Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-41/PJ.41/2001
Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE-41/PJ.41/2001 TENTANG
PENERBITAN SURAT TAGIHAN PAJAK (STP) PAJAK PENGHASILAN PASAL 25
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
| ||
|
Dalam rangka mengamankan penerimaan Pajak Penghasilan melalui penerbitan Surat Tagihan Pajak Pajak Penghasilan Pasal 25 dalam tahun pajak berjalan, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
| ||
|
| ||
|
1.
|
Surat Tagihan Pajak atas Pajak Penghasilan Pasal 25 yang tidak atau kurang dibayar bagi Wajib Pajak:
| |
|
|
-
|
Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank;
|
|
|
-
|
Perusahaan Negara/Daerah;
|
|
|
-
|
Perusahaan PMA dan PMDN;
|
|
|
-
|
Wajib Pajak yang dikelola KPP Badora;
|
|
|
-
|
Wajib Pajak baru; dan
|
|
|
-
|
100 (seratus) Wajib Pajak Besar.
|
|
|
diterbitkan setiap saat setelah lewat jatuh tempo pembayaran/penyetoran sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-14/PJ.BT5/1985 tanggal 11 Februari 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran Surat Tagihan Pajak Pajak Penghasilan, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-28/PJ.41/1993 tanggal 3 Agustus 1993.
| |
|
|
| |
|
2.
|
Surat Tagihan Pajak atas Pajak Penghasilan Pasal 25 yang tidak atau kurang dibayar bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu, diterbitkan setiap saat setelah lewat jatuh tempo pembayaran/penyetoran.
| |
|
|
| |
|
3.
|
Penerbitan Surat Tagihan Pajak dilakukan meliputi bulan-bulan pada saat atau masa Pajak Penghasilan terutang yang tidak/kurang dibayar atau timbulnya sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga yang terutang.
| |
|
|
| |
|
4.
|
Besar angsuran setiap bulan dalam rangka penerbitan Surat Tagihan Pajak Pajak Penghasilan Pasal 25 bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu didasarkan pada:
| |
|
|
a.
|
Hasil pemeriksaan lapangan pada pelaksanaan ekstensifikasi Wajib Pajak sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.9/2001 tanggal 11 Juli 2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Wajib Pajak dan Intensifikasi Pajak; atau
|
|
|
b.
|
Peredaran bruto menurut Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai sepanjang Dasar Pengenaan Pajak Pajak Pertambahan Nilai meliputi satu outlet/gerai yang dimiliki Wajib Pajak terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak yang sama dengan Kantor Pelayanan Pajak dimana Pengusaha Kena Pajak terdaftar.
|
|
|
|
|
|
Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
| ||
|
| ||
|
13 November 1991
DIREKTUR JENDERAL
ttd
HADI POERNOMO
| ||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.