Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-14/PJ.41/1995
Berlaku
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE-14/PJ.41/1995 TENTANG
PENEGASAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENEBUSAN BAHAN BAKAR PREMIX (SERI PPh UMUM NOMOR 5)
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
| ||
|
Sehubungan dengan masih ada keragu-raguan pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-02/PJ.41/1995 tanggal 8 Februari 1995 tentang pembayaran PPh Pasal 25 atas penebusan bahan bakar Premix, maka dengan ini diberitahukan penegasan sebagai berikut:
| ||
|
1.
|
Sesuai dengan butir 4, SE-02/PJ.41/1995 bahwa formula untuk menghitung besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25/Pasal 22 yang disetor berkenaan dengan penebusan Premix ditentukan sebagai berikut:
| |
|
|
1.1.
|
SPBU Swastanisasi:
|
|
|
|
Premix: 0,3% dari penjualan atau Rp2.610,00/KL
|
|
|
1.2.
|
SPBU Pertamina:
|
|
|
|
Premix: 0,25% dari penjualan atau Rp2.175,00/KL
|
|
|
Penghitungan tersebut didasarkan atas harga jual dari PT. Elnusa sebesar Rp870,00 per liter.
| |
|
2.
|
Dengan mengantisipasi terhadap adanya perubahan dan perbedaan harga jual dari masing-masing anggota Perusahaan-perusahaan Penyedia Premix (P3 Premix) dan untuk memudahkan perhitungan, besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25/Pasal 22 yang harus disetor berkenaan dengan penebusan Premix ditetapkan menjadi:
| |
|
|
2.1.
|
SPBU Swastanisasi:
|
|
|
|
Premix: 0,3% dari harga penjualan
|
|
|
2.2.
|
SPBU Pertamina:
|
|
|
|
Premix: 0,25% dari harga penjualan
|
|
|
|
|
|
Demikian untuk diketahui dan agar Surat Edaran ini dapat Saudara sebarluaskan kepada SPBU, agen/dealer yang menyalurkan bahan bakar Premix di Wilayah kerja Saudara masing-masing.
| ||
|
| ||
|
7 Maret 1995
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
ttd FUAD BAWAZIER | ||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.