Peraturan Walikota Kota Banjar Nomor: 2 Tahun 2015
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN WALIKOTA BANJAR
NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG
PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA BANJAR,
| ||||
|
|
|
|
|
|
Menimbang | ||||
|
a.
|
bahwa pelaksanaan pengurangan BPHTB yang sebelumnya dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PKM.03/2006 tanggal 13 Oktober 2006 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 561/KMK.03/2004 tentang Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang berpedoman Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, dinyatakan tidak berlaku berdasarkan ketentuan Pasal 183 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
| |||
|
b.
|
bahwa ketentuan mengenai pengurangan BPHTB telah diatur berdasarkan ketentuan Pasal 18 Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan;
| |||
|
c.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB);
| |||
|
|
|
|
|
|
Mengingat | ||||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
| |||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar di Provinsi Jawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 130 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4244);
| |||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
| |||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
| |||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
| |||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
| |||
|
7.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
| |||
|
8.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
| |||
|
9.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
| |||
|
10.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
| |||
|
11.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
| |||
|
12.
|
Peraturan Daerah Kota Banjar Nomor 7 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi Kewenangan Kota Banjar (Lembaran Daerah Kota Banjar Tahun 2008 Nomor 7);
| |||
|
13.
|
Peraturan Daerah Kota Banjar Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kota Banjar sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Daerah Kota Banjar Nomor 15 Tahun 2012 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Daerah Kota Banjar Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Organisasi Perangkat Daerah Kota Banjar;
| |||
|
14.
|
Peraturan Daerah Kota Banjar Nomor 3 Tahun 2011 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Daerah Kota Banjar Tahun 2011 Nomor 3 Seri B, Tambahan Lembaran Daerah Kota Banjar Nomor 2);
| |||
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||||
Menetapkan | ||||
|
PERATURAN WALIKOTA BANJAR TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB).
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 | ||||
|
Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:
| ||||
|
1.
|
Daerah adalah Pemerintah Kota Banjar.
| |||
|
2.
|
Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
| |||
|
3.
|
Walikota adalah Walikota Banjar.
| |||
|
4.
|
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Banjar.
| |||
|
5.
|
Badan Pertanahan Nasional yang selanjutnya disingkat BPN adalah Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
| |||
|
6.
|
Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset yang selanjutnya disebut Dinas adalah Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Banjar.
| |||
|
7.
|
Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Banjar.
| |||
|
8.
|
Pajak Daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah Kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
| |||
|
9.
|
Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disingkat BPHTB adalah Pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan.
| |||
|
10.
|
Perolehan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan adalah Perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.
| |||
|
11.
|
Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan adalah Hak atas tanah, termasuk hak perolehan beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang di bidang pertanahan dan bangunan.
| |||
|
12.
|
Perolehan Hak karena Waris adalah Perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan oleh ahli waris dari pewaris, yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia.
| |||
|
13.
|
Perolehan Hak karena Hibah Wasiat adalah Perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.
| |||
|
14.
|
Hak Pengelolaan adalah Hak menguasai dari Negara atas tanah yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya untuk merencanakan peruntukan dan pengunaan tanah, menggunakan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, menyerahkan bagian-bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga dan/atau bekerja sama dengan pihak ketiga.
| |||
|
15.
|
Nilai Perolehan Objek Pajak Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disingkat NPOP-BPHTB adalah Nilai perolehan objek pajak yang menjadi dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
| |||
|
16.
|
Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang selanjutnya disingkat NPOPTKP adalah Nilai Objek Pajak yang dikurangi dari Nilai Perolehan Objek Pajak sebelum perhitungan besarnya pajak terutang.
| |||
|
17.
|
Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan yang selanjutnya disingkat NJOP-PBB adalah Harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau NJOP pengganti.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
PEMBERIAN DAN KEWENANGAN PENGURANGAN
Pasal 2 | ||||
|
(1)
|
Atas permohonan Wajib Pajak, Walikota atau pejabat yang ditunjuk dapat memberikan pengurangan BPHTB.
| |||
|
(2)
|
Pemberian pengurangan BPHTB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan daerah, kepentingan sosial dan keagamaan, antara lain sebagai berikut:
| |||
|
|
a.
|
Pengurangan BPHTB sebesar 25% (dua puluh lima persen) untuk Rumah Sederhana (RS), Rumah Susun Sederhana dan Rumah Sangat Sederhana yang diperoleh langsung dari pengembang dan dibayar secara angsuran.
| ||
|
|
b.
|
Pengurangan BPHTB sebesar 50% (lima puluh persen) untuk:
| ||
|
|
|
1.
|
Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain hak pengelolaan dan telah menguasai tanah dan/atau bangunan secara fisik lebih dari 20 (dua puluh) tahun yang dibuktikan dengan surat pernyataan dan keterangan dari pejabat pemerintah setempat, atau
| |
|
|
|
2.
|
Wajib Pajak orang pribadi yang menerima hibah dari orang pribadi yang mempunyai hubungan sedarah dalam garis keturunan lurus 1 (satu) derajat ke atas atau 1 (satu) derajat ke bawah; atau
| |
|
|
|
3.
|
Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah NJOP-PBB; atau
| |
|
|
|
4.
|
Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah yang dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum; atau
| |
|
|
|
5.
|
Wajib Pajak Badan yang melakukan penggabungan usaha (merger) atau peleburan usaha (konsolidasi) dengan atau tanpa terlebih dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan persetujuan penggunaan nilai buku dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha; atau
| |
|
|
|
6.
|
Wajib Pajak Badan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah atau bangunan yang berasal dari perusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai kelanjutan dari pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan Keuangan dari perusahaan asuransi dan reasuransi; atau
| |
|
|
|
7.
|
Tanah dan/atau Bangunan yang digunakan kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan antara lain untuk panti asuhan, panti jompo, rumah yatim piatu, sekolah/universitas dan sejenisnya, rumah sakit swasta milik institusi/lembaga pelayanan sosial masyarakat; atau
| |
|
|
|
8.
|
Wajib Pajak orang pribadi, Veteran, PNS, TNI/POLRI, Pensiunan PNS, Purnawirawan TNI/POLRI atau janda/dudanya yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan rumah dinas melalui jual beli atau perbuatan hukum lainnya yang diperoleh dari Veteran, PNS, TNI/POLRI, Pensiunan PNS, Purnawirawan TNI/POLRI atau janda/dudanya yang sah sebagai penerima rumah dinas pemerintah; atau
| |
|
|
|
9.
|
Wajib Pajak Badan yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga wajib pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan/atau utang usaha sesuai dengan kebijakan pemerintah; atau
| |
|
|
|
10.
|
Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan yang tidak berfungsi lagi seperti semula disebabkan oleh bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran dan lain-lain yang terjadi dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak penandatanganan akte.
| |
|
|
c.
|
Pengurangan BPHTB sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) untuk:
| ||
|
|
|
1.
|
Wajib Pajak Orang Pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan (prona) dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomi; atau
| |
|
|
|
2.
|
Wajib Pajak Orang Pribadi yang namanya tercatat langsung sebagai penerima rumah dinas dari pemerintah yaitu Veteran, Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, POLRI, Pensiunan PNS, Purnawirawan TNI/POLRI atau janda/dudanya
| |
|
|
d.
|
Pengurangan BPHTB sebesar 100% (seratus persen) untuk:
| ||
|
|
|
1.
|
Wajib Pajak Badan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS; atau
| |
|
|
|
2.
|
Kepada Duta Besar dengan anggota Korps Diplomatik Negara Sahabat dengan pertimbangan azas timbal balik (resiprositas) sesuai dengan Konvensi Wina 1961 dan perubahannya.
| |
|
|
|
|
|
|
Pasal 3 | ||||
|
Walikota karena jabatannya mendelegasikan pemberian pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 kepada Kepala Dinas atas nama Walikota.
| ||||
|
|
|
|
|
|
Pasal 4 | ||||
|
(1)
|
Kepala Dinas berwenang memberikan keputusan pengurangan BPTHTB dalam hal nilai perolehan objek pajak paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk satu pengajuan pengurangan.
| |||
|
(2)
|
Walikota berwenang memberikan keputusan pengurangan BPHTB dalam hal nilai perolehan objek pajak lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk satu pengajuan pengurangan.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
TATA CARA PENGURANGAN
Pasal 5 | ||||
|
(1)
|
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), secara tertulis kepada Kepala Dinas
| |||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diajukan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkan Keputusan Kepala Kantor Pertanahan.
| |||
|
(3)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus dilengkapi dengan persyaratan sekurang-kurangnya antara lain:
| |||
|
|
a.
|
Untuk Rumah Sederhana (RS), Rumah Susun Sederhana dan Rumah Sangat Sederhana yang diperoleh langsung dari pengembang dan dibayar secara angsuran:
| ||
|
|
|
1.
|
Bukti kepemilikan Rumah Sederhana (RS)/Rumah Susun Sederhana/Rumah Sangat Sederhana;
| |
|
|
|
2.
|
Bukti pembayaran PPh;
| |
|
|
|
3.
|
Bukti pembayaran BPHTB;
| |
|
|
|
4.
|
Bukti SPPT-PBB tahun berjalan; dan
| |
|
|
|
5.
|
Surat pernyataan perolehan rumah dari pengembang.
| |
|
|
b.
|
Untuk Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain hak pengelolaan dan telah menguasai tanah dan/atau bangunan secara fisik lebih dari 20 (dua puluh) tahun:
| ||
|
|
|
1.
|
Akte Pendirian dan Perubahannya;
| |
|
|
|
2.
|
Surat pernyataan atau keterangan dari pejabat pemerintah setempat;
| |
|
|
|
3.
|
Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional, mengenai pemberian Hak Guna Bangunan atau hak lainnya;
| |
|
|
|
4.
|
Bukti pembayaran PPh;
| |
|
|
|
5.
|
Bukti pembayaran BPHTB; dan
| |
|
|
|
6.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
c.
|
Untuk Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yaang nilai ganti ruginya di bawah NJOP-PBB:
| ||
|
|
|
1.
|
Surat keterangan hasil ganti rugi dari pemerintah;
| |
|
|
|
2.
|
Akte Jual Beli;
| |
|
|
|
3.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
4.
|
Bukti Pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
d.
|
Untuk Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah yang dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum:
| ||
|
|
|
1.
|
Surat keterangan penggantian atas tanah dan pemerintah;
| |
|
|
|
2.
|
Surat kavling atas tanah atau surat sejenisnya;
| |
|
|
|
3.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
4.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun berakhir.
| |
|
|
e.
|
Tanah dan/atau bangunan yang digunakan kepentingan sosial atau pendidikan, antara lain untuk panti asuhan, panti jompo, rumah yatim piatu, sekolah/universitas dan sejenisnya, rumah sakit swasta milik institusi/lembaga pelayanan sosial masyarakat:
| ||
|
|
|
1.
|
Akte Pendirian dan Perubahannya;
| |
|
|
|
2.
|
Surat Izin Usaha dari instansi berwenang;
| |
|
|
|
3.
|
Surat Keterangan atas tanah dan/atau bangunan yang digunakan kepentingan sosial atau pendidikan dari pejabat setempat;
| |
|
|
|
4.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
5.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
f.
|
Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan yang memperoleh hak pengelolaan selain kementerian, lembaga pemerintah non kementerian, pemerintah provinsi, lembaga pemerintah lainnya dan Perusahaan Umum Perumahan Nasional (PERUM PERUMNAS):
| ||
|
|
|
1.
|
Akte Pendirian dan Perubahannya;
| |
|
|
|
2.
|
Surat Keputusan hak pengelolaan dari instansi di luar kementerian, lembaga pemerintah non kementerian, pemerintah provinsi, lembaga pemerintah lainnya dan Perusahaan Umum Perumahan Nasional (PERUM PERUMNAS);
| |
|
|
|
3.
|
Akte dari Notaris atau PPAT;
| |
|
|
|
4.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
5.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
g.
|
Wajib Pajak Badan yang terkena dampak, krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga wajib pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan/atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah:
| ||
|
|
|
1.
|
Keputusan Pengadilan atas restrukturisasi usaha atau usaha dinyatakan pailit;
| |
|
|
|
2.
|
dampak krisis ekonomi dan moneter sekurang-kurangnya dinyatakan oleh pemerintah baik resmi maupun berdasarkan keterangan atau informasi dari lembaga pemerintah atau media surat kabar;
| |
|
|
|
3.
|
Akta Pendirian dan Perubahannya;
| |
|
|
|
4.
|
Surat Izin Usaha dari instansi berwenang;
| |
|
|
|
5.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
6.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
h.
|
Wajib Pajak yang terkena bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran dan lain-lain:
| ||
|
|
|
1.
|
Bencana alam sekurang-kurangnya telah dinyatakan oleh pemerintah baik resmi maupun berdasarkan keterangan atau informasi dari lembaga pemerintah atau media surat kabar;
| |
|
|
|
2.
|
Bukti keadaan objek pajak terkena bencana alam;
| |
|
|
|
3.
|
Akte Pendirian dan Perubahannya;
| |
|
|
|
4.
|
Surat Izin Usaha dari instansi berwenang;
| |
|
|
|
5.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
6.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
i.
|
Wajib Pajak Orang Pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan (prona) dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomi:
| ||
|
|
|
1.
|
Keputusan Pemerintah mengenai Program Pemerintah di bidang Pertanahan (Prona);
| |
|
|
|
2.
|
Surat keterangan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis yang diterbitkan oleh pejabat setempat;
| |
|
|
|
3.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
4.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
j.
|
Wajib Pajak Orang Pribadi yang namanya tercatat sebagai penerima rumah dinas dari pemerintah yaitu Veteran, Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, POLRI, Pensiunan PNS, Purnawirawan TNI/POLRI atau janda/dudanya:
| ||
|
|
|
1.
|
Keputusan dari instansi pemerintah bersangkutan yang menetapkan sebagai penerima rumah dinas dari pemerintah;
| |
|
|
|
2.
|
Nomor Induk Pegawai/NRP;
| |
|
|
|
3.
|
Surat Keputusan Purna Bakti/Pensiun;
| |
|
|
|
4.
|
Identitas diri;
| |
|
|
|
5.
|
Kartu Keluarga (KK); dan
| |
|
|
|
6.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir;
| |
|
|
k.
|
Wajib Pajak Badan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS.
| ||
|
|
|
1.
|
Surat Keputusan dari Kementerian Perumahan yang menetapkan KORPRI/PNS memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS;
| |
|
|
|
2.
|
Akta Pendirian dan Perubahannya;
| |
|
|
|
3.
|
Surat Keputusan Badan Pertanahan;
| |
|
|
|
4.
|
Identitas diri; dan
| |
|
|
|
5.
|
Bukti pembayaran SPPT-PBB 5 (lima) tahun terakhir.
| |
|
|
|
|
|
|
Pasal 6 | ||||
|
(1)
|
Pemberian pengurangan BPHTB hanya dapat diberikan untuk 1 (satu) SSPD-BPHTB per objek pajak.
| |||
|
(2)
|
Terhadap Wajib Pajak yang sama yang memiliki beberapa objek pajak hanya dapat mengajukan permohonan pengurangan BPHTB untuk 1 (satu) objek pajak yang Nilai Perolehan Objek Pajaknya (NPOP) terbesar diantara objek pajak yang lainnya.
| |||
|
(3)
|
Dalam hal Wajib Pajak telah diberikan pengurangan BPHTB dan telah diterbitkan keputusan pengurangan, maka Wajib Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pengurangan atau keringanan atau pembebasan BPHTB atas objek yang sama.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 7 | ||||
|
(1)
|
Berdasarkan permohonan pengurangan BPHTB dari Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Kepala Dinas selanjutnya melakukan penelitian administrasi dengan ketentuan sebagai berikut:
| |||
|
|
a.
|
Menolak permohonan apabila permohonan beserta persyaratannya tidak memenuhi ketentuan Pasal 5; atau
| ||
|
|
b.
|
Menerima permohonan apabila permohonan beserta persyaratannya memenuhi ketentuan Pasal 5.
| ||
|
(2)
|
Terhadap permohonan yang ditolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Kepala Dinas menerbitkan surat penolakan yang disertai dengan alasan penolakan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya permohonan.
| |||
|
(3)
|
Penyampaian surat penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), disampaikan paling lama 7 (tujuh) hari kerja kepada Wajib Pajak yang bersangkutan sejak ditandatangani surat penolakan.
| |||
|
(4)
|
Dalam hal permohonan pengurangan diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, Kepala Dinas dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja menerbitkan keputusan pengurangan yang ditandatangani oleh Kepala Dinas.
| |||
|
(5)
|
Dalam hal pemberian keputusan pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), sebelumnya dapat dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas yang dibentuk oleh Kepala Dinas.
| |||
|
(6)
|
Keputusan pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), disampaikan kepada Wajib Pajak paling lama dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah ditandatangani.
| |||
|
|
|
|
|
|
Pasal 8 | ||||
|
Ketentuan lebih lanjut yang bersifat teknis mengenai pengurangan serta tugas Tim Pembahasan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Dinas.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 9 | ||||
|
(1)
|
Terhadap Wajib Pajak yang telah memperoleh keputusan pengurangan BPHTB sebelum berlakunya Peraturan Walikota ini, tidak dapat mengajukan permohonan kembali atau mengajukan permohonan kelebihan pembayaran BPHTB atas objek pajak yang telah memperoleh keputusan tersebut.
| |||
|
(2)
|
Terhadap Wajib Pajak yang telah mengajukan permohonan dan saat ini sedang diproses permohonan keputusan pengurangan sebelum berlakunya Peraturan Walikota ini, dapat diberikan pengurangan berdasarkan Peraturan Walikota ini.
| |||
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 10 | ||||
|
Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Walikota ini dalam Berita Daerah Kota Banjar.
| ||||
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Banjar
pada tanggal 5 Januari 2015
WALIKOTA BANJAR,
ADE UU SUKAESIH.
Diundangkan di Banjar
pada tanggal 5 Januari 2015
SEKRETARIS DAERAH KOTA BANJAR
FENNY FAHRUDIN
BERITA DAERAH KOTA BANJAR TAHUN 2015 NOMOR 2
| ||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.