Putusan Pengadilan Pajak
Cari Putusan Pengadilan
Bea & Cukai
11 Desember 2019 | View: 22
RISALAH
Putusan Pengadilan Pajak Nomor: PUT-113623.40/2017/PP/M.XVIIA Tahun 2019
 
JENIS PAJAK
Bea Keluar
 
TAHUN PAJAK
2017
 
POKOK SENGKETA
bahwa dalam pemeriksaan, terbukti yang menjadi pokok sengketa dalam sengketa banding ini adalah penetapan kembali Jumlah Bea Keluar yang harus dibayar karena berdasarkan Nota Hasil Penelitian Ulang Nomor NHPU-005/WBC.12/BD.02/2017 tanggal 07 April 2017 terhadap Konsentrat Tembaga yang diekspor dan diberitahukan dengan PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016, terdapat perbedaan kadar tembaga dengan ROA dan COA yang mengakibatkan HPE menjadi lebih tinggi dari yang diberitahukan sehingga Pemohon Banding diharuskan membayar kekurangan pembayaran Bea Keluar sebesar Rp928.384.000,00 yang tidak disetujui oleh Pemohon Banding
 
Menurut Terbanding
:
bahwa Pemohon Banding melakukan eksportasi barang dengan PEB 000032 melalui Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama Sumbawa;
 
bahwa atas PEB 000032 tersebut terdapat perbedaan kadar Konsentrat Tembaga antara Report of Analysis (RoA), Certificate of Analysis (CoA) dan Hasil Pengujian dan Identifikasi Barang yang diterbitkan oleh BPIB sehingga terjadi perbedaan Harga Ekspor yang mengakibatkan perbedaan perhitungan Bea Keluar yang diberitahukan dan yang seharusnya dibayar;
 
bahwa berdasarkan surat Nomor S-29/WBC.12/KPP.PR.04/2017 tanggal 4 Januari 2017, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama Sumbawa mengajukan Permohonan Penetapan Dokumen PEB 000032;
 
bahwa sebagai bahan pelengkap untuk pertimbangan Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB dan NTT dalam menetapkan Dokumen PEB, KPPBC Tipe Pratama Sumbawa melampirkan dokumen dan data-data pendukung berupa Hasil Penelitian dan Pengujian Identifikasi Barang yang diterbitkan oleh Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe A Jakarta Nomor: S-1985/SHPIBNVBC.07/BPIB/2016 tanggal 22 Desember 2016, PEB 000032, Laporan Hasil Pemeriksaan, Invoice, Bill of Lading, Packing List, SPKPBK-000001 tanggal 10 April 2016, Report of Analysis (RoA) Nomor 00539/AOCAAJ tanggal 10 Juni 2016 dan Certificate of Analysis (CoA) Nomor 00559/AOCAAJ tanggal 14 Juni 2016;
 
bahwa berdasarkan Report of Analysis (RoA) yang diterbitkan PT. Sf Nomor 00539 1 AOCAAJ tanggal 10 Juni 2016 atas barang yang diekspor ditetapkan kandungan Konsentrat Tembaga sebesar 27,46%;
 
bahwa berdasarkan Certificate of Analysis (CoA) yang diterbitkan PT. Sf Nomor 00559/AOCAAJ tanggal 14 Juni 2016 atas barang yang diekspor ditetapkan kandungan Konsentrat Tembaga sebesar 27,18%;
 
bahwa berdasarkan Hasil Penelitian dan Pengujian Identifikasi Barang yang diterbitkan oleh Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe A Jakarta Nomor S-1985/SHPIBM/BC.07/BPIB/2016 tanggal 22 Desember 2016 atas barang yang diekspor pada PEB 000032 merupakan produk mineral dengan kandungan Konsentrat Tembaga sebesar 28,27%;
 
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut di atas, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal tentang Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar/Surat Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar (SPKPBK) Nomor: SPKPBK-000005 tanggal 9 Juni 2016 a.n. PT. NNT/PT. AMNT.
 
bahwa di dalam persidangan Terbanding menyampaikan Closing Statement yang pada pokoknya mengemukakan sebagai berikut:
 
bahwa Terbanding dengan tegas menolak apa yang didalilkan oleh Pemohon Banding dalam Surat Banding, Surat Bantahan maupun penjelasan lisan selama pemeriksaan dalam persidangan;
 
bahwa Terbanding mohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim, agar apa yang didalilkan oleh Terbanding baik dalam Surat Uraian Banding maupun penjelasan dan keterangan lisan serta fakta-fakta persidangan dapat berlaku secara mutatis mutandis dalam kesimpulan ini;
 
bahwa inti permasalahan adalah perbedaan hasil uji konsentrat tembaga (cu) antara hasil uji laboratorium Pemohon Banding dalam hal ini Sf dan hasil uji laboratorium Terbanding dalam hal ini adalah Balai Pengujian dan Indentifikasi Barang Jakarta;
 
bahwa perlu Terbanding sampaikan, hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Pemohon Banding dan Terbanding, masing-masing mempunyai tujuan dan fungsi yang berbeda. Dimana pengujian laboratorium yang dilakukan Pemohon Banding dalam hal ini Sf adalah sebagai amanat atas Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 01/M-DAG/PER/1/2017 Tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian, yang nantinya menjadi dasar atau syarat batas minimal ekspor suatu barang. Atau dengan kata lain sebagai ketentuan lartas eksportasi suatu barang. Sedangkan hasil laboratorium yang dilakukan oleh Terbanding merupakan amanat dari Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 86/PMK.04/2016 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.04/2008 Tentang Pemungutan Bea Keluar yang mana merupakan dasar penentuan harga ekspor suatu barang;
 
bahwa atas hal tersebut dapat disimpulkan atas perbedaan hasil uji tersebut tidak dapat dipertentangkan satu sama lain karena mempunyai tujuan dan merupakan pelaksanaan sebuah peraturan perundang-undangan yang berbeda. Hanya dalam perkara ini seharusnya yang dijadikan acuan adalah hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Terbanding, mengingat hal ini terkait proses pemungutan bea keluar atas barang tersebut;
 
bahwa selanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan persidangan perlu Terbanding sampaikan sebagai berikut:
 
bahwa dalam persidangan telah didapatkan fakta yang disepakati oleh kedua belah pihak baik Pemohon Banding maupun Terbanding yaitu terkait barang contoh yang akan diuji adalah barang contoh yang sama;
 
bahwa hal tersebut menunjukkan bahwasanya barang yang diuji bukan barang yang berbeda cara pengambilan maupun waktu pengambilannya;
 
bahwa terkait penerbitan SPKPBK nomor: SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017 yang diterbitkan Terbanding dapat disampaikan hal-hal sebagi berikut:
 
bahwa atas PEB yang telah dilakukan Penetapan Kembali tersebut, telah dilakukan pemeriksaan fisik oleh Terbanding (dhi. KPPBC Sumbawa) pada tanggal 13 Juni 2016;
 
bahwa selanjutnya dilakukan pengujian Laboratorium pada BPIB Jakarta sesuai dengan Pasal 9 Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 86/PMK.04/2016 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.04/2008 Tentang Pemungutan Bea Keluar, dengan SHPIB nomor: S-1985/SHPIB/WBC.07/BPIB/2017 tanggal 26 April 2017;
 
bahwa atas hasil uji laboratorium dan analisa beserta kajian yang tertuang dalam Nota Hasil Penelitian Ulang, Terbanding menerbitkan SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017 dengan kekurangan pembayaran bea keluar sejumlah Rp928.384.000;
 
bahwa lebih lanjut terkait hasil pengujian yang dilakukan oleh Terbanding, dapat Terbanding sampaikan sebagai berikut:
 
bahwa ISO 17025 merupakan persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi untuk menunjukkan bahwa laboratorium tersebut mengoperasikan sistem manajemen, secara teknis kompeten, dan mampu meyajikan hasil secara teknis absah. Saat ini BPIB Jakarta telah tersertifikasi SNI ISO/IEC 17025:2008 yang masih berlaku sampai tahun 2019. Akreditasi ISO 17025 sebagai laboratorium penguji, menjamin hasil uji yang diterbitkan dapat dipertanggungjawabkan karena sistem manajemen mutu menjamin peralatan yang dikalibrasi, metode yang divalidasi, pengendalian kondisi lingkungan yang baik, SDM yang berkualifikasi serta ketersediaan reagen dan bahan acuan serta kebutuhan lain sesuai dengan standar yang dipersyaratkan. BPIB Tipe A Jakarta telah mendapatkan status sebagai laboratorium terakreditasi sejak tahun 2002 dan dapat dipertahankan hingga kini. Sertifikat SNI ISO/IEC 17025:2008 sebagaimana terlampir.
 
bahwa dalam ISO 17025:2005 butir 5.4.2 tentang Pemilihan Metode, dapat dijelaskan bahwa laboratorium diberi kesempatan menggunakan metode apapun dalam pengujian sepanjang metode tersebut telah divalidasi. Metode yang digunakan dapat merupakan standar yang dipublikasikan secara internasional, regional atau nasional. Metode yang dikembangkan laboratorium atau metode yang diadopsi oleh laboratorium dapat juga digunakan bila sesuai penggunaannya dan bila telah divalidasi. Metode penentuan kadar tembaga (Cu) dalam konsentrat Tembaga menggunakan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES) merupakan metode yang digunakan oleh BPIB Tipe A Jakarta yang mengacu pada metode SNI 06-6992.5-2004 yang dimodifikasi. Terhadap metode tersebut telah dilakukan validasi sebagaimana data terlampir. Validasi metode dilakukan untuk menjamin metode yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki keakuratan dalam penentuan hasil pengujian.
 
bahwa metode Uji dan Hasil Validasi Metode Uji penentuan kadar tembaga (Cu) dalam konsentrat Tembaga menggunakan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES) sebagaimana terlampir.
 
bahwa dalam World Customs Organization (WCO) Laboraroty Guide, untuk penentuan mineral pada Bab 26 dapat menggunakan alat berupa ICP, XRF atau AAS, sebagaimana referensi terlampir.
 
bahwa Nilai Certificate Reference Material (CRM) untuk acuan pengujian kadar tembaga (Cu) berasal dari Geostat Pty Ltd, Australia dengan nilai acuan 250264 ppm atau 25,0264%. Data tersebut didapat dari sekitar 126 laboratorium uji di penjuru dunia yang pengujiannya menggunakan berbagai metode, sebagian besar menggunakan metode ICP dan AAS dan bukan metode titrasi sebagaimana data terlampir.
 
bahwa konsentrat tembaga merupakan bukan barang homogen, dimana kadar tembaga pada setiap titik dapat memiliki perbedaan, hal ini dapat menyebabkan perbedaan kadar yang di periksa oleh BPIB Tipe A Jakarta dengan penentuan yang dilakukan oleh pihak Sf.
 
bahwa dalam pengujian konsentrat tembaga di BPIB Jakarta, telah dilakukan proses homogenisasi yaitu dengan cara melakukan pengeringan sampel terlebih dahulu dan selanjutnya dilakukan penghalusan dan pengadukan contoh uji yang telah kering dengan menggunakan alat Ball Mill atau alat penghalus lainnya (Uji Homogenitas). Proses homogenitas tersebut dilakukan pada preparasi awal pengujian konsentrat tembaga. Cuplikan dari sampel yang telah halus tersebut diambil untuk dilakukan destruksi sebagaimana dijelaskan pada Metode Uji penentuan kadar tembaga (Cu) dalam konsentrat Tembaga menggunakan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES).
 
bahwa berdasarkan hal tersebut di atas Terbanding telah melakukan pengujian yang sudah valid sesuai persayaratan ISO 17025 dan World Customs Organization (WCO) Laboraroty Guide;
 
Menurut Pemohon Banding
:
bahwa Pemohon Banding adalah kontraktor pertambangan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Kontrak Karya yang memiliki perlakukan Perpajakan secara khusus (lex specialis derogate lex generalis).
 
bahwa Pemohon Banding adalah kontraktor Pemerintah Republik Indonesia yang melakukan usaha pertambangan di Nusa Tenggara Barat melalui Kontrak Karya (“KK”) tertanggal 2 Desember 1986 dengan Pemerintah Republik Indonesia, yang salah satunya menghasilkan Konsentrat Tembaga.
 
bahwa pada halaman 31 dari KK pasal 13 tentang Perpajakan dan Kewajiban Keuangan Lainnya Dari Perusahaan dinyatakan bahwa:
“Subject to the terms of this Agreement, the Company shall pay to the Government and fulfill the tax liabilities as hereinafter provided:
(i)
Deadrent…
(ii)
Royalties…
(iii)
Additional royalty…
(iv)
Income taxes…
(v)
Personal income taxes
(vi)
Witholding taxes…
(vii)
Value Added Tax…
(iix)
Stamp duty…
(ix)
Import duty…
(x)
Land and Building Tax…
(xi)
Levies, taxes, charges and duties imposed by Regional Government…
(xii)
General administrative fees and charges for facilities or services…
(xiii)
Tax on the transfer of ownership of motorised vehicles and ships in Indonesia.
The Company shall not be subject to any other taxes, duties, levies, contributions, charges or fees now or hereafter levied or imposed or approved by the Government other than those provided for in this Article and elsewhere in this Agreement.”
 
bahwa berdasarkan KK, Pemohon Banding seharusnya tidak ada kewajiban untuk membayar Bea Keluar.
 
bahwa sesuai dengan Pasal 11 Marketing KK dijelaskan bahwa:
“The Company shall have the right to export its product obtained from the operations under this Agreement…”.
 
bahwa Pemohon Banding memiliki hak untuk melakukan ekspor atas barang yang diperoleh dari operasi pertambangan.
 
bahwa Pemohon Banding telah mengikuti Tata Laksana dan Ketentuan di Bidang Ekspor yang mengatur bahwa atas ekspor Konsentrat Tembaga harus dilakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis.
 
bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (“Permendag”) nomor 13/M-DAG/PER/3/2012 (“M-DAG 13/2012”) tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor pasal 7 ayat 2 dinyatakan:
“Lembaga atau badan usaha yang mengekspor Barang Dibatasi Ekspor selain wajib memiliki persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan berdasarkan pengaturan jenis Barangnya berupa:
  1. Laporan Surveyor;
…”
 
bahwa berdasarkan Permendag nomor 119/M-DAG/PER/12/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian (“M-DAG 119/2015”) dinyatakan:
 
“Pasal 6 ayat 2:
Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan/atau Pemurnian… hanya dapat dilaksanakan… setelah… dilakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis.
 
Pasal 8:
(1)
Verifikasi atau Penelusuran Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk memastikan bahwa Produk Pertambangan yang diekspor telah sesuai dengan batasan minimum pengolahan dan/atau pemurnian.
(2)
Verifikasi atau Penelusuran Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sebelum muat barang.
(3)
Verifikasi atau Penelusuran Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Surveyor yang ditetapkan oleh Menteri.
 
 
Pasal 11:
(1)
Hasil Verifikasi atau Penelusuran Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dituangkan dalam bentuk Laporan Surveyor (LS), untuk digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan dalam penyampaian pemberitahuan pabean Ekspor barang kepada kantor pabean.
 
(3)
LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat pernyataan kebenaran atas hasil Verifikasi atau Penelusuran Teknis dan menjadi tanggung jawab penuh Surveyor.
…”
 
bahwa berdasarkan Permendag nomor 46/M-DAG/PER/8/2014 tentang Ketentuan Umum Verifikasi atau Penelusuran Teknis di Bidang Perdagangan (“M-DAG 46/2014”) pasal 11 dinyatakan:
“Laporan Surveyor digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan untuk pendaftaran Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)…”
 
bahwa terhadap ekspor Konsentrat Tembaga yang dilakukan oleh Pemohon Banding telah dilakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis,dalam hal ini dilakukan oleh Surveyor Sf selaku independent surveyor. Hasil verifikasi atau penelurusan teknis tertuang didalam Laporan Surveyor dengan nomor 26.34.1.16.00043 tanggal 23 Juni 2016 (Lampiran 4) dan telah dilampirkan sebagai dokumen wajib pelengkap PEB.
 
bahwa berdasarkan Laporan Surveyor tersebut, pada kolom ‘Catatan Pemeriksaan’ diketahui bahwa ‘Konsentrat tembaga dengan kadar lebih besar atau sama dengan 15% Cu disertai dengan ROA nomor 00539/AOCAAJ tanggal 10 Juni 2016.
 
bahwa pada analisis oleh Sf sebagai atas Konsentrat Tembaga berupa Report of Analysis (“ROA”) nomor 00539/AOCAAJ tanggal 10 Juni 2016 (Lampiran 5) yang dijadikan dasar untuk perhitungan Bea Keluar dalam PEB adalah sebagai berikut:
 
Parameter
Result
Method
Cu
27.46%
ISO 10258:2015
Au
27.89 ppm
ISO 10378:2005
Ag
86.83 ppm
ISO 10378:2005
bahwa berdasarkan lampiran Permendag nomor 39/M-DAG/PER/5/2016 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertambangan Hasil Pengolahan yang Dikenakan Bea Keluar (“M-DAG 39/2016 terlampir dalam Lampiran 6A) dan Keputusan Menteri Keuangan nomor 1002/KM.4/2016 tentang Penetapan Harga Ekspor Untuk Bea Keluar (“M-KEU 1002/2016 terlampir dalam Lampiran 6B) telah ditetapkan Harga Patokan Ekspor (“HPE”) berlaku terhitung dari tanggal 1 Juni 2016 sampai dengan 31 Juni 2016 sebagai dasar Bea Keluar adalah sebagai berikut:
 
No.
Uraian Barang
Pos Tarif/HS
HPE
Satuan
12.
Konsentrat Tembaga dengan kadar 26% ≤ Cu < 27%
ex. 2603.00.00.00
1,596.81
USD/WMT
13.
Konsentrat Tembaga dengan kadar 27% ≤ Cu < 28%
ex. 2603.00.00.00
1,637.81
USD/WMT
bahwa Sf adalah salah satu Surveyor independen dengan laboratorium uji yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (“KAN”) dan ditunjuk oleh Menteri Perdagangan untuk melakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis dimana hasil berupa COA dengan metode pengujian ISO 10258:2015 menunjukkan kandungan Konsentrat Tembaga sebesar 27.18%.
 
bahwa berdasarkan M-DAG 119/2015 pasal 1 dinyatakan:
“…
 
 
9.
Verifikasi atau Penelusuran Teknis adalah penelitian dan pemeriksaan Produk Hasil Pengolahan dan/atau Pemurnian yang dilakukan oleh surveyor.
 
10.
Surveyor adalah perusahaan survey yang mendapat otorisasi untuk melakukan Verifikasi atau Penulusuran Teknis.
…”
 
 
bahwa berdasarkan M-DAG 46/2014 pasal 5 dinyatakan:
“Untuk dapat ditetapkan sebagai pelaksana Verifikasi atau Penelusuran Teknis terhadap Barang Tertentu, Surveyor sebagaimana dimaksud pasal 4 ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
 
 
b.
telah diakreditasi sebagai lembaga inspeksi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai dengan ruang lingkup yang relevan;
 
 
 
f.
memiliki paling sedikit 1 (satu) laboratorium uji yang telah diakreditasi oleh KAN sesuai dengan ruang linkup yang relevan…”
bahwa berdasarkan website http://www.Sf.co.id/ (Lampiran 7) diketahui bahwa Sf adalah pihak ketiga yang mampu memberikan kepastian atas kesesuaian barang dan memiliki sarana pengujian, serta analisis yang lengkap untuk memastikan aspek mutu dan keamanan produk, termasuk pengujian mineral. Kegiatan pengujian kualitas produk mineral, antara lain adalah analisis kandungan produk, perhitungan kandungan produk dan penerbitan laporan/sertifikat.
 
bahwa Pemohon Banding berpendapat bahwa seharusnya tidak ada keraguan atas hasil yang dikeluarkan oleh Sf yang Pemohon Banding jadikan dasar dalam penentuan Harga Ekspor untuk Bea Keluar.
 
bahwa pada analisis atas Konsentrat Tembaga berupa Report of Analysis (“ROA”) nomor 00539/AOCAAJ tanggal 10 Juni 2016 (Lampiran 5) yang dijadikan dasar untuk perhitungan BeaKeluar dalam PEB adalah sebagai berikut:
 
Parameter
Result
Method
Cu
27.46%
ISO 10258:2015
Au
27.89 ppm
ISO 10378:2005
Ag
86.83 ppm
ISO 10378:2005
bahwa berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan oleh Sf yang tertuang dalam COA nomor 00559/AOCAAJ tanggal 14 Juni 2016 (Lampiran 8) menyatakan hasil analisa sebagai berikut:
Consignment
:
COPPER CONTENTRATE
Total Weight
:
21,978.479/WMT
WE HEREBY CERTIFY that we have performed sampling and analysis of the above mention consignment;
 
SAMPLING
Increament were drawn by mechanical sampling system from moving belt conveyor during loading in accordance to ISO 12743:2006;
 
ANALYSIS
Quality analysis were carried out at our laboratory with result as follow:
 
Parameter
Unit
Result
Methode
Moisture
%
8.58
AS 2863-2008
Cu
%
27.18
ISO 10258:2015
Au
Ppm
27.69
ISO 10378:2005
Ag
Ppm
84.74
ISO 10378:2005
bahwa untuk keperluan internal, Pemohon Banding juga melakukan pengujian melalui laboratorium Intertek dengan hasil kadar Konsentrat Tembaga sebesar 26.74% sebagai pembanding hasil pengujian yang dilakukan oleh Sf
 
bahwa berdasarkan website http://www.intertek.com/ (Lampiran 9) diketahui bahwa Intertek adalah surveyor yang menguji, memeriksa dan menerbitkan sertifikat atas kandungan produk, termasuk mineral.
 
bahwa berdasarkan hasil pengujian di laboratorium Intertek (Lampiran 10) dalam nomor 162823PC untuk shipment 2016-13 dengan sarana pengangkut MV. Unity sebagaimana tercantum dalam PEB 000032 tanggal 13 Juni 2016, diketahui bahwa kandungan Konsentrat Tembaga adalah sebesar 26.74%.
 
bahwa hasil pengujian tersebut lebih rendah dari hasil pengujian yang telah dilakukan Sf, dalam hal ini adalah COA, yang menunjukkan hasil 27.18%.
 
bahwa Pembeli juga melakukan uji konsentrat ketika barang ekspor diterima, dimana hasil kadar Konsentrat Tembaga adalah sebesar 27.24%.
 
bahwa berdasarkan hasil pengujian di laboratorium Hasil laboratorium Philippine Associated Smelting and Refining Corporation/“PASAR” (Lampiran 11) dengan sarana pengangkut MV. Unity sebagaimana tercantum dalam PEB 000032 tanggal 13 Juni 2016, diketahui bahwa kandungan Konsentrat Tembaga adalah sebesar 27.24%.
 
bahwa Perbandingan Hasil pengujian Konsentrat Tembaga yang dilakukan oleh Sf, Intertek dan Pembeli di negara Filipina.
 
Deskripsi
ROA
COA
Intertek
Pembeli di Filipina
Kadar
27.46%
27.18%
26.74%
27.24%
Range berdasarkan M-DAG 39/2016 dan M-KEU 1002/2016
27% ≤ Cu <
28%
27% ≤ Cu <
28%
26% ≤ Cu <
27%
27% ≤ Cu <
28%
Harga Ekspor berdasarkan M-DAG 39/2016 dan M-KEU 1002/2016
1,637.81
USD/WMT
1,637.81
USD/WMT
1,596.51
USD/WMT
1,637.81
USD/WMT
bahwa sebagaimana terlihat dalam tabel di atas, Pemohon Banding menyetujui adanya perbedaan tingkat kandungan Konsentrat Tembaga yang dilaporkan pada saat pemberitahuan PEB sebesar 27.46% dibandingkan dengan tingkat kandungan Konsentrat Tembaga pada saat telah dimuat di sarana pengangkut sebagaimana tercantum dalam COA no 00559/AOCAAJ tanggal 14 Juni 2016 sebesar 27.18%, tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan perbedaan Harga Ekspor.
 
bahwa oleh karena itu seharusnya tidak terdapat kekurangan pembayaran Bea Keluar sebagaimana ditagihkan oleh Terbanding melalui SPKBPK No. SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017.
 
bahwa sebagai tambahan bahwa sampai saat permohonan banding ini diajukan, Pemohon Banding belum menerima NHPU No. NHPU-005/WBC.12/BD.02/2017 tanggal 7 April 2017 maupun hasil uji laboratorium Terbanding, sehingga Pemohon Banding tidak mengetahui metode Terbanding dalam melakukan uji laboratoris maupun kadar Konsentrat Tembaga yang mengakibatkan diterbitkannya SPKBPK No. SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017.
 
bahwa berdasarkan Pasal 5 Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor PER-22/BC/2016 (“PER-22/2016”) tentang Petunjuk Teknis Pengambilan Contoh Barang dan Pelaksanaan Pengujian Laboratoris Serta Identifikasi Barang di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang dijelaskan bahwa:
“(1)
Pengambilan Contoh Barang dapat dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk dari:
 
a.
Kantor Pusat;
 
b.
Instansi Vertikal; dan/atau
 
c.
UPT
Atas permintaan Kepala Kantor atau Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang.
 
Atas penunjukkan tersebut seharusnya berdasarkan Surat Tugas.
 
bahwa dalam Lampiran III PER-22/2016, Bab II tentang Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pengambilan Contoh Barang pada nomor 3 huruf (b) dijelaskan bahwa petugas pengambil Contoh Barang membuat Berita Acara Pengambilan Contoh Barang sebagaimana contoh di PER-22/2016.
 
bahwa lebih lanjut sampai saat ini Pemohon Banding belum menerima Surat Tugas dan Berita Acara Pengambilan Contoh Barang dalam proses pengambilan sample untuk PEB 000032 tanggal 13 Juni 2016 maupun Nota Hasil Penelitian (NHPU) nomor NHPU-005/WBC.12/BD.02/2017 tanggal 7 April 2017.
 
bahwa berdasarkan penjelasan pada poin 1 sampai 7 di atas, Pemohon Banding berpendapat bahwa Harga Ekspor yang Pemohon Banding gunakan telah tepat, yaitu sebesar USD1,637.81/WMT (dengan kadar Konsentrat Tembaga 27% ≤ Cu < 28%).
 
bahwa berdasarkan pasal 76 UU Pengadilan Pajak dinyatakan bahwa “Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1)”.
 
bahwa melalui Surat Banding ini, Pemohon Banding dapat memberikan lebih dari dua alat bukti sebagai bahan pertimbangan Majelis Hakim untuk memutuskan sengketa ini.
 
bahwa di dalam persidangan Pemohon Banding menyampaikan Surat tanpa nomor tanggal 17 Mei 2018 perihal Penjelasan akhir Pemohon Banding atas Sengketa Pajak Nomor: 40-113623-2017 yang pada pokoknya mengemukakan sebagai berikut:
 
bahwa dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan (“PMK”) nomor 214/PMK.04/2008 sebagaimana telah diubah terakhir dengan PMK nomor 86/PMK.04/2016 tentang Pemungutan Bea Keluar, pada pasal 11A dinyatakan bahwa:
 
Bab IV Tanggung Jawab dan Pembayaran Bea Keluar
 
Pasal 11A:
“…
 
(2)
Terhadap Barang Ekspor Dengan Karakteristik Tertentu yang tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang oleh Pejabat Bea dan Cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), berlaku ketentuan sebagai berikut:
 
a.
Eksportir atau kuasanya melakukan pemeriksaan fisik barang:
 
 
1.
pada penumpukan/penyimpanan barang; dan
 
 
2.
pada saat pemuatan ke sarana pengangkut.
 
b.
Eksportir atau kuasanya wajib menyampaikan hasil pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 2) paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal pemberitahuan pabean ekspor.
 
c.
Sementara menunggu hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf b, Bea Keluar dibayar berdasarkan penghitungan dari hasil pemeriksaan Eksportir pada penumpukan/penyimpanan barang.
 
d.
Hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh Eksportir sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 2) paling sedikit memuat jumlah, jenis barang, kadar mineral, dan/atau kadar air yang dilampiri hasil pengujian yang dilakukan oleh laboratorium yang terakreditasi oleh lembaga pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang akreditasi.
(3)
Penetapan perhitungan Bea Keluar dilakukan berdasarkan:
 
a.
hasil pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a atau ayat (2) huruf a angka 2); atau
 
b.
 pemberitahuan pabean ekspor, dalam hal hasil pemeriksaan fisik barang pada saat pemuatan itdak diserahkan dalam jangka sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b.”
(4)
Barang Ekspor dengan Karakteristik Tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi produk mineral yang harga ekspornya ditetapkan:
 
a.
berdasarkan kadar mineral; dan/atau
 
b.
dengan memperhitungkan kadar air.
bahwa berdasarkan uraian pasal 11A di atas, Pemohon Banding berpendapat bahwa penetapan perhitungan Bea Keluar atas Barang dengan Karakteristik Tertentu dimana Harga Ekspor ditetapkan berdasarkan kadar mineral dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik barang oleh Eksportir (dalam hal ini Pemohon Banding adalah Eksportir dan pengujian dilakukan oleh Sf dengan hasil berupa COA) pada saat pemuatan ke sarana pengangkut;
 
bahwa secara umum, diagram Mekanisme Pemeriksaan dan Metode Pengukuran Kadar Konsentrat Tembaga adalah sebagai berikut:
 
 
bahwa pengujian kandungan Konsentrat Tembaga yang dilakukan oleh PT Sf (Persero) (“Sf”) adalah berdasarkan metode oleh International Organization for Standardization (“ISO”) nomor 10258 tentang Copper sulfide concentrates - Determination of copper content - Titrimetric methods (Lampiran 1);
 
bahwa Metode ini dipilih berdasarkan metode yang paling sesuai untuk jenis barang yang diekspor Pemohon Banding yakni copper sulfide (konsentrat tembaga yang memiliki banyak kandungan sulfur);
 
bahwa Metode ini menjabarkan metode titrimetric untuk penentapan kadar tembaga dalam konsentrat tembaga sulfide dengan kisaran konsentrasi 15% sampai 50%. Pemilihan ISO 10258 untuk penetapan kadar tembaga pada konsentrat tembaga karena memiliki kesesuaian dengan matriks sampel karakteristik dan konsentasi range sampel barang ekspor Pemohon Banding;
 
bahwa Lebih lanjut, pada setiap lembar dokumen ISO 10258 tercantum bahwa:
“Hak Cipta ISO Central Secretariat, Copy standar ini dibuat oleh BSN untuk PT Sf dibawah lisensi ISO Central Secretariat.”
 
bahwa sehingga, Pemohon Banding berpendapat bahwa pengujian yang dilakukan oleh Sf berdasarkan ISO 10258 telah sesuai dengan standar yang dibuat oleh BSN untuk memeriksa kandungan kadar konsentrat tembaga dalam copper sulfide.
 
bahwa BSN adalah akronim dari Badan Standarisasi Nasional, yang juga menerbitkan Standar Nasional Indonesia (“SNI”) nomor 06-6992.5-2004 tentang Sendimen - Bagian 5: Cara uji tembaga (Cu) secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) (Lampiran 2). Metode ini adalah metode yang digunakan oleh Terbanding untuk menguji sample barang ekspor Pemohon Banding;
 
bahwa Pada halaman ii dalam SNI nomor 06-6992.5-2004 tersebut dinyatakan bahwa:
“Dalam usaha untuk menyeragamkan teknik pengujian kualitas air dan tanah maka dibuatlah Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pengujian parameter-parameter kualitas air dan tanah.
 
bahwa dalam hal ini, BSN menerbitkan SNI nomor 06-6992.5-2004 dengan tujuan untuk menyeragamkan teknik pengujian kualitas air dan kualitas tanah, bukan ditujukan secara khusus untuk memeriksa kandungan tembaga dalam Konsentrat Tembaga yang menjadi sengketa antara Pemohon Banding dan Terbanding;
 
bahwa sehingga, Pemohon Banding berpendapat metode yang digunakan oleh Terbanding adalah kurang tepat apabila digunakan untuk menghitung kadar konsentrat tembaga dalam copper sulfide.
 
bahwa transaksi antara Pemohon Banding sebagai Penjual dan Pembeli (dalam hal ini pengujian dilakukan oleh laboratorium Philippine Associate Smelting and Refining Corporation/”PASAR”) dilakukan dengan pihak tidak saling berhubungan dimana masing-masing pihak menguji kadar konsentrat barang yang sama;
 
bahwa Pemohon Banding melakukan uji konsentrat ketika barang ekspor dalam PEB 000032 pada saat pemuatan ke sarana pengangkut oleh Sf, dimana hasil kadar Konsentrat Tembaga dalam COA nomor 00559/AOCAAJ adalah sebesar 27.18%;
 
bahwa sedangkan, Pembeli melakukan uji konsentrat ketika barang ekspor dalam PEB 000032 diterima oleh Philippine Associate Smelting and Refining Corporation/”PASAR” dimana hasil kadar Konsentrat Tembaga adalah sebesar 27.24%;
 
bahwa berikut adalah perbandingan Hasil pengujian Konsentrat Tembaga yang dilakukan oleh Sf, Intertek, Pembeli dan Terbanding dalam PEB nomor 000032 tanggal 23 Juni 2016;
 
Deskripsi
ROA
COA
Intertek
Pembeli
Ter-Banding
Sumber Data/Lampiran
3a
3b
3c
3d
SPKPBK-05
Nomor dan
Tanggal
00539
/AOCAAJ
00559
/AOCAAJ
162823PC
-
S-1985/SHPIB/WBC.07/BPIB/2016 *)
10 Jun ‘16
14 Jun ‘16
13 Jun ’16
-
22 Dec‘16
Cu
Tembaga
27.46%
27.18%
26.74%
27.24%
28.27%
Au
Emas
27.89 ppm
27.69 ppm
27.54 ppm
28.1
G/DMT
 
Ag
Perak
86.83 ppm
84.74 ppm
 
82 G/DMT
 
bahwa berdasarkan diagram di atas atas keempat dokumen yaitu ROA, COA, Intertek dan Pembeli, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa hasil konsentrat tembaga atas barang ekspor Pemohon Banding berada pada kisaran 26.74% ~ 27.46%, tetapi hasil laboratorium Terbanding adalah sebesar 28.27%;
 
bahwa hasil pengujian Sf berupa ROA dan COA serta hasil pengujian Intertek tidak jauh berbeda dengan hasil pengujian dari Pembeli. Sehingga, Pemohon Banding berpendapat bahwa terdapat konsistensi atas hasil pemeriksaan Sf, Intertek, dan Pembeli atas barang ekspor karena hasil tersebut berasal dari sampling atas barang ekspor yang sama. Namun, hasil pengujian dari Terbanding kedapatan berbeda jauh dari hasil pengujian lainnya sebagaimana yang diuraikan pada SPKPBK-05;
 
bahwa Pemohon Banding berpendapat bahwa seharusnya sampel yang diuji oleh Sf, Intertek dan Terbanding adalah sampel yang sama (hasil dari automatic sampler), sehingga seharusnya hasil pengujian berada dalam kisaran yang tidak jauh berbeda. Demikian juga pembeli menguji kandungan konsentrat tembaga dari barang ekspor yang sama;
 
bahwa Sf sebagai surveyor yang melakukan verifikasi teknis atas barang ekspor telah mendapat surat penunjukkan sebagai surveyor independen yang berhak melakukan verifikasi teknis atas ekpor barang karakteristik tertentu sebagaimana tertuang di dalam Surat Keputusan dari Kementerian Perdagangan nomor 125/M-DAG/KEP/1/2014 tanggal 17 Januari 2014 tentang Penetapan PT Sf sebagai Surveyor Pelaksana Verifikasi atas Penelusuran Teknis Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian;
 
bahwa Sf telah memperoleh akreditasi atas pemeriksaan barang ekpor dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan berdasarkan Surat KAN nomor LI-062-IDN tanggal 22 Oktober 2014;
 
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa Sf memiliki legalitas dan kompetensi untuk melakukan verifikasi teknis atas barang ekspor karakteristik tertentu sebagaimana telah diamanatkan oleh Peraturan Menteri Perdagangan (“Permendag”) nomor 119/M-DAG/PER/12/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian dan Permendag nomor 46/M-DAG/PER/8/2014 tentang Ketentuan Umum Verifikasi atau Penelusuran Teknis di Bidang Perdagangan;
 
bahwa pada pelaksanaannya verifikasi teknis atas barang ekspor Pemohon Banding, Sf menunjuk Sf cabang Denpasar untuk melakukan verifikasi tersebut. Guna menunjang kegiatan ekspor yang dilakukan oleh Pemohon Banding, Sf cabang Denpasar membuka laboratorium pada lokasi pertambangan milik Pemohon Banding yang berada di Benete. Laboratorium Benete ini sepenuhnya berada dibawah pengawasan dari Sf cabang Denpasar;
 
bahwa berikut adalah langkah-langkah telah dilakukan oleh Laboratorium Benete:
  1. Melakukan kegiatan kelaboratoriuman sesuai dengan persyaratan ISO/IEC 17025 yaitu persyaratan manajemen dan persyaratan teknis laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi;
  2. Melakukan Uji banding dengan Laboratorium-laboratorium nasional dan Internasional;
  3. Melakukan pembinaan Kompetensi Pegawai;
  4. Menggunakan peralatan yang mempengaruhi hasil sudah terkalibrasi;
  5. Menggunakan CRM atau Standar Material sebagai control pengujian;
  6. Menerapkan fungsi QC sebagai control pengujian (Blanko, Duplikat);
  7. Menggunakan metode pengujian yang telah dilakukan verifikasi/validasi dan uji statistik lainnya sebagai bukti kehandalan dan kesesuaian; dan
  8. Mendaftarkan Akreditasi Laboratorium pada awal tahun 2017 (saat ini sudah selesai audit kelayakan dan masuk dalam tahap pembentukan tim penilai).
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon Banding berpendapat bahwa Laboratorium Benete telah memiliki kualifikasi yang sama dengan laboratorium Sf yang lainnya;
 
bahwa sebagai bukti pendukung, Pemohon Banding melampirkan tanda pendaftaran akreditasi sebagaimana dimaksud dalam poin di atas bersama dengan surat penjelasan akhir ini.
 
bahwa sebagai tambahan, Pemohon Banding juga ingin menjelaskan bahwa pihak Intertek yang juga melakukan proses pemeriksaan atas kadar konsentrat tembaga untuk barang ekspor Pemohon Banding juga telah memiliki akreditasi dari KAN dengan nomor Lp-436-IDN tanggal 30 Januari 2014. Sebagai bukti pendukung, Pemohon Banding juga melampirkan surat penetapan akreditasi tersebut bersama dengan surat penjelasan akhir ini;
 
bahwa sebagai bahan pertimbangan Majelis Hakim, Pemohon Banding menjelaskan bahwa berdasarkan rekapitulasi eksportasi Pemohon Banding selama enam bulan sebelum periode Agustus 2016 dimana Terbanding tidak pernah melakukan koreksi atas hasil pengujian konsentrat tembaga yang dilakukan oleh Sf, Pemohon Banding selalu melakukan eksportasi atas barang yang sejenis hingga saat ini;
 
bahwa Pemohon Banding berpendapat bahwa sebelum periode Agustus 2016, hasil perhitungan kadar konsentrat tembaga yang dilakukan oleh Sf telah dilampirkan pada persidangan-persidangan sebelumnya dan telah disetujui dan diakui oleh Terbanding sebagai dasar perhitungan bea keluar untuk barang ekspor Pemohon Banding. Sehingga, tidak ada sengketa antara Terbanding dan Pemohon Banding tentang kadar konsentrat tembaga;
 
bahwa berdasarkan kepada pendapat hukum yang dinyatakan oleh Profesor Mahfudz M.D., yang menyatakan apabila telah terjadi kesepakatan dalam keputusan hukum oleh Penegak Hukum, apabila ada penyimpangan dalam kesepakatan tersebut maka akan timbul ketidakpastian hukum;
 
bahwa sehingga, Pemohon Banding berpendapat bahwa Terbanding selaku Penegak Hukum tidak konsisten dan telah menimbulkan ketidakpastian hukum dalam perhitungan bea keluar atas barang ekspor Pemohon Banding. Oleh karena itu, penetapan yang dilakukan oleh Terbanding harus dibatalkan;
 
bahwa kesimpulan
 
bahwa berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut di atas, Pemohon Banding berkeyakinan bahwa kadar Konsentrat Tembaga atas barang ekspor Pemohon Banding dengan PEB-000032 adalah sebesar 27.18% sebagaimana tercantum dalam COA (dengan Harga Ekspor sebesar USD 1.637,81/WMT), sehingga kekurangan pembayaran Bea Keluar adalah nihil;
 
bahwa Pemohon Banding memohon kepada Majelis Hakim untuk menetapkan agar kelebihan atas pembayaran atas SPKPBK-05/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017 sebesar Rp928.384.000 (sembilan ratus dua puluh delapan juta tiga ratus delapan puluh empat ribu rupiah) tersebut dikembalikan karena Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas penetapan tersebut pada proses pengajuan surat permohonan Banding;
 
Menurut Majelis
:
bahwa Pemohon Banding telah mengekspor Konsentrat Tembaga, pos tarif 2603.00.00.00, negara tujuan Philipina, yang diberitahukan dengan PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama Sumbawa, dengan data sebagai berikut:
 
Tonage (TNE)
:
21,978.479
Kandungan Tembaga
:
27.46%
Harga Patokan Ekspor (USD)
:
1,637.81
Nilai Tukar Mata Uang
:
13,637.00
Tarif Bea Keluar
:
7.5%
Jumlah Bea Keluar
:
Rp36,816,394,634.03
Pembulatan
:
Rp36,816,395,000.00
bahwa atas dasar Nota Hasil Penelitian Ulang Nomor NHPU-005/WBC.12/BD.02/2017 tanggal 07 April 2017 jo. hasil pemeriksaan Laboratorium sesuai surat Kepala Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe A Jakarta Nomor S-1985/SHPIB/WBC.07/BPIB/2016 tanggal 22 Desember 2016, ditemukan kadar tembaga yang diekspor tersebut sebesar 28.27% sehingga HPE nya berubah menjadi FOB USD 1,679.11/TNE yang mengakibatkan timbulnya kekurangan pembayaran bea keluar sebesar:
 
Tonage (TNE)
:
21,978.479
Kandungan Tembaga
:
28.27%
Harga Patokan Ekspor (USD)
:
1,679.11
Nilai Tukar Mata Uang
:
13,637.00
Tarif Bea Keluar
:
7.5%
Jumlah Bea Keluar
:
Rp37,744,778,938.91
Pembulatan
:
Rp37,744,779,000.00
Kurang Bayar
:
Rp928,384,000.00
bahwa atas selisih kurang pembayaran Bea Keluar sebesar Rp928.384.000,00 tersebut Terbanding menerbitkan Surat Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar No. SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017, yang tidak disetujui oleh Pemohon Banding;
 
bahwa atas Surat Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar No. SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017 tersebut, Pemohon Banding mengajukan banding dengan surat banding nomor 414/PD-RM/AMNT/VI.2017 tanggal 07 Juni 2017 ke Pengadilan Pajak;
 
bahwa dari hasil pemeriksaan dalam persidangan, Majelis menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
 
  1. Data PEB dan Kekurangan Pembayaran Bea Keluar Menurut Pemohon Banding:

    Bahwa PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016 dibuat oleh Pemohon Banding berdasarkan data:
     
    Tonage yang dimuat
    21,978.479 TNE, berdasarkan pemeriksaan pada saat pemuatan ke sarana pengangkut MV UNITY Voy 29
    Kadar tembaga
    27.46%, berdasarkan hasil pemeriksaan atas sample yang diambil pada penumpukan/penyimpanan barang oleh Intertek sesuai Report of Analysis (ROA) Nomor 00539/AOCAAJ;
    HPE
    FOB USD 1,637.81/TNE, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1002/KM.4/2016 tentang Penetapan Harga Ekspor Untuk Bea Keluar, yang berlaku untuk periode tanggal 1 Juni 2016 sampai dengan 30 Juni 2016;
    Bea Keluar yang sudah dilunasi
    Rp36,816,395,000.00
    Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh PT Sf atas sample yang diambil pada saat pemuatan, kadar tembaga sesuai Certificate of Analysis (COA) Nomor 00559/AOCAAJ adalah 27.18% sehingga HPE tetap FOB USD 1,637.81/TNE dan Bea Keluar yang harus dilunasi tetap sebesar Rp36,816,395,000.00
     
    Bahwa berdasarkan uraian diatas, terdapat perbedaan Bea Keluar “Kurang Bayar” antara Penetapan Terbanding dengan perhitungan Pemohon Banding, sebagai berikut:
     
    Uraian
    Sudah Dilunasi
    Sesuai PEB
    Kurang Bayar
    Pemohon Banding
    Terbanding
    Tonage (TNE)
    21,978.479
    21,978.479
    21,978.479
    Kandungan Tembaga
    27.46%
    27.18%
    28.27%
    Harga Patokan Ekspor
    1,637.81
    1,637.81
    1,679.11
    Nilai Tukar Mata Uang
    13,637.00
    13,637.00
    13,637.00
    Tarif Bea Keluar
    7.5%
    7.5%
    7.5%
    Jumlah Bea Keluar
    Rp36,816,394,634.03
    Rp36,816,394,634.03
    Rp37,744,778,938.91
    Pembulatan
    Rp36,816,395,000.00
    Rp36,816,395,000.00
    Rp37,744,779,000.00
    Kurang Bayar
     
    Rp-
    Rp928,384,000.00
  2. Status Pemohon Banding Sebagai Kontrak Karya

    Bahwa Pemohon Banding menyebut statusnya sebagai kontraktor yang melakukan usaha pertambangan melalui Kontrak Karya sehingga seharusnya tidak ada kewajiban untuk membayar Bea Keluar;

    Bahwa fakta persidangan menunjukkan, Pemohon Banding telah melunasi Bea Keluar sesuai dengan pemberitahuan pada PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016 sebesar Rp36,816,395,000.00 tanpa mengajukan keberatan berdasarkan hak-haknya sebagai Kontrak Karya;

    Bahwa pada saat Terbanding menerbitkan Surat Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar Nomor SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017, berdasarkan adanya perbedaan kadar tembaga dengan ROA dan COA yang mengakibatkan HPE menjadi lebih tinggi dari yang diberitahukan sehingga Pemohon Banding diharuskan membayar kekurangan pembayaran Bea Keluar sebesar Rp928.384.000,00, Pemohon Banding menyebut salah satu alasan bandingnya adalah hal tersebut diatas;

    Bahwa menurut Majelis, alasan banding karena berstatus sebagai Kontrak Karya tidak relevan dan tidak dapat menjadi bahan pertimbangan, karena pada satu sisi Pemohon Banding menyetujui untuk membayar Bea Keluar dan pada sisi yang lain, pada saat dilakukan penetapan kembali penghitungan sebagaimana yang seharusnya, lalu mengingkarinya.
     
  3. Tata Laksana Ekspor

    Bahwa di dalam surat bandingnya, Pemohon Banding telah menunjuk beberapa Permendag tentang Tata Laksana dan Ketentuan di Bidang Ekspor, yaitu:
    1. Peraturan Menteri Perdagangan nomor 13/M-DAG/PER/3/2012 tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor;
    2. Peraturan Menteri Perdagangan nomor 119/M-DAG/PER/12/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian;
    3. Peraturan Menteri Perdagangan nomor 46/M-DAG/PER/8/2014 tentang Ketentuan Umum Verifikasi atau Penelusuran Teknis di Bidang Perdagangan;
    4. Peraturan Menteri Perdagangan nomor 66/M-DAG/PER/9/2016 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertambangan Hasil Pengolahan yang Dikenakan Bea Keluar yang berlaku terhitung dari tanggal 1 Oktober 2016 sampai dengan 31 Oktober 2016;
Bahwa Ketentuan Umum di Bidang Ekspor, sebagaimana diatur dengan Peraturan Menteri Perdagangan nomor 13/M-DAG/PER/3/2012 telah menetapkan di dalam Pasal 7 ayat (2) tentang kewajiban Eksportir yang mengekspor “Barang Dibatasi Ekspor” nya untuk memiliki “Laporan Surveyor”;
 
Bahwa Peraturan Menteri Perdagangan nomor 119/M-DAG/PER/12/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian, yaitu pada Lampiran II telah menetapkan “Konsentrat tembaga dengan kadar ≥ 15% Cu” termasuk kedalam “Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan/atau Pemurnian Yang Dibatasi Ekspornya”;
 
Bahwa atas ekspor “Konsentrat tembaga” karena telah ditetapkan sebagai “Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan/atau Pemurnian Yang Dibatasi Ekspornya” memiliki konsekuensi sebagaimana yang diatur di dalam Peraturan Menteri Perdagangan nomor 119/M-DAG/PER/12/2015, yang intinya sebagai berikut:
 
Pasal 6 ayat (2):
Harus dilakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis. Pasal 8 ayat (1) Verifikasi atau Penelusuran Teknis dilakukan untuk memastikan bahwa “Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan/atau Pemurnian Yang Dibatasi Ekspornya” yang akan diekspor telah sesuai dengan batasan minimum pengolahan dan/atau pemurnian.;
 
Pasal 8 ayat (2):
Verifikasi atau Penelusuran Teknis dilakukan sebelum muat barang;
 
Pasal 8 ayat (3):
Verifikasi atau Penelusuran Teknis ditetapkan oleh Surveyor yang ditetapkan oleh Menteri;
 
Pasal 11 ayat (1):
Hasil Verifikasi atau Penelusuran Teknis dituangkan dalam bentuk Laporan Surveyor (LS), untuk digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan dalam penyampaian pemberitahuan pabean Ekspor barang kepada kantor pabean.
 
Pasal 11 ayat (2):
LS hanya dapat diterbitkan apabila hasil analisis kuantitatif membuktikan Produk Pertambangan yang akan diekspor telah sesuai dengan batasan minimum pengolahan dan/atau pemurnian, yang mana untuk Konsentrat tembaga dengan kadar ≥ 15% Cu.
 
Pasal 14:
Surveyor dapat melakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis pada waktu dan tempat yang sama dengan pemeriksaan fisik dalam rangka pelayanan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
 
Bahwa Peraturan Menteri Perdagangan nomor 46/M-DAG/PER/8/2014 tentang Ketentuan Umum Verifikasi atau Penelusuran Teknis di Bidang Perdagangan, antara lain menetapkan:
 
Pasal 3:
Menteri menetapkan kewajiban Verifikasi atau penelusuran teknis terhadap Barang Tertentu dengan pertimbangan:
  1. untuk memastikan bahwa barang yang akan diekspor, ... telah memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
  2. untuk mendukung usaha pemerintah dalam:
    1. melindungi kesehatan dan keselamatan manusia, hewan, ikan, tumbuhan, dan lingkungan hidup;
    2. melindungi penggunaan sumber daya alam yang berlebihan untuk produksi dan konsumsi;
    3. menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri;
    4. menjamin ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di dalam negeri;
    5. menjaga stabilitas harga komoditas tertentu di dalam negeri; dan/atau
    6. meningkatkan nilai tambah ekonomi bahan mentah dan/atau sumber daya alam.
Pasal 11:
Laporan Surveyor digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan untuk pendaftaran Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), ...
 
Pasal 14:
Kegiatan Verifikasi atau penelusuran teknis oleh Surveyor tidak mengurangi kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan untuk melakukan pemeriksaan pabean.
 
Bahwa berdasarkan ketentuan sebagaimana yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa Hasil Verifikasi atau Penelusuran Teknis oleh Surveyor tidak dimaksudkan sebagai dasar pemungutan Bea Keluar tetapi hanya sebagai salah satu syarat pemenuhan tata laksana ekspor.
 
  1. Jumlah Barang Yang Diekspor

    Bahwa Peraturan Menteri Keuangan Nomor 145/PMK.04/2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 145/Pmk.04/2007 tentang Ketentuan Kepabeanan Di Bidang Ekspor, dalam Pasal 9, menetapkan:

    Pemeriksaan fisik dapat dilaksanakan di:
    1. Kawasan Pabean di tempat pemuatan, tempat penimbunan sementara, tempat penimbunan pabean atau tempat penimbunan berikat; atau
    2. gudang Eksportir, atau tempat lain yang digunakan Eksportir untuk menyimpan Barang Ekspor.
bahwa Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-32/BC/2014 tentang Tata Laksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor, dalam Pasal 17 ayat (1), menetapkan:
Untuk mengetahui jumlah Barang Ekspor yang pemuatannya ke sarana pengangkut melalui pipa atau ban berjalan (conveyor belt), dilakukan pemeriksaan pada saat pemuatan berdasarkan hasil pengukuran alat ukur dibawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
 
Bahwa berdasarkan ketentuan diatas maka jumlah barang yang diekspor yang menjadi dasar untuk penghitungan Bea Keluar adalah jumlah barang dari hasil pengukuran alat ukur pada conveyor belt (metode Scale Belt) bukan jumlah barang dari hasil perhitungan diatas kapal (Metode Draught Survey);
 
  1. Pemungutan Bea Keluar:

    bahwa menurut Pasal 1 angka 15a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, “Bea keluar adalah pungutan negara berdasarkan undang-undang ini yang dikenakan terhadap barang ekspor.”

    bahwa mengenai pungutan bea keluar atas barang yang diekspor, Pasal 2A Undang-Undang Kepabeanan menyatakan sebagai berikut:
    (1)
    Terhadap barang ekspor dapat dikenakan bea keluar.
    (2)
    Bea keluar dikenakan terhadap barang ekspor dengan tujuan untuk:
     
    a.
    menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri;
     
    b.
    melindungi kelestarian sumber daya alam;
     
    c.
    mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional; atau
     
    d.
    menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri.
    (3)
    Ketentuan mengenai pengenaan bea keluar terhadap barang ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah”.
bahwa pelaksanaan dari Pasal 2A tersebut diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2008 tentang Pengenaan Bea Keluar Terhadap Barang Ekspor;
 
bahwa Pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2008 tentang Pengenaan Bea Keluar Terhadap Barang Ekspor, memberikan kewenangan atribusi kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri atas:
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran Bea Keluar, penetapan penghitungan Bea Keluar oleh Pejabat Bea dan Cukai, penetapan kembali penghitungan Bea Keluar oleh Direktur Jenderal, dan permohonan perubahan atas kesalahan Pemberitahuan Pabean Ekspor.
 
bahwa ketentuan tentang Pemungutan Bea Keluar ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.04/2008 tanggal 16 Desember 2008 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Nomor 86/PMK.04/2016, yaitu di dalam Pasal 9 ditetapkan kewenangan untuk melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium (diuraikan berdasarkan urutan perubahannya), sebagai berikut:
 
 214/PMK.04/2008
Mulai berlaku 01-Jan-09
Pasal 9
146/PMK.04/2014
Mulai berlaku 12-Sep-14
Pasal 9
86/PMK.04/2016
Mulai berlaku 23-Jul-16
Pasal 9
(1)
Terhadap Barang Ekspor yang dikenai Bea Keluar dilakukan pemeriksaan fisik.
 
(1)
Terhadap Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar dilakukan pemeriksaan fisik barang.
(1)
Terhadap Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar dilakukan pemeriksaan fisik barang.
(2)
Dikecualikan dari pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam hal ekspornya dilakukan oleh eksportir tertentu
(2)
Terhadap Barang Ekspor yang mendapat perlakuan khusus sepanjang diatur dalam peraturan perundang-undangan dilakukan pemeriksaan secara selektif berdasarkan risk management.
(2)
Pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai secara selektif berdasarkan manajemen risiko.
(3)
Eksportir tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah sesuai dengan ketentuan peraturan kepabeanan di bidang ekspor.
(3)
Pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
 
a.
pemeriksaan jumlah tanpa pemeriksaan jenis barang;
 
b.
pemeriksaan jumlah dan dapat dilakukan pemeriksaan jenis barang; atau
 
c.
pemeriksaan jumlah dan jenis barang.
(3)
Pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemeriksaan jumlah dan jenis barang.
 
(4)
Pemeriksaan jenis barang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan melalui pengujian laboratorium Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
(4)
Pemeriksaan jenis barang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan dengan pengujian laboratoris.
 
 
(4a)
Pengujian laboratoris sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan oleh laboratorium Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
 
(5)
Dalam hal tidak dapat dilakukan pengujian di laboratorium Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pengujian dapat dilakukan di laboratorium yang disepakati oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Eksportir yang hasilnya bersifat mengikat.
(5)
Dihapus
 
(6)
Pemeriksaan jenis barang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan oleh surveyor yang ditunjuk oleh pemerintah terhadap Barang Ekspor, meliputi:
 
a.
pemeriksaan pada penumpukan/penyimpanan barang; dan
 
b.
pemeriksaan pada saat pemuatan ke sarana pengangkut.
(6)
Dihapus
 
(7)
Eksportir atau kuasanya harus menyampaikan hasil pemeriksaan pada penumpukan/penyimpanan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a paling lama pada saat pengajuan pemberitahuan pabean ekspor.
(7)
Dihapus
 
(8)
Eksportir atau kuasanya harus menyampaikan hasil pemeriksaan pada saat pemuatan ke sarana pengangkut sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal pemberitahuan pabean ekspor.
(8)
Dihapus
 
(9)
Dalam hal hasil pemeriksaan pada saat pemuatan ke sarana pengangkut sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b belum diserahkan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (8), terhadap Eksportir dilakukan pemblokiran kegiatan kepabeanannya.
(9)
Dihapus
 
(10)
Pemeriksaan jenis barang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak mengurangi kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk melakukan pemeriksaan fisik barang.
(10)
Dihapus 
Bahwa dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 86/PMK.04/2016, yang mulai berlaku pada tanggal 23 Juli 2016, dengan tegas dinyatakan pada ayat (4a) sebagai berikut:
“Pengujian laboratoris sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan oleh laboratorium Direktorat Jenderal Bea dan Cukai”
 
bahwa berdasarkan ketentuan diatas maka Hasil Pemeriksaan Laboratorium yang digunakan sebagai dasar penetapan Harga Patokan Ekspor atas barang yang diekspor dengan PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016 adalah hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh Terbanding, yaitu Konsentrat Tembaga 28.27% dengan HPE FOB USD 1,679.11/WMT;
 
bahwa oleh karenanya Majelis berpendapat, penetapan Bea Keluar atas barang yang diekspor dan diberitahukan dengan PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016, yaitu Konsentrat Tembaga 28.27% oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Kepala Kantor Wilayah Bali, NTB dan NTT sesuai Surat Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar No. SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017 tetap dipertahankan;
 
MENIMBANG
bahwa atas hasil pemeriksaan dalam persidangan, Majelis berkeyakinan untuk menolak permohonan banding Pemohon Banding dan menetapkan atas Konsentrat Tembaga yang diekspor dan diberitahukan dengan PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016 adalah Konsentrat Tembaga dengan kadar 28.27% dengan HPE FOB USD 1,679.11/WMT sehingga terdapat kekurangan pembayaran Bea Keluar sebesar Rp928.384.000,00;
 
MEMPERHATIKAN
Surat Banding Pemohon Banding, Surat Uraian Banding Terbanding, Surat Bantahan Pemohon Banding, pemeriksaan dan pembuktian di dalam persidangan serta kesimpulan tersebut di atas;
 
MENGINGAT
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006, dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2008 Tentang Pengenaan Bea Keluar Terhadap Barang Ekspor;
 
MEMUTUSKAN
Menolak banding Pemohon Banding terhadap Surat Penetapan Kembali Perhitungan Bea Keluar Nomor SPKPBK-000005/WBC.12/2017 tanggal 10 April 2017 atas nama Pemohon Banding, dan menetapkan atas barang yang diekspor dan diberitahukan dengan PEB Nomor 000032 tanggal 13 Juni 2016 adalah Konsentrat Tembaga dengan kadar 28.27% dengan HPE FOB USD1,679.11/WMT sehingga terdapat kekurangan pembayaran Bea Keluar sebesar Rp928.384.000,00 (sembilan ratus dua puluh delapan juta tiga ratus delapan puluh empat ribu rupiah).
 
Demikian diputus di Jakarta berdasarkan musyawarah setelah pemeriksaan dalam persidangan yang dicukupkan di Surabaya pada hari Kamis, tanggal 17 Mei 2018 oleh Majelis XVIIA Pengadilan Pajak, dengan susunan Majelis dan Panitera Pengganti sebagai berikut:
Karlan Sjaibun Lubis, S.Sos. M.H. sebagai Hakim Ketua,
Widhi Hartono, S.E., M.E. sebagai Hakim Anggota,
Syaefudin, S.E. sebagai Hakim Anggota,
Henri Hutabarat sebagai Panitera Pengganti.
 
Dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua pada hari Rabu, tanggal 16 Januari 2019, dengan dihadiri oleh para Hakim Anggota, Panitera Pengganti, serta tidak dihadiri oleh Terbanding dan dihadiri oleh Pemohon Banding.
Perlu bantuan?

Mengalami kendala dalam menemukan dokumen yang Anda cari? Kami siap membantu, serta mengharapkan kritik dan saran dari Anda.


Mempersiapkan
Print File