Peraturan Bupati Kabupaten Pangandaran Nomor: 62 Tahun 2018
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN BUPATI PANGANDARAN
NOMOR 62 TAHUN 2018 TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PANGANDARAN,
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | ||||||||
|
a.
|
bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat serta mewujudkan kemandirian daerah;
| |||||||
|
b.
|
bahwa untuk melaksanakan Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, perlu mengatur petunjuk pelaksanaanya;
| |||||||
|
c.
|
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | ||||||||
|
1.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;
| |||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
| |||||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
| |||||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
| |||||||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
| |||||||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;
| |||||||
|
7.
|
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pangandaran di Provinsi Jawa Barat;
| |||||||
|
8.
|
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
| |||||||
|
9.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
| |||||||
|
10.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
| |||||||
|
11.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah atau dibayar Sendiri oleh Wajib Pajak;
| |||||||
|
12.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Pemungutan Pajak Daerah;
| |||||||
|
13.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
| |||||||
|
14.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;
| |||||||
|
15.
|
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah;
| |||||||
|
16.
|
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 172 Tahun 1997 tentang Kriteria Wajib yang Wajib Menyelenggarakan Pembukuan dan Tata Cara Pembukuan;
| |||||||
|
17.
|
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 Tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan dibidang Pajak Daerah;
| |||||||
|
18.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 31 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Pangandaran;
| |||||||
|
19.
|
Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pajak Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.;
| |||||||
|
20.
|
Peraturan Bupati Pangandaran Nomor 44 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi serta Tata Kerja Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pangandaran;
| |||||||
|
21.
|
Peraturan Bupati Pangandaran Nomor 06.A Tahun 2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| ||||||||
Menetapkan | ||||||||
|
PERATURAN BUPATI TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 | ||||||||
|
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:
| ||||||||
|
1.
|
Daerah adalah Daerah Kabupaten Pangandaran;
| |||||||
|
2.
|
Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin Pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi Kewenangan Daerah Otonom;
| |||||||
|
3.
|
Bupati adalah Bupati Pangandaran;
| |||||||
|
4.
|
Pejabat yang berwenang atau Pejabat yang ditunjuk adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan;
| |||||||
|
5.
|
Badan Pengelolaan Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat BPKD adalah Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Pangandaran;
| |||||||
|
6.
|
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah yang selanjutnya disebut Kepala BPKD adalah Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Pangandaran;
| |||||||
|
7.
|
Kas Daerah adalah Kas Daerah Kabupaten Pangandaran;
| |||||||
|
8.
|
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap;
| |||||||
|
9.
|
Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah;
| |||||||
|
10.
|
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan;
| |||||||
|
11.
|
Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di bidang mineral dan batubara;
| |||||||
|
12.
|
Eksploitasi Mineral Bukan Logam dan Batuan, adalah pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan dari sumber alam di dalam atau di permukaan bumi untuk dimanfaatkan;
| |||||||
|
13.
|
Usaha Pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan, adalah segala kegiatan usaha pertambangan yang meliputi beberapa tahap kegiatan, antara lain eksplorasi, eksperimen, pengolahan/pemurnian, pengangkutan dan penjualan Mineral Bukan Logam dan Batuan;
| |||||||
|
14.
|
Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah;
| |||||||
|
15.
|
Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu;
| |||||||
|
16.
|
Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan 1 (satu) bulan kalender yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor dan melaporkan pajak yang terutang;
| |||||||
|
17.
|
Tahun Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun kalender, kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender;
| |||||||
|
18.
|
Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam bagian Tahun Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah;
| |||||||
|
19.
|
Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya;
| |||||||
|
20.
|
Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, Objek Pajak dan/atau bukan Objek Pajak dan/atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah;
| |||||||
|
21.
|
Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD, adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati;
| |||||||
|
22.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDKB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administratif, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar;
| |||||||
|
23.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya disingkat SKPDKBT, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan pada SKPDKB;
| |||||||
|
24.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang;
| |||||||
|
25.
|
Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil yang selanjutnya disingkat SKPDN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang;
| |||||||
|
26.
|
Surat Tagihan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat STPD, adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda;
| |||||||
|
27.
|
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah;
| |||||||
|
28.
|
Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan atau Surat Keputusan Keberatan;
| |||||||
|
29.
|
Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak;
| |||||||
|
30.
|
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan realisasi anggaran untuk periode Tahun Pajak tersebut;
| |||||||
|
31.
|
Insentif Pemungutan Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Insentif adalah tambahan penghasilan yang diberikan sebagai penghargaan atas kinerja tertentu dalam melaksanakan Pemungutan Pajak.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB II
PENDAFTARAN, PENDATAAN DAN PENGELOLAAN DATA WAJIB PAJAK Pasal 2 | ||||||||
|
(1)
|
Setiap pengusaha Pengambilan/Eksploitasi Mineral Bukan Logam dan Batuan wajib mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak sebelum memulai usahanya.
| |||||||
|
(2)
|
Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengisi formulir pendaftaran yang diisi secara benar dan jelas serta ditandatangani.
| |||||||
|
(3)
|
Pendaftaran Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai sarana administrasi dan pengawasan Wajib Pajak, pengukuhan, dan pembuatan NPWPD yang akan dicantumkan pada setiap dokumen perpajakan daerah, serta untuk keperluan pengelolaan database Wajib Pajak.
| |||||||
|
(4)
|
Database Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikelola dalam sistem yang selalu dimutakhirkan atau dilakukan pemeliharaan.
| |||||||
|
(5)
|
Bentuk dan format isian formulir pendaftaran dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 3 | ||||||||
|
(1)
|
Pendataan Wajib Pajak merupakan proses pengumpulan data mengenai Wajib Pajak.
| |||||||
|
(2)
|
Pendataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pegawai yang memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pendataan atau petugas lain yang ditunjuk oleh Kepala BPKD.
| |||||||
|
(3)
|
Data Wajib Pajak untuk kebutuhan pengelolaan database, sekurang-kurangnya terdiri dari:
| |||||||
|
|
a.
|
nama dan alamat lokasi pengambilan/eksploitasi mineral bukan logam dan batuan;
| ||||||
|
|
b.
|
nama dan alamat pemegang izin usaha pengambilan/ eksploitasi mineral bukan logam dan batuan;
| ||||||
|
|
c.
|
nama dan alamat kuasa usaha pengambilan/eksploitasi mineral bukan logam dan batuan;
| ||||||
|
|
d.
|
luas areal pengambilan/eksploitasi mineral bukan logam dan batuan;
| ||||||
|
|
e.
|
jenis mineral bukan logam dan batuan yang diambil/dieksploitasi;
| ||||||
|
|
f.
|
rata-rata volume mineral bukan logam dan batuan yang diambil/dieksploitasi.
| ||||||
|
(4)
|
Data Wajib Pajak selain untuk pengelolaan database sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat ditambahkan atau disesuaikan dengan kebutuhan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 4 | ||||||||
|
(1)
|
Selain pelaksanaan pendataan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, pelaksanaan pendataan Wajib Pajak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
petugas yang ditunjuk mengunjungi/mendatangi Wajib Pajak dan/atau lokasi pengambilan/eksploitasi Mineral Bukan Logam dan Batuan;
| ||||||
|
|
b.
|
petugas sebagaimana dimaksud pada huruf (a) melakukan wawancara, melihat data pembukuan, melakukan pemantauan kegiatan usaha yang sedang berlangsung, atau cara lain yang diperlukan;
| ||||||
|
|
c.
|
petugas sebagaimana dimaksud pada huruf (a) melakukan pencatatan atau dokumentasi atas kegiatan yang diperoleh pada huruf a dan b.
| ||||||
|
(2)
|
Kepala BPKD dapat menunjuk petugas untuk melakukan pendataan dengan tujuan tertentu dalam rangka optimalisasi penerimaan pajak.
| |||||||
|
(3)
|
Tujuan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) antara lain berupa pemantauan langsung di lokasi pengambilan/ eksploitasi Mineral Bukan Logam dan Batuan, menghitung dan mencatat volume Mineral Bukan Logam dan Batuan yang diambil/dieksploitasi.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
TATA CARA PENERBITAN, PENGISIAN, DAN PENYAMPAIAN SPTPD, SKPDKB, DAN SKPDKBT Pasal 5 | ||||||||
|
(1)
|
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD dengan benar, jelas, lengkap dan ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya.
| |||||||
|
(2)
|
SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disediakan dan dikirimkan oleh BPKD setiap akhir bulan kepada Wajib Pajak.
| |||||||
|
(3)
|
Berdasarkan pembukuan Wajib Pajak, data jumlah nilai jual hasil pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang diterima oleh Wajib Pajak dituangkan dalam formulir SPTPD, dan digunakan sebagai dasar perhitungan besarnya pajak terutang.
| |||||||
|
(4)
|
Untuk memperoleh kepastian dalam penetapan pajak diadakan pemantauan pengembalian SPTPD, yang pengaturannya ditentukan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
apabila tanggal 7 (tujuh) setiap bulannya atau 7 (tujuh) hari sebelum batas waktu pengembalian ternyata SPTPD belum dikembalikan oleh Wajib Pajak, BPKD mengeluarkan Surat Peringatan;
| ||||||
|
|
b.
|
apabila tanggal 15 (lima belas)setiap bulannya atau tanggal batas akhir bulan atau tanggal batas akhir waktu pengembalian ternyata SPTPD belum dikembalikan oleh Wajib Pajak, BPKD mengeluarkan Surat Teguran;
| ||||||
|
|
c.
|
apabila 7 (tujuh) hari setelah penerimaan Surat Teguran ternyata Wajib Pajak belum mengembalikan SPTPD, BPKD menetapkan besarnya pajak terutang secara jabatan;
| ||||||
|
|
d.
|
penetapan besarnya pajak terutang sebagaimana dimaksud pada huruf c, diterbitkan dalam SKPDKB dengan ketentuan sebagai berikut:
| ||||||
|
|
|
1.
|
untuk menerbitkan SKPDKB, BPKD mengumpulkan data tentang omzet Wajib Pajak untuk masa pajak berkenaan.
| |||||
|
|
|
2.
|
data omzet wajib pajak dapat diperoleh dari wajib pajak itu sendiri atau sumber lainnya.
| |||||
|
|
|
3.
|
format formulir untuk mengumpulkan data omzet wajib pajak dapat dibuat dan/atau disesuaikan dengan kebutuhan.
| |||||
|
(5)
|
Formulir SPTPD terdiri dari 3 (Tiga) rangkap dengan peruntukan:
| |||||||
|
|
a.
|
lembar pertama (warna putih) untuk Sub Bidang Penilaian pada BPKD;
| ||||||
|
|
b.
|
lembar kedua (warna merah) untuk Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
c.
|
lembar kedua (warna Kuning) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD.
| ||||||
|
(6)
|
Bentuk dan tata cara pengisian formulir SPTPD, sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 6 | ||||||||
|
(1)
|
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak terutangnya pajak, Bupati dapat menetapkan SKPDKB, SKPDKBT, dan SKPDN.
| |||||||
|
(2)
|
SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan apabila:
| |||||||
|
|
a.
|
berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang terutang tidak atau kurang bayar;
| ||||||
|
|
b.
|
SPTPD tidak disampaikan kepada Bupati setelah Wajib Pajak mendapat Surat Teguran;
| ||||||
|
(3)
|
SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan apabila ditemukan data baru dan/atau belum terungkapnya semua data yang mengakibatkan bertambahnya jumlah pajak terutang.
| |||||||
|
(4)
|
SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan apabila jumlah pajak terutang sama dengan kredit pajak.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 7 | ||||||||
|
(1)
|
Formulir SKPDKB, SKPDKBT, dan SKPDN terdiri dari 4 (empat) rangkap dengan peruntukan:
| |||||||
|
|
a.
|
lembar pertama (warna putih) untuk Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
b.
|
lembar kedua (warna merah) untuk Sub Bidang Penilaian Pajak Daerah pada BPKD;
| ||||||
|
|
c.
|
lembar ketiga (warna kuning) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD;
| ||||||
|
|
d.
|
lembar keempat (warna hijau) untuk Sub Bidang Penagihan pada BPKD.
| ||||||
|
(2)
|
Bentuk dan tata cara pengisian formulir SKPDKB, SKPDKBT dan SKPDN, sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
TATA CARA PEMBAYARAN PAJAK Pasal 8 | ||||||||
|
(1)
|
Seluruh pendapatan pajak wajib disetor ke Rekening Kas Daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Pembayaran pajak oleh Wajib Pajak dapat dilakukan melalui Kas Daerah, bendahara penerimaan, bendahara penerimaan pembantu, atau petugas pemungut yang ditunjuk.
| |||||||
|
(3)
|
Petugas pemungut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyetorkan seluruh penerimaannya kepada bendahara penerimaan atau bendahara penerimaan pembantu.
| |||||||
|
(4)
|
Bendahara penerimaan dan bendahara penerimaan pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyetorkan seluruh hasil penerimaan pajaknya baik yang diterima langsung dari Wajib Pajak maupun yang diterima dari petugas pemungut yang ditunjuk ke Rekening Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam sejak penerimaan atau dalam waktu yang ditentukan oleh Bupati.
| |||||||
|
(5)
|
Pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menggunakan formulir SSPD dengan mencantumkan kode rekening rincian objek pendapatan pajak mineral bukan logam dan mineral.
| |||||||
|
(6)
|
Penyetoran pajak ke rekening kas daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan menggunakan Surat Tanda Setoran (STS) dengan mencantumkan kode rekening rincian objek pendapatan pajak mineral bukan logam dan mineral.
| |||||||
|
(7)
|
Formulir SSPD sebagaimana dimaksud pada ayat (5), terdiri dari 5 (lima) rangkap dengan peruntukan:
| |||||||
|
|
a.
|
lembar pertama (warna kuning) untuk Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
b.
|
lembar kedua (warna merah) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD;
| ||||||
|
|
c.
|
lembar ketiga (warna hijau) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD;
| ||||||
|
|
d.
|
lembar keempat (warna biru) untuk Sub Bidang Penagihan pada BPKD;
| ||||||
|
|
e.
|
lembar kelima (warna biru muda) untuk Sub Bidang Penagihan pada BPKD.
| ||||||
|
(8)
|
Formulir STS sebagaimana dimaksud pada ayat (6) terdiri dari 7 (tujuh) rangkap dengan peruntukan:
| |||||||
|
|
a.
|
lembar pertama (warna putih) untuk Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu/Penyetor;
| ||||||
|
|
b.
|
lembar kedua (warna merah) untuk Bank Penerima Setoran;
| ||||||
|
|
c.
|
lembar ketiga (warna kuning) untuk Bidang Akuntansi dan Pelaporan pada BPKD;
| ||||||
|
|
d.
|
lembar keempat (warna hijau) untuk Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu;
| ||||||
|
|
e.
|
lembar kelima (warna biru) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD;
| ||||||
|
|
f.
|
lembar keenam (warna Kuning) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD;
| ||||||
|
|
g.
|
lembar ketujuh (warna hijau) untuk Bidang Pajak Daerah pada BPKD.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
TATA CARA PENGANGSURAN Pasal 9 | ||||||||
|
(1)
|
Permohonan angsuran dan penundaan pembayaran pajak disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Bupati melalui Kepala BPKD selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal penerbitan SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD.
| |||||||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya disertai dengan dokumen:
| |||||||
|
|
a.
|
laporan keadaan keuangan perusahaan;
| ||||||
|
|
b.
|
rekening koran perusahaan untuk 3 (tiga) bulan terakhir yang menunjukkan saldo uang di bank;
| ||||||
|
|
c.
|
besarnya pajak yang terutang yang ditunjukkan dengan SPTPD dan SSPD.
| ||||||
|
(3)
|
BPKD melakukan penelitian atas dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagai bahan pertimbangan untuk pemberian persetujuan.
| |||||||
|
(4)
|
Bupati dapat memberikan persetujuan paling lama 3 (tiga) bulan sejak menerima Surat Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan ketentuan:
| |||||||
|
|
a.
|
angsuran pembayaran pajak dilaksanakan secara teratur dan berturut-turut, maksimal 4 (empat) kali, selama-lamanya 1 (satu) tahun sejak tanggal persetujuan Bupati;
| ||||||
|
|
b.
|
penundaan pembayaran pajak dilakukan maksimal 3 (tiga) bulan sejak dikeluarkannya persetujuan.
| ||||||
|
(5)
|
Apabila setelah melewati waktu 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima Bupati tidak memberikan keputusan, maka permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 10 | ||||||||
|
Bentuk, jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak mengacu kepada sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang berlaku.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VI
TATA CARA PENAGIHAN PAJAK Pasal 11 | ||||||||
|
(1)
|
Pajak Terutang yang tidak atau kurang bayar setelah jatuh tempo pembayaran ditagih dengan menggunakan Formulir STPD.
| |||||||
|
(2)
|
Formulir STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari 4 (empat) rangkap, dengan peruntukan:
| |||||||
|
|
a.
|
lembar pertama (warna putih) untuk Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
b.
|
lembar kedua (warna merah) untuk arsip Bidang Pendataan dan Pendaftaran BPKD;
| ||||||
|
|
c.
|
lembar ketiga (warna kuning) untuk arsip Bidang Penagihan dan Keberatan BPKD;
| ||||||
|
|
d.
|
lembar keempat (warna hijau) untuk arsip BPKD.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 12 | ||||||||
|
(1)
|
Penagihan Pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Teguran, Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, dan Pelelangan.
| |||||||
|
(2)
|
Penagihan dengan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
pembuatan daftar Surat Teguran Wajib Pajak yang dilakukan dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah batas waktu jatuh tempo pembayaran;
| ||||||
|
|
b.
|
penerbitan Surat Teguran;
| ||||||
|
|
c.
|
penyampaian/penyerahan Surat Teguran kepada Wajib Pajak yang bersangkutan.
| ||||||
|
(3)
|
Penagihan dengan Surat Paksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
pembuatan daftar Surat Paksa untuk Wajib Pajak yang setelah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari setelah tanggal Surat Teguran belum menyetor pajak terutang;
| ||||||
|
|
b.
|
penerbitan Surat Paksa berdasarkan daftar Surat Paksa;
| ||||||
|
|
c.
|
pengiriman/penyerahan Surat Paksa kepada Wajib Pajak yang bersangkutan melalui Juru Sita Pajak;
| ||||||
|
|
d.
|
pembuatan Laporan Pelaksanaan Surat Paksa;
| ||||||
|
(4)
|
Penagihan dengan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
pembuatan daftar Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan untuk wajib pajak yang belum melunasi utang pajaknya 2 x 24 jam setelah penerbitan Surat Paksa;
| ||||||
|
|
b.
|
penerbitan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan;
| ||||||
|
|
c.
|
pelaksanaan Penyitaan oleh Juru Sita Pajak dengan menyerahkan barang milik Wajib Pajak yang boleh disita menurut perundang-undangan yang dirinci pada Berita Acara Pelaksanaan Sita;
| ||||||
|
|
d.
|
pembuatan Laporan Pelaksanaan Penyitaan;
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 13 | ||||||||
|
(1)
|
Apabila setelah dilakukan penyitaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4) Wajib Pajak belum juga melunasi utang pajaknya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, pejabat yang berwenang mengajukan permintaan penetapan waktu pelaksanaan lelang.
| |||||||
|
(2)
|
Pengajuan permintaan penetapan waktu lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan ketentuan sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
pembuatan daftar Surat Permintaan Pelaksanaan Lelang untuk Wajib Pajak yang belum melunasi utang pajaknya sampai dengan berakhirnya batas Waktu yang ditentukan;
| ||||||
|
|
b.
|
pemeriksaan hari, tanggal, dan jam pelelangan yang disetujui oleh Kepala BPKD dan Permintaan Penegasan kepada Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN);
| ||||||
|
|
c.
|
penyiapan berkas penyitaan Wajib Pajak yang bersangkutan dan Pengumuman Lelang;
| ||||||
|
|
d.
|
pelaksanaan Lelang sesuai dengan hari, tanggal dan jam yang telah ditentukan.
| ||||||
|
(3)
|
Pencabutan Penyitaan dan Pengumuman Lelang, kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
| |||||||
|
|
a.
|
pembuatan Daftar Surat Pencabutan Penyitaan untuk Wajib Pajak yang telah melunasi utang pajaknya sesudah penerbitan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan sampai dengan sebelum Pengumuman Lelang;
| ||||||
|
|
b.
|
penerbitan Surat Pencabutan Penyitaan;
| ||||||
|
|
c.
|
pelaksanaan Pencabutan Penyitaan dengan pembuatan Berita Acara Pencabutan Penyitaan;
| ||||||
|
|
d.
|
pembuatan Laporan Pelaksanaan Pencabutan Penyitaan;
| ||||||
|
|
e.
|
monitoring penyetoran Wajib Pajak untuk mengetahui Wajib Pajak yang telah melunasi utang pajaknya sesudah Pengumuman Lelang sampai dengan sebelum Pelaksanaan Lelang;
| ||||||
|
|
f.
|
pembuatan daftar Surat Pencabutan Pengumuman Lelang;
| ||||||
|
|
g.
|
penerbitan Surat Pencabutan Pengumuman Lelang;
| ||||||
|
|
h.
|
pengiriman/penyerahan Surat Pencabutan Pengumuman Lelang oleh Juru Sita Pajak;
| ||||||
|
(4)
|
Bentuk formulir dan buku/daftar yang dipergunakan sebagaimana tercantum dalam Lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VII
TATA CARA PEMBERIAN PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK Pasal 14 | ||||||||
|
(1)
|
Permohonan pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak diajukan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Bupati melalui Kepala BPKD paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum jatuh tempo pembayaran dengan disertai alasan-alasan yang dapat diterima dan dipertanggungjawabkan.
| |||||||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya dilampiri:
| |||||||
|
|
a.
|
SPTPD;
| ||||||
|
|
b.
|
bukti pembayaran pajak yang telah dilakukan;
| ||||||
|
|
c.
|
laporan keuangan yang sah, periode permohonan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak.
| ||||||
|
(3)
|
Kepala BPKD dapat menunjuk petugas untuk melakukan verifikasi dan/atau pemeriksaan dan/atau permintaan keterangan kepada Wajib Pajak atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| |||||||
|
(4)
|
Petugas yang ditunjuk untuk melakukan verifikasi dan/atau pemeriksaan dan/atau permintaan keterangan kepada Wajib Pajak melaporkan hasilnya kepada Kepala BPKD sebagai dasar pemberian persetujuan.
| |||||||
|
(5)
|
Pemberian persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan Wajib Pajak diterima, dengan ketentuan:
| |||||||
|
|
a.
|
pengurangan maksimal 50% (lima puluh persen) dari besarnya pajak terutang;
| ||||||
|
|
b.
|
keringanan berupa pelunasan pajak selama-lamanya 1 (satu) tahun.
| ||||||
|
(6)
|
Apabila setelah melewati waktu 3 (tiga) bulan sejak diterimanya surat permohonan Bupati tidak memberikan Keputusan, permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (5).
| |||||||
|
(7)
|
Bentuk dan tata cara pengisian formulir Surat Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB VIII
TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 15 | ||||||||
|
(1)
|
Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya, Bupati dapat membetulkan SKPDKB, SKPDKBT, STPD, SKPDN, atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu.
| |||||||
|
(2)
|
Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administratif atas SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Bupati melalui Kepala BPKD selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD dengan disertai alasan yang jelas.
| |||||||
|
(3)
|
Dalam waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, Bupati melalui Kepala BPKD dapat memberikan keputusan;
| |||||||
|
(4)
|
Apabila setelah melewati waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bupati melalui Kepala BPKD tidak memberikan keputusan, permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap dikabulkan.
| |||||||
|
(5)
|
Tata cara pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administratif adalah sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
menerima Surat Permohonan Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan Ketetapan dan Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administratif dari Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
b.
|
meneliti kelengkapan permohonan Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan Ketetapan dan Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administratif dari Wajib Pajak,apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan;
| ||||||
|
|
c.
|
membuat Laporan Hasil Penelitian;
| ||||||
|
|
d.
|
menyampaikan Laporan Hasil Penelitian kepada Kepala BPKD untuk diteliti dan dipertimbangkan untuk ditolak atau diterima;
| ||||||
|
|
e.
|
membuat Keputusan yang ditandatangani oleh Kepala BPKD, berupa Keputusan Penolakan bila permohonan ditolak, dan Keputusan Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan Ketetapan dan Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administratif bila permohonan dikabulkan;
| ||||||
|
|
f.
|
menyerahkan Keputusan kepada Wajib Pajak.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IX
TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN DAN BANDING Pasal 16 | ||||||||
|
(1)
|
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau pejabat yang ditunjuk atas suatu:
| |||||||
|
|
a.
|
SKPDKB;
| ||||||
|
|
b.
|
SKPDKBT;
| ||||||
|
|
c.
|
SKPDLB;
| ||||||
|
|
d.
|
SKPDN;
| ||||||
|
|
e.
|
pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan peraturan daerah.
| ||||||
|
(2)
|
Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Bupati melalui Kepala BPKD secara tertulis dengan disertai alasan-alasan yang jelas dengan dilampiri diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas dengan dilampiri:
| |||||||
|
|
a.
|
SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, atau SKPDN asli;
| ||||||
|
|
b.
|
bukti pembayaran pajak yang telah dilakukan;
| ||||||
|
|
c.
|
laporan keuangan yang sah, periode permohonan keberatan pajak.
| ||||||
|
(3)
|
Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
| |||||||
|
(4)
|
Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan, sehingga tidak dapat dipertimbangkan.
| |||||||
|
(5)
|
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.
| |||||||
|
(6)
|
Bentuk dan format isian formulir permohonan keberatan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 17 | ||||||||
|
Tata cara penyelesaian keberatan adalah sebagai berikut:
| ||||||||
|
a.
|
menerima surat permohonan keberatan dari Wajib Pajak;
| |||||||
|
b.
|
meneliti kelengkapan permohonan keberatan dari Wajib Pajak, apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan;
| |||||||
|
c.
|
membuat laporan hasil penelitian;
| |||||||
|
d.
|
menyampaikan laporan hasil penelitian kepada Kepala BPKD untuk diteliti dan dipertimbangkan apakah permohonan keberatan diterima atau ditolak;
| |||||||
|
e.
|
menyampaikan berkas keberatan dan pertimbangan Kepala BPKD kepada Bupati untuk pembuatan keputusan penerimaan atau penolakan terhadap keberatan yang diajukan Wajib Pajak;
| |||||||
|
f.
|
pembuatan Draft Keputusan yang ditandatangani Kepala BPKD, berupa menerima seluruhnya, sebagian, menolak atau menambah pajak terutang;
| |||||||
|
g.
|
menyerahkan Surat Keputusan kepada Wajib Pajak.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 18 | ||||||||
|
Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB X
TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK Pasal 19 | ||||||||
|
(1)
|
Atas kelebihan pembayaran pajak, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati melalui Kepala BPKD.
| |||||||
|
(2)
|
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat:
| |||||||
|
|
a.
|
nama dan alamat Wajib Pajak;
| ||||||
|
|
b.
|
masa pajak;
| ||||||
|
|
c.
|
besarnya kelebihan pembayaran pajak;
| ||||||
|
|
d.
|
argumen yang jelas;
| ||||||
|
|
e.
|
SPTPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, atau SKPDN asli;
| ||||||
|
|
f.
|
bukti pembayaran pajak yang telah dilakukan.
| ||||||
|
(3)
|
Atas permohonan pengembalian kelebihan pajak, Kepala BPKD dapat menunjuk petugas untuk melakukan pemeriksaan atau permintaan keterangan atas kebenaran data yang dicantumkan dalam surat permohonan.
| |||||||
|
(4)
|
Dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bupati melalui Kepala BPKD dapat memberikan keputusan.
| |||||||
|
(5)
|
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) telah dilampaui dan Bupati atau Kepala BPKD tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
| |||||||
|
(6)
|
Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan, Bupati melalui Kepala BPKD memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran pajak.
| |||||||
|
(7)
|
Proses pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Wajib Pajak setelah diterbitkannya SKPDLB mengacu kepada Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah yang berlaku.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XI
TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK KEDALUWARSA Pasal 20 | ||||||||
|
(1)
|
Bupati dapat menghapuskan piutang pajak yang sudah kedaluwarsa.
| |||||||
|
(2)
|
Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara sebagai berikut:
| |||||||
|
|
a.
|
BPKD melaksanakan pendataan atas piutang pajak yang sudah kedaluwarsa berdasarkan basis data yang dimiliki;
| ||||||
|
|
b.
|
BPKD melaksanakan pengecekan ulang atau validasi atas piutang pajak yang sudah kedaluwarsa;
| ||||||
|
|
c.
|
berdasarkan hasil validasi, Kepala BPKD mengajukan usulan penghapusan atas piutang pajak yang sudah kedaluwarsa, kepada Bupati;
| ||||||
|
|
d.
|
berdasarkan usulan Kepala BPKD, Bupati dapat menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Pajak yang Sudah Kedaluwarsa;
| ||||||
|
|
e.
|
Keputusan Bupati tentang Penghapusan Piutang Pajak yang Sudah Kedaluwarsa dilampiri dengan Daftar Rinci Piutang Pajak yang Sudah Kedaluwarsa.
| ||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XII
TATA CARA PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN Pasal 21 | ||||||||
|
(1)
|
Wajib Pajak yang melakukan usaha dengan omzet paling sedikit Rp300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) pertahun wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan.
| |||||||
|
(2)
|
Pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertib, teratur dan benar sesuai dengan norma pembukuan yang berlaku.
| |||||||
|
(3)
|
Pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dijadikan sebagai dasar untuk menghitung besarnya pajak terutang.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XIII
PENGENDALIAN Pasal 22 | ||||||||
|
(1)
|
Kepala BPKD dapat menunjuk petugas untuk melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah.
| |||||||
|
(2)
|
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
| |||||||
|
(3)
|
Wajib Pajak yang diperiksa wajib menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan.
| |||||||
|
(4)
|
Tata cara pemeriksaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan lebih lanjut diatur dengan Keputusan Bupati.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XIV
INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 23 | ||||||||
|
(1)
|
Instansi yang melaksanakan pemungutan Pajak dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.
| |||||||
|
(2)
|
Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
| |||||||
|
(3)
|
Pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada Peraturan Bupati tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XV
SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 24 | ||||||||
|
(1)
|
Pajak Terutang yang tidak atau kurang bayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang bayar untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak.
| |||||||
|
(2)
|
Jumlah kekurangan pajak terutang dalam SKPDKB dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya pajak.
| |||||||
|
(3)
|
Jumlah kekurangan pajak terutang dalam SKPDKBT dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan 100% (seratus persen) dari kekurangan pajak tersebut.
| |||||||
|
(4)
|
Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan apabila Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.
| |||||||
|
(5)
|
Jumlah kekurangan pajak terutang dalam SKPDKB dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan yang dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya pajak.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 | ||||||||
|
(1)
|
Kegiatan administrasi dan formulir yang dipergunakan dalam pelaksanaan pemungutan pajak mineral bukan logam dan batuan, sepanjang tidak dijelaskan dalam Peraturan Bupati ini, berpedoman kepada peraturan perundang-undangan.
| |||||||
|
(2)
|
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Bupati ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Kepala BPKD.
| |||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 26 | ||||||||
|
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Pangandaran.
| ||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Parigi
pada tanggal 31 Desember 2018 BUPATI PANGANDARAN, ttd/cap H. JEJE WIRADINATA Diundangkan di Parigi pada tanggal 31 Desember 2018 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN, ttd/cap MAHMUD BERITA DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN TAHUN 2018 NOMOR: 62 | ||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.