Undang-Undang Nomor: 45 Tahun 2007

Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 45 TAHUN 2007
 
TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2008

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
 
 

Menimbang

a.
bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diajukan oleh Presiden setiap tahun untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah;
b.
bahwa APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;
c.
bahwa APBN Tahun Anggaran 2008 disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara dalam rangka mendukung terwujudnya perekonomian nasional berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional;
d.
bahwa penyusunan APBN Tahun Anggaran 2008 berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah tahun 2008 dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat;
e.
bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2008 antara Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah telah memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPD Nomor 48/DPD/2007 tanggal 20 September 2007;
f.
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, dan d, perlu membentuk Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008;
 
 

Mengingat

1.
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 23 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (4), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313);
3.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569);
4.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687);
5.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985);
6.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986);
7.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988);
8.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151);
9.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4236);
10.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
11.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297);
12.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
13.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
14.
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357);
15.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
16.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
17.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
18.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
19.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
20.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586);
21.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);
22.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);
23.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746);
24.
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);
 
 
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
 
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2008.
 

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini, yang dimaksud dengan:
1.
Pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri.
2.
Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional.
3.
Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, cukai, dan pajak lainnya.
4.
Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea keluar.
5.
Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam, bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara, serta penerimaan negara bukan pajak lainnya.
6.
Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan swasta dalam negeri serta sumbangan lembaga swasta dan pemerintah luar negeri.
7.
Belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan belanja ke daerah.
8.
Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah belanja pemerintah pusat yang dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga, sesuai dengan program-program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan.
9.
Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum, fungsi pertahanan, fungsi ketertiban dan keamanan, fungsi ekonomi, fungsi lingkungan hidup, fungsi perumahan dan fasilitas umum, fungsi kesehatan, fungsi pariwisata dan budaya, fungsi agama, fungsi pendidikan, dan fungsi perlindungan sosial.
10.
Belanja pemerintah pusat menurut jenis adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, pembayaran bunga utang, subsidi, belanja hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain.
11.
Belanja pegawai adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat, pensiunan, anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan pejabat negara, baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri, sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.
12.
Belanja barang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk membiayai pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa, baik yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan.
13.
Belanja modal adalah belanja pemerintah pusat yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, serta dalam bentuk fisik lainnya.
14.
Pembayaran bunga utang adalah belanja pemerintah pusat yang digunakan untuk pembayaran atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri, yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman.
15.
Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa, yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa, sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat.
16.
Belanja hibah adalah belanja pemerintah pusat dalam bentuk uang, barang, atau jasa dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Pemerintah Negara lain, atau lembaga/organisasi Internasional yang tidak perlu dibayar kembali, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus.
17.
Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga, guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial.
18.
Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja sebagaimana dimaksud pada angka 11 sampai dengan angka 17, dan dana cadangan umum.
19.
Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan serta dana otonomi khusus dan penyesuaian.
20.
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
21.
Dana bagi hasil, selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
22.
Dana alokasi umum, selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
23.
Dana alokasi khusus, selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
24.
Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah, sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
25.
Dana penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam melaksanakan kebijakan Pemerintah Pusat.
26.
Sisa kredit anggaran adalah sisa kewajiban pembiayaan program-program pembangunan pada akhir tahun anggaran.
27.
Sisa lebih pembiayaan anggaran adalah selisih lebih antara realisasi pembiayaan dengan realisasi defisit anggaran yang terjadi.
28.
Pembiayaan defisit anggaran adalah semua jenis pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN.
29.
Pembiayaan dalam negeri adalah semua pembiayaan yang berasal dari perbankan dan non perbankan dalam negeri yang meliputi hasil privatisasi, penjualan aset perbankan dalam rangka program restrukturisasi, surat utang negara, dan dana investasi pemerintah.
30.
Surat utang negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.
31.
Dana Investasi Pemerintah adalah dukungan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Pemerintah kepada Badan Usaha.
32.
Pembiayaan luar negeri bersih adalah semua pembiayaan yang berasal dari penarikan utang/pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek, dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok utang/pinjaman luar negeri.
33.
Pinjaman program adalah nilai lawan rupiah dari pinjaman luar negeri dalam  bentuk valuta asing yang dapat  dirupiahkan.
34.
Pinjaman proyek adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan tertentu.
35.
Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan di dalam belanja negara, tidak termasuk gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan.
36.
Perhitungan persentase anggaran pendidikan adalah perbandingan anggaran pendidikan terhadap keseluruhan belanja negara, tidak termasuk keseluruhan gaji.
37.
Tahun anggaran 2008 meliputi masa 1 (satu) tahun terhitung mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember 2008.
 
 

Pasal 2

(1)
Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2008 diperoleh dari sumber-sumber:
 
a.
Penerimaan perpajakan;
 
b.
Penerimaan negara bukan pajak; dan
 
c.
Penerimaan hibah.
(2)
Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp591.978.380.000.000,00 (lima ratus sembilan puluh satu triliun sembilan ratus tujuh puluh delapan miliar tiga ratus delapan puluh juta rupiah).
(3)
Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp187.236.083.476.000,00 (seratus delapan puluh tujuh triliun dua ratus tiga puluh enam miliar delapan puluh tiga juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah).
(4)
Penerimaan hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp2.139.684.000.000,00 (dua triliun seratus tiga puluh sembilan miliar enam ratus delapan puluh empat juta rupiah).
(5)
Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) direncanakan sebesar Rp781.354.147.476.000,00 (tujuh ratus delapan puluh satu triliun tiga ratus lima puluh empat miliar seratus empat puluh tujuh juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah).
 
 

Pasal 3

(1)
Penerimaan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri dari:
 
a.
Pajak dalam negeri; dan
 
b.
Pajak perdagangan internasional.
(2)
Penerimaan pajak dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp569.971.680.000.000,00 (lima ratus enam puluh sembilan triliun sembilan ratus tujuh puluh satu miliar enam ratus delapan puluh juta rupiah).
(3)
Penerimaan pajak perdagangan internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp22.006.700.000.000,00 (dua puluh dua triliun enam miliar tujuh ratus juta rupiah), yang terdiri dari:
 
a.
Bea masuk sebesar Rp17.940.800.000.000,00 (tujuh belas triliun sembilan ratus empat puluh miliar delapan ratus juta rupiah), termasuk bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) ditanggung pemerintah untuk sektor-sektor tertentu yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan sebesar Rp3.000.000.000.000,00 (tiga triliun rupiah).
 
b.
Bea keluar sebesar Rp4.065.900.000.000,00 (empat triliun enam puluh lima miliar sembilan ratus juta rupiah).
(4)
Rincian penerimaan perpajakan Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.
 
 

Pasal 4

(1)
Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) terdiri dari:
 
a.
Penerimaan sumber daya alam;
 
b.
Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara; dan
 
c.
Penerimaan negara bukan pajak lainnya.
(2)
Penerimaan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp126.203.170.475.000,00 (seratus dua puluh enam triliun dua ratus tiga miliar seratus tujuh puluh juta empat ratus tujuh puluh lima ribu rupiah).
(3)
Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp23.404.346.000.000,00 (dua puluh tiga triliun empat ratus empat miliar tiga ratus empat puluh enam juta rupiah).
(4)
Penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp37.628.567.001.000,00 (tiga puluh tujuh triliun enam ratus dua puluh delapan miliar lima ratus enam puluh tujuh juta seribu rupiah).
(5)
Penunjukkan pengelola Gelora Bung Karno dan Komplek Kemayoran sebagai Badan Layanan Umum (BLU) dalam rangka optimalisasi penerimaan negara bukan pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, sudah harus ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal penetapan Undang-Undang APBN.
(6)
Rincian penerimaan negara bukan pajak Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.
 
 

Pasal 5

(1)
Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 2008 terdiri dari:
 
a.
Anggaran belanja pemerintah pusat; dan
 
b. 
Anggaran transfer ke daerah.
(2)
Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp573.430.679.428.000,00 (lima ratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus tiga puluh miliar enam ratus tujuh puluh sembilan juta empat ratus dua puluh delapan ribu rupiah).
(3)
Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp281.229.462.718.000,00 (dua ratus delapan puluh satu triliun dua ratus dua puluh sembilan miliar empat ratus enam puluh dua juta tujuh ratus delapan belas ribu rupiah).
(4)
Jumlah anggaran belanja negara Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) direncanakan sebesar Rp854.660.142.146.000,00 (delapan ratus lima puluh empat triliun enam ratus enam puluh miliar seratus empat puluh dua juta seratus empat puluh enam ribu rupiah).
 
 

Pasal 6

(1)
Anggaran belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dikelompokkan atas:
 
a.
Belanja pemerintah pusat menurut organisasi;
 
b.
Belanja pemerintah pusat menurut fungsi; dan
 
c.
Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja.
(2)
Belanja pemerintah pusat menurut organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp573.430.679.428.000,00 (lima ratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus tiga puluh miliar enam ratus tujuh puluh sembilan juta empat ratus dua puluh delapan ribu rupiah).
(3)
Belanja pemerintah pusat menurut fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp573.430.679.428.000,00 (lima ratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus tiga puluh miliar enam ratus tujuh puluh sembilan juta empat ratus dua puluh delapan ribu rupiah).
(4)
Belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp573.430.679.428.000,00 (lima ratus tujuh puluh tiga triliun empat ratus tiga puluh miliar enam ratus tujuh puluh sembilan juta empat ratus dua puluh delapan ribu rupiah).
(5)
Rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat menurut unit organisasi/bagian anggaran dan menurut program/kegiatan dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah.
 
 

Pasal 7

(1)
Anggaran belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c terdiri dari:
 
a.
Belanja pegawai;
 
b.
Belanja barang;
 
c.
Belanja modal;
 
d.
Pembayaran bunga utang;
 
e.
Subsidi;
 
f.
Belanja hibah;
 
g.
Bantuan sosial; dan
 
h.
Belanja lain-lain.
(2)
Rincian anggaran belanja pemerintah pusat Tahun Anggaran 2008 menurut organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2), menurut fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3), dan menurut jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4), diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini yang ditetapkan paling lambat tanggal 30 November 2007.
 
 

Pasal 8

(1)
Perubahan rincian lebih lanjut dari anggaran belanja pemerintah pusat berupa:
 
a.
pergeseran anggaran belanja:
 
 
(i)
antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran;
 
 
(ii)
antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi; dan/atau
 
 
(iii)
antarjenis belanja dalam satu kegiatan.
 
b.
perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP); dan
 
c.
perubahan pagu pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN;
 
ditetapkan oleh Pemerintah.
(2)
Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non Badan Hukum Milik Negara (BHMN) ditetapkan oleh Pemerintah.
(3)
Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan, atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi.
(4)
Perubahan rincian belanja pemerintah pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antarprovinsi/ kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah.
(5)
Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2), (3), dan (4) dilaporkan Pemerintah kepada DPR dalam APBN Perubahan dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
 
 

Pasal 9

(1)
Anggaran transfer ke daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b terdiri dari:
 
a.
Dana perimbangan; dan
 
b.
Dana otonomi khusus dan penyesuaian.
(2)
Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp266.780.135.210.000,00 (dua ratus enam puluh enam triliun tujuh ratus delapan puluh miliar seratus tiga puluh lima juta dua ratus sepuluh ribu rupiah).
(3)
Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp14.449.327.508.000,00 (empat belas triliun empat ratus empat puluh sembilan miliar tiga ratus dua puluh tujuh juta lima ratus delapan ribu rupiah).
 
 

Pasal 10

(1)
Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a terdiri dari:
 
a.
Dana bagi hasil;
 
b.
Dana alokasi umum; dan
 
c.
Dana alokasi khusus.
(2)
Dana bagi hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp66.070.849.339.000,00 (enam puluh enam triliun tujuh puluh miliar delapan ratus empat puluh sembilan juta tiga ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah).
(3)
Dana alokasi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp179.507.144.871.000,00 (seratus tujuh puluh sembilan triliun lima ratus tujuh miliar seratus empat puluh empat juta delapan ratus tujuh puluh satu ribu rupiah).
(4)
Dana alokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c direncanakan sebesar Rp21.202.141.000.000,00 (dua puluh satu triliun dua ratus dua miliar seratus empat puluh satu juta rupiah).
(5)
Pembagian lebih lanjut dana perimbangan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
(6)
Rincian dana perimbangan Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.
 
 

Pasal 11

(1)
Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b terdiri dari:
 
a.
Dana otonomi khusus; dan
 
b.
Dana penyesuaian.
(2)
Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan sebesar Rp7.510.285.794.000,00 (tujuh triliun lima ratus sepuluh miliar dua ratus delapan puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh empat ribu rupiah).
(3)
Dana penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b direncanakan sebesar Rp6.939.041.714.000,00 (enam triliun sembilan ratus tiga puluh sembilan miliar empat puluh satu juta tujuh ratus empat belas ribu rupiah).
 
 

Pasal 12

(1)
Jumlah Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun Anggaran 2008 sebesar Rp781.354.147.476.000,00 (tujuh ratus delapan puluh satu triliun tiga ratus lima puluh empat miliar seratus empat puluh tujuh juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5), lebih kecil dari jumlah Anggaran Belanja Negara sebesar Rp854.660.142.146.000,00 (delapan ratus lima puluh empat triliun enam ratus enam puluh miliar seratus empat puluh dua juta seratus empat puluh enam ribu rupiah), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4), sehingga dalam Tahun Anggaran 2008 terdapat Defisit Anggaran sebesar Rp73.305.994.670.000,00 (tujuh puluh tiga triliun tiga ratus lima miliar sembilan ratus sembilan puluh empat juta enam ratus tujuh puluh ribu rupiah), yang akan dibiayai dari Pembiayaan Defisit Anggaran.
(2)
Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari sumber-sumber:
 
a.
Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp89.975.295.500.000,00 (delapan puluh sembilan triliun sembilan ratus tujuh puluh lima miliar dua ratus sembilan puluh lima juta lima ratus ribu rupiah);
 
b.
Pembiayaan luar negeri bersih sebesar negatif Rp16.669.300.830.000,00 (enam belas triliun enam ratus enam puluh sembilan miliar tiga ratus juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah).
(3)
Rincian Pembiayaan Defisit Anggaran Tahun Anggaran 2008 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan ayat ini.
 
 

Pasal 13

(1)
Pada pertengahan Tahun Anggaran 2008, Pemerintah menyusun Laporan tentang Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Semester Pertama Tahun Anggaran 2008 mengenai:
 
a.
Realisasi pendapatan negara dan hibah;
 
b.
Realisasi belanja negara; dan
 
c.
Realisasi pembiayaan defisit anggaran.
(2)
Dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyertakan prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya.
(3)
Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat pada akhir bulan Juli 2008, untuk dibahas bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.
 
 

Pasal 14

Dalam keadaan tertentu, Pemerintah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu yang ditetapkan dalam APBN 2008, yang selanjutnya diusulkan dalam APBN Perubahan dan/atau disampaikan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
 

Pasal 15

Dalam hal terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran Tahun Anggaran 2008, akan ditampung pada pembiayaan perbankan dalam negeri dan dapat digunakan sebagai dana talangan pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara tahun-tahun anggaran berikutnya.
 

Pasal 16

(1)
Penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008 dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dalam rangka penyusunan perkiraan Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008, apabila terjadi:
 
a. 
Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan
asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008;
 
b.
Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal;
 
c.
Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarprogram, dan/atau antarjenis belanja;
 
d.
Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun-tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan anggaran Tahun Anggaran 2008.
(2)
Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008 berdasarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebelum Tahun Anggaran 2008 berakhir.
 
 

Pasal 17

(1)
Setelah Tahun Anggaran 2008 berakhir, Pemerintah menyusun Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
(2)
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
(3)
Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008, setelah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, paling lambat 6 (enam) bulan setelah Tahun Anggaran 2008 berakhir untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
 
 

Pasal 18

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2008.
 
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
 
 
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 6 November 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
 
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 6 November 2007
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ANDI MATTALATTA
 
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 133
 

PENJELASAN

ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 45 TAHUN 2007
 
TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2008
 
I.
UMUM
 
APBN Tahun Anggaran 2008 disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2008, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2008 sebagaimana telah dibahas dan disepakati bersama, baik dalam Pembicaraan Pendahuluan maupun Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2008 antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selain itu, APBN Tahun Anggaran 2008 juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik, yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, serta berbagai langkah kebijakan yang diperkirakan akan ditempuh dalam tahun 2008.
 
Dengan memperhatikan faktor eksternal dan stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tahun 2008 diperkirakan akan mencapai sekitar 6,8% (enam koma delapan persen). Pemerintah optimis bahwa pertumbuhan tersebut dapat tercapai karena pertama, konsumsi masyarakat diperkirakan masih cukup tinggi sebagai akibat dari meningkatnya daya beli masyarakat. Kedua, iklim investasi yang semakin kondusif diharapkan dapat menjadi daya tarik para investor baik domestik maupun asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, sehingga perluasan lapangan kerja dapat terwujud yang pada akhirnya dapat mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Faktor lain yang juga mendorong perekonomian Indonesia tahun 2008 adalah meningkatnya nilai ekspor Indonesia, terutama ekspor nonmigas. Sementara itu, impor Indonesia akan lebih difokuskan pada barang modal sehingga dapat memicu perkembangan industri pengolahan dalam negeri.
 
Sementara itu, melalui kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil yang terkoordinasi, nilai tukar  rupiah  diperkirakan  akan  berada  pada    kisaran Rp9.100,00 (sembilan ribu seratus rupiah) per satu dolar Amerika Serikat. Stabilitas nilai tukar rupiah ini mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi tahun 2008, dan perkembangan suku bunga perbankan. Dalam tahun 2008, dengan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah, dan terjaminnya pasokan dan lancarnya arus distribusi kebutuhan bahan pokok, maka laju inflasi diperkirakan dapat ditekan pada level 6,0% (enam koma nol persen). Sejalan dengan itu, rata-rata suku bunga SBI 3 (tiga) bulan diperkirakan akan mencapai rata-rata 7,5% (tujuh koma lima persen). Di lain pihak, dengan mempertimbangkan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang tetap kuat, terutama oleh industri Cina dan India, serta ketatnya spare capacity di negara-negara produsen minyak karena investasi di sektor perminyakan yang relatif lambat, maka rata-rata harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional dalam tahun 2008 diperkirakan akan berada pada kisaran US$60,0 (enam puluh dolar Amerika Serikat) per barel, sedangkan tingkat lifting minyak mentah diperkirakan sekitar 1,034 (satu koma nol tiga empat) juta barel per hari.
 
Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di tahun 2008, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu, sasaran program kerja pemerintah dalam tahun 2008 diharapkan dapat memberikan kemajuan penting dalam pelaksanaan tiga agenda pembangunan sebagaimana digariskan dalam RPJMN 2004 - 2009, yaitu: (a) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai; (b) mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis; dan (c) mewujudkan Indonesia yang sejahtera. Sementara itu, tantangan pokok kerangka ekonomi makro dan pembiayaan pembangunan yang dihadapi pada tahun 2008, adalah: (a) mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi; (b) mempercepat pengurangan pengangguran dan kemiskinan; dan (c) menjaga stabilitas ekonomi.
 
Berdasarkan tiga agenda dan tantangan pokok yang dihadapi tersebut, penyusunan Rancangan APBN Tahun Anggaran 2008 diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah mendasar yang menjadi prioritas pembangunan, yaitu: (a) peningkatan investasi, ekspor, dan kesempatan kerja; (b) revitalisasi pertanian, perikanan, kehutanan, dan pembangunan perdesaan; (c) percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan pengelolaan energi; (d) peningkatan akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan; (e) peningkatan efektifivitas penanggulangan kemiskinan; (f) pemberantasan korupsi dan percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi; (g) penguatan kemampuan pertahanan dan pemantapan keamanan dalam negeri; serta (h) penanganan bencana, pengurangan risiko bencana, dan peningkatan penanggulangan flu burung.
 
Dengan demikian, kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2008 diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan, disamping tetap menjaga stabilitas nasional, kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2008 adalah: (i) belanja investasi, terutama di bidang infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional; (ii) bantuan sosial, terutama untuk menyediakan pelayanan dasar kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan, dengan memperhatikan peningkatan rasio anggaran pendidikan sesuai amanat UUD 1945, serta meningkatkan upaya pemerataan; (iii) perbaikan penghasilan dan kesejahteraan aparatur negara dan pensiunan; (iv) peningkatan kualitas pelayanan dan efisiensi penyelenggaraan kegiatan operasional pemerintahan; (v) penyediaan subsidi untuk membantu menstabilkan harga barang dan jasa pada tingkat yang terjangkau masyarakat; serta (vi) pemenuhan kewajiban pembayaran bunga utang.
 
Selanjutnya, APBN juga diarahkan untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam rangka memenuhi hak warga negara atas: (i) pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan; (ii) hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan; dan (iii) jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat, dan mendapat pendidikan yang layak. Di samping itu, keseimbangan pembangunan termasuk di dalamnya penganggaran perlu tetap harus dijaga agar dapat mencapai prioritas-prioritas perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas kenegaraan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
 
Di bidang transfer ke daerah, sebagai salah satu fokus utama pembangunan nasional, negara memprioritaskan anggaran pendapatan dan belanja negara untuk meningkatkan belanja daerah melalui efisiensi anggaran belanja pusat dengan mengalihkan dana tersebut untuk belanja modal daerah. Terkait dengan hal ini, ke depan diharapkan anggaran belanja barang dan belanja modal pemerintah pusat dapat dialihkan untuk pembangunan sejumlah infrastruktur strategis seperti di bidang pertanian, perairan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi di seluruh daerah di tanah air.
 
Penambahan alokasi transfer ke daerah tersebut menuntut kesiapan daerah, karena jika daerah tidak siap, pengalihan dana tersebut tidak akan efisien dan selanjutnya tidak berdampak pada pertumbuhan daerah. Di samping itu, instrumen dan mekanisme pengalokasiannya harus tetap diperhatikan.
 
Oleh karena itu, dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, maka penyerahan, pelimpahan, dan penugasan urusan pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggung jawab, juga diikuti dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional secara proporsional, demokratis, adil dan transparan, dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah. Sejalan dengan hal tersebut, penerapan kebijakan belanja ke daerah dalam tahun 2008 akan tetap diarahkan untuk: (i) meningkatkan efisiensi pelayanan publik; (ii) mengakomodasi aspirasi masyarakat; (iii) memperbaiki struktur fiskal (APBD); (iv) mobilisasi sumber-sumber keuangan (PAD); (v) meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi; (vi) mengurangi disparitas fiskal antardaerah; (vii) menjamin penyediaan pelayanan dasar sosial; memperbaiki kesejahteraan masyarakat; dan (ix) menstimulasi perekonomian dan investasi di daerah.
 
Selanjutnya, sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945, negara memprioritaskan APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional, dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20,0% (dua puluh koma nol persen) APBN dan APBD untuk pendidikan nasional. Namun mengingat amanat konstitusi untuk memperhatikan berbagai bidang lainnya secara keseluruhan, dalam tahun 2008 anggaran pendidikan diperkirakan masih mencapai sekitar 12,0% (dua belas koma nol persen) dari APBN. Perhitungan anggaran pendidikan tersebut didasarkan atas nilai perbandingan (dalam persen) antara alokasi anggaran pada fungsi pendidikan di dalam belanja negara (tidak termasuk gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan) terhadap keseluruhan belanja negara (tidak termasuk keseluruhan gaji). Definisi ini telah digunakan pada APBN 2007. Perhitungan anggaran pendidikan tersebut konsisten dengan amanat dalam Pasal 31 Ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 49 Ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu, pengalokasian anggaran pendidikan harus sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang telah menetapkan fungsi pendidikan (beserta anggarannya) dilimpahkan ke Daerah, serta Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mendukung perbaikan kesejahteraan para pendidik.
 
Apabila gaji para guru dan pendidik yang merupakan komponen utama pendidikan dalam rasio anggaran pendidikan, maka anggaran pendidikan tahun 2008 telah mencapai 18,0% (delapan belas koma nol persen). Rasio tersebut diperoleh dari nilai perbandingan (dalam persen) antara alokasi anggaran fungsi pendidikan di dalam belanja negara (termasuk gaji pendidik, namun tidak termasuk pendidikan kedinasan) terhadap keseluruhan belanja negara. Sedangkan apabila, rasio anggaran pendidikan hanya memperhitungkan belanja pemerintah pusat tanpa memperhitungkan gaji guru dan pendidik, maka anggaran pendidikan tahun 2008 mencapai 10,0% (sepuluh koma nol persen). Rasio tersebut diperoleh dari nilai perbandingan (dalam persen) antara alokasi anggaran fungsi pendidikan di dalam belanja pemerintah pusat (tidak termasuk gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan) terhadap belanja pemerintah pusat.
 
Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah tersebut, diperlukan sumber-sumber pendapatan negara dan pembiayaan anggaran. Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran pendapatan negara dalam RAPBN tahun 2008, baik perpajakan maupun PNBP yaitu: kondisi ekonomi makro, realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya, kebijakan yang dilakukan dalam bidang tarif, subjek dan objek pengenaan, serta perbaikan dan efektivitas administrasi pemungutan.
 
Terdapat beberapa hal yang cukup signifikan pengaruhnya pada perhitungan target pendapatan tahun 2008, yaitu adanya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang telah selesai pada tahun 2007. Undang-Undang dimaksud antara lain: paket UU Perpajakan, UU Kepabeanan, UU Cukai, serta berbagai UU sektoral. Perubahan UU perpajakan akan berdampak pada penerimaan negara dan perekonomian, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, perubahan UU perpajakan tersebut diperkirakan akan memberikan dampak penurunan penerimaan perpajakan (tax potential loss), yang terdiri dari perubahan UU Ketentuan Umum Perpajakan dan UU Pajak Penghasilan.
 
Namun di sisi lain, penyempurnaan terhadap administrasi perpajakan diperkirakan akan memberikan dampak positif pada penerimaan perpajakan diantaranya mencakup langkah-langkah: (i) peningkatan kepatuhan wajib pajak; (ii) pembentukan kantor-kantor pelayanan pajak modern dengan penerapan sistem pemungutan berbasis tekonologi informasi; (iii) reorganisasi pada struktur organisasi Direktorat Jenderal Pajak dari organisasi berdasarkan jenis pajak menjadi organisasi berdasarkan fungsi; (iv) penciptaan Kode Etik Pegawai; (v) perbaikan sistem remunerasi; dan (vi) pembentukan Account Representative.
 
Sementara itu, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, PNBP merupakan seluruh penerimaan pemerintah pusat yang berasal dari luar perpajakan yang berasal dari penerimaan sumber daya alam (SDA), bagian pemerintah atas laba BUMN, dan PNBP lainnya. Kebijakan PNBP tahun 2008 akan lebih dititikberatkan pada peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing kementerian/lembaga, antara lain melalui: (i) penyusunan peraturan perundang-undangan PNBP, serta evaluasi dan penyempurnaan tarif di bidang PNBP, dan (ii) melakukan verifikasi besaran PNBP dan penegakan hukum (law enforcement) di bidang PNBP. Di lain pihak, optimalisasi penerimaan hibah akan dilakukan antara lain melalui monitoring pencairan atas komitmen para donor dalam rangka hibah, khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena musibah bencana.
 
Selanjutnya, kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas, dalam RAPBN Tahun Anggaran 2008 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. Defisit tersebut, akan ditutup melalui pembiayaan anggaran yang berasal dari utang dan nonutang. Pemerintah memiliki pilihan pembiayaan anggaran yaitu melalui rekening Pemerintah, privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), penjualan aset program restrukturisasi perbankan melalui PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PT PPA), dan pengadaan utang melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan penarikan Pinjaman Luar Negeri.
 
Di masa mendatang, sumber pembiayaan anggaran akan lebih diprioritaskan pada penerbitan Surat Berharga Negara Rupiah di pasar domestik dengan pertimbangan: (i) semakin terbatasnya sumber pembiayaan defisit dari nonutang yang berasal dari penjualan aset negara yang dikelola PT PPA, privatisasi BUMN, dan saldo Kas Negara; (ii) untuk mengurangi exposure terhadap pinjaman luar negeri dalam rangka mengurangi risiko nilai tukar (exchange rate risk); (iii) untuk mendukung pengembangan pasar modal sebagai sumber pembiayaan dalam negeri; dan (iv) untuk mendukung implementasi kebijakan moneter berbasis pasar (market-based monetary policy). Terkait hal tersebut, strategi pembiayaan anggaran harus dilakukan secara hati-hati agar sumber-sumber pembiayaan anggaran tersebut digunakan seoptimal mungkin guna menghindari terjadinya beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustain ability). Selain itu, strategi pembiayaan anggaran harus diimplementasikan secara terkoordinasi agar dapat tercapai pengelolaan fiskal secara prudent, kebijakan moneter yang kredibel, dan pengelolaan utang yang sehat serta pengelolaan kas yang efisien.
II.
PASAL DEMI PASAL
 
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Penerimaan bea masuk dan/atau pajak dalam rangka impor (PDRI) yang ditanggung pemerintah (DTP) sebagaimana dimaksud pada huruf a tersebut tidak diperhitungkan dalam besaran dana alokasi umum (DAU), dan dialokasikan sebagai belanja subsidi pajak dalam jumlah yang sama.
 
Yang dimaksud dengan sektor-sektor tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf a antara lain adalah sektor migas, panas bumi, listrik, penerbangan, pelayaran, industri terpilih, dan transportasi publik.
Ayat (4)
Penerimaan perpajakan sebesar Rp591.978.380.000.000,00 (lima ratus sembilan puluh satu triliun sembilan ratus tujuh puluh delapan miliar tiga ratus delapan puluh juta rupiah) terdiri dari:
a.
Pajak dalam negeri
569.971.680.000.000,00
 
4111
Pajak penghasilan (PPh)
305.961.420.000.000,00
 
 
41111
PPh minyak bumi dan gas alam
41.649.820.000.000,00
 
 
 
411111
PPh minyak bumi
15.125.760.000.000,00
 
 
 
411112
PPh gas alam
26.524.060.000.000,00
 
 
41112
PPh nonmigas
264.311.600.000.000,00
 
 
 
411121
PPh Pasal 21
39.500.500.000.000,00
 
 
 
411122
PPh Pasal 22 non impor
6.720.800.000.000,00
 
 
 
411123
PPh Pasal 22 impor
21.638.140.000.000,00
 
 
 
411124
PPh Pasal 23
25.285.130.000.000,00
 
 
 
411125
PPh Pasal 25/29 orang pribadi
2.954.800.000.000,00
 
 
 
411126
PPh Pasal 25/29 badan
111.161.120.000.000,00
 
 
 
411127
PPh Pasal 26
17.323.800.000.000,00
 
 
 
411128
PPh final dan fiskal luar negeri
39.727.310.000.000,00
 
4112
Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM)
187.626.700.000.000,00
 
4113
Pajak bumi dan bangunan (PBB)
24.159.700.000.000,00
 
4114
Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB)
4.852.700.000.000,00
 
4115
Pendapatan cukai
44.426.530.000.000,00
 
 
41151
Pendapatan Cukai
44.426.530.000.000,00
 
 
 
411511
Pendapatan Cukai Hasil Tembakau
43.571.000.000.000,00
 
 
 
411512
Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol
196.800.000.000,00
 
 
 
411513
Pendapatan Cukai Minuman
658.730.000.000,00
 
4116
Pendapatan pajak lainnya
2.944.630.000.000,00
b.
Pajak perdagangan internasional
22.006.700.000.000,00
 
4121
Pendapatan bea masuk
17.940.800.000.000,00
 
4122
Pendapatan bea keluar
4.065.800.000.000,00
a.
Pajak dalam negeri
569.971.680.000.000,00
 
4111
Pajak penghasilan (PPh)
305.961.420.000.000,00
 
 
41111
PPh minyak bumi dan gas alam
41.649.820.000.000,00
 
 
 
411111
PPh minyak bumi
15.125.760.000.000,00
 
 
 
411112
PPh gas alam
26.524.060.000.000,00
 
 
41112
PPh nonmigas
264.311.600.000.000,00
 
 
 
411121
PPh Pasal 21
39.500.500.000.000,00
 
 
 
411122
PPh Pasal 22 non impor
6.720.800.000.000,00
 
 
 
411123
PPh Pasal 22 impor
21.638.140.000.000,00
 
 
 
411124
PPh Pasal 23
25.285.130.000.000,00
 
 
 
411125
PPh Pasal 25/29 orang pribadi
2.954.800.000.000,00
 
 
 
411126
PPh Pasal 25/29 badan
111.161.120.000.000,00
 
 
 
411127
PPh Pasal 26
17.323.800.000.000,00
 
 
 
411128
PPh final dan fiskal luar negeri
39.727.310.000.000,00
 
4112
Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM)
187.626.700.000.000,00
 
4113
Pajak bumi dan bangunan (PBB)
24.159.700.000.000,00
 
4114
Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB)
4.852.700.000.000,00
 
4115
Pendapatan cukai
44.426.530.000.000,00
 
 
41151
Pendapatan Cukai
44.426.530.000.000,00
 
 
 
411511
Pendapatan Cukai Hasil Tembakau
43.571.000.000.000,00
 
 
 
411512
Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol
196.800.000.000,00
 
 
 
411513
Pendapatan Cukai Minuman
658.730.000.000,00
 
4116
Pendapatan pajak lainnya
2.944.630.000.000,00
b.
Pajak perdagangan internasional
22.006.700.000.000,00
 
4121
Pendapatan bea masuk
17.940.800.000.000,00
 
4122
Pendapatan bea keluar
4.065.800.000.000,00
a.
Pajak dalam negeri
569.971.680.000.000,00
 
4111
Pajak penghasilan (PPh)
305.961.420.000.000,00
 
 
41111
PPh minyak bumi dan gas alam
41.649.820.000.000,00
 
 
 
411111
PPh minyak bumi
15.125.760.000.000,00
 
 
 
411112
PPh gas alam
26.524.060.000.000,00
 
 
41112
PPh nonmigas
264.311.600.000.000,00
 
 
 
411121
PPh Pasal 21
39.500.500.000.000,00
 
 
 
411122
PPh Pasal 22 non impor
6.720.800.000.000,00
 
 
 
411123
PPh Pasal 22 impor
21.638.140.000.000,00
 
 
 
411124
PPh Pasal 23
25.285.130.000.000,00
 
 
 
411125
PPh Pasal 25/29 orang pribadi
2.954.800.000.000,00
 
 
 
411126
PPh Pasal 25/29 badan
111.161.120.000.000,00
 
 
 
411127
PPh Pasal 26
17.323.800.000.000,00
 
 
 
411128
PPh final dan fiskal luar negeri
39.727.310.000.000,00
 
4112
Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM)
187.626.700.000.000,00
 
4113
Pajak bumi dan bangunan (PBB)
24.159.700.000.000,00
 
4114
Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB)
4.852.700.000.000,00
 
4115
Pendapatan cukai
44.426.530.000.000,00
 
 
41151
Pendapatan Cukai
44.426.530.000.000,00
 
 
 
411511
Pendapatan Cukai Hasil Tembakau
43.571.000.000.000,00
 
 
 
411512
Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol
196.800.000.000,00
 
 
 
411513
Pendapatan Cukai Minuman
658.730.000.000,00
 
4116
Pendapatan pajak lainnya
2.944.630.000.000,00
b.
Pajak perdagangan internasional
22.006.700.000.000,00
 
4121
Pendapatan bea masuk
17.940.800.000.000,00
 
4122
Pendapatan bea keluar
4.065.800.000.000,00
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp187.236.083.476.000,00 (seratus delapan puluh tujuh triliun dua ratus tiga puluh enam miliar delapan puluh tiga juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
421
Penerimaan sumber daya alam
126.203.170.475.000,00
 4211Pendapatan minyak bumi84.317.000.000.000,00
  42111Pendapatan minyak bumi84.317.000.000.000,00
 4212Pendapatan gas alam33.605.010.000.000,00
  42121Pendapatan gas alam33.605.010.000.000,00
 4213Pendapatan pertambangan umum5.306.410.475.000,00
  421311Pendapatan iuran tetap66.608.329.000,00
  421312Pendapatan royalti batubara5.239.802.146.000,00
 4214Pendapatan kehutanan2.774.750.000.000,00
  42141Pendapatan dana reboisasi1.271.300.000.000,00
  42142Pendapatan provisi sumber daya hutan1.498.700.000.000,00
  42143Pendapatan iuran hak pengusahaan hutan4.750.000.000,00
 4215Pendapatan perikanan200.000.000.000,00
  421511Pendapatan perikanan200.000.000.000,00
422Pendapatan Bagian Laba BUMN23.404.346.000.000,00
 4221Bagian pemerintah atas laba BUMN23.404.346.000.000,00
423Pendapatan PNBP Lainnya37.628.567.001.000,00
  42311Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan2.623.023.391.000,00
   423111Pendapatan penjualan hasil pertanian, kehutanan,dan perkebunan2.510.115.000,00
   423112Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan9.778.910.000,00
   423113Pendapatan penjualan hasil tambang2.593.589.525.000,00
   423114Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan9.465.178.000,00
   423115Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya231.911.000,00
   423116Pendapatan penjualan informasi, penerbitan, film, survei, pemetaan dan hasil cetakan lainnya5.848.788.000,00
   423117Penjualan dokumen-dokumen pelelangan234.603.000,00
   423119Pendapatan penjualan lainnya1,364.361.000,00
  42312Pendapatan penjualan aset43.913.719.000,00
   423121Pendapatan penjualan rumah, gedung, bangunan, dan tanah721.529.000,00
   423122Pendapatan penjualan kendaraan bermotor1.813.944.000,00
   423123Pendapatan penjualan sewa beli30.026.309.000,00
   423124Penjualan aset bekas milik asing 10.000.000.000,00
   423129Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/dihapuskan1.351.937.000,00
  42313Pendapatan sewa54.566.090.000,00
   423131Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri15.394.614.000,00
   423132Pendapatan sewa gedung, bangunan, dan gudang33.223.785.000,00
   423133Pendapatan sewa benda-benda bergerak3.983.254.000,00
   423139Pendapatan sewa benda-benda tak bergerak lainnya1.964.437.000,00
  42314Pendapatan jasa I12.774.412.135.000,00
   423141Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya2.800.929.603.000,00
   423142Pendapatan tempat hiburan/ taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA)30.172.066.000,00
   423143Pendapatan surat keterangan, visa, paspor, SIM, STNK, dan BPKB2.571.036.960.000,00
   423144Pendapatan hak dan perizinan4.685.682.977.000,00
   423145Pendapatan sensor/karantina, pengawasan/pemeriksaan51.302.889.000,00
   423146Pendapatan jasa tenaga, pekerjaan, informasi, pelatihan, teknologi, pendapatan BPN, pendapatan DJE3C (jasa pekerjaan dart cukai)2.058.115.895.000,00
   423147Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama68.849.760.000,00
   423148Pendapatan jasa bandar udara, kepelabuhanan, dan kenavigasian505.864.300.000,00
   423149Pendapatan jasa II lainnya2.457.685.000,00
  42315Pendapatan jasa II2.022.984.414.000,00
   423151Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro)39.923.001.000,00
   423152Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi1.067.857.143.000,00
   423155Pendapatan biaya penagihan pajak-pajak negara dengan surat paksa3.328.140.000,0
   423157Pendapatan bea lelang31.384.307.000,00
   423158Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara42.269.350.000,00
   423159Pendapatan jasa II lainnya838.222.473.000,00
  42316Pendapatan bukan pajak dan luar negeri379.409.943.000,00
   423161Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia56.648.876.000,00
   423162Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler322.761.067.000,00
  42317Pendapatan bunga1.342.531.103.000,00
   423179Pendapatan bunga lainnya1.342.531.103.000,00
  42321Pendapatan kejaksaan dan peradilan33.766.987.000,00
   423211Pendapatan legalisasi tanda tangan1.163.642.000,00
   423212Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan275.505.000,00
   423213Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan)676.830.000,00
   423214Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya20.834.900.000,00
   423215Pendapatan ongkos perkara9.303.210.000,00
   423219Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya1.512.900.000,00
  42331Pendapatan pendidikan4.599.509.370.000,00
   423311Pendapatan uang pendidikan4.027.998.545.000,00
   423312Pendapatan uang ujian masuk, kenaikan tingkat, dan akhir pendidikan23.543.285.000,00
   423313Uang ujian untuk menjalankan praktik25.227.186.000,00
   423319Pendapatan pendidikan lainnya522.740.354.000,00
  42341Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran berjalan1.431.993.000,00
   423411Penerimaan kembali belanja pegawai pusat996.993.000,00
   423412Penerimaan kembali belanja pensiun170.000.000,00
   423413Penerimaan kembali belanja lainya rupiah murni 265.000.000,00
  42342Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu2.507.502.000,00
   423421Penerimaan kembali belanja pegawai pusat983.648.000,00
   423423Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni1.519.224.000,00
   423424Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri4.630.000,00
  42343Pendapatan laba bersih hasil penjualan BBM6.456.470.000.000,00
   423431Pendapatan minyak mentah DMO6.456.470.000.000,00
  42344Pendapatan pelunasan piutang4.831.411.555.000,00
   423441Pendapatan pelunasan piutang non bendahara4.828.980.000.000,00
   423442Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara2.431.555.000,00
  42347Pendapatan lain-lain2.006.227.969.000,00
   423471Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji2.066.213.000,00
   423472Penerimaan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah3.739.322.000,00
   423473Pendapatan atas denda administrasi BPHTB38.318.000,00
   423475Pendapatan denda pelanggaran di bidang pasar modal12.500.000.000,00
   423476Pendapatan dari gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GNRHL)325.000.000.000,00
   423477Pendapatan regestrasi dokter/ dokter gigi2.500.000.000,00
   423479Pendapatan anggaran lain-lain1.660.384.116.000,00
  42348Pendapatan Iuran Badan Usaha429.900.830.000,00
   423481Pendapatan iuran badan usaha dan kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM329.842.200.000,00
   423482Pendapatan iuran badan usaha dan kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa100.058.630.000,00
  42411Pendapatan Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil Korupsi26.500.000.000,00
   424111Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadila25.000.000.000,00
   424112Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara1.500.000.000,00
(dalam rupiah)
421
Penerimaan sumber daya alam
126.203.170.475.000,00
 4211Pendapatan minyak bumi84.317.000.000.000,00
  42111Pendapatan minyak bumi84.317.000.000.000,00
 4212Pendapatan gas alam33.605.010.000.000,00
  42121Pendapatan gas alam33.605.010.000.000,00
 4213Pendapatan pertambangan umum5.306.410.475.000,00
  421311Pendapatan iuran tetap66.608.329.000,00
  421312Pendapatan royalti batubara5.239.802.146.000,00
 4214Pendapatan kehutanan2.774.750.000.000,00
  42141Pendapatan dana reboisasi1.271.300.000.000,00
  42142Pendapatan provisi sumber daya hutan1.498.700.000.000,00
  42143Pendapatan iuran hak pengusahaan hutan4.750.000.000,00
 4215Pendapatan perikanan200.000.000.000,00
  421511Pendapatan perikanan200.000.000.000,00
422Pendapatan Bagian Laba BUMN23.404.346.000.000,00
 4221Bagian pemerintah atas laba BUMN23.404.346.000.000,00
423Pendapatan PNBP Lainnya37.628.567.001.000,00
  42311Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan2.623.023.391.000,00
   423111Pendapatan penjualan hasil pertanian, kehutanan,dan perkebunan2.510.115.000,00
   423112Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan9.778.910.000,00
   423113Pendapatan penjualan hasil tambang2.593.589.525.000,00
   423114Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan9.465.178.000,00
   423115Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya231.911.000,00
   423116Pendapatan penjualan informasi, penerbitan, film, survei, pemetaan dan hasil cetakan lainnya5.848.788.000,00
   423117Penjualan dokumen-dokumen pelelangan234.603.000,00
   423119Pendapatan penjualan lainnya1,364.361.000,00
  42312Pendapatan penjualan aset43.913.719.000,00
   423121Pendapatan penjualan rumah, gedung, bangunan, dan tanah721.529.000,00
   423122Pendapatan penjualan kendaraan bermotor1.813.944.000,00
   423123Pendapatan penjualan sewa beli30.026.309.000,00
   423124Penjualan aset bekas milik asing 10.000.000.000,00
   423129Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/dihapuskan1.351.937.000,00
  42313Pendapatan sewa54.566.090.000,00
   423131Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri15.394.614.000,00
   423132Pendapatan sewa gedung, bangunan, dan gudang33.223.785.000,00
   423133Pendapatan sewa benda-benda bergerak3.983.254.000,00
   423139Pendapatan sewa benda-benda tak bergerak lainnya1.964.437.000,00
  42314Pendapatan jasa I12.774.412.135.000,00
   423141Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya2.800.929.603.000,00
   423142Pendapatan tempat hiburan/ taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA)30.172.066.000,00
   423143Pendapatan surat keterangan, visa, paspor, SIM, STNK, dan BPKB2.571.036.960.000,00
   423144Pendapatan hak dan perizinan4.685.682.977.000,00
   423145Pendapatan sensor/karantina, pengawasan/pemeriksaan51.302.889.000,00
   423146Pendapatan jasa tenaga, pekerjaan, informasi, pelatihan, teknologi, pendapatan BPN, pendapatan DJE3C (jasa pekerjaan dart cukai)2.058.115.895.000,00
   423147Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama68.849.760.000,00
   423148Pendapatan jasa bandar udara, kepelabuhanan, dan kenavigasian505.864.300.000,00
   423149Pendapatan jasa II lainnya2.457.685.000,00
  42315Pendapatan jasa II2.022.984.414.000,00
   423151Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro)39.923.001.000,00
   423152Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi1.067.857.143.000,00
   423155Pendapatan biaya penagihan pajak-pajak negara dengan surat paksa3.328.140.000,0
   423157Pendapatan bea lelang31.384.307.000,00
   423158Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara42.269.350.000,00
   423159Pendapatan jasa II lainnya838.222.473.000,00
  42316Pendapatan bukan pajak dan luar negeri379.409.943.000,00
   423161Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia56.648.876.000,00
   423162Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler322.761.067.000,00
  42317Pendapatan bunga1.342.531.103.000,00
   423179Pendapatan bunga lainnya1.342.531.103.000,00
  42321Pendapatan kejaksaan dan peradilan33.766.987.000,00
   423211Pendapatan legalisasi tanda tangan1.163.642.000,00
   423212Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan275.505.000,00
   423213Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan)676.830.000,00
   423214Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya20.834.900.000,00
   423215Pendapatan ongkos perkara9.303.210.000,00
   423219Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya1.512.900.000,00
  42331Pendapatan pendidikan4.599.509.370.000,00
   423311Pendapatan uang pendidikan4.027.998.545.000,00
   423312Pendapatan uang ujian masuk, kenaikan tingkat, dan akhir pendidikan23.543.285.000,00
   423313Uang ujian untuk menjalankan praktik25.227.186.000,00
   423319Pendapatan pendidikan lainnya522.740.354.000,00
  42341Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran berjalan1.431.993.000,00
   423411Penerimaan kembali belanja pegawai pusat996.993.000,00
   423412Penerimaan kembali belanja pensiun170.000.000,00
   423413Penerimaan kembali belanja lainya rupiah murni 265.000.000,00
  42342Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu2.507.502.000,00
   423421Penerimaan kembali belanja pegawai pusat983.648.000,00
   423423Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni1.519.224.000,00
   423424Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri4.630.000,00
  42343Pendapatan laba bersih hasil penjualan BBM6.456.470.000.000,00
   423431Pendapatan minyak mentah DMO6.456.470.000.000,00
  42344Pendapatan pelunasan piutang4.831.411.555.000,00
   423441Pendapatan pelunasan piutang non bendahara4.828.980.000.000,00
   423442Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara2.431.555.000,00
  42347Pendapatan lain-lain2.006.227.969.000,00
   423471Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji2.066.213.000,00
   423472Penerimaan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah3.739.322.000,00
   423473Pendapatan atas denda administrasi BPHTB38.318.000,00
   423475Pendapatan denda pelanggaran di bidang pasar modal12.500.000.000,00
   423476Pendapatan dari gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GNRHL)325.000.000.000,00
   423477Pendapatan regestrasi dokter/ dokter gigi2.500.000.000,00
   423479Pendapatan anggaran lain-lain1.660.384.116.000,00
  42348Pendapatan Iuran Badan Usaha429.900.830.000,00
   423481Pendapatan iuran badan usaha dan kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM329.842.200.000,00
   423482Pendapatan iuran badan usaha dan kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa100.058.630.000,00
  42411Pendapatan Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil Korupsi26.500.000.000,00
   424111Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadila25.000.000.000,00
   424112Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara1.500.000.000,00
(dalam rupiah)
421
Penerimaan sumber daya alam
126.203.170.475.000,00
 4211Pendapatan minyak bumi84.317.000.000.000,00
  42111Pendapatan minyak bumi84.317.000.000.000,00
 4212Pendapatan gas alam33.605.010.000.000,00
  42121Pendapatan gas alam33.605.010.000.000,00
 4213Pendapatan pertambangan umum5.306.410.475.000,00
  421311Pendapatan iuran tetap66.608.329.000,00
  421312Pendapatan royalti batubara5.239.802.146.000,00
 4214Pendapatan kehutanan2.774.750.000.000,00
  42141Pendapatan dana reboisasi1.271.300.000.000,00
  42142Pendapatan provisi sumber daya hutan1.498.700.000.000,00
  42143Pendapatan iuran hak pengusahaan hutan4.750.000.000,00
 4215Pendapatan perikanan200.000.000.000,00
  421511Pendapatan perikanan200.000.000.000,00
422Pendapatan Bagian Laba BUMN23.404.346.000.000,00
 4221Bagian pemerintah atas laba BUMN23.404.346.000.000,00
423Pendapatan PNBP Lainnya37.628.567.001.000,00
  42311Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan2.623.023.391.000,00
   423111Pendapatan penjualan hasil pertanian, kehutanan,dan perkebunan2.510.115.000,00
   423112Pendapatan penjualan hasil peternakan dan perikanan9.778.910.000,00
   423113Pendapatan penjualan hasil tambang2.593.589.525.000,00
   423114Pendapatan penjualan hasil sitaan/rampasan dan harta peninggalan9.465.178.000,00
   423115Pendapatan penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya231.911.000,00
   423116Pendapatan penjualan informasi, penerbitan, film, survei, pemetaan dan hasil cetakan lainnya5.848.788.000,00
   423117Penjualan dokumen-dokumen pelelangan234.603.000,00
   423119Pendapatan penjualan lainnya1,364.361.000,00
  42312Pendapatan penjualan aset43.913.719.000,00
   423121Pendapatan penjualan rumah, gedung, bangunan, dan tanah721.529.000,00
   423122Pendapatan penjualan kendaraan bermotor1.813.944.000,00
   423123Pendapatan penjualan sewa beli30.026.309.000,00
   423124Penjualan aset bekas milik asing 10.000.000.000,00
   423129Pendapatan penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/dihapuskan1.351.937.000,00
  42313Pendapatan sewa54.566.090.000,00
   423131Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri15.394.614.000,00
   423132Pendapatan sewa gedung, bangunan, dan gudang33.223.785.000,00
   423133Pendapatan sewa benda-benda bergerak3.983.254.000,00
   423139Pendapatan sewa benda-benda tak bergerak lainnya1.964.437.000,00
  42314Pendapatan jasa I12.774.412.135.000,00
   423141Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya2.800.929.603.000,00
   423142Pendapatan tempat hiburan/ taman/museum dan pungutan usaha pariwisata alam (PUPA)30.172.066.000,00
   423143Pendapatan surat keterangan, visa, paspor, SIM, STNK, dan BPKB2.571.036.960.000,00
   423144Pendapatan hak dan perizinan4.685.682.977.000,00
   423145Pendapatan sensor/karantina, pengawasan/pemeriksaan51.302.889.000,00
   423146Pendapatan jasa tenaga, pekerjaan, informasi, pelatihan, teknologi, pendapatan BPN, pendapatan DJE3C (jasa pekerjaan dart cukai)2.058.115.895.000,00
   423147Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama68.849.760.000,00
   423148Pendapatan jasa bandar udara, kepelabuhanan, dan kenavigasian505.864.300.000,00
   423149Pendapatan jasa II lainnya2.457.685.000,00
  42315Pendapatan jasa II2.022.984.414.000,00
   423151Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro)39.923.001.000,00
   423152Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi1.067.857.143.000,00
   423155Pendapatan biaya penagihan pajak-pajak negara dengan surat paksa3.328.140.000,0
   423157Pendapatan bea lelang31.384.307.000,00
   423158Pendapatan biaya pengurusan piutang dan lelang negara42.269.350.000,00
   423159Pendapatan jasa II lainnya838.222.473.000,00
  42316Pendapatan bukan pajak dan luar negeri379.409.943.000,00
   423161Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia56.648.876.000,00
   423162Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler322.761.067.000,00
  42317Pendapatan bunga1.342.531.103.000,00
   423179Pendapatan bunga lainnya1.342.531.103.000,00
  42321Pendapatan kejaksaan dan peradilan33.766.987.000,00
   423211Pendapatan legalisasi tanda tangan1.163.642.000,00
   423212Pendapatan pengesahan surat di bawah tangan275.505.000,00
   423213Pendapatan uang meja (leges) dan upah pada panitera badan pengadilan (peradilan)676.830.000,00
   423214Pendapatan hasil denda/tilang dan sebagainya20.834.900.000,00
   423215Pendapatan ongkos perkara9.303.210.000,00
   423219Pendapatan kejaksaan dan peradilan lainnya1.512.900.000,00
  42331Pendapatan pendidikan4.599.509.370.000,00
   423311Pendapatan uang pendidikan4.027.998.545.000,00
   423312Pendapatan uang ujian masuk, kenaikan tingkat, dan akhir pendidikan23.543.285.000,00
   423313Uang ujian untuk menjalankan praktik25.227.186.000,00
   423319Pendapatan pendidikan lainnya522.740.354.000,00
  42341Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran berjalan1.431.993.000,00
   423411Penerimaan kembali belanja pegawai pusat996.993.000,00
   423412Penerimaan kembali belanja pensiun170.000.000,00
   423413Penerimaan kembali belanja lainya rupiah murni 265.000.000,00
  42342Pendapatan dari penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu2.507.502.000,00
   423421Penerimaan kembali belanja pegawai pusat983.648.000,00
   423423Penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni1.519.224.000,00
   423424Penerimaan kembali belanja lain pinjaman luar negeri4.630.000,00
  42343Pendapatan laba bersih hasil penjualan BBM6.456.470.000.000,00
   423431Pendapatan minyak mentah DMO6.456.470.000.000,00
  42344Pendapatan pelunasan piutang4.831.411.555.000,00
   423441Pendapatan pelunasan piutang non bendahara4.828.980.000.000,00
   423442Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara (masuk TP/TGR) bendahara2.431.555.000,00
  42347Pendapatan lain-lain2.006.227.969.000,00
   423471Penerimaan kembali persekot/uang muka gaji2.066.213.000,00
   423472Penerimaan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah3.739.322.000,00
   423473Pendapatan atas denda administrasi BPHTB38.318.000,00
   423475Pendapatan denda pelanggaran di bidang pasar modal12.500.000.000,00
   423476Pendapatan dari gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GNRHL)325.000.000.000,00
   423477Pendapatan regestrasi dokter/ dokter gigi2.500.000.000,00
   423479Pendapatan anggaran lain-lain1.660.384.116.000,00
  42348Pendapatan Iuran Badan Usaha429.900.830.000,00
   423481Pendapatan iuran badan usaha dan kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM329.842.200.000,00
   423482Pendapatan iuran badan usaha dan kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa100.058.630.000,00
  42411Pendapatan Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil Korupsi26.500.000.000,00
   424111Pendapatan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan pengadila25.000.000.000,00
   424112Pendapatan gratifikasi yang ditetapkan KPK menjadi milik negara1.500.000.000,00
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6 
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan hasil optimalisasi adalah hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dan/atau penandatanganan kontrak dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah dicapai. Hasil lebih atau sisa dana tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran ataupun untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama.
 
Yang dimaksud dengan perubahan anggaran belanja yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Peningkatan penerimaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kementerian/lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan ijin penggunaan yang berlaku.
 
Yang dimaksud dengan perubahan pagu Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years dan/atau percepatan penarikan pinjaman yang sudah disetujui dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan PHLN. Tidak termasuk dalam luncuran tersebut adalah PHLN yang belum disetujui dalam APBN tahun 2008 dan pinjaman yang bersumber dari kredit ekspor.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN Perubahan adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran yang dilakukan sebelum APBN Perubahan 2008 diajukan kepada DPR. Sedangkan yang dimaksud dengan dilaporkan pelaksanaannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat adalah melaporkan perubahan rincian/pergeseran yang dilakukan sepanjang tahun 2008.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Dana perimbangan sebesar Rp266.780.135.210.000,00 (dua ratus enam puluh enam triliun tujuh ratus delapan puluh miliar seratus tiga puluh lima juta dua ratus sepuluh ribu rupiah), terdiri dari:
(dalam rupiah)
1.Dana Bagi Hasil (DBH)66.070.849.339.000,00
 a.DBH Pajak36.333.640.960.000,00
  i.DBH Pajak Penghasilan8.491.060.000.000,00
   -Pajak penghasilan Pasal 217.900.100.000.000,00
   -Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi590.960.000.000,00
  ii.DBH Pajak Bumi dan Bangunan22.989.880.960.000,00
  iii.DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan4.852.700.000.000,00
 b.DBH Sumber Daya Alam29.737.208.379.000,00
  i.DBH SDA Minyak Bumi12.850.650.000.000,00
  ii.DBH SDA Gas Alam10.770.150.000.000,00
  iii.DBH SDA Pertambangan Umum4.245.128.379.000,00
   -Iuran Tetap53.286.663.000,00
   -Royalti4.191.841.716.000,00
  iv.DBH SDA Kehutanan1.777.280.000.000,00
   -Provisi Sumber Daya Hutan1.198.960.000.000,00
   -Iuran Hak Pengusahaan Hutan3.800.000.000,00
   -Dana Reboisasi508.520.000.000,00
  v.DBH SDA Perikanan160.000.000.000,00
2.Dana Alokasi Umum (DAU)179.507.144.871.000,00
3.Dana Alokasi Khusus (DAK)21.202.141.000.000,00
(dalam rupiah)
1.Dana Bagi Hasil (DBH)66.070.849.339.000,00
 a.DBH Pajak36.333.640.960.000,00
  i.DBH Pajak Penghasilan8.491.060.000.000,00
   -Pajak penghasilan Pasal 217.900.100.000.000,00
   -Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi590.960.000.000,00
  ii.DBH Pajak Bumi dan Bangunan22.989.880.960.000,00
  iii.DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan4.852.700.000.000,00
 b.DBH Sumber Daya Alam29.737.208.379.000,00
  i.DBH SDA Minyak Bumi12.850.650.000.000,00
  ii.DBH SDA Gas Alam10.770.150.000.000,00
  iii.DBH SDA Pertambangan Umum4.245.128.379.000,00
   -Iuran Tetap53.286.663.000,00
   -Royalti4.191.841.716.000,00
  iv.DBH SDA Kehutanan1.777.280.000.000,00
   -Provisi Sumber Daya Hutan1.198.960.000.000,00
   -Iuran Hak Pengusahaan Hutan3.800.000.000,00
   -Dana Reboisasi508.520.000.000,00
  v.DBH SDA Perikanan160.000.000.000,00
2.Dana Alokasi Umum (DAU)179.507.144.871.000,00
3.Dana Alokasi Khusus (DAK)21.202.141.000.000,00
(dalam rupiah)
1.Dana Bagi Hasil (DBH)66.070.849.339.000,00
 a.DBH Pajak36.333.640.960.000,00
  i.DBH Pajak Penghasilan8.491.060.000.000,00
   -Pajak penghasilan Pasal 217.900.100.000.000,00
   -Pajak penghasilan Pasal 25/29 orang pribadi590.960.000.000,00
  ii.DBH Pajak Bumi dan Bangunan22.989.880.960.000,00
  iii.DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan4.852.700.000.000,00
 b.DBH Sumber Daya Alam29.737.208.379.000,00
  i.DBH SDA Minyak Bumi12.850.650.000.000,00
  ii.DBH SDA Gas Alam10.770.150.000.000,00
  iii.DBH SDA Pertambangan Umum4.245.128.379.000,00
   -Iuran Tetap53.286.663.000,00
   -Royalti4.191.841.716.000,00
  iv.DBH SDA Kehutanan1.777.280.000.000,00
   -Provisi Sumber Daya Hutan1.198.960.000.000,00
   -Iuran Hak Pengusahaan Hutan3.800.000.000,00
   -Dana Reboisasi508.520.000.000,00
  v.DBH SDA Perikanan160.000.000.000,00
2.Dana Alokasi Umum (DAU)179.507.144.871.000,00
3.Dana Alokasi Khusus (DAK)21.202.141.000.000,00
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Dana otonomi khusus sebesar Rp7.510.285.794.000,00 (tujuh triliun lima ratus sepuluh miliar dua ratus delapan puluh lima juta tujuh ratus sembilan puluh empat ribu rupiah) terdiri dari:
1.Alokasi Dana Otonomi Khusus Papua sebesar Rp3.590.142.897.000,00 (tiga triliun lima ratus sembilan puluh miliar seratus empat puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah), terutama digunakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. Dana Otonomi Khusus Papua tersebut diperuntukkan bagi kabupaten/kota/provinsi di Provinsi Papua dan kabupaten/ kota di Provinsi Papua Barat, dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional.
2.Alokasi Dana Otonomi Khusus Aceh sebesar Rp3.590.142.897.000,00 (tiga triliun lima ratus sembilan puluh miliar seratus empat puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah) untuk mendanai pembangunan, terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak 2008, dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional, dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh besarnya setara dengan 1(satu) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional.
3.Dana tambahan infrastruktur Provinsi Papua sebesar Rp330.000.000.000,00 (tiga ratus tiga puluh miliar rupiah), terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur, sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
1.Alokasi Dana Otonomi Khusus Papua sebesar Rp3.590.142.897.000,00 (tiga triliun lima ratus sembilan puluh miliar seratus empat puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah), terutama digunakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. Dana Otonomi Khusus Papua tersebut diperuntukkan bagi kabupaten/kota/provinsi di Provinsi Papua dan kabupaten/ kota di Provinsi Papua Barat, dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional.
2.Alokasi Dana Otonomi Khusus Aceh sebesar Rp3.590.142.897.000,00 (tiga triliun lima ratus sembilan puluh miliar seratus empat puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah) untuk mendanai pembangunan, terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak 2008, dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional, dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh besarnya setara dengan 1(satu) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional.
3.Dana tambahan infrastruktur Provinsi Papua sebesar Rp330.000.000.000,00 (tiga ratus tiga puluh miliar rupiah), terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur, sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
1.Alokasi Dana Otonomi Khusus Papua sebesar Rp3.590.142.897.000,00 (tiga triliun lima ratus sembilan puluh miliar seratus empat puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah), terutama digunakan untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang jumlahnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional dan berlaku selama 20 tahun sejak tahun 2002. Dana Otonomi Khusus Papua tersebut diperuntukkan bagi kabupaten/kota/provinsi di Provinsi Papua dan kabupaten/ kota di Provinsi Papua Barat, dengan dasar pembagian menggunakan basis perhitungan jumlah kampung secara proporsional.
2.Alokasi Dana Otonomi Khusus Aceh sebesar Rp3.590.142.897.000,00 (tiga triliun lima ratus sembilan puluh miliar seratus empat puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah) untuk mendanai pembangunan, terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun sejak 2008, dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun kelima belas besarnya setara dengan 2 (dua) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional, dan untuk tahun keenam belas sampai dengan tahun kedua puluh besarnya setara dengan 1(satu) persen dari pagu dana alokasi umum (DAU) secara nasional.
3.Dana tambahan infrastruktur Provinsi Papua sebesar Rp330.000.000.000,00 (tiga ratus tiga puluh miliar rupiah), terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur, sesuai dengan Pasal 34 ayat (3) huruf f Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
Ayat (3)
Dana penyesuaian sebesar Rp6.939.041.714.000,00 (enam triliun sembilan ratus tiga puluh sembilan miliar empat puluh satu juta tujuh ratus empat belas ribu rupiah) terdiri dari:
1.Dana penyeimbang DAU sebesar Rp242.835.500.000,00 (dua ratus empat puluh dua miliar delapan ratus tiga puluh lima juta lima ratus ribu rupiah), yang dialokasikan kepada daerah tertentu yang mengalami penurunan DAU sebesar 75 persen atau sampai dengan 100 persen dibandingkan dengan perolehan DAU tahun 2007 di luar dana penyesuaian.
2.Dana tunjangan kependidikan sebesar Rp1.200.000.000.000,00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah) yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka mendanai kebutuhan tunjangan kependidikan.
3.Dana sarana dan prasarana Provinsi Papua Barat sebesar Rp670.000.000.000,00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana fisik.
4.Dana infrastruktur sarana dan prasarana sebesar Rp4.626.206.214.000,00 (empat triliun enam ratus dua puluh enam miliar dua ratus enam juta dua ratus empat belas ribu rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal melalui penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana fisik, serta sarana lainnya yang juga menjadi urusan daerah.
5.Dana Alokasi Cukai sebesar Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah) yang dialokasikan kepada daerah penghasil cukai tembakau untuk melaksanakan penugasan dari Pemerintah dalam rangka mengurangi cukai palsu (cukai ilegal), sosialisasi peraturan dan pemetaan industri rokok sesuai amanat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.
1.Dana penyeimbang DAU sebesar Rp242.835.500.000,00 (dua ratus empat puluh dua miliar delapan ratus tiga puluh lima juta lima ratus ribu rupiah), yang dialokasikan kepada daerah tertentu yang mengalami penurunan DAU sebesar 75 persen atau sampai dengan 100 persen dibandingkan dengan perolehan DAU tahun 2007 di luar dana penyesuaian.
2.Dana tunjangan kependidikan sebesar Rp1.200.000.000.000,00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah) yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka mendanai kebutuhan tunjangan kependidikan.
3.Dana sarana dan prasarana Provinsi Papua Barat sebesar Rp670.000.000.000,00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana fisik.
4.Dana infrastruktur sarana dan prasarana sebesar Rp4.626.206.214.000,00 (empat triliun enam ratus dua puluh enam miliar dua ratus enam juta dua ratus empat belas ribu rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal melalui penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana fisik, serta sarana lainnya yang juga menjadi urusan daerah.
5.Dana Alokasi Cukai sebesar Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah) yang dialokasikan kepada daerah penghasil cukai tembakau untuk melaksanakan penugasan dari Pemerintah dalam rangka mengurangi cukai palsu (cukai ilegal), sosialisasi peraturan dan pemetaan industri rokok sesuai amanat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.
1.Dana penyeimbang DAU sebesar Rp242.835.500.000,00 (dua ratus empat puluh dua miliar delapan ratus tiga puluh lima juta lima ratus ribu rupiah), yang dialokasikan kepada daerah tertentu yang mengalami penurunan DAU sebesar 75 persen atau sampai dengan 100 persen dibandingkan dengan perolehan DAU tahun 2007 di luar dana penyesuaian.
2.Dana tunjangan kependidikan sebesar Rp1.200.000.000.000,00 (satu triliun dua ratus miliar rupiah) yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka mendanai kebutuhan tunjangan kependidikan.
3.Dana sarana dan prasarana Provinsi Papua Barat sebesar Rp670.000.000.000,00 (enam ratus tujuh puluh miliar rupiah) yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana fisik.
4.Dana infrastruktur sarana dan prasarana sebesar Rp4.626.206.214.000,00 (empat triliun enam ratus dua puluh enam miliar dua ratus enam juta dua ratus empat belas ribu rupiah) yang dialokasikan kepada daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal melalui penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana fisik, serta sarana lainnya yang juga menjadi urusan daerah.
5.Dana Alokasi Cukai sebesar Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah) yang dialokasikan kepada daerah penghasil cukai tembakau untuk melaksanakan penugasan dari Pemerintah dalam rangka mengurangi cukai palsu (cukai ilegal), sosialisasi peraturan dan pemetaan industri rokok sesuai amanat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pembiayaan defisit anggaran sebesar Rp73.305.994.670.000,00 (tujuh puluh tiga triliun tiga ratus lima miliar sembilan ratus sembilan puluh empat juta enam ratus tujuh puluh ribu rupiah) terdiri dari:
1.
Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp89.975.295.500.000,00 (delapan puluh sembilan triliun sembilan ratus tujuh puluh lima miliar dua ratus sembilan puluh lima juta lima ratus ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
a.
Perbankan dalam negeri
300.000.000.000,00
b.
Non-perbankan dalam negeri
89.675.295.500.000,00
 
i.
Privatisasi
1.500.000.000.000,00
 
ii.
Penjualan aset program restrukturisasi perbankan
600.000.000.000,00
 
iii.
Surat berharga negara (neto)
91.575.295.500.000,00
 
iv.
Dana Investasi Pemerintah
-4.000.000.000.000,00
Pembiayaan perbankan dalam negeri berasal dari rekening Pemerintah di Bank Indonesia.
 
Surat Berharga Negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik, tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional.
 
Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan, pembayaran pokok dan pembelian kembali SBN, akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar, sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.
 
Untuk mendukung pembangunan transportasi di Ibukota Negara Republik Indonesia, Pemerintah memberikan jaminan pembangunan proyek monorail di Jakarta. Dalam rangka mendukung pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batu bara oleh PT Perusahaan Listrik Negara, Pemerintah memberikan jaminan penuh dari segi pembiayaan. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai pinjaman pemerintah kepada PLN apabila terealisir. Jaminan Pemerintah tersebut diberikan dengan memperhitungkan risiko fiskal yang mungkin terjadi ke depan.
 
Pencairan dana penjaminan infrastruktur dalam belanja lain-lain mengikuti pencairan dana dukungan infrastruktur, yang sekarang disebut dana investasi Pemerintah, yang telah berjalan selama ini.
2.
Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp16.669.300.830.000,00 (enam belas triliun enam ratus enam puluh sembilan miliar tiga ratus juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
a.Penarikan pinjaman luar negeri (bruto)42.989.310.000.000,00
 -Pinjaman program19.110.000.000.000,00
 -Pinjaman proyek23.879.310.000.000,00
b.Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri-59.658.610.830.000,00
 
Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri dari selain surat berharga negara.
1.
Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp89.975.295.500.000,00 (delapan puluh sembilan triliun sembilan ratus tujuh puluh lima miliar dua ratus sembilan puluh lima juta lima ratus ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
a.
Perbankan dalam negeri
300.000.000.000,00
b.
Non-perbankan dalam negeri
89.675.295.500.000,00
 
i.
Privatisasi
1.500.000.000.000,00
 
ii.
Penjualan aset program restrukturisasi perbankan
600.000.000.000,00
 
iii.
Surat berharga negara (neto)
91.575.295.500.000,00
 
iv.
Dana Investasi Pemerintah
-4.000.000.000.000,00
Pembiayaan perbankan dalam negeri berasal dari rekening Pemerintah di Bank Indonesia.
 
Surat Berharga Negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik, tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional.
 
Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan, pembayaran pokok dan pembelian kembali SBN, akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar, sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.
 
Untuk mendukung pembangunan transportasi di Ibukota Negara Republik Indonesia, Pemerintah memberikan jaminan pembangunan proyek monorail di Jakarta. Dalam rangka mendukung pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batu bara oleh PT Perusahaan Listrik Negara, Pemerintah memberikan jaminan penuh dari segi pembiayaan. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai pinjaman pemerintah kepada PLN apabila terealisir. Jaminan Pemerintah tersebut diberikan dengan memperhitungkan risiko fiskal yang mungkin terjadi ke depan.
 
Pencairan dana penjaminan infrastruktur dalam belanja lain-lain mengikuti pencairan dana dukungan infrastruktur, yang sekarang disebut dana investasi Pemerintah, yang telah berjalan selama ini.
2.
Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp16.669.300.830.000,00 (enam belas triliun enam ratus enam puluh sembilan miliar tiga ratus juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
a.Penarikan pinjaman luar negeri (bruto)42.989.310.000.000,00
 -Pinjaman program19.110.000.000.000,00
 -Pinjaman proyek23.879.310.000.000,00
b.Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri-59.658.610.830.000,00
 
Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri dari selain surat berharga negara.
1.
Pembiayaan Dalam Negeri sebesar Rp89.975.295.500.000,00 (delapan puluh sembilan triliun sembilan ratus tujuh puluh lima miliar dua ratus sembilan puluh lima juta lima ratus ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
a.
Perbankan dalam negeri
300.000.000.000,00
b.
Non-perbankan dalam negeri
89.675.295.500.000,00
 
i.
Privatisasi
1.500.000.000.000,00
 
ii.
Penjualan aset program restrukturisasi perbankan
600.000.000.000,00
 
iii.
Surat berharga negara (neto)
91.575.295.500.000,00
 
iv.
Dana Investasi Pemerintah
-4.000.000.000.000,00
Pembiayaan perbankan dalam negeri berasal dari rekening Pemerintah di Bank Indonesia.
 
Surat Berharga Negara (SBN) neto merupakan selisih antara penerbitan dengan pembayaran pokok dan pembelian kembali. Penerbitan SBN tidak hanya dalam mata uang rupiah di pasar domestik, tetapi juga mencakup penerbitan SBN dalam valuta asing di pasar internasional.
 
Komposisi jumlah dan jenis instrumen SBN yang akan diterbitkan, pembayaran pokok dan pembelian kembali SBN, akan diatur lebih lanjut oleh pemerintah dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di pasar, sampai dengan target neto pembiayaan SBN tercapai.
 
Untuk mendukung pembangunan transportasi di Ibukota Negara Republik Indonesia, Pemerintah memberikan jaminan pembangunan proyek monorail di Jakarta. Dalam rangka mendukung pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW (sepuluh ribu megawatt) berbahan bakar batu bara oleh PT Perusahaan Listrik Negara, Pemerintah memberikan jaminan penuh dari segi pembiayaan. Jaminan tersebut akan diperhitungkan sebagai pinjaman pemerintah kepada PLN apabila terealisir. Jaminan Pemerintah tersebut diberikan dengan memperhitungkan risiko fiskal yang mungkin terjadi ke depan.
 
Pencairan dana penjaminan infrastruktur dalam belanja lain-lain mengikuti pencairan dana dukungan infrastruktur, yang sekarang disebut dana investasi Pemerintah, yang telah berjalan selama ini.
2.
Pembiayaan Luar Negeri neto sebesar negatif Rp16.669.300.830.000,00 (enam belas triliun enam ratus enam puluh sembilan miliar tiga ratus juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah) terdiri dari:
(dalam rupiah)
a.Penarikan pinjaman luar negeri (bruto)42.989.310.000.000,00
 -Pinjaman program19.110.000.000.000,00
 -Pinjaman proyek23.879.310.000.000,00
b.Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri-59.658.610.830.000,00
 
Pembiayaan luar negeri mencakup pembiayaan utang luar negeri dari selain surat berharga negara.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Yang dimaksud dengan keadaan tertentu adalah:
1.Keadaan darurat, yaitu keadaan yang sulit direncanakan, baik dari aspek saat kejadian dan/atau aspek kebutuhan dana pada saat kejadian, yang memungkinkan adanya risiko politik, ekonomi, dan sosial yang besar manakala kebutuhan dana tidak dapat dipenuhi pada saat kejadian.
2.Keadaan yang menyebabkan adanya tambahan kewajiban negara yang timbul akibat perubahan asumsi indikator ekonomi makro (harga minyak, lifting, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia tiga bulan) yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Kewajiban dimaksud berupa pembayaran bunga utang, subsidi bahan bakar minyak, dan subsidi listrik. Hal ini dilakukan selain untuk menghindari adanya tagihan-tagihan kepada Pemerintah pada tahun-tahun mendatang, juga dalam upaya menjaga kinerja arus kas bagi pihak-pihak terkait, dalam hal ini Badan Usaha Milik Negara yang menerima penugasan dari Pemerintah.
1.Keadaan darurat, yaitu keadaan yang sulit direncanakan, baik dari aspek saat kejadian dan/atau aspek kebutuhan dana pada saat kejadian, yang memungkinkan adanya risiko politik, ekonomi, dan sosial yang besar manakala kebutuhan dana tidak dapat dipenuhi pada saat kejadian.
2.Keadaan yang menyebabkan adanya tambahan kewajiban negara yang timbul akibat perubahan asumsi indikator ekonomi makro (harga minyak, lifting, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia tiga bulan) yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Kewajiban dimaksud berupa pembayaran bunga utang, subsidi bahan bakar minyak, dan subsidi listrik. Hal ini dilakukan selain untuk menghindari adanya tagihan-tagihan kepada Pemerintah pada tahun-tahun mendatang, juga dalam upaya menjaga kinerja arus kas bagi pihak-pihak terkait, dalam hal ini Badan Usaha Milik Negara yang menerima penugasan dari Pemerintah.
1.Keadaan darurat, yaitu keadaan yang sulit direncanakan, baik dari aspek saat kejadian dan/atau aspek kebutuhan dana pada saat kejadian, yang memungkinkan adanya risiko politik, ekonomi, dan sosial yang besar manakala kebutuhan dana tidak dapat dipenuhi pada saat kejadian.
2.Keadaan yang menyebabkan adanya tambahan kewajiban negara yang timbul akibat perubahan asumsi indikator ekonomi makro (harga minyak, lifting, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia tiga bulan) yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Kewajiban dimaksud berupa pembayaran bunga utang, subsidi bahan bakar minyak, dan subsidi listrik. Hal ini dilakukan selain untuk menghindari adanya tagihan-tagihan kepada Pemerintah pada tahun-tahun mendatang, juga dalam upaya menjaga kinerja arus kas bagi pihak-pihak terkait, dalam hal ini Badan Usaha Milik Negara yang menerima penugasan dari Pemerintah.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Ayat (3)
Laporan keuangan yang diajukan dalam rancangan undang-undang sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diperiksa oleh BPK dan telah memuat koreksi/penyesuaian (audited financial statements) sebagaimana diuraikan pada Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Pasal 18
Cukup jelas.
  
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4778
 
Background
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.