Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-04/PJ.3/1985
Sudah Tidak Berlaku karena Diganti/Dicabut
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR KEP-04/PJ.3/1985 TENTANG
BENTUK, ISI DAN TATA CARA PENGGUNAAN FAKTUR PAJAK SEDERHANA DIREKTUR JENDERAL PAJAK, | |||
|
|
|
|
|
Menimbang | |||
|
1.
|
Bahwa dalam rangka menjalankan kegiatan usahanya, terdapat Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan/penjualan Barang Kena Pajak secara eceran langsung kepada konsumen.
| ||
|
2.
|
Bahwa untuk tidak menghambat kegiatan Pengusaha Kena Pajak tersebut perlu ditetapkan bentuk, isi dan tata cara penggunaan Faktur Pajak tersendiri bagi konsumen dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
| ||
|
|
|
|
|
Mengingat | |||
|
Pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 432/KMK.04/1984 tanggal 11 Mei 1984 tentang Bentuk, Ukuran, Pengadaan dan Tata Cara Penyampaian Faktur Pajak
| |||
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||
Menetapkan | |||
|
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG BENTUK, ISI DAN TATA CARA PENGGUNAAN FAKTUR PAJAK SEDERHANA.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 1 | |||
|
(1)
|
Yang dimaksud dengan Faktur Pajak Sederhana dalam Keputusan ini adalah Faktur Pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang karena jenis produknya melakukan penjualan secara eceran dan langsung kepada konsumen.
| ||
|
(2)
|
Faktur Pajak Sederhana hanya dapat dipergunakan untuk penyerahan Barang Kena Pajak yang merupakan barang jadi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan tidak dipakai untuk menghasilkan Barang Kena Pajak.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 2 | |||
|
(1)
|
Bentuk dan ukuran Faktur Pajak Sederhana dapat disesuaikan dengan kebutuhan administrasi Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan.
| ||
|
(2)
|
Faktur Pajak Sederhana harus mempunyai Nomor Urut yang dicetak.
| ||
|
(3)
|
Faktur Pajak Sederhana sekurang-kurangnya harus mencantumkan:
| ||
|
|
a.
|
Nama dan Nomor Pokok Wajib Pajak dari Pengusaha Kena Pajak (Penjual);
| |
|
|
b.
|
Tanggal;
| |
|
|
c.
|
Nama Barang Kena Pajak;
| |
|
|
d.
|
Harga jual dan jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut atau harga jual termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut.
| |
|
(4)
|
Tanpa mengurangi ketentuan pada ayat (2) dan (3) segi hitung register dapat berlaku sebagai Faktur Pajak Sederhana.
| ||
|
(5)
|
Faktur Pajak Sederhana dapat dibuat menurut contoh formulir sebagaimana terlampir pada Keputusan ini.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 3 | |||
|
(1)
|
Faktur Pajak Sederhana harus dibuat pada saat penyerahan Barang Kena Pajak.
| ||
|
(2)
|
Faktur Pajak Sederhana harus dibuat dalam rangkap dua, lembar ke-1 untuk pembeli dan lembar ke-2 untuk pertinggal Pengusaha Kena Pajak.
| ||
|
(3)
|
Apabila diminta Faktur Pajak Sederhana harus diperlihatkan kepada Pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan pajak.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 4 | |||
|
Faktur Pajak Sederhana tidak dapat dipergunakan sebagai bukti untuk pengkreditan Pajak Masukan.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 5 | |||
|
(1)
|
Untuk dapat mempergunakan Faktur Pajak Sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Pengusaha Kena Pajak harus mengajukan permohonan tertulis kepada Kepala Inspeksi Pajak di tempat Pengusaha yang bersangkutan dikukuhkan.
| ||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan menggunakan contoh formulir sebagaimana terlampir pada Keputusan ini.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 6 | |||
|
(1)
|
Atas permohonan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Kepala Inspeksi Pajak memberikan keputusan yang memuat persetujuan atau penolakan secara tertulis.
| ||
|
(2)
|
Apabila Kepala Inspeksi Pajak tidak memberikan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam waktu paling lama 15 (lima belas) hari sejak diterimanya permohonan Pengusaha Kena Pajak, permohonan tersebut dianggap dikabulkan.
| ||
|
(3)
|
Sambil menunggu keputusan Kepala Inspeksi Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pengusaha Kena Pajak sudah dapat membuat Faktur Pajak Sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1.
| ||
|
(4)
|
Pengusaha Kena Pajak dilarang menggunakan Faktur Pajak Sederhana sejak diterimanya keputusan penolakan dari Kepala Inspeksi Pajak.
| ||
|
(5)
|
Atas keputusan penolakan tersebut Pengusaha Kena Pajak dapat mengajukan lagi permohonannya kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.
| ||
|
(6)
|
Atas pelanggaran terhadap larangan dimaksud dalam ayat (4) dikenakan sanksi sebagaimana ditentukan dalam Pasal 13 ayat (8) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 7 | |||
|
Keputusan ini mulai berlaku sejak saat berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984.
| |||
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Februari 1985 DIREKTUR JENDERAL PAJAK, ttd. Drs. SALAMUN A.T. | |||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.