Keputusan Gubernur Provinsi Bali Nomor: 485 Tahun 1989
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI
NOMOR 485 TAHUN 1989 TENTANG
PENGESAHAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BULELENG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA KALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BULELENG NOMOR 10 TAHUN 1977 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL KENDARAAN UMUM DAN PENAMBANGAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI, | |||||
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | |||||
|
a.
|
bahwa surat pengantar Bupati Kepala Daerah Tingkat II Buleleng tanggal 11 Oktober 1989 Nomor 188.342/3892/Hk/1989 perihal mohon pengesahan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng;
| ||||
|
b.
|
bahwa tiada keberatan untuk mengesahkan Peraturan Daerah dimaksud dengan perubahan;
| ||||
|
c.
|
bahwa Pengesahan Peraturan Daerah dimaksud huruf b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||
|
1.
|
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 38; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3037);
| ||||
|
2.
|
Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649);
| ||||
|
3.
|
Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);
| ||||
|
4.
|
Undang-undang Nomor 12 Drt Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957 Nomor 57; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1288);
| ||||
|
5.
|
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1965 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Raya;
| ||||
|
6.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1983 tentang Bentuk Peraturan Daerah Perubahan;
| ||||
|
7.
|
Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Dalam Negeri Nomor KM.26/Hk.205/Phb-77 dan 271 Tahun 1977 tentang Terminal Retribusi Terminal angkutan penumpang;
| ||||
|
8.
|
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 272 Tahun 1977 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Dalam Negeri tentang Pungutan Retribusi Terminal;
| ||||
|
9.
|
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 974-551-059 tentang Terminal dan Retribusi Terminal Mobil Angkutan Penumpang Umum Non Bus (antar Kota dan Dalam Kota);
| ||||
|
10.
|
Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 1969 tentang Penertiban Pungutan Daerah.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||
Menetapkan | |||||
|
KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI TENTANG PENGESAHAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BULELENG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA KALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BULELENG NOMOR 10 TAHUN 1977 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL KENDARAAN UMUM DAN PENAMBANGAN.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 1 | |||||
|
Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng Nomor 7 Tahun 1989 tentang Perubahan Pertama Kali Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng Nomor 10 Tahun 1977 tentang Retribusi Terminal Kendaraan Umum dan Penambangan, disahkan dengan perubahan sebagai berikut:
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
|
Penamaan.
| ||||
|
|
a.1.
|
kata "PERATURAN DAERAH" dan kata "KABUPATEN ........ BULELENG" seharusnya ditulis sejajar ke samping dan dibaca sebagai berikut:
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
"PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BULELENG".
| |||
|
|
a.2.
|
pada kalimat "PERUBAHAN dan seterusnya" kata "KALI" antara kata "PERTAMA" dan kata "PERATURAN" dihapus.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
b.
|
Pembukaan.
| ||||
|
|
b.1.
|
konsiderans menimbang huruf a dan b diubah dan dibaca sebagai berikut:
| |||
|
|
|
a.
|
bahwa dengan semakin baiknya kondisi prasarana dan perekonomian sebagai akibat hasil pembangunan, serta untuk meningkatkan pembangunan secara terus menerus agar dapat berdaya guna dan berhasil guna diperlukan dana yang memadai;
| ||
|
|
|
b.
|
bahwa Terminal sebagai penunjang kelancaran angkutan orang dan/atau barang serta memperhatikan kemampuan perekonomian para pemakai jasa terminal dipandang perlu untuk meninjau kembali Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng Nomor 10 Tahun 1977 khususnya mengenai ketentuan tarifnya;
| ||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b.2.
|
konsiderans mengingat.
| |||
|
|
b.2.1.
|
antara angka 9 dan angka 10 disisipkan angka 10 baru dan dibaca sebagai berikut:
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 1969 tentang penertiban Pungutan Daerah.
| ||
|
|
|
|
|
|
|
|
b.2.2.
|
angka 10 lama diubah menjadi angka 11 beserta kalimat berikutnya;
| ||||
|
b.2.3.
|
setelah angka 11 diubah angka 12 dan dibaca sebagai berikut:
| ||||
|
|
|
12.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng Nomor 4 Tahun 1987 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil pada Pemerintah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.
| ||
|
|
|
|
|
|
|
|
c.
|
Batang Tubuh.
| ||||
|
|
c.1.
|
Pasal I huruf A, pasal 2 ayat (4) diubah dan dibaca sebagai berikut:
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(4)
|
Setiap kendaraan barang umum maupun bukan umum yang melakukan bongkar muat barang di terminal dikenakan Retribusi sebesar Rp1.300,- (seribu tiga ratus rupiah).
| ||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c.2.
|
Pasal I huruf B, Pasal 7 ayat (1) pada kalimat "Barang siapa ........... dan seterusnya" kata "6 (enam)" antara kata" selama-lamanya" dan kata "bulan" diubah dan dibaca "3 (tiga)".
| |||
|
|
c.3.
|
Pasal I huruf C, Pasal 7 A, pada awal kalimat "Selain . . . . . . . . . dan seterusnya" ditambah "(1)" serta setelah "ayat (1)" ditambah "ayat (2) baru" dan dibaca sebagai berikut:
| |||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(2)
|
Dalam melaksanakan tugas penyidikan, para penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1) berwenang:
| ||
|
|
|
|
a.
|
menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;
| |
|
|
|
|
b.
|
melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan;
| |
|
|
|
|
c.
|
menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
| |
|
|
|
|
d.
|
melakukan penyitaan benda dan/atau surat;
| |
|
|
|
|
e.
|
mengambil sidik jari dan memotret tersangka;
| |
|
|
|
|
f.
|
memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
| |
|
|
|
|
g.
|
mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
| |
|
|
|
|
h.
|
mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik memberitahukan hal tersebut pada penuntut umum, tersangka atau keluarganya;
| |
|
|
|
|
i.
|
mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
| |
Pasal 2 | |||||
|
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
| |||||
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Denpasar
Pada tanggal 30 Desember 1989 GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI, ttd. OKA Diundangkan dalam Lembaran Daerah
Propinsi Daerah Tingkat I Bali
tanggal 1 Maret 1990
Sekretaris Wilayah/Daerah,
ttd.
Drs. SEMBAH SUBHAKTI
| |||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.