Perda Kabupaten Jombang Nomor: 30 Tahun 2002
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG
NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG
PAJAK PARKIR DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JOMBANG, | ||||
|
|
|
|
|
|
Menimbang | ||||
|
a.
|
bahwa dalam upaya penertiban, pelaksanaan kewenagan pengaturan, pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pengusahaan parkir oleh pihak swasta yang memungut bayaran, sekaligus dalam rangka peningkatan pelayanan pada warga masyarakat serta Pendapatan Asli Daerah, maka dipandang mengatur ketentuan mengenai pengenaan Pajaknya;
| |||
|
b.
|
bahwa sehubungan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada konsideran menimbang huruf a, maka dipandang perlu mengatur ketentuan mengenai pajak parkir dalam suatu Peraturan Daerah.
| |||
|
|
|
|
|
|
Mengingat | ||||
|
1.
|
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa timur;
| |||
|
2.
|
Undang Undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960 tentang Panitia urusan Piutang Negara (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2137);
| |||
|
3.
|
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);
| |||
|
4.
|
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);
| |||
|
5.
|
Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang penagihan Pajak dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3686);
| |||
|
6.
|
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);
| |||
|
7.
|
Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antar Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);
| |||
|
8.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258);
| |||
|
9.
|
Peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3373);
| |||
|
10.
|
Peraturan Pemerintahan Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
| |||
|
11.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4138);
| |||
|
12.
|
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden;
| |||
|
13.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Jombang Nomor 4 Tahun 1987 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Jombang.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN JOMBANG | ||||
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||||
Menetapkan | ||||
|
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TENTANG PAJAK PARKIR.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 | ||||
|
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
| ||||
|
1.
|
Daerah, adalah Kabupaten Jombang;
| |||
|
2.
|
Pemerintah Daerah, adalah Kepala Daerah Beserta Perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah.
| |||
|
3.
|
Kepala Daerah, adalah Bupati Jombang;
| |||
|
4.
|
Pejabat yang ditunjuk, adalah Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Jombang;
| |||
|
5.
|
Wilayah Daerah, adalah wilayah Kabupaten Jombang;
| |||
|
6.
|
Kas Daerah, adalah Kas Daerah Kabupaten Jombang
| |||
|
7.
|
Tempat Parkir adalah, penyelenggaraan parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran.
| |||
|
8.
|
Pajak Parkir, adalah pajak yang dikenakan atas penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha naupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran;
| |||
|
9.
|
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lain, Dalam Usaha Mulik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan yayasan, organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya;
| |||
|
10.
|
Subyek Pajak adalah orang atau badan yang dapat dikenakan Pajak Daeah;
| |||
|
11.
|
Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu;
| |||
|
12.
|
Pajak Daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang , yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunkan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daearh dan Pembangunan Daerah;
| |||
|
13.
|
Badan dalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya;
| |||
|
14.
|
Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat , dalam masa Pajak, dalam Tahun Pajak atau dalam bagian Tahun pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
| |||
|
15.
|
Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah;
| |||
|
16.
|
Surat Setoran Pajak daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah atau ketempat lain yang ditetapkan oleh Bupati;
| |||
|
17.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjtnya disingkat SKPD adalah surat keputusan pajak yang mementukan besarnya jumlah pokok pajak;
| |||
|
18.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDKB, adalah surat keputusan ketetapan yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah pokok pajak jumlah kridit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar;
| |||
|
19.
|
Surat Ketetapan Pajak daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang ditetapkan;
| |||
|
20.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang;
| |||
|
21.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang selanjutnya disingkat SKPDN, adalah surat ketetapan yang menentukan jomlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kridit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;
| |||
|
22.
|
Surat Tagihan Pajak daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan penagihan pajak atau sangksi administrsi berupa bunga dan atau denda;
| |||
|
23.
|
Surat Keputusan Pembentulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undang perpajakan Daerah yang terdapat dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah kurang bayar , Surat ketetapan Pajak daerah Kurang bayar Tambahan , Surat Ketetapan Pajak Daerah lebih bayar, Surat Ketetapan Pajak daerah Nihil atau Surat Tagihan Pajak Daerah;
| |||
|
24.
|
Surat Kepeutusan Keberatan dalah surat keputusan atas keberatan terhadap Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah kurang bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang bayar Tambahan, Surat Ketetapan pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan wajib Pajak.
| |||
|
25.
|
Pengusaha Kena pajak Daerah adalah pengusaha orang pribadi atau badan yang dalam menjalankan usahanya berkewajiban memungut pajak daerah sesuai dengan peraturan daerah;
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
NAMA, OBYEK DAN SUBYEK PAJAK Pasal 2 | ||||
|
(1)
|
Dengan Nama Pajak Parkir dipungut penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitiapan kendaraan dan garasi kendaraan bermotor yang memungut biaya;
| |||
|
(2)
|
Obyek Pajak Parkir, adalah penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitiapan kendaraan dan garasi kendaraan bermotor yang memungut biaya;
| |||
|
(3)
|
Tidak temasuk obyek pasak sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah penyelenggaraan tempat parkir oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 3 | ||||
|
(1)
|
Subyek Pajak parkir adalah orang atau badan yang melakukan pembayaran atas tempat parkir;
| |||
|
(2)
|
Wajib Pajak adalah orang atau badan yang menyelenggarakan tempat parkir.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
DASAR PENGENAAN, TARIP DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK Pasal 4 | ||||
|
Dasar Pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk pemakainan tempat parkir.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 6 | ||||
|
Tarif pajak parkir ditetapkan sebesar 20% dari jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk pemakaian tempat parkir.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
WILAYAH DANTATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK Pasal 6 | ||||
|
(1)
|
Pajak yang terutang dipungut di Wilayah Daerah;
| |||
|
(2)
|
Pemungutan Pajak tidak dapat diborongkan.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
MASA PAJAK , SAAT PAJAK TERUTANG DAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH Pasal 7 | ||||
|
Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) Bulan Takwin
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 9 | ||||
|
Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pelayanan di tempat parkir atau diterbitkan SKPD.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB VI
SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH, TATA CARA PERHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK Pasal 10 | ||||
|
(1)
|
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD;
| |||
|
(2)
|
SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya;
| |||
|
(3)
|
SPTPD yang dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan kepada Pejabat selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak;
| |||
|
(4)
|
Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan oleh Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 11 | ||||
|
(1)
|
SPTPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terutang;
| |||
|
(2)
|
Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (3), Bupati atau Pejabat menetapkan pajak yang terutang dengan menerbitkan SKPD;
| |||
|
(3)
|
Apabila SKPD sebagimana dimaksud pada ayat (2) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima oleh Wajib Pajak, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 12 | ||||
|
(1)
|
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutang pajak, Bupati atau Pejabat dapat menerbitkan:
| |||
|
|
a.
|
SKPDKB;
| ||
|
|
b.
|
SKPDKBT;
| ||
|
|
c.
|
SKPDN.
| ||
|
(2)
|
SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diterbitkan apabila:
| |||
|
|
a.
|
Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan pihak lain pajak yang terutang tidak atau kurang bayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutang pajak;
| ||
|
|
b.
|
SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sangsi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutang pajak;
| ||
|
|
c.
|
Kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan, dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutang pajak.
| ||
|
(3)
|
SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut;
| |||
|
(4)
|
SKPDN sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf c diterbitkan apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;
| |||
|
(5)
|
Apabila kewajiban membayar pajak yang terutan dalam SKPDKB dan SKPDKBT dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ditagih dengan menerbitkan STPD;
| |||
|
(6)
|
Penambahan jumlah pajak yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan apabila Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB VII
TATA CARA PEMBAYARAN PAJAK Pasal 13 | ||||
|
(1)
|
Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Bupati sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD;
| |||
|
(2)
|
Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk , hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Bupati;
| |||
|
(3)
|
Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan menggunakan SSPD atau dokumen lain yang dapat dipersamakan.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 14 | ||||
|
(1)
|
Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas;
| |||
|
(2)
|
Bupati dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengansur pajak yang terutang dalam kurun waktu tertentu;
| |||
|
(3)
|
Angsuran pembayaran pajak pada ayat (2) harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang bayar;
| |||
|
(4)
|
Bupati dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk menunda pembaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% (dua Persen) perbulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar;
| |||
|
(5)
|
Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran dan penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4), ditetapkan oleh Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 15 | ||||
|
(1)
|
Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan;
| |||
|
(2)
|
Bentuk, jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB VIII
TATA CARA PENAGIHAN PAJAK
Pasal 16 | ||||
|
(1)
|
Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran;
| |||
|
(2)
|
Dalam jangka waktu 7 (tuhuh) hari setelah tanggal Surat Tegoran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Pajak hatus melunasi pajak terutang;
| |||
|
(3)
|
Surat Tegoran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Pejabat.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 17 | ||||
|
(1)
|
Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, jumlah pajak harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa;
| |||
|
(2)
|
Bupati menerbitkan Surat Paksa segera setelah melewati 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 18 | ||||
|
Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan Surat Paksa, Bupati segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 19 | ||||
|
Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi hutang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Bupati mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 20 | ||||
|
Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 21 | ||||
|
Bentuk, jenis dan isi formulir yang dipergunakan untuk pelaksanakan penagihan Pajak Daerah ditetapkan oleh Bupati.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB IX
PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK Pasal 22 | ||||
|
(1)
|
Bupati berdasarkan permohonan Wajib Pajak dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak;
| |||
|
(2)
|
Tata cara pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB X
TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI Pasal 23 | ||||
|
(1)
|
Bupati karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat:
| |||
|
|
a.
|
Membetulkan SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD apabila terdapat kesalahan dalam penetapannya;
| ||
|
|
b.
|
Mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak yang tidak benar;
| ||
|
|
c.
|
Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya.
| ||
|
(2)
|
Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD sebgaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Bupati atau Pejabat selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD dengan memberikan alasan yang jelas;
| |||
|
(3)
|
Bupati atau Pejabat paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah harus memberikan keputusan;
| |||
|
(4)
|
Apabila setelah lewat waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Bupati atau Pejabat tidak memebrikan keputusan, permohonan pembetulan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XI
KEBERATAN BANDING Pasal 24 | ||||
|
(1)
|
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat atas suatu:
| |||
|
|
a.
|
SKPD;
| ||
|
|
b.
|
SKPDKB;
| ||
|
|
c.
|
SKPDKBT;
| ||
|
|
d.
|
SKPDLB;
| ||
|
|
e.
|
SKPDN.
| ||
|
(2)
|
Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas;
| |||
|
(3)
|
Dalam hal Wajib Pajak mengajukan kebaratan atas ketetapan pajak secara jabatan, Wajib Pajak harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak tersebut;
| |||
|
(4)
|
Permohonan keberatan harus diajuan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB dan SKPDN diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya;
| |||
|
(5)
|
Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) tidak dianggap sebagai surat keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan;
| |||
|
(6)
|
Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak pelaksanaan penagihan pajak;
| |||
|
(7)
|
Bupati atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah memberikan keputusan;
| |||
|
(8)
|
Keputusan Bupati atau Pejabat atas permohonan keberatan Wajib Pajak sebagaimana ayat (3) dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya pajak terutang;
| |||
|
(9)
|
Apabila setelah lewat jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Bupati atau Pejabat tidak memberikan suatu keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 25 | ||||
|
(1)
|
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Bupati atau Pejabat;
| |||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia, dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima, dilampiri salinan dari surat Keputusan tersebut;
| |||
|
(3)
|
Pengajuan permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak pelaksanaan penagihan pajak.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 26 | ||||
|
Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 atau banding sebagaimana dimaksud pasal 25 dikabulkan sebagaian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK Pasal 27 | ||||
|
(1)
|
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Bupati secara tertulis dengan menyebutkan sekurang-kurangnya:
| |||
|
|
a.
|
Nama dan Alamat Wajib Pajak;
| ||
|
|
b.
|
Masa Pajak;
| ||
|
|
c.
|
Besarnya kelebihan pembayaran pajak;
| ||
|
|
d.
|
Alasan yang jelas.
| ||
|
(2)
|
Bupati dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan;
| |||
|
(3)
|
Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampaui, Bupati tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan;
| |||
|
(4)
|
Apabila Wajib Pajak pajak mempunyai utang pajak lainnya, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) langsung diperhitungkan/dikompensasikan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak dimaksud;
| |||
|
(5)
|
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkan SKPDLB, dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP)
| |||
|
(6)
|
Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan sejak diterbitkan SKPDLB, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pajak.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 28 | ||||
|
Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan utang pajak lainnya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat (4), pembayarannya dilakukan dengan cara pemindahbukuan dan bukti pemindahbukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XIII
PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN Pasal 29 | ||||
|
(1)
|
Wajib Pajak yang memenuhi kriteria tertentu wajib menyelenggarakan pembukuan;
| |||
|
(2)
|
Kriteria Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tata cara pembukuan diatur oleh Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 30 | ||||
|
(1)
|
Bupati atau Pejabat berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dalam rangka melaksanakan peraturan daerah;
| |||
|
(2)
|
Wajib Pajak yang diperiksa wajib:
| |||
|
|
a.
|
Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan obyek pajak terutang;
| ||
|
|
b.
|
Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan;
| ||
|
|
c.
|
Memberikan keterangan yang diperlukan.
| ||
|
(3)
|
Tata cara pemeriksaan pajak diatur oleh Bupati.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 31 | ||||
|
(1)
|
Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang tidak berhak, segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan daerah;
| |||
|
(2)
|
Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga terhadap tenaga ahli yang ditunjuk oleh bupati untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan daerah;
| |||
|
(3)
|
Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah:
| |||
|
|
a.
|
Pejabat dan tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau saksi ahli dalam sidang pengadilan;
| ||
|
|
b.
|
Pejabat atau tenaga ahli yang memberikan keterangan kepada pihak lain yang ditetapkan oleh bupati.
| ||
|
(4)
|
Untuk kepentingan daerah, Bupati berwenang memberi izin tertulis kepada Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tenaga-tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2), supaya memberikan keterangan memperlihatkan bukti tertulis atau tentang Wajib Pajak kepada pihak yang ditunjuknya.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XV
KADALUWARSA PENAGIHAN Pasal 32 | ||||
|
(1)
|
Hak untuk melakukan penagihan pajak, kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutangmnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;
| |||
|
(2)
|
Kadaluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila:
| |||
|
|
a.
|
Diterbitkan Surat Tegoran dan Surat Paksa atau;
| ||
|
|
b.
|
Ada pengakuan hutang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak langsung.
| ||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XV
KETENTUAN PIDANA Pasal 33 | ||||
|
(1)
|
Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak 2 (dua) kali pajak yang terutang;
| |||
|
(2)
|
Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak 4 (empat) kali pajak yang terutang;
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 34 | ||||
|
Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada 33 ayat (1) dan (2) tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya bagian Tahun Pajak atau berakhirnya Tahun Pajak.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XVI
PENYIDIKAN Pasal 35 | ||||
|
(1)
|
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Kabupaten diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana perpajakan daerah sebagaimana dimaksud dalam undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku;
| |||
|
(2)
|
Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
| |||
|
|
a.
|
Menerima, mencari mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
| ||
|
|
b.
|
Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan dengan tindak pidana perpajakan daerah tersebut;
| ||
|
|
c.
|
Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;
| ||
|
|
d.
|
Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;
| ||
|
|
e.
|
Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
| ||
|
|
f.
|
Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;
| ||
|
|
g.
|
Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas seseorang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;
| ||
|
|
h.
|
Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan daerah;
| ||
|
|
i.
|
Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
| ||
|
|
j.
|
Menghentikan penyidikan;
| ||
|
|
k.
|
Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah menurut hukum yang bertanggungjawab.
| ||
|
(3)
|
Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, melalui penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 36 | ||||
|
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 1 Tahun 1998 tentang Pajak Reklame dinyatakan dicabut dan tidak berlaku.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 37 | ||||
|
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 38 | ||||
|
Pelaksanaan Peraturan Daerah ini pemungutannya dilaksanakan Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Jombang.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 39 | ||||
|
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Jombang.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Jombang
pada tanggal 16 Nopember 2002 BUPATI JOMBANG, ttd. AFFANDI Diundangkan di Jombang pada tanggal 16 Nopember 2002 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JOMBANG, ttd. Drs. SOEHARTO Msi. LEMBARAN DAERAHA KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2002 NOMOR 30/B | ||||
PENJELASANATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PARKIR | ||||
|
|
|
|
|
|
|
I.
|
PENJELASAN UMUM
| |||
|
|
Bahwa dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000, dalam rangka meningatkan Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari sumber Pajak Daerah; maka dipandang perlu mengatur ketentuan luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran oleh pihak swasta dngan menetapkannya dalam suatu Peraturan Daerah.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
II.
|
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
| |||
|
|
Pasal 1 s/d 39
Cukup jelas.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 49
| ||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.