Peraturan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor: 5 Tahun 2025
Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
PERATURAN MENTERI PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 5 TAHUN 2025
NOMOR 5 TAHUN 2025
TENTANG
BESARAN PENGHASILAN DAN KRITERIA MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SERTA PERSYARATAN KEMUDAHAN PEMBANGUNAN DAN PEROLEHAN RUMAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
REPUBLIK INDONESIA,
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | |||||
|
a.
|
bahwa untuk meningkatkan akses dan keterjangkauan masyarakat berpenghasilan rendah yang dapat memanfaatkan kemudahan pembangunan dan perolehan rumah, perlu penyesuaian besaran penghasilan masyarakat berpenghasilan rendah;
| ||||
|
b.
|
bahwa Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 1 Tahun 2021 tentang Kriteria Masyarakat Berpenghasilan Rendah dan Persyaratan Kemudahan Pembangunan dan Perolehan Rumah sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hukum, sehingga perlu diganti;
| ||||
|
c.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 54 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman tentang Besaran Penghasilan dan Kriteria Masyarakat Berpenghasilan Rendah serta Persyaratan Kemudahan Pembangunan dan Perolehan Rumah;
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||
|
1.
|
Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
| ||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 61 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 225, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6994);
| ||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6856);
| ||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5252) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6856);
| ||||
|
5.
|
Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2024 tentang Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 388);
| ||||
|
6.
|
Peraturan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor 1 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1064);
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||
Menetapkan | |||||
|
PERATURAN MENTERI PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN TENTANG BESARAN PENGHASILAN DAN KRITERIA MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SERTA PERSYARATAN KEMUDAHAN PEMBANGUNAN DAN PEROLEHAN RUMAH.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 | |||||
|
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
| |||||
|
1.
|
Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah.
| ||||
|
2.
|
Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta asset bagi pemiliknya.
| ||||
|
3.
|
Rumah Umum adalah Rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan Rumah bagi MBR.
| ||||
|
4.
|
Rumah Swadaya adalah Rumah yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat.
| ||||
|
5.
|
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perumahan dan suburusan pemerintahan kawasan permukiman yang merupakan lingkup urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
BESARAN PENGHASILAN MBR
Pasal 2 | |||||
|
(1)
|
Besaran penghasilan MBR dihitung berdasarkan kemampuan membayar biaya pembangunan atau perolehan Rumah layak huni.
| ||||
|
(2)
|
Besaran penghasilan MBR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan nilai penghasilan paling banyak untuk pemberian kemudahan dan/atau bantuan pembangunan atau perolehan Rumah.
| ||||
|
(3)
|
Kemampuan membayar biaya pembangunan Rumah layak huni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dari:
| ||||
|
|
a.
|
angsuran pembiayaan pembangunan atau perbaikan Rumah Swadaya; dan/atau
| |||
|
|
b.
|
nilai keswadayaan terhadap biaya pembangunan atau perbaikan Rumah Swadaya.
| |||
|
(4)
|
Angsuran pembiayaan pembangunan atau perbaikan Rumah Swadaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a menggunakan:
| ||||
|
|
a.
|
suku bunga dan tenor tertentu; atau
| |||
|
|
b.
|
marjin komersial dan tenor tertentu.
| |||
|
(5)
|
Kemampuan membayar biaya perolehan Rumah layak huni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dari angsuran pembiayaan perolehan Rumah Umum menggunakan:
| ||||
|
|
a.
|
suku bunga dan tenor tertentu; atau
| |||
|
|
b.
|
marjin komersial dan tenor tertentu.
| |||
Pasal 3 | |||||
|
(1)
|
Biaya pembangunan atau perolehan Rumah layak huni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dihitung sesuai jenis Rumah yang diperoleh berdasarkan:
| ||||
|
|
a.
|
harga jual pemilikan Rumah Umum;
| |||
|
|
b.
|
biaya perbaikan Rumah Swadaya; atau
| |||
|
|
c.
|
biaya pembangunan Rumah Swadaya
| |||
|
(2)
|
Harga jual pemilikan Rumah Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
| ||||
|
|
a.
|
harga jual Rumah tunggal;
| |||
|
|
b.
|
harga jual satuan Rumah deret; dan
| |||
|
|
c.
|
harga jual satuan Rumah susun.
| |||
|
(3)
|
Harga jual pemilikan Rumah Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tanpa memperhitungkan pajak pertambahan nilai.
| ||||
|
(4)
|
Harga jual Rumah Umum dan biaya pembangunan Rumah Swadaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c dihitung berdasarkan batasan luas lantai Rumah Umum dan Rumah Swadaya.
| ||||
|
(5)
|
Batasan luas lantai Rumah Umum dan Rumah Swadaya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling luas terdiri atas:
| ||||
|
|
a.
|
36 m2 untuk pemilikan Rumah Umum; dan
| |||
|
|
b.
|
48 m2 untuk pembangunan Rumah Swadaya.
| |||
|
(6)
|
Biaya perbaikan Rumah Swadaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling tinggi dihitung berdasarkan biaya pembangunan Rumah Swadaya.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 4 | |||||
|
(1)
|
Besaran penghasilan MBR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) di bagi atas zonasi wilayah.
| ||||
|
(2)
|
Zonasi wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan:
| ||||
|
|
a.
|
indeks kemahalan konstruksi;
| |||
|
|
b.
|
rata-rata pengeluaran kontrak rumah dalam 1 (satu) bulan terakhir; dan
| |||
|
|
c.
|
letak geografis.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
KRITERIA MBR
Pasal 5 | |||||
|
(1)
|
Kriteria MBR merupakan indikator dalam menentukan masyarakat yang termasuk MBR.
| ||||
|
(2)
|
Kriteria MBR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada besaran penghasilan.
| ||||
|
(3)
|
Besaran penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditentukan berdasarkan:
| ||||
|
|
a.
|
penghasilan orang perseorangan yang tidak kawin; atau
| |||
|
|
b.
|
penghasilan orang perseorangan yang kawin.
| |||
|
(4)
|
Penghasilan orang perseorangan yang tidak kawin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a merupakan seluruh pendapatan bersih yang bersumber dari gaji, upah, dan/atau hasil usaha sendiri.
| ||||
|
(5)
|
Penghasilan orang perseorangan yang kawin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b merupakan seluruh pendapatan bersih yang bersumber dari gaji, upah, dan/atau hasil usaha gabungan suami istri.
| ||||
|
(6)
|
Dalam hal kriteria MBR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk pembangunan atau perolehan Rumah dengan mekanisme tabungan perumahan rakyat, besaran penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b ditentukan hanya berdasarkan penghasilan 1 (satu) orang.
| ||||
|
(7)
|
Penghasilan 1 (satu) orang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) merupakan seluruh pendapatan bersih yang bersumber dari gaji, upah, dan/atau hasil usaha sendiri.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 6 | |||||
|
Ketentuan mengenai pembagian:
| |||||
|
a.
|
zonasi wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1); dan
| ||||
|
b.
|
besaran nilai penghasilan orang perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3),
| ||||
|
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
PERSYARATAN KEMUDAHAN PEMBANGUNAN DAN PEROLEHAN RUMAH BAGI MBR
Pasal 7 | |||||
|
(1)
|
Untuk mendapatkan kemudahan pembangunan atau perolehan Rumah bagi MBR, masyarakat yang memenuhi persyaratan harus mengajukan permohonan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||
|
(2)
|
Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| ||||
|
|
a.
|
berkewarganegaraan Indonesia; dan
| |||
|
|
b.
|
memenuhi ketentuan besaran penghasilan dan kriteria MBR.
| |||
|
(3)
|
Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk mendapatkan kemudahan pembangunan atau perolehan Rumah, pemohon juga harus memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 8 | |||||
|
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
| |||||
|
a.
|
surat penegasan persetujuan pemberian kredit atau yang dipersamakan, yang telah diterbitkan oleh bank penyalur sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini tetap berlaku sampai dengan berakhirnya perjanjian kredit kepemilikan Rumah; dan
| ||||
|
b.
|
keputusan mengenai MBR penerima bantuan yang telah ditetapkan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini tetap berlaku sampai dengan dilakukan serah terima kemudahan dan/atau bantuan.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 9 | |||||
|
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 1 Tahun 2021 tentang Kriteria Masyarakat Berpenghasilan Rendah dan Persyaratan Kemudahan Pembangunan dan Perolehan Rumah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 44), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 10 | |||||
|
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 April 2025
MENTERI PERUMAHAN DAN
KAWASAN PERMUKIMAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
MARUARAR SIRAIT
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 22 April 2025
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR 273
| |||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.