Perda Kabupaten Kediri Nomor: 20 Tahun 2011
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI
NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG
RETRIBUSI PENJUALAN PRODUKSI USAHA DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI KEDIRI,
| |||||||||
Menimbang | |||||||||
|
a.
|
bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah maka Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 19 Tahun 2001 tentang Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Tahun 2001 Nomor 3/B Seri B) perlu diganti;
| ||||||||
|
b.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||||||
|
1.
|
Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
| ||||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah- daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2730);
| ||||||||
|
3.
|
Undang –Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
| ||||||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4894);
| ||||||||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| ||||||||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
| ||||||||
|
7.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
| ||||||||
|
8.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);
| ||||||||
|
9.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
| ||||||||
|
10.
|
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 417/Kpts/OT.210/7/2001 tentang Pedoman Umum Penyebaran dan Pengembangan Ternak;
| ||||||||
|
11.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
| ||||||||
|
12.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 2 Tahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri (Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Tahun 2000 Nomor 10/Seri D);
| ||||||||
|
13.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 7 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Kediri (Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Tahun 2008 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Nomor 41);
| ||||||||
|
14.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Peternakan dan Perikanan (Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Tahun 2008 Nomor 15, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Nomor 49);
| ||||||||
|
15.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 16 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pertanian (Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Nomor 50 ).
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KEDIRI
dan
BUPATI KEDIRI
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||||||
Menetapkan | |||||||||
|
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI TENTANG RETRIBUSI PENJUALAN PRODUKSI USAHA DAERAH.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 | |||||||||
|
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
| |||||||||
|
1.
|
Daerah adalah Kabupaten Kediri.
| ||||||||
|
2.
|
Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Kediri.
| ||||||||
|
3.
|
Kepala Daerah adalah Bupati Kediri.
| ||||||||
|
4.
|
Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi Persero Terbatas, Persero Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya.
| ||||||||
|
5.
|
Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial.
| ||||||||
|
6.
|
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pembayaran atas penjualan hasil produksi usaha Daerah.
| ||||||||
|
7.
|
Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data obyek dan subyek retribusi, penentuan besarnya retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan retribusi kepada Wajib Retribusi serta pengawasan penyetorannya.
| ||||||||
|
8.
|
Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Kepala Daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah.
| ||||||||
|
9.
|
Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang–Undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi.
| ||||||||
|
10.
|
Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
| ||||||||
|
11.
|
Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD, adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang.
| ||||||||
|
12.
|
Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD, adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.
| ||||||||
|
13.
|
Insentif Pemungutan Retribusi yang selanjutnya disebut Insentif adalah tambahan penghasilan yang diberikan sebagai penghargaan atas kinerja tertentu dalam melaksanakan pemungutan Retribusi.
| ||||||||
|
14.
|
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data dan /atau keterangannya, dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Retribusi Daerah.
| ||||||||
|
15.
|
Penyidikan Tindak Pidana di bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
NAMA OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI
Pasal 2 | |||||||||
|
Dengan nama Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah dipungut retribusi sebagai pembayaran atas Penjualan Hasil Produksi Usaha Daerah.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 3 | |||||||||
|
(1)
|
Obyek Retribusi Penjualan Hasil Produksi Usaha Daerah adalah penjualan hasil yang meliputi:
| ||||||||
|
|
a.
|
Benih Padi; dan
| |||||||
|
|
b.
|
Benih Ikan.
| |||||||
|
(2)
|
Tidak termasuk obyek retribusi adalah penjualan hasil produksi oleh Pemerintah, BUMN, BUMD dan pihak swasta.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 4 | |||||||||
|
Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hasil produksi usaha Daerah.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI
Pasal 5 | |||||||||
|
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA
Pasal 6 | |||||||||
|
Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan jumlah dan jenis produksi yang dijual.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF
Pasal 7 | |||||||||
|
(1)
|
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak.
| ||||||||
|
(2)
|
Keuntungan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 8 | |||||||||
|
(1)
|
Tarif Retribusi ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali.
| ||||||||
|
(2)
|
Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian.
| ||||||||
|
(3)
|
Penetapan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VI
STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI
Pasal 9 | |||||||||
|
Struktur dan besarnya tarif retribusi ditetapkan sebagai berikut:
| |||||||||
|
1.
|
Benih Padi:
| ||||||||
|
|
a)
|
Kelas Benih Dasar sebesar 10% dari biaya produksi;
| |||||||
|
|
b)
|
Kelas Benih Pokok sebesar 7,5% dari biaya produksi;
| |||||||
|
|
c)
|
Kelas Benih Sebar sebesar 5% dari biaya produksi.
| |||||||
|
2.
|
Benih Ikan Konsumsi sebesar 100% dari hasil produksi yang dijual.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 10 | |||||||||
|
(1)
|
Penjualan benih padi di UPTD yang membidangi dikelola oleh Dinas yang membidangi.
| ||||||||
|
(2)
|
Penjualan benih ikan konsumsi di UPTD yang membidangi dikelola oleh Dinas yang membidangi.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VII
WILAYAH PEMUNGUTAN
Pasal 11 | |||||||||
|
Retribusi yang terutang dipungut di wilayah daerah
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VIII
SAAT RETRIBUSI TERUTANG
Pasal 12 | |||||||||
|
(1)
|
Saat Retribusi Terutang adalah pada saat ditetapkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
| ||||||||
|
(2)
|
Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa karcis, kupon, kartu langganan dan dokumen lainnya.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IX
TATA CARA PEMUNGUTAN
Pasal 13 | |||||||||
|
(1)
|
Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.
| ||||||||
|
(2)
|
Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
| ||||||||
|
(3)
|
Tata cara pemungutan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB X
TATA CARA PEMBAYARAN
Pasal 14 | |||||||||
|
(1)
|
Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.
| ||||||||
|
(2)
|
Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XI
PENAGIHAN
Pasal 15 | |||||||||
|
(1)
|
Penagihan Retribusi terutang didahului dengan surat teguran.
| ||||||||
|
(2)
|
Penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan menggunakan STRD.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XII
KEBERATAN
Pasal 16 | |||||||||
|
(1)
|
Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
| ||||||||
|
(2)
|
Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.
| ||||||||
|
(3)
|
Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali jika Wajib Retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaanya.
| ||||||||
|
(4)
|
Keadaan di luar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan Wajib Retribusi.
| ||||||||
|
(5)
|
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi dan pelaksanaan penagihan Retribusi.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 17 | |||||||||
|
(1)
|
Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
| ||||||||
|
(2)
|
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan yang diajukan harus diberi keputusan oleh Kepala Daerah.
| ||||||||
|
(3)
|
Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang terutang.
| ||||||||
|
(4)
|
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 18 | |||||||||
|
(1)
|
Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran Retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas) bulan.
| ||||||||
|
(2)
|
Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKRDLB.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XIII
KEDALUWARSA PENAGIHAN
Pasal 19 | |||||||||
|
(1)
|
Hak untuk melakukan penagihan Retribusi menjadi kedaluwarsa setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya Retribusi, kecuali jika Wajib Retribusi melakukan tindak pidana di bidang Retribusi.
| ||||||||
|
(2)
|
Kedaluwarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh jika:
| ||||||||
|
|
a.
|
diterbitkan Surat Teguran; atau
| |||||||
|
|
b.
|
ada pengakuan Utang Retribusi dari Wajib Retribusi, baik langsung maupun tidak langsung.
| |||||||
|
(3)
|
Dalam hal diterbitkan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya Surat Teguran tersebut.
| ||||||||
|
(4)
|
Pengakuan utang Retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah.
| ||||||||
|
(5)
|
Pengakuan utang Retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Retribusi.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XIV
PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI YANG KADALUWARSA
Pasal 20 | |||||||||
|
(1)
|
Piutang Retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kadaluwarsa dapat dihapuskan.
| ||||||||
|
(2)
|
Kepala Daerah menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Retribusi yang sudah kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| ||||||||
|
(3)
|
Tata cara penghapusan piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XV
PEMERIKSAAN RETRIBUSI
Pasal 21 | |||||||||
|
(1)
|
Kepala Daerah berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan.
| ||||||||
|
(2)
|
Wajib Retribusi yang diperiksa wajib:
| ||||||||
|
|
a.
|
memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek Pajak atau objek Retribusi yang terutang;
| |||||||
|
|
b.
|
memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau
| |||||||
|
|
c.
|
memberikan keterangan yang diperlukan.
| |||||||
|
(3)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XVI
PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI
Pasal 22 | |||||||||
|
(1)
|
Kepala Daerah dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan Retribusi.
| ||||||||
|
(2)
|
Pemberian pengurangan dan keringanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan melihat kemampuan Wajib Retribusi.
| ||||||||
|
(3)
|
Pembebasan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan melihat fungsi obyek Retribusi.
| ||||||||
|
(4)
|
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengurangan, keringanan dan pembebasan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XVII
INSENTIF PEMUNGUTAN
Pasal 23 | |||||||||
|
(1)
|
Instansi yang melakukan pemungutan Retribusi dapat diberi intensif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.
| ||||||||
|
(2)
|
Pemberian intensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
| ||||||||
|
(3)
|
Tata cara pemberian dan pemanfaatan intensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XVIII
PENYIDIKAN
Pasal 24 | |||||||||
|
(1)
|
Pejabat Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
| ||||||||
|
(2)
|
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| ||||||||
|
(3)
|
Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
| ||||||||
|
|
a.
|
menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
| |||||||
|
|
b.
|
meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi;
| |||||||
|
|
c.
|
meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi;
| |||||||
|
|
d.
|
memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi;
| |||||||
|
|
e.
|
melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
| |||||||
|
|
f.
|
meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi;
| |||||||
|
|
g.
|
menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa;
| |||||||
|
|
h.
|
memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi;
| |||||||
|
|
i.
|
memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
| |||||||
|
|
j.
|
menghentikan penyidikan; dan/atau
| |||||||
|
|
k.
|
melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan Perundang-Undangan.
| |||||||
|
(4)
|
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XIX
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 25 | |||||||||
|
Dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XX
KETENTUAN PIDANA
Pasal 26 | |||||||||
|
(1)
|
Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah Retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar.
| ||||||||
|
(2)
|
Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
| ||||||||
|
(3)
|
Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XXI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 27 | |||||||||
|
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 19 Tahun 2001 tentang Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Kediri Tahun 2001 Nomor 3/B Seri B), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 28 | |||||||||
|
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 29 | |||||||||
|
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini, dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Kediri.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Kediri
pada tanggal 28 Desember 2011 BUPATI KEDIRI, ttd. HARYANTI SUTRISNO Diundangkan di Kediri pada tanggal 28 Desember 2011 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN KEDIRI ttd. SUPOYO LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI TAHUN 2011 NOMOR 20 | |||||||||
|
| |||||||||
PENJELASANATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI
NOMOR 20 TAHUN 2011
TENTANG
RETRIBUSI PENJUALAN PRODUKSI USAHA DAERAH
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
I.
|
UMUM
| ||||||||
|
|
Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna menunjang penyelenggaraan Otonomi Daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab perlu mengatur ketentuan-ketentuan tentang pemungutan Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
II.
|
PASAL DEMI PASAL
| ||||||||
|
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Yang dimaksud biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi benih padi.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Dokumen lainnya antara lain faktur penjualan dan kwitansi.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi dapat diberikan dalam hal terjadi force majeure dan fluktuasi harga yang sangat tajam.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
| |||||||||
|
| |||||||||
|
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI NOMOR 100
| |||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.