Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-38/BC/2010
Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI
NOMOR P-38/BC/2010 TENTANG
MEKANISME KONSULTASI NILAI PABEAN
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,
| ||
|
| ||
Menimbang | ||
|
bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160/PMK.04./2010 tentang Nilai Pabean Untuk Penghitungan Bea Masuk, perlu ditetapkan Peraturan Direktur Jenderal tentang Mekanisme Konsultasi Nilai Pabean;
| ||
|
| ||
Mengingat | ||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);
| |
|
2.
|
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160/PMK.04/2010 tentang Nilai Pabean Untuk Penghitungan Bea Masuk.
| |
|
|
| |
|
MEMUTUSKAN:
| ||
Menetapkan | ||
|
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG MEKANISME KONSULTASI NILAI PABEAN.
| ||
|
| ||
Pasal 1 | ||
|
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:
| ||
|
1.
|
Undang-undang Kepabeanan adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006.
| |
|
2.
|
Importir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mengimpor barang.
| |
|
3.
|
Pengujian kewajaran adalah kegiatan penelitian nilai pabean yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai dalam rangka menilai kewajaran atas pemberitahuan nilai pabean.
| |
|
4.
|
Informasi Nilai Pabean yang selanjutnya disingkat dengan INP adalah pemberitahuan Pejabat Bea dan Cukai kepada importir untuk menyerahkan pernyataan tentang fakta yang berkaitan dengan transaksi barang yang diimpor.
| |
|
5.
|
Deklarasi Nilai Pabean yang selanjutnya disingkat dengan DNP adalah pernyataan importir tentang fakta yang berkaitan dengan transaksi barang yang diimpor dengan disertai dokumen pendukungnya.
| |
|
6.
|
Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepabeanan.
| |
|
7.
|
Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
| |
|
8.
|
Pejabat Bea dan Cukai adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan.
| |
|
9.
|
Bukti nyata atau data yang objektif dan terukur adalah bukti atau data berdasarkan dokumen yang benar-benar tersedia dan pada dokumen tersebut terdapat besaran, nilai atau ukuran tertentu dalam bentuk angka, kata dan/atau kalimat.
| |
|
10.
|
Konsultasi adalah kegiatan klarifikasi atau permintaan penjelasan lebih lanjut dari Pejabat Bea dan Cukai kepada Importir atau kuasanya atas Deklarasi Nilai Pabean untuk menentukan keakuratan nilai transaksi.
| |
|
|
| |
Pasal 2 | ||
|
(1)
|
Dalam rangka penelitian nilai pabean, Pejabat Bea dan Cukai melakukan pengujian kewajaran nilai pabean yang tercantum pada pemberitahuan pabean impor.
| |
|
(2)
|
Pejabat Bea dan Cukai menerbitkan INP, apabila hasil pengujian kewajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak wajar atau tidak ditemukan data pembanding.
| |
|
(3)
|
INP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikirimkan kepada importir melalui media elektronik atau media lainnya.
| |
|
(4)
|
Atas INP yang dikirimkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), importir harus:
| |
|
|
a.
|
menyerahkan DNP dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah diterbitkannya INP;
|
|
|
b.
|
menyerahkan semua informasi, dokumen, dan/atau pernyataan yang diperlukan dalam rangka penentuan nilai pabean; dan
|
|
|
c.
|
memberikan penjelasan baik secara lisan maupun tertulis tentang bagaimana pembeli atau kuasanya menghitung nilai pabean, unsur-unsur pembentuk nilai pabean, dan hal-hal lain berkaitan dengan transaksi yang bersangkutan.
|
|
(5)
|
Pemberian penjelasan secara lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c hanya dilakukan dalam kerangka konsultasi sebagaimana dimaksud pada pasal 3 ayat (1).
| |
|
(6)
|
Kantor Pabean yang belum menerapkan Sistem Komputer Pelayanan, penyerahan DNP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a dilakukan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja setelah diterbitkannya INP.
| |
|
|
| |
Pasal 3 | ||
|
(1)
|
Terhadap hasil penelitian DNP yang nilai transaksinya belum dapat diyakini kebenaran dan keakuratannya, Pejabat Bea dan Cukai dapat melakukan konsultasi dengan importir yang bersangkutan atau kuasanya.
| |
|
(2)
|
Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan terhadap importir kategori risiko menengah atau importir kategori risiko tinggi.
| |
|
(3)
|
Pembatasan kategori importir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rangka bimbingan kepatuhan dan manajemen risiko.
| |
|
|
| |
Pasal 4 | ||
|
(1)
|
Dalam rangka konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), Pejabat Bea dan Cukai menerbitkan Surat Pemberitahuan Konsultasi Nilai Pabean (SPKNP) kepada importir atau kuasanya.
| |
|
(2)
|
SPKNP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan melalui media elektronik atau media lainnya.
| |
|
(3)
|
Dalam SPKNP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan data, informasi dan/atau dokumen yang perlu penjelasan lebih lanjut.
| |
|
(4)
|
Format SPKNP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai contoh sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini.
| |
|
|
| |
Pasal 5 | ||
|
(1)
|
Importir atau kuasanya harus hadir di Kantor Pabean:
| |
|
|
a.
|
dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja sejak tanggal SPKNP dalam hal disampaikan melalui media elektronik.
|
|
|
b.
|
dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja sejak tanggal SPKNP dalam hal disampaikan melalui media lainnya.
|
|
(2)
|
Dalam hal konsultasi dihadiri oleh kuasa importir harus dilengkapi surat kuasa sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini.
| |
|
|
| |
Pasal 6 | ||
|
(1)
|
Pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), dilakukan di Kantor Pabean.
| |
|
(2)
|
Konsultasi harus disaksikan oleh minimal 1 (satu) orang Pejabat Bea dan Cukai lainnya yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pabean.
| |
|
|
| |
Pasal 7 | ||
|
(1)
|
Dalam konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Importir atau kuasanya wajib memberikan penjelasan yang diminta oleh Pejabat Bea dan Cukai.
| |
|
(2)
|
Dalam memberikan penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) importir atau kuasanya dapat memberikan data tambahan yang objektif dan terukur.
| |
|
(3)
|
Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Berita Acara Konsultasi Nilai Pabean dan ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai, importir atau kuasanya dan saksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).
| |
|
(4)
|
Format Berita Acara Konsultasi Nilai Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan sesuai contoh sebagaimana Lampiran III yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini.
| |
|
|
| |
Pasal 8 | ||
|
Dalam hal importir atau kuasanya:
| ||
|
a.
|
Dalam hal importir atau kuasanya:
| |
|
b.
|
tidak dapat memberikan penjelasan yang meyakinkan Pejabat Bea dan Cukai tentang kebenaran dan keakuratan nilai transaksi barang yang diimpor;
| |
|
Pejabat Bea dan Cukai menentukan nilai pabean berdasarkan nilai transaksi barang identik sampai dengan metode pengulangan sesuai hierarki penggunaannya.
| ||
|
| ||
Pasal 9 | ||
|
Pelaksanaan konsultasi nilai pabean antara Pejabat Bea dan Cukai dan importir atau kuasanya dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab.
| ||
|
| ||
Pasal 10 | ||
|
Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
| ||
|
| ||
|
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 01 Oktober 2010
DIREKTUR JENDERAL,
ttd.
THOMAS SUGIJATA
| ||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.