Peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan Nomor: 33 Tahun 2018
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN GUBERNUR SUMATERA SELATAN
NOMOR 33 TAHUN 2018TENTANG
PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN, | ||
|
|
|
|
Menimbang | ||
|
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (10) Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah, perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2018;
| ||
|
|
|
|
Mengingat | ||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1814);
| |
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
| |
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| |
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
| |
|
5.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Indonesia Tahun 2016 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5950);
| |
|
6.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2018 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2018 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 144);
| |
|
7.
|
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 Nomor 1 Seri B) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017 Nomor 9);
| |
|
8.
|
Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Berita Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 Nomor 11) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Gubernur Nomor 31 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Berita Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 Nomor 31).
| |
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||
Menetapkan | ||
|
PERATURAN GUBERNUR TENTANG PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2018.
| ||
|
| ||
|
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 | ||
|
Dalam Peraturan Gubernur ini, yang dimaksud dengan:
| ||
|
1.
|
Provinsi adalah Provinsi Sumatera Selatan.
| |
|
2.
|
Gubernur adalah Gubernur Sumatera Selatan.
| |
|
3.
|
Kepala Badan adalah Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Selatan.
| |
|
4.
|
Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya, yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.
| |
|
5.
|
Kendaraan Bermotor Angkutan Umum adalah setiap kendaraan yang memiliki izin angkutan umum barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.
| |
|
6.
|
Pajak Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat PKB, adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.
| |
|
7.
|
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat BBN-KB, adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha.
| |
|
8.
|
Kendaraan Bermotor Ubah Bentuk adalah kendaraan bermotor yang mengalami perubahan teknis dan/atau serta penggunaannya.
| |
|
9.
|
Alat-Alat Berat dan Alat-Alat Besar adalah alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor serta tidak melekat secara permanen.
| |
|
10.
|
Nilai Jual Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat NJKB, adalah harga pasaran umum ata suatu kendaraan bermotor.
| |
|
11.
|
Nilai Jual Kendaraan Bermotor Ubah Bentuk, yang selanjutnya disingkat NJKBUB, adalah harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor yang mengalami perubahan teknis dan/atau penggunaannya.
| |
|
12.
|
Harga Pasaran Umum, yang selanjutnya disingkat HPU, adalah harga rata-rata yang diperoleh dari berbagai sumber data yang akurat.
| |
|
13.
|
Tahun Pembuatan adalah tahun perakitan dan/atau tahun yang ditetapkan berdasarkan registrasi dan identifikasi oleh pihak berwenang.
| |
|
14.
|
Umur Rangka/Body adalah umur kendaraan bermotor di air yang dihitung dari tahun pembuatan rangka/body.
| |
|
15.
|
Umur Motor adalah umur motor kendaraan bermotor di air yang dihitung dari tahun pembuatan.
| |
|
|
|
|
|
BAB II
PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PKB DAN BBN-KB Bagian satu Jenis Kendaraan Bermotor Pasal 2 | ||
|
Jenis kendaraan bermotor dikelompokan sebagai berikut:
| ||
|
a.
|
kendaraan bermotor selain yang dioperasikan di air, alat-alat berat dan alat-alat besar;
| |
|
b.
|
kendaraan bermotor yang dioperasikan di air;
| |
|
c.
|
kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.
| |
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Kendaraan Bermotor Selain yang Dioperasikan di Air, Alat-Alat Berat dan Alat-Alat Besar Pasal 3 | ||
|
Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, terdiri atas:
| ||
|
a.
|
mobil penumpang yang terdiri dari sedan, jeep dan minibus;
| |
|
b.
|
mobil bus yang terdiri dari microbus dan bus;
| |
|
c.
|
mobil barang yang terdiri dari mobil barang, pick up, light truck, truck dan mobil barang sejenisnya;
| |
|
d.
|
mobil roda tiga;
| |
|
e.
|
sepeda motor roda dua dan roda tiga.
| |
|
|
|
|
Pasal 4 | ||
|
(1)
|
Jenis kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, ditetapkan penghitungan dasar pengenaan PKB.
| |
|
(2)
|
Penghitungan dasar pengenaan PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berdasarkan perkalian dari 2 (dua) unsur pokok:
| |
|
|
a.
|
NJKB;
|
|
|
b.
|
bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor.
|
|
|
|
|
Pasal 5 | ||
|
(1)
|
NJKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a, ditetapkan berdasarkan HPU atas kendaraan bermotor pada minggu pertama bulan Desember Tahun 2017.
| |
|
(2)
|
NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan ketentuan:
| |
|
|
a.
|
dalam hal diperoleh harga kosong (off the road), NJKB ditetapkan sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai;
|
|
|
b.
|
dalam hal diperoleh harga isi (on the road), NJKB ditetapkan sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, PKB dan BBN-KB.
|
|
(3)
|
NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dijadikan dasar pengenaan BBN-KB.
| |
|
|
|
|
Pasal 6 | ||
|
NJKBUB sebagai dasar pengenaan PKB dan BBN-KB ditetapkan berdasarkan hasil penjumlahan NJKB dengan nilai jual ubah bentuk.
| ||
|
|
|
|
Pasal 7 | ||
|
(1)
|
Bobot sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b, dinyatakan dalam koefisien yang nilainya 1 (satu) sampai dengan 1,3 (satu koma tiga).
| |
|
(2)
|
Koefisien sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
| |
|
|
a.
|
mobil roda tiga, pedada motor roda dua dan sepeda motor roda tiga nilai koefisien sama dengan 1 (satu);
|
|
|
b.
|
sedan nilai koefisien sama dengan 1,025 (satu koma nol dua puluh lima);
|
|
|
c.
|
jeep dan minibus nilai koefisien sama dengan 1,050 (satu koma nol lima puluh);
|
|
|
d.
|
blind van, pick up dan microbus nilai koefisien sama dengan 1,085 (satu koma nol delapan puluh lima);
|
|
|
e.
|
bus nilai koefisien sama dengan 1,1 (satu koma satu);
|
|
|
f.
|
light truck dan truck nilai koefisien sama dengan 1,3 (satu koma tiga).
|
|
(3)
|
Penentuan Koefisien sebagaimana dimaksud pada ayat (2), didasarkan pada nilai batas toleransi atas kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan dalam penggunaan kendaraan bermotor.
| |
|
|
|
|
Pasal 8 | ||
|
(1)
|
Pengenaan PKB untuk kendaraan bermotor angkutan umum orang ditetapkan sebesar 30% (tiga puluh persen) dari dasar pengenaan PKB.
| |
|
(2)
|
Pengenaan BBN-KB untuk kendaraan bermotor angkutan umum orang ditetapkan sebesar 30% (tiga puluh persen) dari dasar pengenaan BBN-KB.
| |
|
(3)
|
Pengenaan PKB untuk kendaraan bermotor angkutan umum barang ditetapkan sebesar 50% (lima puluh persen) dari dasar pengenaan PKB.
| |
|
(4)
|
Pengenaan BBN-KB untuk kendaraan bermotor angkutan umum barang ditetapkan sebesar 50% (lima puluh persen) dari dasar pengenaan BBN-KB.
| |
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Kendaraan Bermotor yang Dioperasikan di Air Pasal 9 | ||
|
(1)
|
Penghitungan dasar pengenaan PKB dan BBN-KB untuk kendaraan bermotor yang dioperasikan di air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, ditetapkan berdasarkan penjumlahan nilai jual rangka/body dan nilai jual motor penggerak kendaraan bermotor di air.
| |
|
(2)
|
Nilai jual untuk kendaraan bermotor yang dioperasikan di air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan berdasarkan HPU atas suatu kendaraan bermotor yang dioperasikan di air pada minggu pertama bulan Desember Tahun 2017.
| |
|
(3)
|
Nilai jual rangka/body kendaraan bermotor yang dioperasikan di air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dibedakan menurut jenis, isi kotor, (GT/gross tonnage) antara GT 5 sampai dengan GT 7, fungsi, dan umur rangka/body.
| |
|
(4)
|
Nilai jual motor penggerak kendaraan bermotor yang dioperasikan di air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dibedakan menurut daya kuda/horse power dan umur motor.
| |
|
|
|
|
Pasal 10 | ||
|
(1)
|
Nilai jual rangka/body kendaraan bermotor yang dioperasikan di air, dibedakan berdasarkan jenis bahan konstruksi rangka/body, yaitu:
| |
|
|
a.
|
kayu;
|
|
|
b.
|
serat, fiber, karet, dan sejenisnya;
|
|
|
c.
|
besi, baja, ferrocement, dan sejenisnya.
|
|
(2)
|
Penggunaan kendaraan bermotor yang dioperasikan di air, dikelompokkan berdasarkan fungsi:
| |
|
|
a.
|
angkutan penumpang dan/atau barang;
|
|
|
b.
|
penangkap ikan;
|
|
|
c.
|
pengerukan;
|
|
|
d.
|
pesiar, olahraga, atau rekreasi.
|
|
|
|
|
Pasal 11 | ||
|
Nilai jual untuk kendaraan bermotor yang dioperasikan di air, dijadikan dasar pengenaan PKB dan BBN-KB untuk kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.
| ||
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Kendaraan Bermotor Alat-Alat Berat dan Alat-Alat Besar Pasal 12 | ||
|
(1)
|
Penghitungan dasar pengenaan PKB dan BBN-KB untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c, ditetapkan berdasarkan NJKB alat-alat berat dan alat-alat besar.
| |
|
(2)
|
NJKB alat-alat berat dan alat-alat besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan berdasarkan HPU atas suatu kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.
| |
|
|
|
|
Pasal 13 | ||
|
NJKB alat-alat berat dan alat-alat besar dijadikan dasar pengenaan PKB dan BBN-KB.
| ||
|
|
|
|
|
Bagian Kelima
Kendaraan yang Belum Tercantum dalam Lampiran Peraturan Gubernur Pasal 14 | ||
|
(1)
|
Penghitungan dasar pengenaan PKB dan BBN-KB untuk kendaraan bermotor tahun pembuatan 2018 yang jenis, merek, tipe, dan nilai jualnya belum tercantum dalam Lampiran Peraturan Gubernur ini dapat ditetapkan lebih lanjut oleh Gubernur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |
|
(2)
|
Gubernur dapat melimpahkan kewenangan penghitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Badan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |
|
|
|
|
Pasal 15 | ||
|
(1)
|
Dalam hal belum ditetapkannya NJKB sebagai dasar perhitungan pengenaan PKB dan BBN-KB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Gubernur dan/atau Kepala Badan atas nama Gubernur dapat menetapkan NJKB sebagai dasar perhitungan pengenaan PKB dan BBN-KB dengan mempedomani ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |
|
(2)
|
Dalam hal HPU suatu Kendaraan Bermotor tidak diketahui, NJKB dapat ditentukan berdasarkan sebagian atau seluruh faktor sebagai berikut:
| |
|
|
a.
|
harga kendaraan bermotor dengan isi silinder dan/atau satuan tenaga yang sama;
|
|
|
b.
|
harga kendaraan bermotor untuk umum dan pribadi;
|
|
|
c.
|
harga kendaraan bermotor dengan merek kendaraan bermotor yang sama;
|
|
|
d.
|
harga kendaraan bermotor dengan tahun pembuatan kendaraan bermotor yang sama;
|
|
|
e.
|
harga kendaraan bermotor dengan pembuat kendaraan bermotor;
|
|
|
f.
|
harga kendaraan bermotor dengan kendaraan bermotor sejenis;
|
|
|
g.
|
harga kendaraan bermotor berdasarkan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB).
|
|
(3)
|
Gubernur dan/atau Kepala Badan atas nama Gubernur dapat menetapkan dasar pengenaan PKB dan BBN-KB atas kereta gandeng atau tempel dan tambahan atau selisih NJKB ganti mesin yang belum tercantum dalam Lampiran Peraturan Gubernur ini sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |
|
|
|
|
|
Bagian Keenam
NJKB dan NJKBUB Pasal 16 | ||
|
NJKB dan NJKBUB tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.
| ||
|
|
|
|
|
BAB III
KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 17 | ||
|
(1)
|
Khusus untuk daerah yang ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas berdasarkan peraturan perundang-undangan, Gubernur dapat menetapkan NJKB sebagai dasar penghitungan pengenaan PKB dan BBN-KB.
| |
|
(2)
|
Penetapan NJKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku sampai dengan ditetapkannya penghitungan pengenaan PKB dan BBN-KB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |
|
|
|
|
Pasal 18 | ||
|
Dalam hal truck, light truck, bus dan microbus masih berbentuk chasiss, dasar pengenaan PKB dan BBN-KB ditambah dengan NJKBUB.
| ||
|
|
|
|
|
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP Pasal 19 | ||
|
Pada saat Peraturan Gubernur ini mulai berlaku, Peraturan Gubernur Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2017 (Berita Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017 Nomor 26) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Gubernur Nomor 52 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2017 (Berita Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017 Nomor 52), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
| ||
|
|
|
|
Pasal 20 | ||
|
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku setelah 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal diundangkan.
| ||
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Sumatera Selatan.
| ||
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Palembang
pada tanggal 27 Maret 2018 GUBERNUR SUMATERA SELATAN, dto. H. ALEX NOERDIN Diundangkan di Palembang pada tanggal 27 Maret 2018 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN, dto. H. NASRUN UMAR BERITA DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2018 NOMOR 33 | ||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.