Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-63/PJ.6/1991
Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE-63/PJ.6/1991 TENTANG
TAMBAHAN PENJELASAN PEMBUATAN URAIAN BANDING PBB
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
| ||||
|
|
| |||
|
Sehubungan dengan surat-surat yang dikirimkan oleh Majelis Pertimbangan Pajak, perihal penyampaian tanggapan/sanggahan wajib pajak pemohon banding, yang isinya merupakan bantahan terhadap uraian banding, di lain sisi uraian banding yang dibuat KP PBB seringkali kurang dapat menjelaskan/pandangan pihak fiskus terhadap adanya ketidakpuasan wajib pajak atas pengenaan PBB, untuk itu dianggap perlu memberikan tambahan penjelasan sebagai berikut:
| ||||
|
|
| |||
|
1.
|
Pembuatan konsep surat uraian banding agar dibuat sesuai dengan petunjuk sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak:
| |||
|
|
a.
|
Nomor SE-01/PJ.6/1987 tanggal 24 Januari 1987 perihal Tata Cara Penyelesaian Uraian Banding PBB;
| ||
|
|
b.
|
Nomor SE-56/PJ.7/1987 tanggal 9 Juli 1987 tentang pelaksanaan Banding PBB.
| ||
|
|
| |||
|
2.
|
Pembuatan konsep surat uraian banding, harus merupakan penjelasan/pandangan pihak fiskus terhadap adanya ketidakpuasan wajib pajak atas Keputusan KP PBB dalam Penyelesaian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan, sehingga tidak berakibat tidak dapat diterimanya di Majelis Pertimbangan Pajak.
| |||
|
|
| |||
|
3.
|
Untuk memberikan penjelasan/pandangan yang jelas, hendaknya Saudara dalam penyelesaian keberatan PBB melaksanakan penilaian kembali obyek PBB, secermat mungkin, yaitu antara lain:
| |||
|
|
3.1.
|
Peninjauan kembali pengenaan PBB didasarkan atas hasil pemeriksaan setempat/di lokasi obyek pajak dengan memperhatikan prinsip-prinsip penilaian.
| ||
|
|
3.2.
|
Dalam pembuatan Berita Acara Pemeriksaan, hendaknya membuat hal-hal sebagai berikut:
| ||
|
|
|
a.
|
Hasil pemeriksaan setempat (terhadap data obyek pajak yang bersangkutan) harus mencerminkan masalah keberatan yang diajukan Wajib Pajak.
| |
|
|
|
b.
|
Hasil pemeriksaan lapangan agar disebutkan juga tentang keadaan obyek pajak serta data pendukung yang menjadi dasar perhitungan PBB misalnya:
| |
|
|
|
|
-
|
harga tanah yang diperoleh dari transaksi secara wajar dan nilai likwidasi yang diperoleh dari instansi resmi;
|
|
|
|
|
-
|
uraian tentang lokasi tanah, pemanfaatan tanah dan penggunaan yang maksimal;
|
|
|
|
|
-
|
data tanah yang meliputi uraian akses ke jalan besar, prasarana/fasilitas, zoning/peruntukan, infrastruktur dan sebagainya;
|
|
|
|
|
-
|
penilaian terhadap bangunan, mendata komponen bangunan, mengenai tahun pembuatan, renovasi (bila ada), serta menentukan estimasi penyusutan yang disebabkan kemunduran fisik dan keusangan fungsi.
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Hal-hal yang utama dan perlu diperhatikan dalam membuat konsep uraian banding ialah:
| |||
|
|
4.1.
|
Penyelesaian Surat Keputusan Kepala KP PBB tentang Keberatan PBB dan tanggal diterimanya oleh wajib pajak.
| ||
|
|
4.2.
|
Batas waktu penerimaan surat permohonan banding bermeterai cukup dan tanggal diterimanya oleh Majelis Pertimbangan Pajak, sehingga permohonan banding dapat dipertimbangkan sesuai dengan Pasal 17 Undang-Undang No. 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
| ||
|
|
4.3.
|
a.
|
Penjelasan mengenai wajib pajak, apakah wajib pajak perseorangan atau badan, penyampaian SPPT kepada wajib pajak dan perhitungannya.
| |
|
|
|
b.
|
Penjelasan tentang penetapan kembali pengenaan PBB dan perhitungannya berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan.
| |
|
|
4.4.
|
Alasan alasan wajib pajak mengajukan permohonan banding ke Majelis Pertimbangan Pajak.
| ||
|
|
4.5.
|
Penjelasan/pandangan fiskus tentang kondisi obyek pajak sesuai kenyataan di lapangan, hendaknya diuraikan secara terperinci dengan memperhatikan alat-alat keterangan yang ada serta menyanggah terhadap alasan wajib pajak pemohon banding.
| ||
|
|
4.6.
|
Kesimpulan atas uraian tersebut di atas, serta usulan fiskus kepada Majelis Pertimbangan Pajak.
| ||
|
|
| |||
|
5.
|
Agar perkembangan penyelesaian Banding Pajak Bumi dan Bangunan dapat diikuti diminta agar Saudara membuat buku penjagaan sebagaimana contoh terlampir.
| |||
|
|
| |||
|
|
Dapat ditambahkan disini, mengingat uraian banding yang Saudara buat merupakan penjelasan fiskus, sebagai bantahan atas ketidakpuasan wajib pajak maka untuk meyakinkan yuridis fiskal, seyogyanya dilampiri juga peta/sketsa lokasi dan foto obyek pajak sebagai data pendukung.
| |||
|
| ||||
|
Demikian untuk menjadi perhatian Saudara.
| ||||
|
| ||||
|
19 Juli 1991
A.n. DIREKTUR JENDERAL PAJAK
DIREKTUR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ttd.
Drs. KARSONO SURJOWIBOWO
| ||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.