Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-10/PJ.52/1998
Sudah Tidak Berlaku karena Diganti/Dicabut
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE-10/PJ.52/1998 TENTANG
RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH KEPADA PERWAKILAN NEGARA ASING/BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABAT/TENAGA AHLINYA
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
| |||
|
|
| ||
|
Bersama ini disampaikan foto copy Surat Keputusan Menteri Keuangan R.I. Nomor: 25/KMK.01/1998 tanggal 27 Januari 1998 tentang Pemberian Restitusi/Pembebasan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah kepada Perwakilan Negara Asing/Badan Internasional serta Pejabat/Tenaga Ahlinya (terlampir).
| |||
|
|
| ||
|
Sehubungan dengan hal tersebut diberikan petunjuk pelaksanaan lebih lanjut sebagai berikut:
| |||
|
1.
|
Dengan berlakunya Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 25/KMK.01/1998 tanggal 27 Januari 1998, maka Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 804/MK/8/6/1974 tanggal 5 Juni 1974 dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 961/MK/7/7/1974 tanggal 9 Juli 1974 (terlampir) dinyatakan tidak berlaku lagi.
| ||
|
2.
|
Sesuai dengan Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 25/KMK.01/1998 yang berbunyi:
| ||
|
|
(1)
|
Atas pembelian Barang Kena Pajak atau perolehan Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh:
| |
|
|
|
a.
|
Perwakilan Negara Asing;
|
|
|
|
b.
|
Badan Internasional di Indonesia yang memperoleh kekebalan diplomatik serta Pejabat/Tenaga Ahlinya;
|
|
|
|
dibebaskan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
| |
|
|
(2)
|
Pembebasan PPN dan/atau PPnBM kepada Perwakilan Negara Asing hanya diberikan atas dasar azas timbal balik.
| |
|
3.
|
Pelaksanaan pengembalian PPN dan/atau PPnBM terlanjur dipungut yang selama ini dilaksanakan oleh Biro Keuangan Departemen Keuangan dialihkan kepada Direktorat Jenderal Pajak.
| ||
|
4.
|
Permohonan pengembalian PPN dan/atau PPnBM yang terlanjur dipungut diajukan oleh pihak terpungut kepada Direktur Jenderal Pajak dan harus disertai dengan rekomendasi dari Departemen Luar Negeri atau Sekretaris Kabinet.
| ||
|
5.
|
Apabila yang mengajukan permohonan pengembalian PPN dan/atau PPnBM yang terlanjur dipungut tersebut adalah pihak Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)/Assembler maka proses penyelesaian restitusi agar berpedoman pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-28/PJ/1996 tanggal 17 April 1996 tentang Penghitungan dan Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pajak Masukan.
| ||
|
6.
|
Dalam hal yang mengajukan permohonan pengembalian PPN dan/atau PPnBM adalah:
| ||
|
|
a.
|
Perwakilan Negara Asing;
| |
|
|
b.
|
Badan Internasional di Indonesia yang memperoleh kekebalan diplomatik serta Pejabat/Tenaga Ahlinya.
| |
|
|
|
| |
|
Maka proses penyelesaian restitusinya agar berpedoman pada Surat Direktur Jenderal Pajak yang ditujukan kepada Kantor Pelayanan Pajak Badan dan Orang Asing Nomor: S-2678/PJ.55/1993 tanggal 3 Oktober 1993 (lampiran).
| |||
|
|
|
| |
|
Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
| |||
|
|
|
| |
|
18 Mei 1998
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
ttd.
A. ANSHARI RITONGA
| |||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.