Perda Kabupaten Purbalingga Nomor: 17 Tahun 2018
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA
NOMOR 17 TAHUN 2018 TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PURBALINGGA,
| |||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | |||||||||||||||||||
|
a.
|
bahwa dengan ditetapkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 52/PUU-IX/2011 dalam perkara Pengujian Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan adanya perkembangan perekonomian di Kabupaten Purbalingga, sehingga beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah sudah tidak sesuai, maka perlu ditinjau kembali dan disesuaikan;
| ||||||||||||||||||
|
b.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, maka perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||||||||||||||||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Djawa Tengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 42);
| ||||||||||||||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
| ||||||||||||||||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);
| ||||||||||||||||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686) sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987);
| ||||||||||||||||||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3841);
| ||||||||||||||||||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4189);
| ||||||||||||||||||
|
7.
|
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
| ||||||||||||||||||
|
8.
|
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
| ||||||||||||||||||
|
9.
|
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
| ||||||||||||||||||
|
10.
|
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
| ||||||||||||||||||
|
11.
|
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 132);
| ||||||||||||||||||
|
12.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| ||||||||||||||||||
|
13.
|
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052);
| ||||||||||||||||||
|
14.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
| ||||||||||||||||||
|
15.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
| ||||||||||||||||||
|
16.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5145);
| ||||||||||||||||||
|
17.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);
| ||||||||||||||||||
|
18.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
| ||||||||||||||||||
|
19.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian Dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161);
| ||||||||||||||||||
|
20.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 22 Tahun 2003 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Purbalingga (Lembaran Daerah Tahun 2003 Nomor 22 Seri D Nomor 10);
| ||||||||||||||||||
|
21.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2011 Nomor 1);
| ||||||||||||||||||
|
22.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Purbalingga (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2016 Nomor 12).
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA
dan
BUPATI PURBALINGGA
| |||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||||||||||||||||
Menetapkan | |||||||||||||||||||
| PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH. | |||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal I | |||||||||||||||||||
|
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2011 Nomor 1), diubah sebagai berikut:
| |||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Ketentuan Pasal 1 angka 2, angka 5, angka 6 dan angka 18 diubah, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 1
| ||||||||||||||||||
|
|
1.
|
Daerah adalah Kabupaten Purbalingga.
| |||||||||||||||||
|
|
2.
|
Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
| |||||||||||||||||
|
|
3.
|
Bupati adalah Bupati Purbalingga.
| |||||||||||||||||
|
|
4.
|
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Purbalingga.
| |||||||||||||||||
|
|
5.
|
Badan adalah perangkat daerah yang sebagian tugas pokok dan fungsinya membidangi Pajak Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
6.
|
Kepala Badan adalah kepala perangkat daerah yang sebagian tugas pokok dan fungsinya membidangi Pajak Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
7.
|
Pejabat yang ditunjuk adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang perpajakan daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
8.
|
Kas Umum Daerah adalah bank yang ditunjuk oleh pemerintah Kabupaten Purbalingga untuk memegang kas umum daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
9.
|
Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
10.
|
Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
| |||||||||||||||||
|
|
11.
|
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
| |||||||||||||||||
|
|
12.
|
Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
| |||||||||||||||||
|
|
13.
|
Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).
| |||||||||||||||||
|
|
14.
|
Pajak Restoran adalah Pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.
| |||||||||||||||||
|
|
15.
|
Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering.
| |||||||||||||||||
|
|
16.
|
Pajak Hiburan adalah Pajak atas penyelenggaraan hiburan.
| |||||||||||||||||
|
|
17.
|
Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.
| |||||||||||||||||
|
|
18.
|
Penyelenggara hiburan adalah orang pribadi atau badan yang bertindak atas nama sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menyelenggarakan hiburan.
| |||||||||||||||||
|
|
19.
|
Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.
| |||||||||||||||||
|
|
20.
|
Reklame adalah benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum.
| |||||||||||||||||
|
|
21.
|
Penyelenggara reklame adalah orang atau badan yang menyelenggarakan reklame baik untuk atas nama sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain.
| |||||||||||||||||
|
|
22.
|
Panggung/lokasi reklame adalah suatu sarana atau tempat pemasangan reklame yang ditetapkan untuk satu atau beberapa reklame.
| |||||||||||||||||
|
|
23.
|
Nilai strategis lokasi reklame adalah ukuran nilai jual atau harga yang ditetapkan pada titik lokasi pemasangan reklame berdasarkan kriteria kepadatan, pemanfaatan tata ruang daerah untuk berbagai aspek kegiatan dibidang usaha.
| |||||||||||||||||
|
|
24.
|
Nilai Jual Objek Pajak Reklame yang selanjutnya disingkat NJOPR, adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh pemilik dan/atau penyelenggara reklame termasuk dalam hal ini adalah biaya/harga beli bahan reklame, kontruksi, instalasi listrik, pembayaran/ongkos perakitan, pemancaran, peragaan, penayangan, pengecatan pemasangan dan transportasi pengangkutan dan sebagainya sampai dengan bangunan reklame rampung, dipancarkan, diperagakan, ditayangkan dan/atau terpasang tempat yang telah di izinkan.
| |||||||||||||||||
|
|
25.
|
Nilai Sewa Reklame yang selanjutnya disingkat NSR, adalah nilai yang dihasilkan dari penjumlahan nilai strategis dan nilai jual objek pajak reklame ditetapkan sebagai dasar perhitungan penetapan besarnya pajak reklame.
| |||||||||||||||||
|
|
26.
|
Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain.
| |||||||||||||||||
|
|
27.
|
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan.
| |||||||||||||||||
|
|
28.
|
Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di bidang mineral dan batubara.
| |||||||||||||||||
|
|
29.
|
Pajak Parkir adalah Pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
| |||||||||||||||||
|
|
30.
|
Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara.
| |||||||||||||||||
|
|
31.
|
Tempat parkir adalah tempat parkir di luar badan jalan yang disediakan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran.
| |||||||||||||||||
|
|
32.
|
Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah.
| |||||||||||||||||
|
|
33.
|
Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
| |||||||||||||||||
|
|
34.
|
Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet.
| |||||||||||||||||
|
|
35.
|
Burung Walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta, dan collocalia linchi.
| |||||||||||||||||
|
|
36.
|
Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak.
| |||||||||||||||||
|
|
37.
|
Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai degan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
38.
|
Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Bupati, yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang.
| |||||||||||||||||
|
|
39.
|
Tahun Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun kalender, kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
| |||||||||||||||||
|
|
40.
|
Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
41.
|
Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya.
| |||||||||||||||||
|
|
42.
|
Surat Pemberitauan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
43.
|
Surat Pemberitahuan Objek Pajak, yang selanjutnya disingkat SPOP, adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan data subjek dan objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
44.
|
Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD, adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
| |||||||||||||||||
|
|
45.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang.
| |||||||||||||||||
|
|
46.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDKB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administratif, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.
| |||||||||||||||||
|
|
47.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya disingkat SKPDKBT, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
| |||||||||||||||||
|
|
48.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang selanjutnya disingkat SKPDN, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
| |||||||||||||||||
|
|
49.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
| |||||||||||||||||
|
|
50.
|
Surat Tagihan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat STPD, adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.
| |||||||||||||||||
|
|
51.
|
Pembayaran pajak adalah besarnya kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak sesuai dengan SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD ke kas umum daerah atau tempat lain yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.
| |||||||||||||||||
|
|
52.
|
Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang terdapat dalam SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDN, SKPDLB, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, atau Surat Keputusan Keberatan.
| |||||||||||||||||
|
|
53.
|
Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDN, SKPDLB, atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.
| |||||||||||||||||
|
|
54.
|
Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atau banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.
| |||||||||||||||||
|
|
55.
|
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.
| |||||||||||||||||
|
|
56.
|
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan professional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
57.
|
Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disingkat PPNS adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu dilingkungan pemerintah Kabupaten Purbalingga yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
58.
|
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Ketentuan Pasal 2 setelah ayat (2) ditambahkan satu ayat yaitu ayat (3), sehingga Pasal 2 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 2
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Dalam Peraturan Daerah ini diatur tentang Pajak Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Pajak Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
| |||||||||||||||||
|
|
|
a.
|
Pajak Hotel;
| ||||||||||||||||
|
|
|
b.
|
Pajak Restoran;
| ||||||||||||||||
|
|
|
c.
|
Pajak Hiburan;
| ||||||||||||||||
|
|
|
d.
|
Pajak Reklame;
| ||||||||||||||||
|
|
|
e.
|
Pajak Penerangan Jalan;
| ||||||||||||||||
|
|
|
f.
|
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
| ||||||||||||||||
|
|
|
g.
|
Pajak Parkir;
| ||||||||||||||||
|
|
|
h.
|
Pajak Air Tanah;
| ||||||||||||||||
|
|
|
i.
|
Pajak Sarang Burung Walet.
| ||||||||||||||||
|
|
(3)
|
Jenis Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat tidak dipungut apabila potensinya kurang memadai.
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Ketentuan Pasal 10 ayat (3) diubah, sehingga Pasal 10 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 10
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran.
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Pelayanan yang disediakan restoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain.
| |||||||||||||||||
|
|
(3)
|
Tidak termasuk dari objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran/rumah makan yang nilai penjualan atau penerimaan pembayaran setiap bulannya di bawah Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Ketentuan Pasal 16 ayat (2) huruf g, dan huruf j diubah, sehingga Pasal 16 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 16
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Objek Pajak Hiburan adalah penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran.
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||||||||||||
|
|
|
a.
|
tontonan film;
| ||||||||||||||||
|
|
|
b.
|
pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana;
| ||||||||||||||||
|
|
|
c.
|
kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya;
| ||||||||||||||||
|
|
|
d.
|
pameran;
| ||||||||||||||||
|
|
|
e.
|
diskotik, karaoke, klab malam, pub dan sejenisnya;
| ||||||||||||||||
|
|
|
f.
|
sirkus, akrobat, dan sulap;
| ||||||||||||||||
|
|
|
g.
|
permainan bilyar dan boling;
| ||||||||||||||||
|
|
|
h.
|
pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan;
| ||||||||||||||||
|
|
|
i.
|
panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, pusat kebugaran (fitnesscenter);
| ||||||||||||||||
|
|
|
j.
|
pertandingan olah raga.
| ||||||||||||||||
|
|
(3)
|
Dikecualikan dari objek Pajak Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penyelenggaraan hiburan yang tidak dipungut bayaran, seperti hiburan yang diselenggarakan dalam pernikahan, upacara adat, dan/atau kegiatan keagamaan.
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Ketentuan Pasal 19 ayat (2) huruf g, dan huruf j diubah sehingga Pasal 19 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 19
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Tarif Pajak Hiburan untuk pertunjukan dan keramaian umum yang menggunakan sarana film atau alat optik dan elektronik di gedung bioskop ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen), dan di tempat terbuka ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen).
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Besarnya tarif pajak untuk jenis hiburan selain pertunjukan film sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan sebagai berikut:
| |||||||||||||||||
|
|
|
a.
|
pagelaran kesenian rakyat/tradisional sebesar 10% (sepuluh persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
b.
|
pagelaran musik, tari dan/atau busana, dan sejenisnya sebesar 20% (dua puluh persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
c.
|
kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya sebesar 25% (dua puluh lima persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
d.
|
pameran sebesar 20% (dua puluh persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
e.
|
diskotik, karaoke, klab malam, pub, dan sejenisnya sebesar 30% (tiga puluh persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
f.
|
sirkus, akrobat, dan sulap sebesar 25% (dua puluh lima persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
g.
|
permainan bilyar dan boling sebesar 15 % (lima belas persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
h.
|
pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan sebesar 15% (lima belas persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
i.
|
panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitnesscenter) sebesar 35% (tiga puluh lima persen);
| ||||||||||||||||
|
|
|
j.
|
pertandingan olah raga sebesar 15% (lima belas persen).
| ||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Diantara Pasal 20 dan Pasal 21 disisipkan 1 (satu) pasal baru yaitu Pasal 20A yang berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Paragraf 3
Tanda Masuk Pasal 20A | ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Wajib Pajak Hiburan wajib memberikan tanda masuk kepada setiap penonton/pengunjung pada setiap pertunjukan.
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Tanda masuk sebagaimana dimaksud ayat (1) disahkan oleh Bupati dengan cara diperforasi.
| |||||||||||||||||
|
|
(3)
|
Tata cara pengajuan dan persyaratan perforasi tanda masuk ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Ketentuan Pasal 37 ayat (4) diubah, sehingga Pasal 37 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 37
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan.
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Nilai jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Mineral Bukan Logam dan Batuan.
| |||||||||||||||||
|
|
(3)
|
Nilai pasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah harga rata-rata yang berlaku di Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
(4)
|
Dalam hal nilai pasar dari hasil produksi Mineral Bukan Logam dan Batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sulit diperoleh, digunakan harga standar yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Ketentuan Pasal 49 ayat (4) diubah, sehingga Pasal 49 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 49
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Dasar pengenaan Pajak Air Tanah adalah Nilai Perolehan Air Tanah.
| |||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Nilai Perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dalam rupiah yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor berikut:
| |||||||||||||||||
|
|
|
a.
|
jenis sumber air;
| ||||||||||||||||
|
|
|
b.
|
lokasi sumber air;
| ||||||||||||||||
|
|
|
c.
|
tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
| ||||||||||||||||
|
|
|
d.
|
volume air tanah yang diambil dan/atau dimanfaatkan;
| ||||||||||||||||
|
|
|
e.
|
kualitas air; dan
| ||||||||||||||||
|
|
|
f.
|
tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/atau pemanfaatan air.
| ||||||||||||||||
|
|
(3)
|
Penggunaan faktor-faktor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan kondisi Daerah.
| |||||||||||||||||
|
|
(4)
|
Besarnya Nilai Perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan .
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Ketentuan Pasal 96 ditambahkan satu ayat baru yaitu ayat (2) sehingga Pasal 96 berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XVIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 96
| ||||||||||||||||||
|
|
(1)
|
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Pajak Daerah yang masih terutang berdasarkan:
| |||||||||||||||||
|
|
|
a.
|
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1998 tentang Pajak Penerangan Jalan (Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Purbalingga Nomor 8 Tahun 1998 Seri A Nomor 4) sebagaimana telah diubah dengan Nomor 10 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Purbalingga Nomor 4 Tahun 1998 tentang Pajak Penerangan Jalan (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 10 Tahun 2003 Seri A No.1);
| ||||||||||||||||
|
|
|
b.
|
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2007 Nomor 03);
| ||||||||||||||||
|
|
|
c.
|
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pajak Hiburan (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2007 Nomor 04);
| ||||||||||||||||
|
|
|
d.
|
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pajak Reklame (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2007 Nomor 05);
| ||||||||||||||||
|
|
|
e.
|
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pajak Hotel (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2007 Nomor 06);
| ||||||||||||||||
|
|
|
f.
|
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pajak Restoran (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2007 Nomor 07);
| ||||||||||||||||
|
|
|
g.
|
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pajak Parkir (Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2008 Nomor 05); sepanjang tidak diatur dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan masih dapat ditagih selama jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutang.
| ||||||||||||||||
|
|
(2)
|
Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, Pajak Daerah yang masih terutang berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah masih dapat ditagih selama jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutang.
| |||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Ketentuan Pasal 98 dihapus.
| ||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal II | |||||||||||||||||||
|
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Purbalingga.
| |||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Purbalingga
pada tanggal 7 Juni 2018 Plt. BUPATI PURBALINGGA WAKIL BUPATI, ttd. DYAH HAYUNING PRATIWI Diundangkan di Purbalingga pada tanggal 8 Juni 2018 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA, ttd. WAHYU KONTARDI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018 NOMOR 17 | |||||||||||||||||||
|
| |||||||||||||||||||
PENJELASANATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA
NOMOR 17 TAHUN 2018
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
I.
|
PENJELASAN UMUM
| ||||||||||
|
|
Dengan ditetapkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 52/PUU-IX/2011 dalam perkara Pengujian Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah maka beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah sudah tidak sesuai lagi, sehingga perlu ditinjau kembali. Kemudian berdasarkan pada perkembangan perekonomian di Kabupaten Purbalingga maka Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah perlu diadakan beberapa tambahan maupun penghapusan baik pasal maupun ayat, hal ini agar dalam pelaksanaannya tidak mengalami kendala maupun hambatan.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
II.
|
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
| ||||||||||
|
Pasal I
Cukup jelas.
Pasal II
Cukup jelas.
| |||||||||||
|
| |||||||||||
|
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 65
| |||||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.