Peraturan Bupati Kabupaten Kuningan Nomor: 33 Tahun 2016
Status tidak tersedia
Gunakan versi desktop untuk pengalaman lengkap
|
PERATURAN BUPATI KUNINGAN
NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG
PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN | |||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menimbang | |||||||||||||
|
a.
|
bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 42 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah telah ditetapkan Peraturan Bupati Kuningan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Bupati Kuningan Nomor 5 Tahun 2016;
| ||||||||||||
|
b.
|
bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maka dipandang perlu melakukan perubahan terhadap Peraturan Bupati Kuningan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Bupati Kuningan Nomor 5 Tahun 2016;
| ||||||||||||
|
c.
|
bahwa berdasarkan Pertimbangan dimaksud huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Bupati Kuningan tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Bupati Kuningan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengingat | |||||||||||||
|
1
|
Undang-Undang Pembentukan Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Barat;
| ||||||||||||
|
2.
|
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan;
| ||||||||||||
|
3.
|
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
| ||||||||||||
|
4.
|
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
| ||||||||||||
|
5.
|
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
| ||||||||||||
|
6.
|
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional;
| ||||||||||||
|
7.
|
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
| ||||||||||||
|
8.
|
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial;
| ||||||||||||
|
9-.
|
Undang-undnag Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015;
| ||||||||||||
|
10.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah;
| ||||||||||||
|
11.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
| ||||||||||||
|
12.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah;
| ||||||||||||
|
13.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
| ||||||||||||
|
14.
|
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah;
| ||||||||||||
|
15.
|
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
| ||||||||||||
|
16.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
| ||||||||||||
|
17.
|
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
| ||||||||||||
|
18.
|
Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 29 Tahun 2013 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
| ||||||||||||
|
19.
|
Peraturan Bupati Kuningan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Bupati Kuningan Nomor 5 Tahun 2016;·
| ||||||||||||
|
20.
|
Peraturan Bupati Kuningan Nomor 32 Tahun 2015 tentang Ketentuan Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan;
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMUTUSKAN:
| |||||||||||||
Menetapkan | |||||||||||||
|
PERATURAN BUPATI TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
| |||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal l | |||||||||||||
|
Beberapa Ketentuan dalam Peraturan Bupati Kuningan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Bupati Kuningan Nomor 5 Tahun 2016 diubah sebagai berikut:
| |||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Ketentuan Pasal 5 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 5
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Pemerintah daerah dapat memberikan hibah sesuai kemampuan keuangan daerah.
| |||||||||||
|
|
(2)
|
Pemberian hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah memprioritaskan pemenuhan belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan.
| |||||||||||
|
|
(3)
|
Pemberian hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah sesuai urgensi dan kepentingan daerah dalam mendukung terselenggaranya fungsi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat.
| |||||||||||
|
|
(4)
|
Pemberian hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memenuhi kriteria paling sedikit:
| |||||||||||
|
|
|
a.
|
peruntukannya secara spesifik telah ditetapkan;
| ||||||||||
|
|
|
b.
|
bersifat tidak wajib, tidak mengikat atau tidak secara terus menerus setiap tahun anggaran sesuai dengan kemampuan keuangan daerah kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
| ||||||||||
|
|
|
c.
|
memberikan nilai manfaat bagi pemerintah daerah dalam mendukung terselenggaranya fungsi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan;
| ||||||||||
|
|
|
d.
|
memenuhi persyaratan penerima hibah.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 6
| ||||||||||||
|
|
Hibah dapat diberikan kepada:
| ||||||||||||
|
|
a.
|
Pemerintah Pusat;
| |||||||||||
|
|
b.
|
Pemerintah Daerah lain;
| |||||||||||
|
|
c.
|
Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah; dan/atau
| |||||||||||
|
|
d.
|
Badan, Lembaga, dan organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Ketentuan Pasal 7 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 7
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Hibah kepada pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a diberikan kepada satuan kerja dari kementerian/lembaga pemerintah non kementerian yang wilayah kerjanya berada dalam daerah yang bersangkutan.
| |||||||||||
|
|
(2)
|
Hibah kepada pemerintah daerah lainnya sebagaimana dimaksud, dalam, Pasal, 6 huruf b diberikan kepada, daerah otonom baru hasil pemekaran daerah sebagaimana diamanatkan peraturan perundang undangan.
| |||||||||||
|
|
{3)
|
Hibah kepada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c diberikan dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||||||
|
|
(4)
|
Hibah kepada Badan Usaha Milik Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c diberikan dalam rangka untuk meneruskan hibah yang diterima pemerintah daerah dari pemerintah pusat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||||||
|
|
(5)
|
Hibah kepada badan dan lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d diberikan kepada Badan dan Lembaga:
| |||||||||||
|
|
|
a.
|
yang bersifat nirlaba, sukarela dan sosial yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang undangan;
| ||||||||||
|
|
|
b,
|
yang bersifat nirlaba, sukarela dan sosial yang telah memiliki Surat Keterangan Terdaftar yang diterbitkan oleh Menteri Dalam Negeri, Gubernur atau Bupati/Walikota; atau
| ||||||||||
|
|
|
c.
|
yang bersifat nirlaba, sukarela bersifat sosial kemasyarakatan berupa kelompok masyarakat/kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat, dan keberadaannya diakui oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah melalui pengesahan atau penetapan dari pimpinan instansi vertikal atau kepala satuan kerja perangkat daerah terkait sesuai dengan kewenangannya.
| ||||||||||
|
|
(6)
|
Hibah kepada organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d diberikan kepada organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum yayasan atau organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum perkumpulan yang telah mendapatkan pengesahan badan hukum dari kementerian yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia sesuai peraturan perundang-undangan.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Ketentuan Pasal 8 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 8
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Hibah kepada badan dan lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (5) diberikan dengan persyaratan paling sedikit:
| |||||||||||
|
|
|
a.
|
memiliki kepengurusan yang jelas di daerah yang bersangkutan;
| ||||||||||
|
|
|
b.
|
memiliki surat keterangan domisili dari lurah/kepala desa setempat atau sebutan lainnya; dan
| ||||||||||
|
|
|
c.
|
berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang bersangkutan.
| ||||||||||
|
|
(2)
|
Hibah kepada organisasi kemasyarakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (6) diberikan dengan persyaratan paling sedikit:
| |||||||||||
|
|
|
a.
|
telah terdaftar pada kementerian yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia paling singkat 3 tahun, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
| ||||||||||
|
|
|
b.
|
berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang bersangkutan; dan,
| ||||||||||
|
|
|
c.
|
memiliki sekretariat tetap di daerah yang bersangkutan.
| ||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Ketentuan Pasal 9 ayat (1) diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 9
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Pemerintah pusat, pemerintah daerah lain, Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, badan dan lembaga, serta organisasi kemasyarakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat menyampaikan usulan hibah secara tertulis kepada kepala daerah.
| |||||||||||
|
|
(2)
|
Kepala daerah menunjuk SKPD terkait untuk melakukan evaluasi usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
| |||||||||||
|
|
(3)
|
Kepala SKPD terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan hasil evaluasi berupa rekomendasi kepada kepala daerah melalui TAPD.
| |||||||||||
|
|
(4)
|
TAPD memberikan pertimbangan atas rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sesuai dengan prioritas dan kemampuan keuangan daerah.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Ketentuan Pasal 12 ayat (2) diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 12
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Hibah berupa uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dianggarkan dalam kelompok belanja tidak langsung, jenis belanja hibah, obyek belanja hibah, dan rincian obyek belanja hIbah pada ·PPKD.
|
;
| ||||||||||
|
|
(2)
|
Obyek belanja hibah dan rincian obyek belanja hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
| |||||||||||
|
|
|
a.
|
Pemerintah Pusat;
| ||||||||||
|
|
|
b.
|
Pemerintah Daerah lain;
| ||||||||||
|
|
|
c.
|
Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah; dan/atau
| ||||||||||
|
|
|
d.
|
Badan, Lembaga, dan organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia.
| ||||||||||
|
|
(3)
|
Hibah berupa barang atau jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) dianggarkan dalam kelompok belanja langsung yang diformulasikan ke dalam program dan kegiatan, yang diuraikan ke dalam jenis belanja barang dan jasa, obyek belanja hibah barang atau jasa dan rincian obyek belanja hibah barang atau jasa yang diserahkan kepada pihak ketiga/masyarakat pada SKPD.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Ketentuan Pasal 16 ayat (4) diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 16
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Kepala daerah menetapkan daftar penerima hibah beserta besaran uang atau jenis barang atau jasa yang akan dihibahkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.
| |||||||||||
|
|
(2)
|
Daftar penerima hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar penyaluran/penyerahan hibah.
| |||||||||||
|
|
(3)
|
Penyaluran/penyerahan hibah dari pemerintah daerah kepada penerima hibah dilakukan setelah penandatanganan NPHD.
| |||||||||||
|
|
(4)
|
Pencairan hibah dalam bentuk uang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Ketentuan Pasal 24 ayat (2) diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 24
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Pemerintah daerah dapat memberikan bantuan sosial kepada anggota/kelompok masyarakat sesuai kemampuan keuangan daerah.
| |||||||||||
|
|
(2)
|
Pemberian bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah memprioritaskan pemenuhan belanja urusan wajib dan urusan pilihan dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas dan manfaat untuk masyarakat.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Ketentuan Pasal 48 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
| ||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal 48
| ||||||||||||
|
|
(1)
|
Pengesahan badan hukum sebagaimana, dimaksud dalam Pasal 7 ayat (6) dikecualikan terhadap:
| |||||||||||
|
|
|
a.
|
Organisasi Kemasyarakatan yang telah berbadan hukum sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, diakui keberadaannya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013;
| ||||||||||
|
|
|
b.
|
Organisasi Kemasyarakatan yang telah berbadan hukum berdasarkan Staatsblad 1870 Nomor 64 tentang Perkumpulan-Perkumpulan Berbadan Hukum (Rechtspersoonlijkheid van Vereenigingen) yang berdiri sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan konsisten mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetap diakui 'keberadaan dan kesejarahannya sebagai aset bangsa, tidak perlu melakukan pendaftaran sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013;
| ||||||||||
|
|
|
c.
|
Organisasi kemasyarakatan yang telah memiliki Surat Keterangan Terdaftar yang sudah diterbitkan sebelum Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tetap berlaku sampai akhir masa berlakunya; dan
| ||||||||||
|
|
|
d.
|
Organisasi Kemasyarakatan yang didirikan oleh Warga Negara Asing, Warga Negara Asing bersama Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum asing yang telah beroperasi harus menyesuaikan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 diundangkan.
| ||||||||||
|
|
(2)
|
Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku, hibah dan bantuan sosial Tahun Anggaran 2016 dapat dilaksanakan sepanjang telah dianggarkan dalam APBD Tahun Anggaran 2016 dan telah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Bupati ini.
| |||||||||||
|
|
(3)
|
Dalam hal penganggaran hibah dan bantuan sosial Tahun Anggaran 2016 belum sesuai dengan Peraturan Bupati ini, hibah dan bantuan sosial Tahun Anggaran 2016 dapat dianggarkan setelah dilakukan penyesuaian berdasarkan Peraturan Bupati ini dan ditetapkan dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2016.
| |||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pasal II | |||||||||||||
|
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada Tahun Anggaran 2016.
| |||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah.
| |||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ditetapkan di Kuningan
Pada tanggal 5 Oktober 2016 BUPATI KUNINGAN, ttd. ACEP PURNAMA Diundangkan di Kuningan Pada tanggal 6 Oktober 2016 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN KUNINGAN, ttd. YOSEP SETIAWAN BERITA DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2016 NOMOR 33 | |||||||||||||
Menemukan kesalahan ketik? Klik di sini agar kami dapat memperbaikinya.