Perda Kabupaten Buton Utara Nomor: 1 Tahun 2024
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA
NOMOR 1 TAHUN 2024
NOMOR 1 TAHUN 2024
TENTANG
PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI BUTON UTARA,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | ||||||||
|
a.
|
bahwa Kabupaten Buton Utara memiliki potensi penerimaan pajak dan retribusi yang perlu dilakukan optimalisasi melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah;
| |||||||
|
b.
|
bahwa sesuai dengan Pasal 286 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang yang pelaksanaan di Daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah;
| |||||||
|
c.
|
bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 94 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, seluruh jenis pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan dalam 1 (satu) peraturan daerah dan menjadi dasar pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah;
| |||||||
|
d.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | ||||||||
|
1.
|
Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
| |||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Buton Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4690);
| |||||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6856);
| |||||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6757);
| |||||||
|
5.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);
| |||||||
|
6.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6628);
| |||||||
|
7.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2021 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6646);
| |||||||
|
8.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pemungutan Pajak Barang dan Jasa Tertentu atas Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6846);
| |||||||
|
9.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2023 tentang Ketentuan Umum Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6881);
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA
dan
BUPATI BUTON UTARA
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||||||||
Menetapkan | ||||||||
|
PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 | ||||||||
|
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
| ||||||||
|
1.
|
Daerah adalah Kabupaten Buton Utara.
| |||||||
|
2.
|
Bupati adalah Bupati Buton Utara.
| |||||||
|
3.
|
Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
| |||||||
|
4.
|
Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
| |||||||
|
5.
|
Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
| |||||||
|
6.
|
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat dengan DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Buton Utara adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang berkedudukan sebagai unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah.
| |||||||
|
7.
|
Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
| |||||||
|
8.
|
Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
| |||||||
|
9.
|
Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenai Pajak.
| |||||||
|
10.
|
Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
11.
|
Subjek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan barang, jasa, dan/atau perizinan.
| |||||||
|
12.
|
Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut retribusi tertentu.
| |||||||
|
13.
|
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara, BUMD, atau badan usaha milik desa, dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya, termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
| |||||||
|
14.
|
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan PerKabupatenan yang selanjutnya disingkat PBB-P2 adalah Pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan.
| |||||||
|
15.
|
Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman.
| |||||||
|
16.
|
Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap di atas permukaan Bumi dan di bawah permukaan Bumi.
| |||||||
|
17.
|
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disingkat BPHTB adalah Pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau Bangunan.
| |||||||
|
18.
|
Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau Bangunan oleh orang pribadi atau Badan.
| |||||||
|
19.
|
Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan, beserta Bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dalam undang-undang di bidang pertanahan dan bangunan.
| |||||||
|
20.
|
Pajak Barang dan Jasa Tertentu yang selanjutnya disingkat PBJT adalah Pajak yang dibayarkan oleh konsumen akhir atas konsumsi barang dan/atau jasa tertentu.
| |||||||
|
21.
|
Barang dan Jasa Tertentu adalah barang dan jasa tertentu yang dijual dan/atau diserahkan kepada konsumen akhir.
| |||||||
|
22.
|
Makanan dan/atau Minuman adalah makanan dan/atau minuman yang disediakan, dijual dan/atau diserahkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau melalui pesanan oleh restoran.
| |||||||
|
23.
|
Restoran adalah fasilitas penyediaan layanan Makanan dan/atau Minuman dengan dipungut bayaran.
| |||||||
|
24.
|
Tenaga Listrik adalah tenaga atau energi yang dihasilkan oleh suatu pembangkit tenaga listrik yang didistribusikan untuk bermacam peralatan listrik.
| |||||||
|
25.
|
Jasa Perhotelan adalah jasa penyediaan akomodasi yang dapat dilengkapi dengan jasa pelayanan makan dan minum, kegiatan hiburan, dan/atau fasilitas lainnya.
| |||||||
|
26.
|
Jasa Parkir adalah jasa penyediaan atau penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan dan/atau pelayanan memarkirkan kendaraan untuk ditempatkan di area parkir, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan Kendaraan Bermotor.
| |||||||
|
27.
|
Jasa Kesenian dan Hiburan adalah jasa penyediaan atau penyelenggaraan semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, ketangkasan, rekreasi, dan/atau keramaian untuk dinikmati.
| |||||||
|
28.
|
Pajak Reklame adalah Pajak atas penyelenggaraan reklame.
| |||||||
|
29.
|
Reklame adalah benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau menarik perhatian umum terhadap sesuatu.
| |||||||
|
30.
|
Pajak Air Tanah yang selanjutnya disingkat PAT adalah Pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah.
| |||||||
|
31.
|
Air Tanah adalah semua air yang terdapat di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
| |||||||
|
32.
|
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah Pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan dari sumber alam di dalam dan/atau di permukaan bumi untuk dimanfaatkan.
| |||||||
|
33.
|
Mineral Bukan Logam dan Batuan yang selanjutnya disingkat MBLB adalah mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di bidang mineral dan batu bara.
| |||||||
|
34.
|
Pajak Sarang Burung Walet adalah Pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet.
| |||||||
|
35.
|
Burung Walet adalah satwa yang termasuk marga collocalta, yaitu collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta, dan collocalia linchi.
| |||||||
|
36.
|
Opsen adalah pungutan tambahan Pajak menurut persentase tertentu.
| |||||||
|
37.
|
Opsen Pajak Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Opsen PKB adalah Opsen yang dikenakan oleh Daerah atas pokok PKB sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
38.
|
Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Opsen BBNKB adalah Opsen yang dikenakan oleh Daerah atas pokok BBNKB sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
39.
|
Tahun Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun kalender, kecuali apabila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
| |||||||
|
40.
|
Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
| |||||||
|
41.
|
Jasa Usaha adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah yang dapat bersifat mencari keuntungan karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.
| |||||||
|
42.
|
Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
| |||||||
|
43.
|
Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah sistem yang diterapkan oleh satuan kerja perangkat daerah atau unit satuan kerja perangkat daerah pada satuan kerja perangkat daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mempunyai fleksibilitas dalam pola pengelolaan keuangan sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
PAJAK DAERAH
Bagian Kesatu
Jenis Pajak
Pasal 2 | ||||||||
|
Jenis Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah, terdiri atas:
| ||||||||
|
a.
|
PBB-P2;
| |||||||
|
b.
|
BPHTB;
| |||||||
|
c.
|
PBJT atas:
| |||||||
|
|
1.
|
makanan dan/atau minuman;
| ||||||
|
|
2.
|
tenaga listrik;
| ||||||
|
|
3.
|
jasa perhotelan;
| ||||||
|
|
4.
|
jasa parkir; dan
| ||||||
|
|
5.
|
jasa kesenian dan hiburan;
| ||||||
|
d.
|
Pajak Reklame;
| |||||||
|
e.
|
PAT;
| |||||||
|
f.
|
Pajak MBLB;
| |||||||
|
g.
|
Pajak Sarang Burung Walet;
| |||||||
|
h.
|
Opsen PKB; dan
| |||||||
|
i.
|
Opsen BBNKB.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
PBB-P2
Pasal 3 | ||||||||
|
(1)
|
Objek PBB-P2 adalah Bumi dan/atau Bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
| |||||||
|
(2)
|
Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk permukaan Bumi hasil kegiatan reklamasi atau pengerukan.
| |||||||
|
(3)
|
Yang dikecualikan dari objek PBB-P2 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah kepemilikan, penguasaan, dan/atau pemanfaatan atas:
| |||||||
|
|
a.
|
Bumi dan/atau Bangunan kantor Pemerintah, kantor Pemerintahan Daerah, dan kantor penyelenggara negara lainnya yang dicatat sebagai barang milik negara atau barang milik Daerah;
| ||||||
|
|
b.
|
Bumi dan/atau Bangunan yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang keagamaan, panti sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan;
| ||||||
|
|
c.
|
Bumi dan/atau Bangunan yang semata-mata digunakan untuk tempat makam (kuburan), peninggalan purbakala, atau yang sejenis;
| ||||||
|
|
d.
|
Bumi yang merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak;
| ||||||
|
|
e.
|
Bumi dan/atau Bangunan yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;
| ||||||
|
|
f.
|
Bumi dan/atau Bangunan yang digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara;
| ||||||
|
|
g.
|
Bumi dan/atau Bangunan untuk jalur kereta api, moda raya terpadu (Mass Rapid Transit), lintas raya terpadu (Light Rail Transit), atau yang sejenis;
| ||||||
|
|
h.
|
Bumi dan/atau Bangunan tempat tinggal lainnya berdasarkan NJOP tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati; dan
| ||||||
|
|
i.
|
Bumi dan/atau Bangunan yang dipungut pajak bumi dan bangunan oleh Pemerintah.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 4 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Pajak PBB-P2 adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak PBB-P2 adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 5 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan PBB-P2 adalah NJOP.
| |||||||
|
(2)
|
NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan proses penilaian PBB-P2.
| |||||||
|
(3)
|
NJOP tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak.
| |||||||
|
(4)
|
Dalam hal Wajib Pajak memiliki atau menguasai lebih dari satu objek PBB-P2 di satu wilayah Daerah, NJOP tidak kena pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diberikan atas salah satu objek PBB-P2 untuk setiap Tahun Pajak.
| |||||||
|
(5)
|
NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun, kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayahnya.
| |||||||
|
(6)
|
Besaran NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 6 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan PBB-P2 ditetapkan paling rendah 20% (dua puluh persen) dan paling tinggi 100% (seratus persen) dari NJOP setelah dikurangi NJOP tidak kena pajak.
| |||||||
|
(2)
|
Besaran persentase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atas kelompok objek PBB-P2 dilakukan dengan mempertimbangkan antara lain:
| |||||||
|
|
a.
|
kenaikan NJOP hasil penilaian;
| ||||||
|
|
b.
|
bentuk pemanfaatan objek pajak; dan/atau
| ||||||
|
|
c.
|
klasterisasi NJOP dalam satu wilayah Daerah.
| ||||||
|
(3)
|
Ketentuan mengenai besaran persentase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 7 | ||||||||
|
(1)
|
Tarif PBB-P2 ditetapkan:
| |||||||
|
|
a.
|
untuk NJOP kurang dari Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,12% (nol koma dua belas persen); dan
| ||||||
|
|
b.
|
untuk NJOP Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) atau lebih ditetapkan sebesar 0,2% (nol koma dua persen).
| ||||||
|
(2)
|
Tarif PBB-P2 atas objek berupa lahan produksi pangan dan ternak ditetapkan:
| |||||||
|
|
a.
|
untuk NJOP kurang dari Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,1% (nol koma satu persen); dan
| ||||||
|
|
b.
|
untuk NJOP Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) atau lebih ditetapkan sebesar 0,12% (nol koma dua belas persen).
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 8 | ||||||||
|
Besaran pokok PBB-P2 yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan PBB-P2 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dengan tarif PBB-P2 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 9 | ||||||||
|
(1)
|
Tahun Pajak PBB-P2 adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender.
| |||||||
|
(2)
|
Saat yang menentukan untuk menghitung PBB-P2 yang terutang yaitu menurut keadaan objek PBB-P2 pada tanggal 1 Januari.
| |||||||
|
(3)
|
Saat terutang PBB-P2 ditetapkan pada saat terjadinya kepemilikan, penguasaan, dan/atau pemanfaatan Bumi dan/atau bangunan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 10 | ||||||||
|
(1)
|
Wilayah pemungutan PBB-P2 yang terutang adalah wilayah Daerah yang meliputi letak objek PBB-P2.
| |||||||
|
(2)
|
Termasuk dalam wilayah pemungutan PBB-P2 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah wilayah daerah tempat Bumi dan/atau Bangunan berikut berada:
| |||||||
|
|
a.
|
laut pedalaman dan perairan darat serta bangunan di atasnya, dan
| ||||||
|
|
b.
|
bangunan yang berada di luar laut pedalaman dan perairan darat yang konstruksi tekniknya terhubung dengan bangunan yang berada di daratan, kecuali pipa dan kabel bawah laut.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
BPHTB
Pasal 11 | ||||||||
|
(1)
|
Objek BPHTB adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.
| |||||||
|
(2)
|
Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
pemindahan hak karena:
| ||||||
|
|
|
1.
|
jual beli;
| |||||
|
|
|
2.
|
tukar-menukar;
| |||||
|
|
|
3.
|
hibah;
| |||||
|
|
|
4.
|
hibah wasiat;
| |||||
|
|
|
5.
|
waris;
| |||||
|
|
|
6.
|
pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain;
| |||||
|
|
|
7.
|
pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan;
| |||||
|
|
|
8.
|
penunjukan pembeli dalam lelang;
| |||||
|
|
|
9.
|
pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
| |||||
|
|
|
10.
|
penggabungan usaha;
| |||||
|
|
|
11.
|
peleburan usaha;
| |||||
|
|
|
12.
|
pemekaran usaha; atau
| |||||
|
|
|
13.
|
hadiah; dan
| |||||
|
|
b.
|
pemberian hak baru karena:
| ||||||
|
|
|
1.
|
kelanjutan pelepasan hak; atau
| |||||
|
|
|
2.
|
di luar pelepasan hak.
| |||||
|
(3)
|
Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
hak milik;
| ||||||
|
|
b.
|
hak guna usaha;
| ||||||
|
|
c.
|
hak guna bangunan;
| ||||||
|
|
d.
|
hak pakai;
| ||||||
|
|
e.
|
hak milik atas satuan rumah susun; dan
| ||||||
|
|
f.
|
hak pengelolaan.
| ||||||
|
(4)
|
Yang dikecualikan dari objek BPHTB adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan:
| |||||||
|
|
a.
|
untuk kantor Pemerintah, Pemerintahan Daerah, penyelenggara negara dan lembaga negara lainnya yang dicatat sebagai barang milik negara atau barang milik Daerah;
| ||||||
|
|
b.
|
oleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum;
| ||||||
|
|
c.
|
untuk badan atau perwakilan lembaga internasional dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan lembaga tersebut yang diatur dengan Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara;
| ||||||
|
|
d.
|
untuk perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;
| ||||||
|
|
e.
|
oleh orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama;
| ||||||
|
|
f.
|
oleh orang pribadi atau Badan karena wakaf;
| ||||||
|
|
g.
|
oleh orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah; dan
| ||||||
|
|
h.
|
untuk masyarakat berpenghasilan rendah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
(5)
|
Kriteria pengecualian objek BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf h yaitu untuk kepemilikan rumah pertama dengan kriteria tertentu yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.
| |||||||
|
(6)
|
Kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diselaraskan dengan kebijakan pemberian kemudahan pembangunan dan perolehan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang diatur oleh menteri yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan di bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 12 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Pajak BPHTB adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak BPHTB adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 13 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan BPHTB adalah nilai perolehan objek pajak.
| |||||||
|
(2)
|
Nilai perolehan objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
harga transaksi untuk jual beli;
| ||||||
|
|
b.
|
nilai pasar untuk tukar menukar, hibah, hibah wasiat, waris, pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya, pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap, pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak, pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak, penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, dan hadiah; dan
| ||||||
|
|
c.
|
harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang untuk penunjukan pembeli dalam lelang.
| ||||||
|
(3)
|
Dalam hal nilai perolehan objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan pajak bumi dan bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan BPHTB yang digunakan adalah NJOP yang digunakan dalam pengenaan pajak bumi dan bangunan pada tahun terjadinya perolehan.
| |||||||
|
(4)
|
Dalam menentukan besaran BPHTB terutang, ditetapkan nilai perolehan obyek pajak tidak kena pajak sebagai pengurang dasar pengenaan BPHTB.
| |||||||
|
(5)
|
Besarnya nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp80.000.000,00 (delapan puluh juta rupiah) untuk perolehan hak pertama Wajib Pajak di wilayah Daerah.
| |||||||
|
(6)
|
Dalam hal perolehan hak karena hibah wasiat atau waris sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a angka 4 dan angka 5 yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat atau waris, termasuk suami/istri, nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 14 | ||||||||
|
Tarif BPHTB ditetapkan sebesar 5% (lima persen).
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 15 | ||||||||
|
Besaran pokok BPHTB yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) setelah dikurangi nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (6), dengan tarif BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 16 | ||||||||
|
(1)
|
Saat terutangnya BPHTB ditetapkan:
| |||||||
|
|
a.
|
pada tanggal dibuat dan ditandatanganinya perjanjian pengikatan jual beli untuk jual beli;
| ||||||
|
|
b.
|
pada tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta untuk tukar-menukar, hibah, hibah wasiat, hibah wasiat tertentu, pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya, pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, dan/atau hadiah;
| ||||||
|
|
c.
|
pada tanggal penerima waris, penerima waris tertentu atau yang diberi kuasa oleh penerima waris mendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidang pertanahan untuk waris;
| ||||||
|
|
d.
|
pada tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap untuk putusan hakim;
| ||||||
|
|
e.
|
pada tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak untuk pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak;
| ||||||
|
|
f.
|
pada tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak untuk pemberian hak baru di luar pelepasan hak; atau
| ||||||
|
|
g.
|
pada tanggal penunjukan pemenang lelang untuk lelang.
| ||||||
|
(2)
|
Dalam hal pada saat transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan tidak menggunakan perjanjian pengikatan jual beli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, saat terutang BPHTB untuk jual beli adalah pada saat ditandatanganinya akta jual beli.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 17 | ||||||||
|
Wilayah pemungutan BPHTB yang terutang adalah wilayah Daerah tempat tanah dan/atau bangunan berada.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
PBJT
Pasal 18 | ||||||||
|
Objek PBJT merupakan penjualan, penyerahan, dan/atau konsumsi barang dan jasa tertentu yang meliputi:
| ||||||||
|
a.
|
Makanan dan/atau Minuman;
| |||||||
|
b.
|
Tenaga Listrik;
| |||||||
|
c.
|
Jasa Perhotelan;
| |||||||
|
d.
|
Jasa Parkir; dan
| |||||||
|
e.
|
Jasa Kesenian dan Hiburan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 19 | ||||||||
|
(1)
|
Penjualan dan/atau penyerahan Makanan dan/atau Minuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf a meliputi Makanan dan/atau Minuman yang disediakan oleh:
| |||||||
|
|
a.
|
Restoran yang paling sedikit menyediakan layanan penyajian Makanan dan/atau Minuman berupa meja, kursi, dan/atau peralatan makan dan minum;
| ||||||
|
|
b.
|
penyedia jasa boga atau katering yang melakukan:
| ||||||
|
|
|
1.
|
proses penyediaan bahan baku dan bahan setengah jadi, pembuatan, penyimpanan, serta penyajian berdasarkan pesanan;
| |||||
|
|
|
2.
|
penyajian di lokasi yang diinginkan oleh pemesan dan berbeda dengan lokasi dimana proses pembuatan dan penyimpanan dilakukan; dan
| |||||
|
|
|
3.
|
penyajian dilakukan dengan atau tanpa peralatan dan petugasnya.
| |||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari objek PBJT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penyerahan Makanan dan/atau Minuman:
| |||||||
|
|
a.
|
dengan peredaran usaha tidak melebihi Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) per bulan;
| ||||||
|
|
b.
|
dilakukan oleh toko swalayan dan sejenisnya yang tidak semata-mata menjual Makanan dan/atau Minuman;
| ||||||
|
|
c.
|
dilakukan oleh pabrik Makanan dan/atau Minuman; atau
| ||||||
|
|
d.
|
disediakan oleh penyedia fasilitas yang kegiatan usaha utamanya menyediakan pelayanan jasa menunggu pesawat pada bandar udara.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 20 | ||||||||
|
(1)
|
Konsumsi Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf b adalah penggunaan Tenaga Listrik oleh pengguna akhir.
| |||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari konsumsi Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
konsumsi Tenaga Listrik oleh instansi pemerintah, Pemerintah Daerah dan penyelenggara negara lainnya;
| ||||||
|
|
b.
|
konsumsi Tenaga Listrik pada tempat yang digunakan oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara asing berdasarkan asas timbal balik;
| ||||||
|
|
c.
|
konsumsi Tenaga Listrik pada rumah ibadah, panti jompo, panti asuhan, dan panti sosial lainnya yang sejenis;
| ||||||
|
|
d.
|
konsumsi Tenaga Listrik yang dihasilkan sendiri dengan kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis terkait; dan
| ||||||
|
|
e.
|
konsumsi tenaga listrik di kawasan terpencil dengan menggunakan pembangkit tenaga listrik bantuan dari Pemerintah, Pemerintah daerah dan Pemerintah Desa.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 21 | ||||||||
|
(1)
|
Jasa Perhotelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf c meliputi jasa penyediaan akomodasi dan fasilitas penunjangnya, serta penyewaan ruang rapat/pertemuan pada penyedia jasa perhotelan seperti:
| |||||||
|
|
a.
|
hotel;
| ||||||
|
|
b.
|
hostel;
| ||||||
|
|
c.
|
vila;
| ||||||
|
|
d.
|
pondok wisata;
| ||||||
|
|
e.
|
motel;
| ||||||
|
|
f.
|
losmen;
| ||||||
|
|
g.
|
wisma pariwisata;
| ||||||
|
|
h.
|
pesanggrahan;
| ||||||
|
|
i.
|
rumah penginapan/guest house/bungalo/resort/cottage,
| ||||||
|
|
j.
|
tempat tinggal pribadi yang difungsikan sebagai hotel; dan
| ||||||
|
|
k.
|
glamping.
| ||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari Jasa Perhotelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
Jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
| ||||||
|
|
b.
|
jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan, dan panti sosial lainnya yang sejenis;
| ||||||
|
|
c.
|
jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan;
| ||||||
|
|
d.
|
jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata; dan
| ||||||
|
|
e.
|
jasa persewaan ruangan untuk diusahakan di hotel.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 22 | ||||||||
|
(1)
|
Jasa Parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf d meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
penyediaan atau penyelenggaraan tempat parkir; dan/atau
| ||||||
|
|
b.
|
pelayanan memarkirkan kendaraan (parkir valet).
| ||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari jasa penyediaan tempat parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
jasa tempat parkir yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
| ||||||
|
|
b.
|
jasa tempat parkir yang diselenggarakan oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri;
| ||||||
|
|
c.
|
jasa tempat parkir yang diselenggarakan oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik; dan
| ||||||
|
|
d.
|
jasa tempat parkir yang diselenggarakan oleh rumah ibadah.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 23 | ||||||||
|
(1)
|
Jasa Kesenian dan Hiburan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf e meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
tontonan film atau bentuk tontonan audio visual lainnya yang dipertontonkan secara langsung di suatu lokasi tertentu;
| ||||||
|
|
b.
|
pergelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana;
| ||||||
|
|
c.
|
kontes kecantikan;
| ||||||
|
|
d.
|
kontes binaraga;
| ||||||
|
|
e.
|
pameran;
| ||||||
|
|
f.
|
pertunjukan sirkus, akrobat, dan sulap;
| ||||||
|
|
g.
|
pacuan kuda dan perlombaan kendaraan bermotor;
| ||||||
|
|
h.
|
permainan ketangkasan;
| ||||||
|
|
i.
|
olahraga permainan dengan menggunakan tempat/ruang dan/atau peralatan dan perlengkapan untuk olahraga dan kebugaran;
| ||||||
|
|
j.
|
rekreasi wahana air, wahana ekologi, wahana pendidikan, wahana budaya, wahana salju, wahana permainan, pemancingan, agro wisata, dan kebun binatang;
| ||||||
|
|
k.
|
panti pijat dan pijat refleksi; dan
| ||||||
|
|
l.
|
diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa.
| ||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari Jasa Kesenian dan Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Jasa Kesenian dan Hiburan yang semata-mata untuk:
| |||||||
|
|
a.
|
promosi budaya tradisional dengan tidak dipungut bayaran;
| ||||||
|
|
b.
|
kegiatan layanan masyarakat dengan tidak dipungut bayaran; dan/atau
| ||||||
|
|
c.
|
pagelaran kesenian, musik, dan tari untuk kegiatan sosial dan/atau keagamaan dengan tidak dipungut bayaran.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 24 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Pajak PBJT adalah konsumen barang dan jasa tertentu.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak PBJT adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan penjualan, penyerahan, dan/atau konsumsi barang dan jasa tertentu.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 25 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan PBJT adalah jumlah yang dibayarkan oleh konsumen barang atau jasa tertentu, meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
jumlah pembayaran yang diterima oleh penyedia makanan dan/atau minuman untuk PBJT atas makanan dan/atau minuman;
| ||||||
|
|
b.
|
nilai jual tenaga listrik untuk PBJT atas tenaga listrik;
| ||||||
|
|
c.
|
jumlah pembayaran kepada penyedia jasa perhotelan untuk PBJT atas jasa perhotelan;
| ||||||
|
|
d.
|
jumlah pembayaran kepada penyedia atau penyelenggara tempat parkir dan/atau penyedia pelayanan memarkirkan kendaraan untuk PBJT atas jasa parkir; dan
| ||||||
|
|
e.
|
jumlah pembayaran diterima oleh penyelenggara jasa kesenian dan hiburan untuk PBJT atas jasa kesenian atau hiburan.
| ||||||
|
(2)
|
Dalam hal tidak terdapat pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dasar pengenaan PBJT dihitung berdasarkan harga jual barang dan jasa sejenis yang berlaku di wilayah daerah.
| |||||||
|
(3)
|
Dalam hal pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan voucher atau bentuk lain yang sejenis yang memuat nilai rupiah atau mata uang lain, dasar pengenaan PBJT ditetapkan sebesar nilai rupiah atau mata uang lainnya tersebut.
| |||||||
|
(4)
|
Dalam hal Pemerintah Daerah menetapkan kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi dan tingkat kemacetan, khusus untuk PBJT atas Jasa Parkir, Pemerintah Daerah dapat menetapkan dasar pengenaan sebesar tarif parkir sebelum dikenakan potongan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 26 | ||||||||
|
(1)
|
Nilai jual tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf b ditetapkan untuk:
| |||||||
|
|
a.
|
Tenaga Listrik yang berasal dari sumber lain dengan pembayaran; dan
| ||||||
|
|
b.
|
Tenaga Listrik yang dihasilkan sendiri.
| ||||||
|
(2)
|
Nilai jual Tenaga Listrik yang ditetapkan untuk Tenaga Listrik yang berasal dari sumber lain dengan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dihitung berdasarkan:
| |||||||
|
|
a.
|
jumlah tagihan biaya/beban tetap ditambah dengan biaya pemakaian kWh/variabel yang ditagihkan dalam rekening listrik, untuk pascabayar; dan
| ||||||
|
|
b.
|
jumlah pembelian Tenaga Listrik untuk prabayar.
| ||||||
|
(3)
|
Nilai jual Tenaga Listrik yang ditetapkan untuk Tenaga Listrik yang dihasilkan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dihitung berdasarkan:
| |||||||
|
|
a.
|
kapasitas tersedia;
| ||||||
|
|
b.
|
tingkat penggunaan listrik;
| ||||||
|
|
c.
|
jangka waktu pemakaian listrik; dan
| ||||||
|
|
d.
|
harga satuan listrik yang berlaku di wilayah Daerah.
| ||||||
|
(4)
|
Nilai jual Tenaga Listrik yang ditetapkan untuk Tenaga Listrik yang berasal dari sumber lain dengan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan ketentuan tidak terdapat pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3), penyedia Tenaga Listrik sebagai Wajib Pajak melakukan penghitungan dan Pemungutan PBJT atas Tenaga Listrik untuk penggunaan Tenaga Listrik yang dijual atau diserahkan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 27 | ||||||||
|
(1)
|
Tarif PBJT ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).
| |||||||
|
(2)
|
Khusus tarif PBJT atas jasa hiburan pada diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa ditetapkan sebesar 40% (empat puluh persen).
| |||||||
|
(3)
|
Khusus tarif PBJT atas Tenaga Listrik untuk:
| |||||||
|
|
a.
|
konsumsi Tenaga Listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam, ditetapkan sebesar 3% (tiga persen); dan
| ||||||
|
|
b.
|
konsumsi Tenaga Listrik yang dihasilkan sendiri, ditetapkan sebesar 1,5% (satu koma lima persen).
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 28 | ||||||||
|
Besaran pokok PBJT yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan PBJT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dengan tarif PBJT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 29 | ||||||||
|
Saat terutangnya PBJT ditetapkan pada saat:
| ||||||||
|
a.
|
pembayaran/penyerahan atas makanan dan/atau minuman untuk PBJT atas makanan dan/atau minuman;
| |||||||
|
b.
|
konsumsi/pembayaran atas tenaga listrik untuk PBJT atas tenaga tenaga listrik;
| |||||||
|
c.
|
pembayaran/penyerahan atas jasa perhotelan untuk PBJT atas jasa perhotelan;
| |||||||
|
d.
|
pembayaran/penyerahan atas jasa penyediaan tempat parkir untuk PBJT atas dasar parkir; dan
| |||||||
|
e.
|
pembayaran/penyerahan atas jasa kesenian dan hiburan untuk PBJT atas jasa kesenian dan hiburan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 30 | ||||||||
|
Wilayah pemungutan PBJT yang terutang adalah di wilayah Daerah tempat penjualan, penyerahan dan/atau konsumsi barang dan jasa tertentu dilakukan.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kelima
Pajak Reklame
Pasal 31 | ||||||||
|
(1)
|
Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame.
| |||||||
|
(2)
|
Objek Pajak Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
reklame papan/billboard/videotron/megatron;
| ||||||
|
|
b.
|
reklame kain;
| ||||||
|
|
c.
|
reklame melekat/stiker;
| ||||||
|
|
d.
|
reklame selebaran;
| ||||||
|
|
e.
|
reklame berjalan, termasuk pada kendaraan;
| ||||||
|
|
f.
|
reklame udara;
| ||||||
|
|
g.
|
reklame apung;
| ||||||
|
|
h.
|
reklame film/slide; dan
| ||||||
|
|
i.
|
reklame peragaan.
| ||||||
|
(3)
|
Yang dikecualikan dari objek Pajak Reklame adalah:
| |||||||
|
|
a.
|
penyelenggaraan Reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya;
| ||||||
|
|
b.
|
label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan, yang berfungsi untuk membedakan dari produk sejenis lainnya;
| ||||||
|
|
c.
|
nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan dan/atau di dalam area tempat usaha atau profesi yang jenis, ukuran, bentuk, dan bahan Reklamenya diatur dalam Perkada dengan berpedoman pada ketentuan yang mengatur tentang nama pengenal usaha atau profesi tersebut;
| ||||||
|
|
d.
|
Reklame yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
| ||||||
|
|
e.
|
Reklame yang diselenggarakan dalam rangka kegiatan politik, sosial, dan keagamaan yang tidak disertai dengan iklan komersial; dan
| ||||||
|
|
f.
|
Reklame yang diselenggarakan untuk kepentingan pendidikan yang merupakan aset institusi yang bersangkutan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 32 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan Reklame.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan Reklame.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 33 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar Pengenaan Pajak Reklame yaitu nilai sewa Reklame.
| |||||||
|
(2)
|
Dalam hal Reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga, nilai sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan nilai kontrak Reklame.
| |||||||
|
(3)
|
Dalam hal Reklame diselenggarakan sendiri, nilai sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan memperhatikan faktor:
| |||||||
|
|
a.
|
jenis;
| ||||||
|
|
b.
|
bahan yang digunakan;
| ||||||
|
|
c.
|
lokasi penempatan;
| ||||||
|
|
d.
|
waktu penayangan;
| ||||||
|
|
e.
|
jangka waktu penyelenggaraan;
| ||||||
|
|
f.
|
jumlah; dan
| ||||||
|
|
g.
|
ukuran media Reklame.
| ||||||
|
(4)
|
Dalam hal nilai sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diketahui dan/atau dianggap tidak wajar, nilai sewa Reklame ditetapkan dengan menggunakan faktor-faktor sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
| |||||||
|
(5)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai perhitungan nilai sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 34 | ||||||||
|
Tarif Pajak Reklame ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen).
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 35 | ||||||||
|
Besaran pokok Pajak Reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan Pajak Reklame sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) dengan tarif Pajak Reklame sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 36 | ||||||||
|
Saat terutangnya pajak reklame ditetapkan pada saat terjadinya penyelenggaraan reklame.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 37 | ||||||||
|
(1)
|
Pajak Reklame yang terutang dipungut di wilayah Daerah tempat Reklame tersebut diselenggarakan.
| |||||||
|
(2)
|
Khusus untuk Reklame berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) huruf e, Pajak Reklame yang terutang dipungut di wilayah Daerah tempat usaha penyelenggara Reklame terdaftar.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Keenam
PAT
Pasal 38 | ||||||||
|
(1)
|
Objek PAT yaitu pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
| |||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari objek PAT yaitu pengambilan untuk:
| |||||||
|
|
a.
|
keperluan dasar rumah tangga;
| ||||||
|
|
b.
|
pengairan pertanian rakyat;
| ||||||
|
|
c.
|
perikanan rakyat;
| ||||||
|
|
d.
|
peternakan rakyat; dan
| ||||||
|
|
e.
|
keperluan keagamaan.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 39 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek PAT adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib PAT adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 40 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan PAT yaitu nilai perolehan Air Tanah.
| |||||||
|
(2)
|
Nilai perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah hasil perkalian antara harga air baku dengan bobot Air Tanah.
| |||||||
|
(3)
|
Harga air baku sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan berdasarkan biaya pemeliharaan dan pengendalian sumber daya Air Tanah.
| |||||||
|
(4)
|
Bobot Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan dalam koefisien yang didasarkan atas faktor-faktor berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
jenis sumber air;
| ||||||
|
|
b.
|
lokasi sumber air;
| ||||||
|
|
c.
|
tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
| ||||||
|
|
d.
|
volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan;
| ||||||
|
|
e.
|
kualitas air; dan
| ||||||
|
|
f.
|
tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/atau pemanfaatan air.
| ||||||
|
(5)
|
Besarnya nilai perolehan air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Daerah ditetapkan dengan Peraturan Bupati dengan berpedoman pada nilai perolehan air tanah yang ditetapkan oleh Gubernur sesuai ketentuan perundang-undangan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 41 | ||||||||
|
Tarif PAT ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen).
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 42 | ||||||||
|
Besaran pokok PAT yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan PAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dengan tarif PAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 43 | ||||||||
|
Saat terutangnya PAT ditetapkan pada saat terjadinya pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 44 | ||||||||
|
Wilayah Pemungutan PAT yang terutang merupakan wilayah Daerah tempat pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketujuh
Pajak MBLB
Pasal 45 | ||||||||
|
(1)
|
Objek Pajak MBLB adalah kegiatan pengambilan MBLB yang meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
asbes;
| ||||||
|
|
b.
|
batu tulis;
| ||||||
|
|
c.
|
batu setengah permata;
| ||||||
|
|
d.
|
batu kapur;
| ||||||
|
|
e.
|
batu apung;
| ||||||
|
|
f.
|
batu permata;
| ||||||
|
|
g.
|
bentonit;
| ||||||
|
|
h.
|
dolomit;
| ||||||
|
|
i.
|
feldspar;
| ||||||
|
|
j.
|
garam batu (halite);
| ||||||
|
|
k.
|
grafit;
| ||||||
|
|
l.
|
granit/andesit;
| ||||||
|
|
m.
|
gips;
| ||||||
|
|
n.
|
kalsit;
| ||||||
|
|
o.
|
kaolin;
| ||||||
|
|
p.
|
leusit;
| ||||||
|
|
q.
|
magnesit;
| ||||||
|
|
r.
|
mika;
| ||||||
|
|
s.
|
marmer;
| ||||||
|
|
t.
|
nitrat;
| ||||||
|
|
u.
|
obsidian;
| ||||||
|
|
v.
|
oker;
| ||||||
|
|
w.
|
pasir dan kerikil;
| ||||||
|
|
x.
|
pasir kuarsa;
| ||||||
|
|
y.
|
perlit;
| ||||||
|
|
z.
|
fosfat;
| ||||||
|
|
aa.
|
talk;
| ||||||
|
|
bb.
|
tanah serap (fullers earth);
| ||||||
|
|
cc.
|
tanah diatom;
| ||||||
|
|
dd.
|
tanah liat;
| ||||||
|
|
ee.
|
tawas (alum);
| ||||||
|
|
ff.
|
tras;
| ||||||
|
|
gg.
|
yarosit;
| ||||||
|
|
hh.
|
zeolit;
| ||||||
|
|
ii.
|
basal;
| ||||||
|
|
jj.
|
trakhit;
| ||||||
|
|
kk.
|
belerang;
| ||||||
|
|
ll.
|
MBLB ikutan dalam suatu pertambangan mineral; dan
| ||||||
|
|
mm.
|
MBLB lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari objek Pajak MBLB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi pengambilan MBLB:
| |||||||
|
|
a.
|
untuk keperluan rumah tangga dan tidak diperjualbelikan/dipindahtangankan;
| ||||||
|
|
b.
|
untuk keperluan pemancangan tiang listrik/telepon, penanaman kabel, penanaman pipa, dan sejenisnya yang tidak mengubah fungsi permukaan tanah; dan
| ||||||
|
|
c.
|
untuk keperluan pembangunan rumah ibadah, panti jompo, dan panti asuhan yang dibiayai oleh masyarakat.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 46 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Pajak MBLB adalah orang pribadi atau Badan yang mengambil MBLB.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak MBLB adalah orang pribadi atau Badan yang mengambil MBLB.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 47 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak MBLB yaitu nilai jual hasil pengambilan MBLB.
| |||||||
|
(2)
|
Nilai jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan perkalian volume/tonase pengambilan MBLB dengan harga patokan tiap-tiap jenis MBLB.
| |||||||
|
(3)
|
Harga patokan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dihitung berdasarkan harga jual rata-rata tiap-tiap jenis MBLB pada mulut tambang yang berlaku di wilayah Daerah.
| |||||||
|
(4)
|
Harga patokan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batu bara.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 48 | ||||||||
|
Tarif Pajak MBLB ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen).
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 49 | ||||||||
|
Besaran pokok Pajak MBLB yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan Pajak MBLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) dengan tarif Pajak MBLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 50 | ||||||||
|
Saat terutangnya Pajak MBLB ditetapkan pada saat terjadinya pengambilan MBLB di mulut tambang.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 51 | ||||||||
|
Wilayah pemungutan Pajak MBLB yang terutang di wilayah Daerah tempat pengambilan MBLB.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedelapan
Pajak Sarang Burung Walet
Pasal 52 | ||||||||
|
(1)
|
Objek Pajak Sarang Burung Walet yaitu pengambilan dan/atau pengusahaan sarang Burung Walet.
| |||||||
|
(2)
|
Yang dikecualikan dari objek Pajak Sarang Burung Walet sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengambilan sarang Burung Walet yang telah dikenakan penerimaan negara bukan pajak.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 53 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Pajak Sarang Burung Walet yaitu orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan sarang Burung Walet.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak Sarang Burung Walet yaitu orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan sarang Burung Walet.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 54 | ||||||||
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Sarang Burung Walet yakni nilai jual sarang Burung Walet.
| |||||||
|
(2)
|
Nilai jual sarang Burung Walet sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan perkalian antara harga pasaran umum sarang Burung Walet yang berlaku di Daerah yang bersangkutan dengan volume sarang Burung Walet.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 55 | ||||||||
|
Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 56 | ||||||||
|
Besaran pokok Pajak Sarang Burung Walet yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan Pajak Sarang Burung Walet sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dengan tarif Pajak Sarang Burung Walet sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 57 | ||||||||
|
Saat terutang Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan pada saat terjadinya pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 58 | ||||||||
|
Wilayah pemungutan Pajak Sarang Burung Walet yang terutang adalah wilayah Daerah tempat pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kesembilan
Opsen PKB
Pasal 59 | ||||||||
|
Tarif Opsen PKB ditetapkan sebesar 66% (enam puluh enam persen) dihitung dari besaran pajak terutang.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 60 | ||||||||
|
(1)
|
Wajib Pajak Opsen PKB merupakan Wajib PKB.
| |||||||
|
(2)
|
Pemungutan Opsen PKB dilakukan bersamaan dengan pemungutan Pajak terutang dari PKB.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 61 | ||||||||
|
Dasar pengenaan untuk Opsen PKB adalah PKB terutang.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 62 | ||||||||
|
Tarif Opsen PKB ditetapkan sebesar 66% (enam puluh enam persen) dihitung dari besaran pajak terutang.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 63 | ||||||||
|
Besaran pokok Opsen PKB yang terutang dihitung dengan cara mengalikan dasar pengenaan Opsen PKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 dengan tarif Opsen PKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 64 | ||||||||
|
Saat terutangnya Opsen PKB ditetapkan pada saat terutangnya PKB.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 65 | ||||||||
|
Wilayah pemungutan Opsen PKB yang terutang adalah wilayah Daerah tempat kendaraan bermotor terdaftar.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kesepuluh
Opsen BBNKB
Pasal 66 | ||||||||
|
Opsen BBNKB dikenakan atas Pajak terutang dari BBNKB.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 67 | ||||||||
|
(1)
|
Wajib Pajak Opsen BBNKB merupakan Wajib Pajak BBNKB.
| |||||||
|
(2)
|
Pemungutan Opsen BBNKB dilakukan bersamaan dengan pemungutan Pajak terutang dari BBNKB.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 68 | ||||||||
|
Dasar pengenaan untuk Opsen BBNKB adalah BBNKB terutang.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 69 | ||||||||
|
Tarif Opsen BBNKB ditetapkan sebesar 66%(enam puluh enam persen) dihitung dari besaran pajak terutang.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 70 | ||||||||
|
Besaran pokok Opsen BBNKB yang terutang dihitung dengan cara mengalihkan dasar pengenaan Opsen BBNKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 dengan tarif Opsen BBNKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 71 | ||||||||
|
Saat terutangnya Opsen BBNKB ditetapkan pada saat terutangnya BBNKB.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 72 | ||||||||
|
Wilayah pemungutan Opsen BBNKB yang terutang merupakan wilayah Daerah tempat kendaraan bermotor terdaftar.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kesebelas
Masa Pajak dan Tahun Pajak
Pasal 73 | ||||||||
|
(1)
|
Saat terutang Pajak ditetapkan pada saat orang pribadi atau Badan telah memenuhi syarat subjektif dan objektif atas suatu jenis Pajak dalam satu kurun waktu tertentu dalam masa Pajak, dalam tahun Pajak, atau dalam Bagian tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Masa Pajak berlaku untuk jenis Pajak yang dipungut berdasarkan penghitungan sendiri oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, kecuali untuk BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b.
| |||||||
|
(3)
|
Masa Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain paling lama 3 (tiga) bulan kalender, yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan Pajak yang terutang.
| |||||||
|
(4)
|
Tahun Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun kalender, kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
| |||||||
|
(5)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai masa Pajak, Tahun Pajak, dan bagian Tahun Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
RETRIBUSI DAERAH
Bagian Kesatu
Jenis dan Objek Retribusi
Pasal 74 | ||||||||
|
(1)
|
Jenis Retribusi terdiri atas:
| |||||||
|
|
a.
|
Retribusi Jasa Umum;
| ||||||
|
|
b.
|
Retribusi Jasa Usaha; dan
| ||||||
|
|
c.
|
Retribusi Perizinan Tertentu.
| ||||||
|
(2)
|
Objek Retribusi adalah penyediaan/pelayanan barang dan/atau jasa dan pemberian izin tertentu kepada orang pribadi atau Badan oleh Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(3)
|
Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan jasa dan/atau perizinan yang dilakukan oleh Pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.
| |||||||
|
(4)
|
Wajib Retribusi meliputi orang pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan barang, jasa, dan/atau perizinan.
| |||||||
|
(5)
|
Wajib Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib membayar atas layanan yang digunakan/dinikmati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Tata Cara Penghitungan Retribusi
Pasal 75 | ||||||||
|
Besaran Retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif Retribusi.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 76 | ||||||||
|
Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan jumlah penggunaan jasa yang dijadikan dasar alokasi beban biaya yang dipikul Pemerintah Daerah untuk penyelenggaraan jasa yang bersangkutan.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 77 | ||||||||
|
(1)
|
Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan nilai rupiah yang ditetapkan untuk menghitung besarnya Retribusi yang terutang.
| |||||||
|
(2)
|
Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditentukan seragam atau bervariasi menurut golongan sesuai dengan prinsip dan sasaran penetapan tarif Retribusi.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 78 | ||||||||
|
(1)
|
Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali.
| |||||||
|
(2)
|
Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian, tanpa melakukan penambahan objek Retribusi.
| |||||||
|
(3)
|
Penetapan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Retribusi Jasa Umum
Pasal 79 | ||||||||
|
(1)
|
Jenis pelayanan yang merupakan objek Retribusi Jasa Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) huruf a yang dipungut meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
pelayanan kesehatan;
| ||||||
|
|
b.
|
pelayanan kebersihan;
| ||||||
|
|
c.
|
pelayanan parkir di tepi jalan umum; dan
| ||||||
|
|
d.
|
pelayanan pasar.
| ||||||
|
(2)
|
Jenis pelayanan yang merupakan objek Retribusi Jasa Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) huruf a yang tidak dipungut retribusi meliputi retribusi pengendalian lalu lintas.
| |||||||
|
(3)
|
Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan kewenangan daerah sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(4)
|
Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) termasuk pelayanan yang diberikan oleh BLUD.
| |||||||
|
(5)
|
Detail rincian objek atas pelayanan yang diberikan oleh BLUD sebagaimana dimaksud pada ayat (4), diatur dalam Peraturan Bupati sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(6)
|
Detail rincian objek retribusi yang diatur dalam Peraturan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilaksanakan dengan ketentuan:
| |||||||
|
|
a.
|
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
| ||||||
|
|
b.
|
tidak menghambat iklim investasi di daerah; dan
| ||||||
|
|
c.
|
tidak menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
| ||||||
|
(7)
|
Peraturan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara, Menteri yang membidangi urusan Pemerintahan Dalam Negeri dan DPRD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak Peraturan Bupati ditetapkan.
| |||||||
|
(8)
|
Dikecualikan dari objek Retribusi Jasa Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu pelayanan jasa umum yang dilakukan oleh Pemerintah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan pihak swasta.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 80 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan Jasa Umum.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi atas pelayanan Jasa Umum.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 81 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) huruf a, yaitu pelayanan kesehatan di puskesmas, puskesmas keliling, puskesmas pembantu, balai pengobatan, rumah sakit umum daerah, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya yang sejenis yang dimiliki dan/atau dikelola Pemerintah Daerah, kecuali pelayanan administrasi.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan kesehatan diukur berdasarkan jenis pelayanan, frekuensi pelayanan, dan/atau jangka waktu pelayanan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 82 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan Kebersihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) huruf b, yaitu pelayanan kebersihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
pengambilan/pengumpulan sampah dari sumbernya ke lokasi pembuangan sementara;
| ||||||
|
|
b.
|
pengangkutan sampah dari sumbernya dan/atau lokasi pembuangan sementara ke lokasi pembuangan akhir atau pengolahan atau pemusnahan akhir sampah;
| ||||||
|
|
c.
|
penyediaan lokasi pembuangan atau pemusnahan akhir sampah;
| ||||||
|
|
d.
|
penyediaan dan/atau penyedotan kasus; dan
| ||||||
|
|
e.
|
pengolahan limbah cair rumah tangga, perkantoran dan industri.
| ||||||
|
(2)
|
Dikecualikan dari Pelayanan Kebersihan adalah pelayanan jalan umum, taman, tempat ibadah, sosial dan tempat umum lainnya.
| |||||||
|
(3)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan kebersihan diukur berdasarkan jenis pelayanan, frekuensi pelayanan, volume dan/atau jenis sampah atau limbah kakus atau limbah cair.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 83 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan parkir di tepi jalan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) huruf c yaitu pelayanan parkir di tepi jalan umum yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan parkir di tepi jalan umum diukur berdasarkan jenis kendaraan, jenis atau kawasan lokasi parkir, frekuensi pelayanan dan/atau jangka waktu pemakaian tempat parkir.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 84 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan pasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) huruf d yaitu penyediaan fasilitas pasar tradisional/sederhana, berupa pelataran, los, dan kios yang dikelola Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan pasar diukur berdasarkan frekuensi pelayanan, jangka waktu pemakaian fasilitas pasar dan/atau jenis pemakaian fasilitas pasar.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 85 | ||||||||
|
(1)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa Umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut.
| |||||||
|
(2)
|
Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga, dan biaya modal.
| |||||||
|
(3)
|
Dalam hal penetapan tarif sepenuhnya memperhatikan biaya penyediaan jasa, penetapan tarif hanya untuk menutup sebagian biaya.
| |||||||
|
(4)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa Umum yang diberikan oleh BLUD ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai BLUD.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 86 | ||||||||
|
Besaran dan struktur tarif Retribusi Jasa Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Retribusi Jasa Usaha
Pasal 87 | ||||||||
|
(1)
|
Penyediaan/pelayanan barang dan/atau jasa yang merupakan objek Retribusi Jasa Usaha yang dipungut meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
penyediaan tempat pelelangan ikan, ternak, hasil bumi, dan hasil hutan termasuk fasilitas lainnya dalam lingkungan tempat pelelangan;
| ||||||
|
|
b.
|
penyediaan tempat khusus parkir di luar badan jalan;
| ||||||
|
|
c.
|
penyediaan tempat penginapan atau pesanggrahan atau villa;
| ||||||
|
|
d.
|
pelayanan jasa kepelabuhanan;
| ||||||
|
|
e.
|
pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga;
| ||||||
|
|
f.
|
penjualan hasil produksi usaha Pemerintah Daerah; dan
| ||||||
|
|
g.
|
pemanfaatan aset Daerah yang tidak mengganggu penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi perangkat daerah dan/atau optimalisasi aset Daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
(2)
|
Jenis penyediaan/pelayanan barang dan/atau jasa yang merupakan objek Retribusi Jasa Usaha yang tidak dipungut meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
penyediaan tempat kegiatan usaha berupa pasar grosir, pertokoan, dan tempat kegiatan usaha lainnya;
| ||||||
|
|
b.
|
pelayanan rumah pemotongan hewan temak; dan
| ||||||
|
|
c.
|
pelayanan penyeberangan orang atau barang dengan menggunakan kendaraan di air;
| ||||||
|
(3)
|
Penyediaan/pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah berdasarkan jasa atau pelayanan yang diberikan dan kewenangan daerah sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(4)
|
Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) termasuk pelayanan yang diberikan oleh BLUD.
| |||||||
|
(5)
|
Dalam hal terdapat penyesuaian detail rincian objek atas pelayanan yang diberikan oleh BLUD sebagaimana dimaksud pada ayat (4), penyesuaian detail rincian objek diatur dalam Peraturan Bupati sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(6)
|
Detail rincian obyek retribusi yang diatur dalam Peraturan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilaksanakan dengan ketentuan:
| |||||||
|
|
a.
|
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
| ||||||
|
|
b.
|
tidak menghambat iklim investasi di daerah; dan
| ||||||
|
|
c.
|
tidak menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
| ||||||
|
(7)
|
Peraturan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan, Menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan Dalam Negeri, dan DPRD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak Peraturan Bupati ditetapkan.
| |||||||
|
(8)
|
Dikecualikan dari objek Retribusi Jasa Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu pelayanan jasa yang dilakukan oleh Pemerintah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan pihak swasta.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 88 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan Jasa Usaha.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi atas pelayanan Jasa Usaha.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 89 | ||||||||
|
(1)
|
Penyediaan tempat pelelangan ikan, temak, hasil bumi, dan hasil hutan termasuk fasilitas lainnya dalam lingkungan tempat pelelangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf a adalah penyediaan tempat pelelangan yang secara khusus disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan pelelangan ikan, ternak, hasil bumi, dan hasil hutan termasuk jasa pelelangan serta fasilitas lainnya yang disediakan di tempat pelelangan.
| |||||||
|
(2)
|
Termasuk penyediaan tempat pelelangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tempat yang disewa oleh Pemerintah Daerah dari pihak lain untuk dijadikan sebagai tempat pelelangan.
| |||||||
|
(3)
|
Tingkat penggunaan jasa penyediaan tempat pelelangan ikan, temak, hasil bumi, dan hasil hutan diukur berdasarkan luas tempat pelelangan, frekuensi pelayanan, dan/atau jangka waktu pemakaian fasilitas tempat pelelangan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 90 | ||||||||
|
(1)
|
Penyediaan tempat khusus parkir di luar badan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf b adalah penyediaan tempat khusus parkir di luar badan jalan yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan penyediaan tempat khusus parkir diukur berdasarkan jenis kendaraan, frekuensi pelayanan, dan/atau jangka waktu pemakaian fasilitas tempat khusus parkir di luar badan jalan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 91 | ||||||||
|
(1)
|
Penyediaan tempat penginapan, pesanggrahan, atau vila sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf c adalah penyediaan tempat penginapan, pesanggrahan, atau vila yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan penyediaan tempat penginapan, pesanggrahan atau vila diukur berdasarkan jenis fasilitas, frekuensi pelayanan, dan/atau jangka waktu pemakaian fasilitas tempat penginapan, pesanggrahan atau vila.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 92 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf d adalah pelayanan kepelabuhanan pada pelabuhan disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan kepelabuhan diukur berdasarkan frekuensi pelayanan, jangka waktu pemakaian fasilitas kepelabuhan, jenis pelayanan, dan/atau volume penggunaan pelayanan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 93 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf e adalah pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan Tempat Rekreasi, Pariwisata, dan Olahraga diukur berdasarkan jenis fasilitas, frekuensi pelayanan, dan/atau jangka waktu pemakaian fasilitas tempat Rekreasi, Pariwisata, dan Olahraga.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 94 | ||||||||
|
(1)
|
Penjualan hasil produksi usaha Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf f adalah penjualan hasil usaha produksi Pemerintah Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan penjualan hasil produksi usaha Pemerintah Daerah diukur berdasarkan jenis dan jumlah produksi usaha daerah yang diserahkan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 95 | ||||||||
|
(1)
|
Pemanfaatan aset Daerah yang tidak mengganggu penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi perangkat daerah dan/atau optimalisasi aset Daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) huruf g termasuk pemanfaatan barang milik daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pengelolaan barang milik daerah untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum.
| |||||||
|
(2)
|
Bentuk pemanfaatan barang milik daerah dan tata cara penghitungan besaran tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditetapkan dengan Peraturan Bupati untuk pemanfaatan barang milik daerah berupa:
| |||||||
|
|
a.
|
sewa yang masa sewanya lebih dari 1 (satu) tahun
| ||||||
|
|
b.
|
kerjasama pemanfaatan;
| ||||||
|
|
c.
|
bangun guna serah atau bangun serah guna; atau
| ||||||
|
|
d.
|
kerjasama penyediaan infrastruktur.
| ||||||
|
(3)
|
Penetapan Peraturan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan untuk setiap pelaksanaan pemanfaatan barang milik daerah.
| |||||||
|
(4)
|
Bentuk pemanfaatan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan ketentuan:
| |||||||
|
|
a.
|
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
| ||||||
|
|
b.
|
tidak menghambat iklim investasi di daerah; dan
| ||||||
|
|
c.
|
tidak menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
| ||||||
|
(5)
|
Pelaksanaan pemanfaatan barang miliki daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengelolaan barang milik daerah.
| |||||||
|
(6)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan pemanfaatan aset Daerah diukur berdasarkan jenis pemanfaatan aset, jenis pelayanan, frekuensi pelayanan, dan/atau jangka waktu pemanfaatan aset Daerah.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 96 | ||||||||
|
(1)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Jasa Usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak.
| |||||||
|
(2)
|
Keuntungan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
| |||||||
|
(3)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa Usaha yang diberikan oleh BLUD ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai BLUD.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 97 | ||||||||
|
Besaran dan struktur tarif retribusi jasa usaha tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kelima
Retribusi Perizinan Tertentu
Pasal 98 | ||||||||
|
(1)
|
Jenis pelayanan pemberian izin yang merupakan objek Retribusi Perizinan Tertentu yang dipungut yaitu persetujuan bangunan gedung.
| |||||||
|
(2)
|
Jenis pelayanan pemberian izin yang merupakan objek Retribusi Perizinan Tertentu yang tidak dipungut yaitu penggunaan tenaga kerja asing.
| |||||||
|
(3)
|
Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan kewenangan daerah sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 99 | ||||||||
|
(1)
|
Subjek Retribusi Perizinan Tertentu adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pemberian Perizinan Tertentu.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Retribusi Perizinan Tertentu adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi atas pemberian Perizinan Tertentu.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 100 | ||||||||
|
(1)
|
Pelayanan PBG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1) meliputi penerbitan persetujuan bangunan gedung dan sertifikat laik fungsi oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(2)
|
Penerbitan PBG dan SLF sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pelayanan konsultasi pemenuhan standar teknis, penerbitan PBG, inspeksi Bangunan Gedung, penerbitan SLF dan SBKBG, serta pencetakan plakat SLF.
| |||||||
|
(3)
|
Penerbitan PBG dan SLF tersebut diberikan untuk permohonan persetujuan:
| |||||||
|
|
a.
|
Pembangunan baru;
| ||||||
|
|
b.
|
Bangunan Gedung yang sudah terbangun dan belum memiliki PBG dan/atau SLF;
| ||||||
|
|
c.
|
PBG perubahan untuk:
| ||||||
|
|
|
1.
|
perubahan fungsi Bangunan Gedung;
| |||||
|
|
|
2.
|
perubahan lapis Bangunan Gedung;
| |||||
|
|
|
3.
|
perubahan luas Bangunan Gedung;
| |||||
|
|
|
4.
|
perubahan tampak Bangunan Gedung;
| |||||
|
|
|
5.
|
perubahan spesifikasi dan dimensi komponen pada Bangunan Gedung yang mempengaruhi aspek keselamatan dan/atau kesehatan;
| |||||
|
|
|
6.
|
perkuatan Bangunan Gedung terhadap tingkat kerusakan sedang atau berat;
| |||||
|
|
|
7.
|
perlindungan dan/atau pengembangan Bangunan Gedung cagar budaya; atau
| |||||
|
|
|
8.
|
perbaikan Bangunan Gedung yang terletak di kawasan cagar budaya.
| |||||
|
|
d.
|
PBG perubahan tidak diperlukan untuk pekerjaan pemeliharaan dan pekerjaan perawatan.
| ||||||
|
(4)
|
Dikecualikan dari pelayanan pemberian izin persetujuan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak dikenakan pungutan Retribusi adalah khusus untuk bangunan milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan bangunan yang memiliki fungsi keagamaan/peribadatan.
| |||||||
|
(5)
|
Tingkat penggunaan jasa pelayanan PBG diukur berdasarkan formula yang mencerminkan biaya penyelenggaraan penyediaan pelayanan.
| |||||||
|
(6)
|
Formula yang mencerminkan biaya penyelenggaraan penyediaan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
| |||||||
|
|
a.
|
formula untuk Bangunan Gedung, meliputi:
| ||||||
|
|
|
1.
|
Luas Total Lantai;
| |||||
|
|
|
2.
|
Indeks Lokalitas;
| |||||
|
|
|
3.
|
Indeks Terintegrasi;
| |||||
|
|
|
4.
|
Indeks Bangunan Gedung Terbangun, dan
| |||||
|
|
b.
|
formula untuk Prasarana Bangunan Gedung, meliputi:
| ||||||
|
|
|
1.
|
Volume;
| |||||
|
|
|
2.
|
Indeks Prasarana Bangunan Gedung; dan
| |||||
|
|
|
3.
|
Indeks Bangunan Gedung Terbangun.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 101 | ||||||||
|
(1)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan.
| |||||||
|
(2)
|
Biaya penyelenggaraan pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penerbitan dokumen izin, pengawasan, penegakan hukum, penatausahaan, dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut.
| |||||||
|
(3)
|
Khusus untuk pelayanan persetujuan bangunan gedung, biaya penyelenggaraan pemberian izin mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai bangunan gedung.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
PEMUNGUTAN PAJAK DAN RETRIBUSI
Pasal 102 | ||||||||
|
(1)
|
Jenis Pajak yang dipungut berdasarkan penetapan Bupati terdiri atas:
| |||||||
|
|
a.
|
PBB-P2;
| ||||||
|
|
b.
|
Pajak Reklame;
| ||||||
|
|
c.
|
PAT;
| ||||||
|
|
d.
|
Opsen PKB; dan
| ||||||
|
|
e.
|
Opsen BBNKB.
| ||||||
|
(2)
|
Jenis Pajak yang dipungut berdasarkan perhitungan sendiri oleh Wajib Pajak terdiri atas:
| |||||||
|
|
a.
|
BPHTB;
| ||||||
|
|
b.
|
PBJTatas:
| ||||||
|
|
|
1.
|
Makanan dan/atau Minuman;
| |||||
|
|
|
2.
|
Tenaga Listrik;
| |||||
|
|
|
3.
|
Jasa Perhotelan;
| |||||
|
|
|
4.
|
Jasa Parkir; dan
| |||||
|
|
|
5.
|
Jasa Kesenian dan Hiburan
| |||||
|
|
c.
|
Pajak MBLB; dan
| ||||||
|
|
d.
|
Pajak Sarang Burung Walet.
| ||||||
|
(3)
|
Dokumen yang digunakan sebagai dasar pemungutan jenis Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain adalah surat ketetapan pajak daerah dan surat pemberitahuan pajak terutang.
| |||||||
|
(4)
|
Dokumen yang digunakan sebagai dasar pemungutan jenis Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) antara lain adalah surat pemberitahuan pajak daerah.
| |||||||
|
(5)
|
Dokumen surat pemberitahuan pajak daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib diisi dengan benar dan lengkap serta disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(6)
|
Besaran retribusi terutang ditetapkan dengan SKRRD atau dokumen lain yang dipersamakan, baik berbentuk dokumen tercetak maupun dokumen elektronik.
| |||||||
|
(7)
|
Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat berupa karcis, kupon, kartu langganan, surat perjanjian, dan surat pemberitahuan pembayaran dari aplikasi pelayanan atau perizinan elektronik.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 103 | ||||||||
|
(1)
|
Wajib pajak untuk jenis pajak yang dipungut berdasarkan penghitungan sendiri oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal 102 ayat (2) wajib mengisi SPTPD.
| |||||||
|
(2)
|
Pelaporan SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setiap masa pajak.
| |||||||
|
(3)
|
Wajib pajak yang tidak melaksanakan kewajiban pelaporan SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat dikenakan sanksi administratif berupa denda.
| |||||||
|
(4)
|
Sanksi administratif berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan STPD dalam satuan rupiah untuk setiap SPTPD.
| |||||||
|
(5)
|
Besaran sanksi administratif berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah).
| |||||||
|
(6)
|
Sanksi administratif berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan jika wajib pajak mengalami keadaan kahar (force majeure).
| |||||||
|
(7)
|
Kriteria keadaan kahar (force majeure) sebagaimana dimaksud pada ayat (6) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
bencana alam;
| ||||||
|
|
b.
|
kebakaran;
| ||||||
|
|
c.
|
kerusuhan massal atau huru-hara; dan/atau
| ||||||
|
|
d.
|
wabah penyakit.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 104 | ||||||||
|
(1)
|
Pemungutan Pajak dan Retribusi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan umum dan tata cara pemungutan Pajak dan Retribusi.
| |||||||
|
(2)
|
Ketentuan umum dan tata cara pemungutan Pajak dan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengaturan mengenai:
| |||||||
|
|
a.
|
Pendaftaran dan pendataan;
| ||||||
|
|
b.
|
penetapan besaran Pajak dan Retribusi terutang;
| ||||||
|
|
c.
|
pembayaran dan penyetoran;
| ||||||
|
|
d.
|
pelaporan;
| ||||||
|
|
e.
|
pengurangan, pembetulan, dan pembatalan ketetapan;
| ||||||
|
|
f.
|
pemeriksaan Pajak;
| ||||||
|
|
g.
|
penagihan Pajak dan Retribusi;
| ||||||
|
|
h.
|
keberatan;
| ||||||
|
|
i.
|
gugatan;
| ||||||
|
|
j.
|
penghapusan piutang Pajak dan Retribusi oleh Bupati; dan
| ||||||
|
|
k.
|
pengaturan lain yang berkaitan dengan tata cara pemungutan Pajak dan Retribusi.
| ||||||
|
(3)
|
Ketentuan mengenai tata cara pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Bupati.
| |||||||
|
(4)
|
Pembayaran atau penyetoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilakukan melalui sistem pembayaran berbasis elektronik.
| |||||||
|
(5)
|
Dalam hal sistem pembayaran berbasis elektronik belum tersedia, pembayaran atau penyetoran Pajak dapat dilakukan melalui pembayaran tunai.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
PEMBERIAN KERINGANAN, PENGURANGAN, DAN PEMBEBASAN
Pasal 105 | ||||||||
|
(1)
|
Bupati dapat memberikan keringanan, pengurangan, pembebasan, dan penundaan pembayaran atas pokok dan/atau sanksi Pajak dan Retribusi.
| |||||||
|
(2)
|
Pemberian keringanan, pengurangan, pembebasan, dan penundaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan kondisi Wajib Pajak atau Wajib Retribusi dan/atau objek. Pajak atau objek Retribusi.
| |||||||
|
(3)
|
Kondisi wajib pajak atau wajib retribusi yang dapat diberikan keringanan, pengurangan, pembebasan, dan penundaan pembayaran meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
wajib pajak dan retribusi tidak memiliki kemampuan secara ekonomis yang dibuktikan dengan laporan keuangan atau bukti lainnya yang dapat dipersamakan atau operasional kegiatan tidak mendatangkan laba berdasarkan laporan keuangan wajib pajak dan retribusi;
| ||||||
|
|
b.
|
wajib pajak dan retribusi tidak mempunyai harta kekayaan lagi;
| ||||||
|
|
c.
|
wajib pajak dan retribusi dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan dan setelah dilakukan penjualan harta, hasilnya tidak mencukupi untuk melunasi utang pajak dan retribusi; dan
| ||||||
|
|
d.
|
kekhilafan wajib pajak atau wajib retribusi yang bukan karena kesalahannya.
| ||||||
|
(4)
|
Kondisi objek pajak atau objek retribusi yang dapat diberikan keringanan, pengurangan, pembebasan, dan penundaan pembayaran meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
objek pajak dan retribusi terkena bencana alam seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, angin puting beliung, dan tanah longsor;
| ||||||
|
|
b.
|
objek pajak dan retribusi terkena bencana nonalam merupakan bencana nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah seperti virus pandemik yang menyerang manusia;
| ||||||
|
|
c.
|
sebab tertentu yang luar biasa lainnya, seperti kebakaran dan wabah; dan
| ||||||
|
|
d.
|
program Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
| ||||||
|
(5)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian keringanan, pengurangan, pembebasan, dan penundaan pembayaran diatur dalam Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 106 | ||||||||
|
(1)
|
Bupati dapat memberikan kemudahan perpajakan Daerah kepada Wajib Pajak, berupa:
| |||||||
|
|
a.
|
perpanjangan batas waktu pembayaran atau pelaporan Pajak; dan/atau
| ||||||
|
|
b.
|
pemberian fasilitas angsuran atau penundaan pembayaran Pajak terutang atau Utang Pajak.
| ||||||
|
(2)
|
Perpanjangan batas waktu pembayaran atau pelaporan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan kepada Wajib Pajak yang mengalami keadaan kahar sehingga Wajib Pajak tidak mampu memenuhi kewajiban Pajak pada waktunya.
| |||||||
|
(3)
|
Perpanjangan batas waktu pembayaran atau pelaporan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diberikan Bupati secara jabatan atau berdasarkan permohonan Wajib Pajak yang ditetapkan dalam Keputusan Bupati.
| |||||||
|
(4)
|
Pemberian fasilitas angsuran atau penundaan pembayaran Pajak terutang atau Utang Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan dalam hal Wajib Pajak mengalami kesulitan likuiditas atau keadaan kahar Wajib Pajak sehingga Wajib Pajak tidak mampu memenuhi kewajiban pelunasan Pajak pada waktunya.
| |||||||
|
(5)
|
Pemberian fasilitas angsuran atau penundaan pembayaran Pajak terutang atau Utang Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat diberikan Bupati berdasarkan permohonan Wajib Pajak yang ditetapkan dalam Keputusan Bupati.
| |||||||
|
(6)
|
Dalam pemberian fasilitas angsuran atau penundaan pembayaran Pajak terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Bupati memperhatikan kepatuhan Wajib Pajak dalam pembayaran Pajak selama 2 (dua) tahun, terakhir.
| |||||||
|
(7)
|
Keputusan Bupati atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (5), dapat berupa:
| |||||||
|
|
a.
|
menyetujui jumlah angsuran Pajak dan/atau masa angsuran atau lamanya penundaan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
b.
|
menyetujui sebagian jumlah angsuran Pajak dan/atau masa angsuran atau lamanya penundaan yang dimohonkan Wajib Pajak; atau
| ||||||
|
|
c.
|
menolak permohonan Wajib Pajak.
| ||||||
|
(8)
|
Persetujuan atau persetujuan sebagian angsuran atau penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a dan huruf b paling lama diberikan untuk jangka waktu 24 (dua puluh empat) bulan.
| |||||||
|
(9)
|
Pembayaran angsuran setiap masa angsuran dan pembayaran Pajak yang ditunda disertai bunga sebesar 0,6% (nol koma enam persen) per bulan dari jumlah Pajak yang masih harus dibayar, untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan serta bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
| |||||||
|
(10)
|
Keadaan kahar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
bencana alam;
| ||||||
|
|
b.
|
kebakaran;
| ||||||
|
|
c.
|
kerusuhan massal atau huru-hara; dan/atau
| ||||||
|
|
d.
|
wabah penyakit.
| ||||||
|
(11)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai administrasi dan tata cara pemberian kemudahan perpajakan Daerah diatur dengan Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VI
PEMBERIAN FASILITAS PAJAK DAN RETRIBUSI DALAM RANGKA MENDUKUNG KEMUDAHAN BERINVESTASI
Pasal 107 | ||||||||
|
(1)
|
Dalam mendukung kebijakan kemudahan berinvestasi, Bupati dapat memberikan insentif fiskal kepada pelaku usaha di daerahnya.
| |||||||
|
(2)
|
Insentif fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa pengurangan, keringanan, dan pembebasan, atau penghapusan pokok Pajak, pokok Retribusi, dan/atau sanksinya.
| |||||||
|
(3)
|
Insentif fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan atas permohonan Wajib Pajak dan Wajib Retribusi atau diberikan secara jabatan oleh Bupati berdasarkan pertimbangan meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
kemampuan membayar Wajib Pajak dan Wajib Retribusi;
| ||||||
|
|
b.
|
kondisi tertentu objek Pajak, seperti objek Pajak terkena bencana alam, kebakaran, dan/atau penyebab lainnya yang terjadi bukan karena adanya unsur kesengajaan yang dilakukan oleh Wajib Pajak dan/atau pihak lain yang bertujuan untuk menghindari pembayaran Pajak;
| ||||||
|
|
c.
|
untuk mendukung dan melindungi pelaku usaha mikro dan ultramikro;
| ||||||
|
|
d.
|
untuk mendukung kebijakan Pemerintah Daerah dalam mencapai program prioritas Daerah; dan/atau
| ||||||
|
|
e.
|
untuk mendukung kebijakan Pemerintah dalam mencapai program prioritas nasional.
| ||||||
|
(4)
|
Pemberian insentif fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberitahukan kepada DPRD dengan melampirkan pertimbangan Bupati, dalam memberikan insentif fiskal tersebut.
| |||||||
|
(5)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian insentif fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VII
KERAHASIAAN DATA WAJIB PAJAK
Pasal 108 | ||||||||
|
(1)
|
Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga terhadap tenaga ahli yang ditunjuk oleh Bupati untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan Daerah.
| |||||||
|
(3)
|
Yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah:
| |||||||
|
|
a.
|
Pejabat dan/atau tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau ahli dalam sidang pengadilan; dan
| ||||||
|
|
b.
|
Pejabat dan/atau tenaga ahli yang ditetapkan oleh Bupati untuk memberikan keterangan kepada pejabat lembaga negara atau instansi Pemerintah yang berwenang melakukan pemeriksaan dalam bidang Keuangan Daerah.
| ||||||
|
(4)
|
Untuk kepentingan Daerah, Bupati berwenang memberikan izin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2), agar memberikan keterangan, memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak kepada pihak yang ditunjuk.
| |||||||
|
(5)
|
Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara pidana atau perdata, atas permintaan hakim sesuai dengan hukum acara pidana dan hukum acara perdata, Bupati dapat memberikan izin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk memberikan dan memperlihatkan bukti tertulis dan keterangan Wajib Pajak yang ada padanya.
| |||||||
|
(6)
|
Permintaan hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus menyebutkan nama tersangka atau nama tergugat, keterangan yang diminta, serta kaitan antara perkara pidana atau perdata yang bersangkutan dengan keterangan yang diminta.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VIII
KETENTUAN PENYIDIKAN
Pasal 109 | ||||||||
|
(1)
|
Pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang mengenai Hukum Acara Pidana.
| |||||||
|
(2)
|
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(3)
|
Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
| |||||||
|
|
a.
|
menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
| ||||||
|
|
b.
|
meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan Daerah dan Retribusi;
| ||||||
|
|
c.
|
meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| ||||||
|
|
d.
|
memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| ||||||
|
|
e.
|
melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
| ||||||
|
|
f.
|
meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| ||||||
|
|
g.
|
menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa,
| ||||||
|
|
h.
|
memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| ||||||
|
|
i.
|
memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
| ||||||
|
|
j.
|
menghentikan penyidikan; dan/atau
| ||||||
|
|
k.
|
melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||
|
(4)
|
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang mengenai Hukum Acara Pidana.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IX
KETENTUAN PIDANA
Pasal 110 | ||||||||
|
Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (5) diancam dengan pidana kurungan dan pidana denda sesuai ketentuan Pasal 183 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 111 | ||||||||
|
(1)
|
Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat (5), sehingga merugikan Keuangan Daerah, diancam dengan pidana kurungan atau pidana denda sesuai ketentuan Pasal 181 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat (5), sehingga merugikan Keuangan Daerah, diancam dengan pidana kurungan atau pidana denda sesuai ketentuan Pasal 181 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 112 | ||||||||
|
Tindak pidana di bidang perpajakan Daerah tidak dapat dituntut apabila telah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat Pajak terutang atau masa Pajak berakhir atau bagian Tahun Pajak berakhir atau Tahun Pajak yang bersangkutan berakhir.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 113 | ||||||||
|
Pejabat atau tenaga ahli yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (1) dan ayat (2), diancam dengan pidana berdasarkan peraturan perundang-undangan.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 114 | ||||||||
|
Denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (3), Pasal 110, Pasal 11 1 dan Pasal 113 merupakan pendapatan negara.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB X
KETENTUAN LAIN-LAIN
Bagian Kesatu
Penerimaan Pajak yang Diarahkan Penggunaannya
Pasal 115 | ||||||||
|
(1)
|
Hasil penerimaan Opsen PKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf h dialokasikan paling sedikit 10% (sepuluh persen) untuk pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta peningkatan moda dan sarana transportasi umum.
| |||||||
|
(2)
|
Hasil penerimaan PBJT atas Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf b, dialokasikan paling sedikit 10% (sepuluh persen) untuk penyediaan penerangan jalan umum.
| |||||||
|
(3)
|
Kegiatan penyediaan penerangan jalan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur penerangan jalan umum serta pembayaran biaya atas konsumsi Tenaga Listrik untuk penerangan jalan umum.
| |||||||
|
(4)
|
Hasil penerimaan PAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e, dialokasikan paling sedikit 10% (sepuluh persen) untuk pencegahan, penanggulangan dan pemulihan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dalam Daerah yang berdampak terhadap kualitas dan kuantitas air tanah, meliputi namun tidak terbatas pada:
| |||||||
|
|
a.
|
penanaman pohon;
| ||||||
|
|
b.
|
pembuatan lubang atau sumur resapan;
| ||||||
|
|
c.
|
pelestarian hutan atau pepohonan; dan
| ||||||
|
|
d.
|
pengelolaan limbah.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Pemanfaatan Penerimaan Retribusi
Pasal 116 | ||||||||
|
(3)
|
Pemanfaatan dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan.
| |||||||
|
(4)
|
Penerimaan Retribusi yang dipungut dan dikelola oleh BLUD dapat langsung digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pelayanan BLUD sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(5)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanfaatan penerimaan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Insentif Pemungutan Pajak dan Retribusi
Pasal 117 | ||||||||
|
(1)
|
Perangkat daerah yang melaksanakan pemungutan Pajak dan Retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.
| |||||||
|
(2)
|
Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui APBD.
| |||||||
|
(3)
|
Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui APBD.
| |||||||
|
(4)
|
Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 118 | ||||||||
|
Ketentuan mengenai insentif pemungutan Pajak dan Retribusi sebagaimana diatur dalam Pasal 117, hanya dapat dilaksanakan sampai dengan diberlakukannya pengaturan mengenai penghasilan aparatur sipil negara yang telah mempertimbangkan kelas jabatan untuk tugas dan fungsi pemungutan Pajak dan Retribusi.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 119 | ||||||||
|
(1)
|
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Pajak yang masih terutang sebelum Peraturan daerah ini ditetapkan masih dapat ditagih sejak tanggal saat terutang.
| |||||||
|
(2)
|
Khusus ketentuan mengenai pajak MBLB, Opsen PKB dan Opsen BBNKB mulai berlaku pada tanggal 5 Januari 2025.
| |||||||
|
(3)
|
Ketentuan mengenai pelaksanaan pemanfaatan barang milik daerah yang telah dilaksanakan berdasarkan perjanjian masih tetap berlaku sampai berakhirnya masa perjanjian.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 120 | ||||||||
|
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan Pajak dan Retribusi, dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang belum diganti dan tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 121 | ||||||||
|
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku:
| ||||||||
|
a.
|
Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2009 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Mineral Bukan Logam dan Batuan;
| |||||||
|
b.
|
Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pajak Reklame;
| |||||||
|
c.
|
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Pajak Penerangan Jalan;
| |||||||
|
d.
|
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Terminal;
| |||||||
|
e.
|
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Retribusi Izin Trayek;
| |||||||
|
f.
|
Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2011 tentang BPHTB (Ba Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan);
| |||||||
|
g.
|
Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
| |||||||
|
h.
|
Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2011 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
| |||||||
|
i.
|
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pajak Hotel;
| |||||||
|
j.
|
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pajak Restoran;
| |||||||
|
k.
|
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pajak Air Tanah;
| |||||||
|
l.
|
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;
| |||||||
|
m.
|
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan;
| |||||||
|
n.
|
Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayan Kepelabuhanan;
| |||||||
|
o.
|
Peraturan Daerah Nomor 54 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum;
| |||||||
|
p.
|
Peraturan Daerah Nomor 53 Tahun 2013 tentang Pajak Bumi dan Bangun Perdesaan dan Perkotaan;
| |||||||
|
q.
|
Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2015 tentang Retribusi Izin Usaha Perikanan;
| |||||||
|
r.
|
Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2015 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;
| |||||||
|
s.
|
Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Retribusi Pelayanan Pasar;
| |||||||
|
t.
|
Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Mineral Bukan Logam dan Batuan;
| |||||||
|
u.
|
Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2015 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan;
| |||||||
|
v.
|
Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2011 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
| |||||||
|
w.
|
Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;
| |||||||
|
x.
|
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2018 tentang Retribusi Khusus Tempat Parkir;
| |||||||
|
y.
|
Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2020 tentang Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi;
| |||||||
|
z.
|
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 8 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhan; dan
| |||||||
|
aa.
|
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pajak Hiburan,
| |||||||
|
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 122 | ||||||||
|
Peraturan pelaksanaan atas Peraturan Daerah ini ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun sejak Peraturan Daerah ini mulai berlaku.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 123 | ||||||||
|
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada saat diundangkan.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Buton Utara.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Buranga
pada tanggal 4 Januari 2024
BUPATI BUTON UTARA,
dto.
MUHAMMAD RIDWAN ZAKARIAH
Diundangkan di Buranga
pada tanggal 4 Januari 2024
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA,
dto.
MUHAMMAD HARDY MUSLIM
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA TAHUN 2024 NOMOR I
| ||||||||
|
| ||||||||
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON UTARA
NOMOR 1 TAHUN 2024
TENTANG
PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
|
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
I.
|
UMUM
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dalam hal pengelolaan keuangan daerahnya masing-masing (desentralisasi fiskal), sesuai dengan kekayaan yang dimiliki setiap daerah. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di masing-masing daerah.
Pemberian kewenangan pengelolaan keuangan kepada daerah ini dengan dasar bahwa pemerintah daerah lebih mengetahui/memahami kondisi dan potensi masing-masing daerah. Dalam hal ini, pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengelola keuangan daerahnya secara mandiri yang diwujudkan dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar pemerintah daerah dapat memberikan pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerahnya.
Terbitnya Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertujuan untuk menciptakan alokasi sumber daya nasional yang efisien, transparan, akuntabel, dan berkeadilan serta guna mengwujudkan pemerataan pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehubungan dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dimana diamanatkan untuk membuat peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah dalam 1 (satu) peraturan daerah.
Pada dasarnya penetapan Peraturan Daerah ini bertujuan untuk melaksanakan amanat Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, upaya penyempurnaan dasar hukum pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, mengoptimalisasikan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah sebagai komponen Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memiliki kontribusi besar dan merupakan sumber pendanaan yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik yang berkeadilan serta mencabut peraturan-peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah tidak sesuai dengan Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ini diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna penyelenggaraan pembangunan, peningkatan layanan kepada masyarakat, dan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
II.
|
PASAL DEMI PASAL
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Yang dimaksud dengan "Bumi dan/atau Bangunan untuk jalur kereta api, moda raya terpadu (Mass Rapid Transit), lintas raya terpadu (Light Rail Transit), atau yang sejenis" adalah jalur rel yang digunakan sebagai infrastruktur perhubungan untuk moda berbasis rel dimaksud, tidak termasuk area lain pada stasiun seperti kantor, gedung parkir, lounge, fasilitas makan/minum, dan fasilitas hiburan di stasiun.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Nilai jual untuk bangunan sebelum diterapkan tarif pajak dikurangi terlebih dahulu dengan Nilai Jual Tidak Kena Pajak sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).
Contoh:
Wajib pajak A mempunyai objek pajak berupa:
Besarnya pokok pajak yang terutang adalah sebagai berikut:
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Yang dimaksud dengan “surat keputusan pemberian hak untuk pemberian hak baru di luar pelepasan hak” adalah surat keputusan pemberian hak baru yang menyebabkan terjadinya perubahan nama.
Huruf g
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Huruf a
Contoh Penjualan dan/atau penyerahan Makanan dan/atau Minuman:
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Yang dimaksud dengan "tempat tinggal pribadi yang difungsikan sebagai hotel" adalah rumah, apartemen, dan kondominium yang disediakan sebagai jasa akomodasi selayaknya akomodasi hotel, tetapi tidak termasuk bentuk persewaan (kontrak) jangka panjang (lebih dari satu bulan).
Huruf k
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Yang dimaksud dengan "permainan ketangkasan" adalah bentuk permainan yang berada di dalam kawasan arena dan/atau taman bermain yang dipungut bayaran, baik yang berada di dalam ruangan maupun di luar ruangan seperti permainan ding-dong, lempar bola ke dalam keranjang, paintball, dan sebagainya.
Huruf i
Yang dimaksud dengan "olahraga permainan" adalah bentuk persewaan ruang dan alat olahraga seperti tempat kebugaran (fitness center), lapangan futsal, lapangan tenis, kolam renang, dan sebagainya yang dikenakan bayaran atas penggunaannya.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pemanfaatan” adalah kegiatan penggunaan Air Tanah di sumbernya tanpa dilakukan pengambilan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.
Pasal 52
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Cukup jelas.
Pasal 55
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
Cukup jelas.
Pasal 58
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Cukup jelas.
Pasal 67
Cukup jelas.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Cukup jelas.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pasal 73
Cukup jelas.
Pasal 74
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Cukup jelas.
Pasal 77
Cukup jelas.
Pasal 78
Cukup jelas.
Pasal 79
Cukup jelas.
Pasal 80
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Cukup jelas.
Pasal 83
Yang dimaksud dengan “tepi jalan umum” adalah bagian tepi jalan di dalam ruang milik jalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 84
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pelataran” adalah lapangan atau tempat terbuka di pasar tradisional yang dipakai untuk memperdagangkan barang dan/atau jasa yang bersifat tidak permanen.
Yang dimaksud dengan “los” adalah tempat berjualan dalam bangunan tetap tanpa dibatasi dinding yang dipergunakan untuk memperdagangkan barang dan/atau jasa. Yang dimaksud dengan “kios” adalah bangunan di Pasar tradisional yang beratap dan berdinding yang dipergunakan untuk memperdagangkan barang dan/atau Jasa.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 85
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 86
Cukup jelas.
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
Pasal 89
Cukup jelas.
Pasal 90
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “tempat khusus parkir di luar badan jalan” adalah tempat khusus parkir di luar ruang milik jalan.
Contoh tempat khusus parkir di luar badan jalan yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah:
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 91
Cukup jelas.
Pasal 92
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 93
Cukup jelas.
Pasal 94
Cukup jelas.
Pasal 95
Cukup jelas.
Pasal 96
Cukup jelas.
Pasal 97
Cukup jelas.
Pasal 98
Cukup jelas.
Pasal 99
Cukup jelas.
Pasal 100
Cukup jelas.
Pasal 101
Cukup jelas.
Pasal 102
Cukup jelas.
Pasal 103
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.