum Tahun 2021 serta pemberian insentif PKB dan/atau BBNKB.
| |
|
(2)
|
Peraturan Gubernur ini bertujuan agar tersedianya Dasar Pengenaan PKB dan BBNKB Pembuatan Sebelum Tahun 2021 serta pemberian insentif PKB dan/atau BBNKB.
| |
|
|
|
|
Pasal 3 | ||
|
Ruang lingkup dari Peraturan Gubernur ini meliputi:
| ||
|
a.
|
Penghitungan Dasar Pengenaan PKB dan BBNKB; dan
| |
|
b.
|
Pemberian insentif PKB dan/atau BBNKB.
| |
|
|
|
|
|
BAB II
PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PKB DAN BBNKB Bagian Kesatu Kendaraan Bermotor Tanpa Ubah Bentuk Pasal 4 | ||
|
(1)
|
Penghitungan dasar pengenaan PKB pembuatan sebelum tahun 2021 ditetapkan berdasarkan perkalian dari 2 (dua) unsur pokok:
| |
|
|
a.
|
NJKB; dan
|
|
|
b.
|
bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan Bermotor. ·
|
|
(2)
|
NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan berdasarkan HPU dan/atau harga dari sumber lainnya atas Kendaraan Bermotor.
| |
|
(3)
|
NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam kolom 6 (enam) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.
| |
|
(4)
|
Dasar pengenaan PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam kolom 8 (delapan) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini.
| |
|
|
|
|
Pasal 5 | ||
|
(1)
|
Bobot sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b dinyatakan dalam koefisien yang nilainya 1 (satu) atau lebih besar dari 1 (satu), dengan pengertian sebagai berikut:
| |
|
|
a.
|
koefisien sama dengan 1 (satu) berarti kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan oleh penggunaan Kendaraan Bermotor tersebut dianggap masih dalam batas toleransi; dan
|
|
|
b.
|
koefisien lebih besar dari 1 (satu) berarti penggunaan Kendaraan Bermotor tersebut dianggap melewati batas toleransi.
|
|
(2)
|
Batas paling tinggi nilai koefisien yang nilainya lebih besar dari 1 (satu) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah 1,3 (satu koma tiga).
| |
|
(3)
|
Koefisien sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
| |
|
|
a.
|
mobil roda tiga, sepeda motor roda dua, dan sepeda motor roda tiga penumpang dan sepeda motor roda tiga barang nilai koefisien sama dengan 1 (satu);
|
|
|
b.
|
sedan nilai koefisien sama dengan 1,025 (satu koma nol dua lima);
|
|
|
c.
|
jeep dan minibus nilai koefisien sama dengan 1,05 (satu koma nol lima);
|
|
|
d.
|
blind van, pick up, double cabin, dan microbus nilai koefisien sama dengan 1,085 (satu koma nol delapan lima);
|
|
|
e.
|
bus nilai koefisien sama dengan 1,1 (satu koma satu); dan
|
|
|
f.
|
light truck, truck, dan sejenisnya nilai koefisien sama dengan 1,3 (satu koma tiga).
|
|
(4)
|
Bobot sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam kolom 7 (tujuh) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini.
| |
|
|
|
|
Pasal 6 | ||
|
(1)
|
Kendaraan Bermotor sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur ini terdiri dari kategori:
| |
|
|
a.
|
jeep dan sedan;
|
|
|
b.
|
minibus, microbus, dan bus;
|
|
|
c.
|
pick up, double cabin, blind van, light truck, dan truck; dan
|
|
|
d.
|
sepeda motor roda dua, sepeda motor roda tiga dan mobil roda tiga.
|
|
(2)
|
Kategori Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini.
| |
|
|
|
|
Pasal 7 | ||
|
NJKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) sebagai dasar pengenaan BBNKB.
| ||
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Kendaraan Bermotor Ubah Bentuk Pasal 8 | ||
|
(1)
|
NJKBUB sebagai dasar pengenaan PKB dan BBNKB Pembuatan Sebelum Tahun 2021 ditetapkan berdasarkan hasil penjumlahan NJKB dan nilai jual ubah bentuk yang ditetapkan berdasarkan HPU dan/atau harga dari sumber lainnya atas Kendaraan Bermotor.
| |
|
(2)
|
Nilai jual ubah bentuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.
| |
|
|
|
|
Pasal 9 | ||
|
(1)
|
Dasar pengenaan PKB bagi Kendaraan Bermotor yang mengalami penggantian mesin, ditetapkan sama dengan sebelum mengalami penggantian mesin.
| |
|
(2)
|
Dasar pengenaan tambahan BBNKB bagi Kendaraan Bermotor yang mengalami penggantian mesin yaitu berdasarkan nilai jual mesin pengganti.
| |
|
(3)
|
Nilai jual mesin pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan sebagai berikut:
| |
|
|
a.
|
mesin dengan isi silinder sampai dengan 1.500 (seribu lima ratus) cc sebesar Rp2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah);
|
|
|
b.
|
mesin dengan isi silinder 1.501 (seribu lima ratus satu) cc sampai dengan 2.500 (dua ribu lima ratus) cc sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah);
|
|
|
c.
|
mesin dengan isi silinder 2.501 (dua ribu lima ratus satu) cc sampai dengan 5.000 (lima ribu) cc sebesar Rp7.500.000,00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah);
|
|
|
d.
|
mesin dengan isi silinder 5.001 (lima ribu satu) cc sampai dengan 10.000 (sepuluh ribu) cc sebesar Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah); dan
|
|
|
e.
|
mesin dengan isi silinder di atas 10.000 (sepuluh ribu) cc sebesar Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).
|
|
|
|
|
Pasal 10 | ||
|
(1)
|
Nilai jual ubah bentuk yang belum tercantum dalam Peraturan Gubernur ini ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
| |
|
(2)
|
Keputusan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah.
| |
|
|
|
|
|
BAB III
Pemberian Insentif PKB dan BBNKB Pasal 11 | ||
|
(1)
|
Pengenaan PKB dan BBNKB Angkutan Umum ditetapkan:
| |
|
|
a.
|
Pengenaan PKB angkutan umum untuk orang sebesar 30% (tiga puluh persen) dari dasar pengenaan PKB sebagaimana tercantum dalam kolom 8 (delapan) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini;
|
|
|
b.
|
Pengenaan BBNKB angkutan umum untuk orang sebesar 30% (tiga puluh persen) dari dasar pengenaan BBNKB sebagaimana tercantum dalam kolom 6 (enam) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV dan Lampiran V Peraturan Gubernur ini;
|
|
|
c.
|
Pengenaan PKB angkutan umum untuk barang sebesar 60% (enam puluh persen) dari dasar pengenaan PKB sebagaimana tercantum dalam kolom 8 (delapan) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini; dan
|
|
|
d.
|
Pengenaan BBNKB angkutan umum untuk barang sebesar 60% (enam puluh persen) dari dasar pengenaan BBNKB sebagaimana tercantum dalam kolom 6 (enam) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV dan Lampiran V Peraturan Gubernur ini.
|
|
(2)
|
Kepemilikan Kendaraan Bermotor Angkutan Umum yang diberikan insentif PKB dan BBNKB sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib berbadan Hukum Indonesia berbentuk:
| |
|
|
a.
|
badan usaha milik negara;
|
|
|
b.
|
badan usaha milik daerah;
|
|
|
c.
|
perseroan terbatas; atau
|
|
|
d.
|
koperasi.
|
|
(3)
|
Perusahaan atau koperasi jasa angkutan umum sebagaimana dimaksud ayat (2) wajib melampirkan:
| |
|
|
a.
|
fotocopy dokumen pengesahan badan hukum sesuai peraturan perundang-undangan;
|
|
|
b.
|
fotocopy surat izin usaha (izin penyelenggaraan angkutan orang) yang telah berlaku efektif atau dokumen lain yang dipersamakan sesuai peraturan perundang-undangan, bagi angkutan umum orang; dan
|
|
|
c.
|
fotocopy surat izin usaha jasa pengurusan transportasi yang telah berlaku efektif atau dokumen lain yang dipersamakan sesuai peraturan perundang-undangan, bagi angkutan umum barang.
|
|
(4)
|
Perusahaan Angkutan Umum yang menyelenggarakan angkutan orang dan/atau barang yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3), dasar pengenaan PKB dan BBNKB tidak diberikan pengurangan atau dikenakan tarif bukan angkutan umum.
| |
|
|
|
|
Pasal 12 | ||
|
(1)
|
Pengenaan PKB KBL Berbasis Baterai untuk orang atau barang sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan PKB sebagaimana tercantum dalam kolom 8 (delapan) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini.
| |
|
(2)
|
Pengenaan BBNKB KBL Berbasis Baterai untuk orang atau barang sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan BBNKB sebagaimana tercantum dalam kolom 6 (enam) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV dan Lampiran V Peraturan Gubernur ini.
| |
|
|
|
|
Pasal 13 | ||
|
(1)
|
Pengenaan PKB KBL Berbasis Baterai untuk angkutan umum orang sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan PKB sebagaimana tercantum dalam kolom 8 (delapan) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini.
| |
|
(2)
|
Pengenaan BBNKB KBL Berbasis Baterai untuk angkutan umum orang sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan BBNKB sebagaimana tercantum dalam kolom 6 (enam) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV dan Lampiran V Peraturan Gubernur ini.
| |
|
(3)
|
Pengenaan PKB KBL Berbasis Baterai untuk angkutan umum barang sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan PKB sebagaimana tercantum dalam kolom 8 (delapan) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan Gubernur ini.
| |
|
(4)
|
Pengenaan BBNKB KBL Berbasis Baterai untuk angkutan umum barang sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan BBNKB sebagaimana tercantum dalam kolom 6 (enam) Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV dan Lampiran V Peraturan Gubernur ini.
| |
|
|
|
|
Pasal 14 | ||
|
(1)
|
Pengenaan PKB ambulance, pemadam kebakaran, dan pelayanan kebersihan milik pemerintah pusat, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pemerintah daerah sebesar 0% (nol persen) dari dasar pengenaan PKB.
| |
|
(2)
|
Pengenaan BBNKB ambulance, pemadam kebakaran, dan pelayanan kebersihan milik pemerintah pusat, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pemerintah daerah sebesar 0% (nol persen) dari dasar pengenaan BBNKB.
| |
|
|
|
|
Pasal 15 | ||
|
(1)
|
Pengenaan PKB ambulance, pemadam kebakaran dan pelayanan kebersihan milik badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, pihak swasta yang dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dan yang diperuntukkan untuk kegiatan sosial keagamaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari dasar pengenaan PKB.
| |
|
(2)
|
Pengenaan BBNKB ambulance, pemadam kebakaran dan pelayanan kebersihan milik badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, pihak swasta yang dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dan yang diperuntukkan untuk kegiatan sosial keagamaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari dasar pengenaan BBNKB.
| |
|
|
|
|
|
BAB IV
KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 16 | ||
|
(1)
|
Dalam hal NJKB sebagai dasar penghitungan pengenaan PKB dan BBNKB untuk Kendaraan Bermotor Pembuatan Tahun 2021 belum ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2021, NJKB ditetapkan dengan mempedomani ketentuan sebagai berikut:
| |
|
|
a.
|
dalam hal diperoleh harga kosong (off the road), NJKB ditetapkan sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai;
|
|
|
b.
|
dalam hal diperoleh harga isi (on the road), NJKB ditetapkan sebelum dikenakan pajak pertambahan nilai, PKB dan BBNKB;
|
|
|
c.
|
NJKB dari daerah provinsi lain;
|
|
|
d.
|
Harga yang tercantum dalam faktur; atau
|
|
|
e.
|
Merek dan/atau tipe atau model sejenis yang hampir sama dan/atau tahun pembuatan dan negara produsen sama.
|
|
(2)
|
Penetapan NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
| |
|
|
|
|
Pasal 17 | ||
|
(1)
|
Dalam hal penetapan NJKB sebagai dasar pengenaan PKB dan BBNKB untuk Kendaraan Bermotor pembuatan sebelum Tahun 2021 belum ditetapkan dalam Peraturan Gubernur ini, maka penetapannya dengan ketentuan sebagai berikut berdasarkan:
| |
|
|
a.
|
HPU;
|
|
|
b.
|
NJKB dari daerah provinsi lain;
|
|
|
c.
|
Harga yang tercantum dalam faktur; atau
|
|
|
d.
|
Merek, tipe, dan/atau model sejenis yang hampir sama dan tahun pembuatan serta negara produsen sama.
|
|
(2)
|
Penetapan NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
| |
|
|
|
|
Pasal 18 | ||
|
Dasar pengenaan PKB dan BBNKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah.
| ||
|
|
|
|
Pasal 19 | ||
|
Dasar pengenaan PKB dan BBNKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 berlaku sampai dengan ditetapkannya Perhitungan Dasar Pengenaan PKB dan BBNKB oleh Menteri Dalam Negeri.
| ||
|
|
|
|
|
BAB V
KETENTUAN PENUTUP Pasal 20 | ||
|
Persyaratan pemberian Insentif PKB dan BBNKB bagi Kendaraan Bermotor Angkutan Umum sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 ayat (3) huruf b dan huruf c, berlaku efektif mulai 01 Agustus 2021.
| ||
|
|
|
|
Pasal 21 | ||
|
Hal-hal yang belum diatur atau ditetapkan dalam Peraturan Gubernur ini sepanjang mengenai pelaksanaannya lebih lanjut ditetapkan oleh Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh.
| ||
|
|
|
|
Pasal 22 | ||
|
Pada saat Peraturan Gubernur ini mulai berlaku, Peraturan Gubernur Aceh Nomor 27 Tahun 2020 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Pembuatan Sebelum Tahun 2020 (Berita Daerah Aceh Tahun 2020 Nomor 26), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
| ||
|
|
|
|
Pasal 23 | ||
|
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| ||
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dalam Berita Daerah Aceh.
| ||
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Banda Aceh
pada tanggal, 18 Juni 2021 (7 Dzulqaidah 1442) GUBERNUR ACEH, ttd. NOVA IRIANSYAH Diundangkan di Banda Aceh pada tanggal, 18 Juni 2021 (7 Dzulqaidah 1442) SEKRETARIS DAERAH ACEH, ttd. TAQWALLAH BERITA DAERAH ACEH TAHUN 2021 NOMOR 25 | ||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.