Peraturan Bupati Kabupaten Pati Nomor: 71 Tahun 2012
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN BUPATI PATI
NOMOR 71 TAHUN 2012 TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PATI,
| |||||||||||
Menimbang | |||||||||||
|
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52, Pasal 53 ayat (2), Pasal 55 ayat (3), Pasal 56 ayat (7) Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 12 Tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pedoman Pelaksanaan Retribusi Izin Gangguan.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||||||||
|
1.
|
Undang-Undang Gangguan (Hinder Ordonantie) Staatsblad 1926 Nomor 226 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Staatsblad 1940 Nomor 450;
| ||||||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Tengah;
| ||||||||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
| ||||||||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
| ||||||||||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);
| ||||||||||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
| ||||||||||
|
7.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
| ||||||||||
|
8.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3815) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3910);
| ||||||||||
|
9.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838);
| ||||||||||
|
10.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3747);
| ||||||||||
|
11.
|
Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan, Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan;
| ||||||||||
|
12.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Penetapan Izin Gangguan di Daerah;
| ||||||||||
|
13.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 3 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Pati (Lembaran Daerah Kabupaten Pati Tahun 2008 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Pati Nomor 22;
| ||||||||||
|
14.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pati Tahun 2010-2030 Pati (Lembaran Daerah Kabupaten Pati Tahun 2011 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Pati Nomor 56);
| ||||||||||
|
15.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 12 Tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu;
| ||||||||||
|
16.
|
Peraturan Bupati Nomor 18 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) – Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPL);
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||||||||
Menetapkan | |||||||||||
|
PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 | |||||||||||
|
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:
| |||||||||||
|
1.
|
Daerah adalah Kabupaten Pati.
| ||||||||||
|
2.
|
Bupati adalah Bupati Pati.
| ||||||||||
|
3.
|
Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Pati.
| ||||||||||
|
4.
|
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Satuan kerja Perangkat Daerah di Kabupaten Pati yang membidangi Perizinan.
| ||||||||||
|
5.
|
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat Kepala SKPD adalah Kepala Satuan kerja Perangkat Daerah di Kabupaten Pati yang membidangi Perizinan.
| ||||||||||
|
6.
|
Gangguan adalah segala perbuatan dan/atau kondisi yang tidak menyenangkan atau menganggu kesehatan, keselamatan, ketentraman dan/atau kesejahteraan terhadap kepentingan umum secara terus-menerus.
| ||||||||||
|
7.
|
Izin Gangguan yang selanjutnya disebut Izin adalah pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau badan di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian dan gangguan tidak termasuk tempat usaha/kegiatan yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.
| ||||||||||
|
8.
|
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
| ||||||||||
|
9.
|
Retribusi Daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan.
| ||||||||||
|
10.
|
Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu.
| ||||||||||
|
11.
|
Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
| ||||||||||
|
12.
|
Surat Setoran Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SSRD, adalah bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.
| ||||||||||
|
13.
|
Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD, adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang.
| ||||||||||
|
14.
|
Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKRDLB, adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
| ||||||||||
|
15.
|
Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD, adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
KRITERIA DAN KLASIFIKASI GANGGUAN
Pasal 2 | |||||||||||
|
(1)
|
Kriteria gangguan dalam penetapan izin terdiri dari:
| ||||||||||
|
|
a.
|
lingkungan;
| |||||||||
|
|
b.
|
sosial kemasyarakatan; dan
| |||||||||
|
|
c.
|
ekonomi.
| |||||||||
|
(2)
|
Gangguan terhadap lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
| ||||||||||
|
|
a.
|
gangguan terhadap fungsi tanah;
| |||||||||
|
|
b.
|
gangguan terhadap air tanah;
| |||||||||
|
|
c.
|
gangguan terhadap sungai;
| |||||||||
|
|
d.
|
gangguan terhadap laut;
| |||||||||
|
|
e.
|
gangguan terhadap udara; dan
| |||||||||
|
|
f.
|
gangguan yang bersumber dari getaran dan/atau kebisingan.
| |||||||||
|
(3)
|
Gangguan terhadap sosial kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi terjadinya ancaman kemerosotan moral dan/atau ketertiban umum.
| ||||||||||
|
(4)
|
Gangguan terhadap ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi ancaman terhadap:
| ||||||||||
|
|
a.
|
penurunan produksi usaha masyarakat sekitar; dan/atau
| |||||||||
|
|
b.
|
penurunan nilai ekonomi benda tetap dan benda bergerak yang berada di sekitar lokasi usaha.
| |||||||||
|
(5)
|
Klasifikasi Gangguan dalam penetapan izin gangguan meliputi:
| ||||||||||
|
|
a.
|
gangguan kecil;
| |||||||||
|
|
b.
|
gangguan sedang; dan
| |||||||||
|
|
c.
|
gangguan berat.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
OBYEK DAN SUBYEK IZIN
Pasal 3 | |||||||||||
|
(1)
|
Setiap orang pribadi atau badan yang mendirikan dan/atau memperluas tempat usaha/kegiatan/jenis usaha di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan ancaman bahaya, kerugian dan/atau gangguan terhadap lingkungan, sosial kemasyarakatan dan/atau ekonomi wajib memiliki Izin.
| ||||||||||
|
(2)
|
Kewajiban memiliki Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi:
| ||||||||||
|
|
a.
|
kegiatan yang berlokasi di dalam Kawasan Industri, Kawasan Berikat dan Kawasan Ekonomi Khusus;
| |||||||||
|
|
b.
|
kegiatan yang berada di dalam bangunan atau lingkungan yang telah memiliki Izin Gangguan;
| |||||||||
|
|
c.
|
usaha mikro dan kecil yang kegiatan usahanya di dalam bangunan atau persil yang dampak kegiatan usahanya tidak keluar dari bangunan atau persil; atau
| |||||||||
|
(3)
|
Obyek Izin adalah semua tempat usaha/kegiatan di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan ancaman bahaya, kerugian dan/atau gangguan terhadap lingkungan, sosial kemasyarakatan dan/atau ekonomi sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Daerah ini.
| ||||||||||
|
(4)
|
Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi tempat usaha sebagai berikut:
| ||||||||||
|
|
a.
|
bidang pertanian;
| |||||||||
|
|
b.
|
bidang peternakan;
| |||||||||
|
|
c.
|
bidang perikanan;
| |||||||||
|
|
d.
|
bidang kehutanan dan industri kayu;
| |||||||||
|
|
e.
|
bidang kesehatan;
| |||||||||
|
|
f.
|
bidang prasarana wilayah;
| |||||||||
|
|
g.
|
bidang pengairan;
| |||||||||
|
|
h.
|
bidang pariwisata;
| |||||||||
|
|
i.
|
bidang perindustrian/perdagangan;
| |||||||||
|
|
j.
|
bidang energi dan sumber daya mineral;
| |||||||||
|
|
k.
|
bidang perhubungan.
| |||||||||
|
(5)
|
Jenis usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berdasarkan klasifikasi gangguan kecil, gangguan sedang dan gangguan berat diatur sesuai ketentuan yang berlaku.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
PEMUNGUTAN RETRIBUSI
Bagian Kesatu
Tata Cara Pemungutan
Pasal 4 | |||||||||||
|
(1)
|
Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD.
| ||||||||||
|
(2)
|
Pemungutan Retribusi dilaksanakan oleh pegawai setempat yang ditugaskan oleh Pejabat yang ditunjuk.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Kedua
Tata Cara Angsuran Pembayaran Retribusi
Pasal 5 | |||||||||||
|
(1)
|
Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pembayaran Retribusi terutang secara angsuran.
| ||||||||||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Bupati oleh Wajib Retribusi secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan di sertai alasan yang jelas.
| ||||||||||
|
(3)
|
Permohonan angsuran harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak SKRD atau dokumen lain yang di persamakan diterima oleh Wajib Retribusi.
| ||||||||||
|
(4)
|
Bupati dapat mengabulkan atau menolak permohonan angsuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian Ketiga
Tata Cara Penundaan Pembayaran Retribusi
Pasal 6 | |||||||||||
|
(1)
|
Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan penundaan pembayaran Retribusi terutang.
| ||||||||||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Bupati secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas.
| ||||||||||
|
(3)
|
Penundaan pembayaran retribusi harus lunas sebelum batas waktu yang ditentukan berakhir.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
TATA CARA PEMBERIAN PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI
Pasal 7 | |||||||||||
|
(1)
|
Atas permohonan Wajib Retribusi, Bupati dapat membetulkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan Retribusi Daerah.
| ||||||||||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dalam dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas.
| ||||||||||
|
(3)
|
Terhadap permohonan Wajib Retribusi, Bupati dapat:
| ||||||||||
|
|
a.
|
mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga, denda dan kenaikan retribusi yang terutang menurut peraturan Perundang-Undangan retribusi daerah;
| |||||||||
|
|
b.
|
mengurangkan atau membatalkan Kuitansi atau dokumen lain yang dipersamakan karena tidak benar;
| |||||||||
|
|
c.
|
Mengurangkan ketetapan retribusi terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar Wajib Retribusi.
| |||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VI
TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN RETRIBUSI
Pasal 8 | |||||||||||
|
(1)
|
Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati.
| ||||||||||
|
(2)
|
Bupati dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan, sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.
| ||||||||||
|
(3)
|
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian pembayaran retribusi dianggap dikabulkan.
| ||||||||||
|
(4)
|
Apabila Wajib retribusi mempunyai utang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.
| ||||||||||
|
(5)
|
Apabila kelebihan pembayaran retribusi diperhitungkan dengan utang retribusi lainnya, sebagaimana dimaksud ayat (4), pembayarannya dilakukan dengan cara pemindah bukuan dan bukti pemindah bukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VII
TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI
Pasal 9 | |||||||||||
|
(1)
|
Hak untuk melakukan penagihan piutang retribusi menjadi kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi daerah.
| ||||||||||
|
(2)
|
Kedaluwarsa penagihan piutang retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila:
| ||||||||||
|
|
a.
|
diterbitkan Surat Teguran dan/atau Surat Paksa; atau
| |||||||||
|
|
b.
|
ada pengakuan utang retribusi dari Wajib retribusi, baik langsung maupun tidak langsung.
| |||||||||
|
(3)
|
Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihapuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
| ||||||||||
|
(4)
|
Bupati menerbitkan Keputusan Penghapusan Piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VIII
TATA CARA PEMERIKSAAN RETRIBUSI
Pasal 10 | |||||||||||
|
Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan Retribusi.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 11 | |||||||||||
|
Wajib Retribusi yang diperiksa wajib:
| |||||||||||
|
a.
|
memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek Retribusi yang terutang;
| ||||||||||
|
b.
|
memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IX
PENDELEGASIAN WEWENANG
Pasal 12 | |||||||||||
|
Bupati mendelegasikan kepada Kepala SKPD untuk menandatangani:
| |||||||||||
|
a.
|
keputusan penolakan atau persetujuan dalam hal:
| ||||||||||
|
|
1.
|
angsuran dan penundaan pembayaran retribusi;
| |||||||||
|
|
2.
|
pengurangan atau penghapusan sanksi Administratif retribusi;
| |||||||||
|
|
3.
|
pengurangan atau pembatalan ketetapan retribusi;
| |||||||||
|
|
4.
|
pengembalian kelebihan pembayaran retribusi.
| |||||||||
|
b.
|
pemberitahuan kepada Wajib retribusi atas persetujuan permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a setelah lewat 1 (satu) bulan kalender.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 13 | |||||||||||
|
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Pati.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Pati
pada tanggal 19 November 2012 BUPATI PATI, ttd. HARYANTO Diundangkan di Pati pada tanggal 19 November 2012 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PATI, ttd. DESMON HASTIONO BERITA DAERAH KABUPATEN PATI TAHUN 2012 NOMOR 598 | |||||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.