Perda Kota Yogyakarta Nomor: 4 Tahun 2012
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA
NOMOR 4 TAHUN 2012TENTANG RETRIBUSI JASA USAHA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, | |||
|
|
|
|
|
Menimbang | |||
|
a.
|
bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka Pemerintah membutuhkan peran serta masyarakat dalam bentuk retribusi yang diatur dengan Peraturan Daerah;
| ||
|
b.
|
bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah maka jenis Retribusi Jasa Usaha yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah wajib disesuaikan dengan ketentuan dalam Undang-Undang dimaksud;
| ||
|
c.
|
bahwa jenis Retribusi Jasa Usaha sebagaimana dimaksud pada huruf a didasarkan pada potensi penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat, sehingga yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, Retribusi Terminal Penumpang, Retribusi Tempat Khusus Parkir dan Retribusi Rumah Potong Hewan dan Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah;
| ||
|
d.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b dan huruf c di atas, maka perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa Usaha;
| ||
|
|
|
|
|
Mengingat | |||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Dalam Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1955 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 859);
| ||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan yang Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
| ||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4444);
| ||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5015);
| ||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
| ||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| ||
|
7.
|
Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Yogyakarta Nomor 2 Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Yogyakarta (Lembaran Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Yogyakarta Tahun 1988 Nomor 12, Seri C);
| ||
|
8.
|
Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2008 Nomor 21,Seri D);
| ||
|
9.
|
Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 9 Tahun 2000 tentang Terminal Penumpang (Lembaran Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2000 Nomor 1 Seri C);
| ||
|
10.
|
Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 18 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran (Lembaran Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2009 Nomor 120);
| ||
|
11.
|
Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 21 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Pemotongan Hewan dan Penanganan Daging (Lembaran Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2009 Nomor 123);
| ||
|
|
|
|
|
|
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA YOGYAKARTA dan WALIKOTA YOGYAKARTA | |||
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||
Menetapkan | |||
|
PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA USAHA.
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 | |||
|
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
| |||
|
1.
|
Pemerintah adalah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
| ||
|
2.
|
Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
| ||
|
3.
|
Daerah adalah Daerah Kota Yogyakarta.
| ||
|
4.
|
Walikota adalah Walikota Yogyakarta.
| ||
|
5.
|
Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang retribusi daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
| ||
|
6.
|
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
| ||
|
7.
|
Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan.
| ||
|
8.
|
Jasa Usaha adalah jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.
| ||
|
9.
|
Kekayaan Daerah adalah kekayaan yang dimiliki, dikelola dan dikuasai oleh Pemerintah Daerah meliputi tanah, bangunan, gedung dan kendaraan atau alat-alat berat milik Pemerintah Daerah.
| ||
|
10.
|
Terminal Penumpang selanjutnya disebut terminal adalah pangkalan kendaraan bermotor umum yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan;
| ||
|
11.
|
Tempat Khusus Parkir adalah tempat parkir kendaraan beserta fasilitas penunjangnya yang dimiliki Pemerintah Daerah yang dapat dikelola oleh Pemerintah Daerah atau badan atau orang pribadi yang meliputi gedung parkir, taman parkir dan pelataran atau lingkungan parkir.
| ||
|
12.
|
Rumah Pemotongan Hewan Potong yang selanjutnya disingkat RPH adalah suatu bangunan atau kompleks bangunan dengan desain tertentu yang digunakan sebagai tempat memotong hewan selain unggas bagi konsumsi masyarakat luas
| ||
|
13.
|
Produksi Usaha Daerah adalah kegiatan Pemerintah Daerah dalam pembudidayaan dan penyediaan bibit dan benih serta hasil ikutan dan/atau sampingannya.
| ||
|
14.
|
Wajib Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi, diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu.
| ||
|
15.
|
Masa Retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
| ||
|
16.
|
Surat Setoran Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SSRD adalah bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas Daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Walikota.
| ||
|
17.
|
Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang.
| ||
|
18.
|
Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
| ||
|
19.
|
Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
| ||
|
20.
|
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan dan/atau bukti yang dilaksanakan secara obyektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksa untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan retribusi daerah.
| ||
|
21.
|
Penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB II
RUANG LINGKUP Pasal 2 | |||
|
Dalam Peraturan Daerah ini ruang lingkup yang diatur untuk pemungutan retribusi jasa usaha adalah:
| |||
|
a.
|
Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
| ||
|
b.
|
Retribusi Terminal;
| ||
|
c.
|
Retribusi Tempat Khusus Parkir;
| ||
|
d.
|
Retribusi Rumah Potong Hewan; dan
| ||
|
e.
|
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB III
RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH Bagian Kesatu Nama, Objek Dan Subyek Retribusi Pasal 3 | |||
|
Dengan nama Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dipungut retribusi atas pelayanan pemakaian kekayaan daerah.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 4 | |||
|
(1)
|
Objek Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 adalah pemakaian Kekayaan Daerah yang meliputi:
| ||
|
|
a.
|
mesin gilas (stoom walls);
| |
|
|
b.
|
mobil tangki air bersih;
| |
|
|
c.
|
mobil tangki tinja;
| |
|
|
d.
|
toilet mobile;
| |
|
|
e.
|
mobil angkut daging;
| |
|
|
f.
|
mobil angkut ikan;
| |
|
|
g.
|
mobil tangki air penyiraman;
| |
|
|
h.
|
mobil tangga pemadam kebakaran;
| |
|
|
i.
|
mobil pemadam kebakaran; dan
| |
|
|
j.
|
mesin pembuat pra cetak logam.
| |
|
(2)
|
Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut:
| ||
|
|
a.
|
penggunaan mobil tangga dan mobil pemadam kebakaran untuk pemadaman kebakaran;
| |
|
|
b.
|
penggunaan mesin pembuat pra cetak logam untuk keperluan penelitian (riset).
| |
|
(3)
|
Kriteria penelitian (riset) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 5 | |||
|
Subjek retribusi pemakaian kekayaan daerah adalah orang pribadi atau badan yang memakai kekayaan daerah.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Golongan Retribusi Pasal 6 | |||
|
Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Tata Cara Penghitungan Retribusi Pasal 7 | |||
|
(1)
|
Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi.
| ||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jenis kekayaan daerah, jenis fungsi dan intensitas penggunaan.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Tarif Retribusi Pasal 8 | |||
|
Tarif Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah sebagaimana tersebut dalam Lampiran I Peraturan Daerah ini.
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB IV
RETRIBUSI TERMINAL Bagian Kesatu Nama, Objek Dan Subyek Retribusi Pasal 9 | |||
|
Dengan nama Retribusi Terminal dipungut retribusi atas pelayanan terminal.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 10 | |||
|
(1)
|
Objek Retribusi Terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 adalah pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum serta fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| ||
|
(2)
|
Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah terminal yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD dan pihak swasta.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 11 | |||
|
Subjek Retribusi Terminal adalah orang pribadi atau badan yang memakai terminal
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Golongan Retribusi Pasal 12 | |||
|
Retribusi Terminal digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Tata Cara Penghitungan Retribusi Pasal 13 | |||
|
(1)
|
Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi.
| ||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jenis pelayanan, jenis objek, frekuensi dan jangka waktu pelayanan.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Tarif Retribusi Pasal 14 | |||
|
Tarif Retribusi Terminal sebagaimana tersebut dalam Lampiran II Peraturan Daerah ini.
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB V
RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR Bagian Kesatu Nama, Objek Dan Subyek Retribusi Pasal 15 | |||
|
Dengan nama Retribusi Tempat Khusus Parkir dipungut retribusi atas pelayanan tempat khusus parkir.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 16 | |||
|
(1)
|
Objek Retribusi Tempat Khusus Parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 adalah pelayanan tempat khusus parkir beserta fasilitas penunjang yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| ||
|
(2)
|
Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan tempat parkir beserta fasilitas penunjang yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD dan pihak swasta.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 17 | |||
|
Subjek Retribusi Tempat Khusus Parkir adalah orang pribadi atau badan yang memakai tempat khusus parkir
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Golongan Retribusi Pasal 18 | |||
|
Retribusi Tempat Khusus Parkir digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Tata Cara Penghitungan Retribusi Pasal 19 | |||
|
(1)
|
Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi.
| ||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada faktor-faktor kawasan, jenis objek, jenis pelayanan, frekuensi dan jangka waktu penggunaan tempat khusus parkir.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Tarif Retribusi Pasal 20 | |||
|
Tarif Retribusi Tempat Khusus Parkir sebagaimana tersebut dalam Lampiran III Peraturan Daerah ini
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB VI
RETRIBUSI RUMAH POTONG HEWAN Bagian Kesatu Nama, Objek Dan Subyek Retribusi Pasal 21 | |||
|
Dengan nama Retribusi Rumah Potong Hewan dipungut retribusi atas pelayanan rumah potong hewan.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 22 | |||
|
(1)
|
Objek Retribusi Rumah Potong Hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 adalah pelayanan penyediaan fasilitas rumah pemotongan hewan ternak termasuk pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong, yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
| ||
|
(2)
|
Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan penyediaan fasilitas rumah pemotongan hewan ternak yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh BUMN, BUMD dan pihak swasta.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 23 | |||
|
Subjek Retribusi Rumah Potong Hewan adalah oleh orang pribadi atau badan yang menggunakan Rumah Potong Hewan.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Golongan Retribusi Pasal 24 | |||
|
Retribusi Rumah Potong Hewan digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Tata Cara Penghitungan Retribusi Pasal 25 | |||
|
(1)
|
Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi.
| ||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jenis layanan dan jenis hewan.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Tarif Retribusi Pasal 26 | |||
|
Tarif Retribusi Rumah Potong Hewan sebagaimana tersebut dalam Lampiran IV Peraturan Daerah ini
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB VII
RETRIBUSI PENJUALAN PRODUKSI USAHA DAERAH Bagian Kesatu Nama, Objek Dan Subyek Retribusi Pasal 27 | |||
|
Dengan nama Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah dipungut retribusi atas penjualan hasil produksi usaha Pemerintah Daerah.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 28 | |||
|
(1)
|
Objek Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 adalah penjualan hasil Produksi Usaha Daerah yang meliputi:
| ||
|
|
a.
|
benih tanaman;
| |
|
|
b.
|
bibit ikan; dan
| |
|
|
c.
|
hasil kebun dan olahannya.
| |
|
(2)
|
Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penjualan produksi oleh pemerintah pusat, BUMN, BUMD dan pihak swasta
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 29 | |||
|
Subjek Retribusi penjualan Produksi Usaha Daerah adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Golongan Retribusi Pasal 30 | |||
|
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
| |||
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Tata Cara Penghitungan Retribusi Pasal 31 | |||
|
(1)
|
Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi.
| ||
|
(2)
|
Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jenis dan jumlah hasil usaha produksi pemerintah Daerah.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Keempat
Tarif Retribusi Pasal 32 | |||
|
Tarif Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah sebagaimana tersebut dalam Lampiran V Peraturan Daerah ini
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB VIII
PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN TARIF Pasal 33 | |||
|
(1)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Jasa Usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak.
| ||
|
(2)
|
Keuntungan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB IX
WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 34 | |||
|
Retribusi yang terutang dipungut di wilayah Daerah.
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB X
MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 35 | |||
|
Masa retribusi adalah jangka waktu selama satu kali pelayanan.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 36 | |||
|
Saat retribusi terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB XI
PEMUNGUTAN RETRIBUSI Bagian Kesatu Tata Cara Pemungutan Pasal 37 | |||
|
(1)
|
Besarnya retribusi terutang ditetapkan dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
| ||
|
(2)
|
Dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua per seratus) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih menggunakan STRD.
| ||
|
(3)
|
Penagihan Retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didahului dengan Surat Teguran.
| ||
|
(4)
|
Bentuk dan isi SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Tata Cara Pembayaran Pasal 38 | |||
|
(1)
|
Retribusi yang terutang harus dibayar lunas.
| ||
|
(2)
|
Setiap pembayaran retribusi diberikan tanda bukti pembayaran yang sah.
| ||
|
(3)
|
Ketentuan tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran, angsuran dan penundaan pembayaran retribusi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Keberatan Pasal 39 | |||
|
(1)
|
Wajib Retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
| ||
|
(2)
|
Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.
| ||
|
(3)
|
Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali jika Wajib Retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
| ||
|
(4)
|
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi dan pelaksanaan penagihan Retribusi.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 40 | |||
|
(1)
|
Walikota atau pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
| ||
|
(2)
|
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan yang diajukan harus diberi keputusan oleh Walikota atau pejabat yang ditunjuk.
| ||
|
(3)
|
Keputusan Walikota atau pejabat yang ditunjuk atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang terutang.
| ||
|
(4)
|
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Walikota atau pejabat yang ditunjuk tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.
| ||
|
|
|
|
|
Pasal 41 | |||
|
(1)
|
Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran Retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua per seratus) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas) bulan.
| ||
|
(2)
|
Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKRDLB.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 42 | |||
|
(1)
|
Atas kelebihan pembayaran Retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Walikota.
| ||
|
(2)
|
Walikota dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan keputusan.
| ||
|
(3)
|
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Walikota tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian pembayaran Retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
| ||
|
(4)
|
Apabila Wajib Retribusi mempunyai utang Retribusi lainnya, kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang Retribusi tersebut.
| ||
|
(5)
|
Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB.
| ||
|
(6)
|
Jika pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan, Walikota memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua per seratus) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran Retribusi.
| ||
|
(7)
|
Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XIII
PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 43 | |||
|
(1)
|
Walikota atau pejabat yang ditunjuk dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi.
| ||
|
(2)
|
Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diberikan dengan memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi.
| ||
|
(3)
|
Syarat-syarat dan tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XIV
TATA CARA PENAGIHAN Pasal 44 | |||
|
(1)
|
Retribusi yang tidak tepat pada waktunya atau kurang bayar ditagih dengan menggunakan STRD.
| ||
|
(2)
|
Penagihan retribusi yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada Retribusi Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, Retribusi Terminal, Retribusi Tempat Khusus Parkir, Retribusi Rumah Potong Hewan dan Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah didahului dengan surat teguran.
| ||
|
(3)
|
Pengeluaran surat teguran sebagai tindakan awal pelaksanaan penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setelah 1 (satu) hari kerja sejak tanggal jatuh tempo pembayaran.
| ||
|
(4)
|
Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran, wajib retribusi harus melunasi retribusi yang terutang.
| ||
|
(5)
|
Surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk.
| ||
|
(6)
|
Tata cara penagihan termasuk bentuk dan isi STRD serta penerbitan surat teguran diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XV
KEDALUWARSA PENAGIHAN Bagian Kesatu Kedaluwarsa Penagihan Pasal 45 | |||
|
(1)
|
Hak untuk melakukan penagihan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, kedaluwarsa setelah melampaui 3 (tiga) tahun sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.
| ||
|
(2)
|
Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tertangguh apabila:
| ||
|
|
a.
|
diterbitkan surat teguran; atau
| |
|
|
b.
|
ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi, baik langsung maupun tidak langsung.
| |
|
(3)
|
Dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya Surat Teguran tersebut.
| ||
|
(4)
|
Pengakuan utang Retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf b adalah wajib retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah.
| ||
|
(5)
|
Pengakuan utang retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh wajib retribusi.
| ||
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Penghapusan Piutang Pasal 46 | |||
|
(1)
|
Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.
| ||
|
(2)
|
Walikota menetapkan keputusan penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini.
| ||
|
(3)
|
Tata cara penghapusan piutang yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XVI
INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 47 | |||
|
(1)
|
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang melaksanakan pemungutan Retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.
| ||
|
(2)
|
Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
| ||
|
(3)
|
Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XVII
PENINJAUAN TARIF Pasal 48 | |||
|
(1)
|
Tarif Retribusi ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali.
| ||
|
(2)
|
Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian.
| ||
|
(3)
|
Penetapan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Walikota.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XVIII
SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 49 | |||
|
Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 14, Pasal 20, Pasal 26 dan Pasal 32 tepat pada waktunya atau kurang membayar dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua per seratus) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.
| |||
|
|
|
|
|
|
BAB XIX
PENYIDIKAN Pasal 50 | |||
|
(1)
|
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
| ||
|
(2)
|
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||
|
(3)
|
Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
| ||
|
|
a.
|
menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
| |
|
|
b.
|
meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan Daerah dan Retribusi;
| |
|
|
c.
|
meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| |
|
|
d.
|
memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| |
|
|
e.
|
melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
| |
|
|
f.
|
meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;
| |
|
|
g.
|
menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa;
| |
|
|
h.
|
memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan Daerah dan Retribusi;
| |
|
|
i.
|
memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
| |
|
|
j.
|
menghentikan penyidikan; dan/atau
| |
|
|
k.
|
melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |
|
(4)
|
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XX
KETENTUAN PIDANA Pasal 51 | |||
|
(1)
|
Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah Retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar.
| ||
|
(2)
|
Pengenaan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi kewajiban Wajib Retribusi untuk membayar retribusinya.
| ||
|
(3)
|
Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
| ||
|
|
|
|
|
|
BAB XXI
KETENTUAN PENUTUP Pasal 52 | |||
|
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka:
| |||
|
1.
|
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006 tentang Retribusi Terminal Penumpang;
| ||
|
2.
|
Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2009 tentang Retribusi Tempat Khusus Parkir; dan
| ||
|
3.
|
Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2009 tentang Retribusi Rumah Pemotongan Hewan.
| ||
|
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
| |||
|
|
|
|
|
Pasal 53 | |||
|
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Yogyakarta.
| |||
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Yogyakarta
pada tanggal 1 Maret 2012 WALIKOTA YOGYAKARTA, ttd. HARYADI SUYUTI Diundangkan di Yogyakarta pada tanggal 31 Maret 2012 Plt. SEKRETARIS DAERAH KOTA YOGYAKARTA, ttd. MUHAMMAD SARJONO LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2012 NOMOR 4 | |||
PENJELASANPERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA
NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI JASA USAHA | |
|
I.
|
UMUM
|
|
|
Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah, Daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat yang berupa Pajak Daerah atau Retribusi Daerah. Hasil penerimaan dari pungutan tersebut dipergunakan untuk pembangunan di Daerah, pengenaan pungutan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan pelayanan kepada masyarakat.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka Daerah hanya diperbolehkan memungut pungutan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang dimaksud, sehingga dalam hal ini Daerah tidak boleh menambah jenis pungutan selain yang diatur dalam Undang-Undang tersebut. Oleh karena itu Pemerintah Kota melakukan pengaturan berdasarkan klasifikasi jenis retribusinya, untuk Retribusi Jasa Usaha Pemerintah Kota melakukan pungutan terhadap potensi dan aset yang ada di Kota Yogyakarta. Meskipun dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah jenis Retribusi Jasa Usaha ada 11 (sebelas) jenis, akan tetapi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini hanya 5 (lima) jenis Retribusi Jasa Usaha.
|
|
|
|
|
II.
|
PASAL DEMI PASAL
|
|
|
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Intensitas penggunaan meliputi luas, frekuensi, jarak tempuh dan waktu pemakaian.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
ayat (1)
Cukup jelas.
ayat (2)
Cukup jelas.
ayat (3)
Yang dimaksud dengan di luar kekuasaannya adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan Wajib Retribusi.
Contoh: keadaan dimana telah terjadi bencana alam, kebakaran.
ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Ayat (1) dan ayat (2)
Peninjauan tarif retribusi yang diatur dengan Peraturan Walikota terlebih dahulu dikomunikasikan dengan DPRD melalui komisi terkait.
ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.
Pasal 52
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
|
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.