Perda Kabupaten Boyolali Nomor: 8 Tahun 2018
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI
NOMOR 8 TAHUN 2018 TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI BOYOLALI,
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | |||||
|
a.
|
bahwa dengan telah ditetapkannya Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 52/PUU-IX/2011 tentang pengujian pasal 42 ayat (2) huruf g Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2015 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah serta penyesuaian tarif pajak daerah, dipandang perlu dilakukan penyesuaian atas Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah;
| ||||
|
b.
|
bahwa dalam perkembangan pelaksanaan selama beberapa tahun terakhir, beberapa materi muatan dari Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah sudah tidak mampu memenuhi perkembangan kebutuhan masyarakat akan adanya regulasi yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah;
| ||||
|
c.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah;
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||
|
1.
|
Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
| ||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Djawa Tengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 42);
| ||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
| ||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);
| ||||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987);
| ||||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
| ||||
|
7.
|
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4189);
| ||||
|
8.
|
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
| ||||
|
9.
|
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
| ||||
|
10.
|
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
| ||||
|
11.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| ||||
|
12.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
| ||||
|
13.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
| ||||
|
14.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5145);
| ||||
|
15.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
| ||||
|
16.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161);
| ||||
|
17.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5950);
| ||||
|
18.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2016 Nomor 16, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 183);
| ||||
|
19.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 22 Tahun 2016 tentang Tata cara Pembentukan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2016 Nomor 22, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 189);
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BOYOLALI
dan
BUPATI BOYOLALI
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||
Menetapkan | |||||
|
PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
Pasal I | |||||
|
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 118), diubah sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 6
| ||||
|
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada Hotel.
| |||
|
|
(2)
|
Jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel untuk Pajak hotel termasuk:
| |||
|
|
|
a.
|
Jumlah pembayaran setelah potongan harga; dan
| ||
|
|
|
b.
|
Jumlah pembayaran atas pembelian voucher menginap.
| ||
|
|
(3)
|
Jumlah yang seharusnya dibayar kepada hotel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan voucher atau bentuk lain yang diberikan secara cuma-cuma dengan dasar pengenaan Pajak sebesar harga berlaku.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Ketentuan Pasal 13 diubah, sehingga Pasal 13 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 13
| ||||
|
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima di restoran.
| |||
|
|
(2)
|
Jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima restoran untuk Pajak restoran termasuk:
| |||
|
|
|
a.
|
jumlah pembayaran setelah potongan harga; dan
| ||
|
|
|
b.
|
jumlah pembelian dengan menggunakan voucher makanan atau minuman.
| ||
|
|
(3)
|
Jumlah pembayaran yang seharusnya diterima restoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan harga jual makanan atau minuman dalam hal voucher atau bentuk lain yang diberikan secara cuma-cuma.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Ketentuan Pasal 14 diubah, sehingga Pasal 14 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 14
| ||||
|
|
Tarif Pajak Restoran ditetapkan berdasarkan hasil penjualan perbulan sebagai berikut:
| ||||
|
|
a.
|
Penjualan sampai dengan Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) sebesar 0% (nol perseratus); dan
| |||
|
|
b.
|
Penjualan lebih dari Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) sebesar 10% (sepuluh perseratus).
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Ketentuan Pasal 18 ayat (2) huruf g diubah, sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 18
| ||||
|
|
(1)
|
Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran.
| |||
|
|
(2)
|
Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||
|
|
|
a.
|
tontonan film;
| ||
|
|
|
b.
|
pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana;
| ||
|
|
|
c.
|
kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya;
| ||
|
|
|
d.
|
pameran;
| ||
|
|
|
e.
|
diskotik, karaoke, klab malam dan sejenisnya;
| ||
|
|
|
f.
|
sirkus, akrobat dan sulap;
| ||
|
|
|
g.
|
permainan biliar dan bowling;
| ||
|
|
|
h.
|
pacuan kuda, kendaraan bermotor dan permainan ketangkasan;
| ||
|
|
|
i.
|
panti pijat, refleksi, mandi uap/spa dan pusat kebugaran (fitness center); dan
| ||
|
|
|
j.
|
pertandingan olahraga.
| ||
|
|
(3)
|
Tidak termasuk objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah pagelaran kesenian rakyat/tradisional dalam rangka usaha pelestarian kesenian dan budaya tradisional Daerah.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Ketentuan Pasal 21 diubah, sehingga Pasal 21 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 21
| ||||
|
|
Tarif Pajak Hiburan ditetapkan sebagai berikut:
| ||||
|
|
a.
|
tontonan film sebesar 10% (sepuluh perseratus);
| |||
|
|
b.
|
pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana sebesar 20% (dua puluh perseratus);
| |||
|
|
c.
|
Kontes kecantikan, bina raga dan sejenisnya sebesar 10% (sepuluh perseratus);
| |||
|
|
d.
|
Pameran sebesar 10% (sepuluh perseratus);
| |||
|
|
e.
|
diskotik, karaoke, klab malam dan sejenisnya sebesar 30% (tiga puluh perseratus);
| |||
|
|
f.
|
sirkus, akrobat, dan sulap sebesar 10% (sepuluh perseratus);
| |||
|
|
g.
|
permainan biliar dan bowling sebesar 20% (dua puluh perseratus);
| |||
|
|
h.
|
pacuan kuda dan kendaraan bermotor sebesar 20% (dua puluh perseratus);
| |||
|
|
i.
|
permainan ketangkasan sebesar 15% (lima belas perseratus);
| |||
|
|
j.
|
panti pijat, refleksi, mandi uap/spa dan pusat kebugaran (fitness center) sebesar 25% (dua puluh lima perseratus); dan
| |||
|
|
k.
|
pertandingan olah raga sebesar 10% (sepuluh perseratus).
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Ketentuan Pasal 34 diubah, sehingga Pasal 34 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 34
| ||||
|
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilai Jual Tenaga Listrik.
| |||
|
|
(2)
|
Nilai jual tenaga listrik untuk pajak penerangan jalan ditetapkan:
| |||
|
|
|
a.
|
untuk tenaga listrik yang berasal dari sumber lain dengan pembayaran, nilai jual tenaga listrik:
| ||
|
|
|
|
1.
|
jumlah tagihan biaya beban/tetap ditambah dengan biaya pemakaian kWh/variabel yang ditagihkan dalam rekening listrik, untuk tenaga listrik yang dibayar setelah penggunaan; dan
| |
|
|
|
|
2.
|
jumlah pembelian tenaga listrik.
| |
|
|
|
b.
|
untuk tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, nilai jual tenaga listrik dihitung berdasarkan kapasitas tersedia, tingkat penggunaan listrik, jangka waktu pemakaian listrik, dan harga satuan listrik yang berlaku di wilayah Daerah yang bersangkutan.
| ||
|
|
(3)
|
Berdasarkan nilai jual tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, penyedia tenaga listrik melakukan penghitungan dan Pemungutan Pajak penerangan jalan atas penggunaan tenaga listrik.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Ketentuan Pasal 49 diubah, sehingga Pasal 49 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 49
| ||||
|
|
Tarif Pajak Parkir ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus).
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Ketentuan Pasal 55 ayat (4) diubah, sehingga Pasal 55 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 55
| ||||
|
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Air Tanah adalah Nilai Perolehan Air Tanah.
| |||
|
|
(2)
|
Nilai Perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dalam rupiah yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor berikut:
| |||
|
|
|
a.
|
jenis sumber air;
| ||
|
|
|
b.
|
lokasi sumber air;
| ||
|
|
|
c.
|
tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
| ||
|
|
|
d.
|
volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan;
| ||
|
|
|
e.
|
kualitas air; dan
| ||
|
|
|
f.
|
tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/atau pemanfaatan air.
| ||
|
|
(3)
|
Penggunaan faktor-faktor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan kondisi masing-masing Daerah.
| |||
|
|
(4)
|
Besarnya Nilai Perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati dengan tetap berpedoman pada Peraturan Gubernur mengenai nilai perolehan air tanah.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Ketentuan Pasal 56 diubah, sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 56
| ||||
|
|
Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan sebesar 20% (dua puluh perseratus).
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Ketentuan Pasal 74 diubah, sehingga Pasal 74 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 74
| ||||
|
|
(1)
|
Wajib Pajak membayar atau menyetor Pajak yang terutang dengan menggunakan SSPD.
| |||
|
|
(2)
|
Kepala Daerah menetapkan jangka waktu pembayaran atau penyetoran Pajak terutang untuk jenis Pajak yang dipungut berdasarkan penetapan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan ayat (3) paling lama:
| |||
|
|
|
a.
|
1 (satu) bulan sejak tanggal dikirimnya SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1); dan
| ||
|
|
|
b.
|
6 (enam) bulan sejak diterimanya SPPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3).
| ||
|
|
(3)
|
Kepala Daerah menetapkan jangka waktu pembayaran atau penyetoran Pajak terutang untuk jenis Pajak yang dibayar sendiri berdasarkan penghitungan oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dan ayat (4) paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya Pajak.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
11.
|
Ketentuan Pasal 87 diubah, sehingga Pasal 87 berbunyi sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 87
| ||||
|
|
(1)
|
Perangkat Daerah yang melaksanakan pemungutan pajak daerah diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.
| |||
|
|
(2)
|
Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
| |||
|
|
(3)
|
Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif diatur dengan Peraturan Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
12.
|
Pasal 96 dihapus.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Pasal II | |||||
|
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Boyolali.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Boyolali
pada tanggal 7 Agustus 2018
BUPATI BOYOLALI,
SENO SAMODRO
Diundangkan di Boyolali
pada tanggal 8 Agustus 2018
Pj. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BOYOLALI
Asisten Administrasi Umum,
SUGIYANTO
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2018 NOMOR
| |||||
|
| |||||
|
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI
NOMOR 8 TAHUN 2018
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH
| ||
|
|
|
|
|
I.
|
UMUM
| |
|
|
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Daerah mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk dapat menyelenggarakan pemerintahan dengan baik diperlukan sumber-sumber pembiayaan yang sah sesuai Peraturan Perundang-undangan. Selain retribusi, pajak merupakan salah satu sumber pendapatan bagi Daerah.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka semua Peraturan Daerah yang mengatur pajak daerah harus menyesuaikan dengan undang-undang tersebut. Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah ini akan menjadi pedoman dalam upaya penanganan dan pengelolaan pajak daerah guna meningkatkan penerimaan daerah. Pajak daerah mempunyai peranan penting untuk mendorong pembangunan daerah, meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Selain itu dengan Peraturan Daerah ini diharapkan ada peningkatan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
Dalam menyikapi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pemerintah Kabupaten Boyolali telah memberlakukan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Namun dalam perkembangannya, beberapa materi muatan dari Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah sudah tidak sesuai dengan perkembangan perekonomian masyarakat maupun perkembangan penerimaan pemerintah daerah. Materi muatan yang dimaksud berkenaan dengan besaran tarif dan insentif pemungutan pajak.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, perlu dibentuk Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.
| |
|
|
|
|
|
II.
|
PASAL DEMI PASAL
| |
|
|
Pasal I
Angka 1
Cukup Jelas.
Angka 2
Cukup Jelas.
Angka 3
Cukup Jelas.
Angka 4
Cukup Jelas.
Angka 5
Cukup Jelas.
Angka 6
Cukup Jelas.
Angka 7
Cukup Jelas.
Angka 8
Cukup Jelas.
Angka 9
Cukup Jelas.
Angka 10
Cukup Jelas.
Angka 11
Yang dimaksud dengan Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Bupati dan DPRD dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.
Yang dimaksud dengan pihak lain adalah pihak lain yang membantu dalam pemungutan Pajak Daerah.
Angka 12
Cukup Jelas.
Pasal II
Cukup Jelas.
| |
|
|
|
|
|
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR
| ||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.